“Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?”

Ada satu pertanyaan menarik saat dosen menanggapi diskusi kami tentang manusia dan pemujaan. Saya lupa kronologisnya gimana, tapi tiba-tiba beliau bertanya kurang lebih seperti ini..

“Pernah terpikir gak kalau ternyata menuntut-ilmusholat kita ini beda dengan sholat yang Rasulullah lakukan? Iya beda, kita sudah terpaut terlalu jauh dengan zaman Rasulullah, sangat mungkin jika saat ini banyak praktek ibadah yang melenceng dari yang seharusnya.”Hmm, ya..saya sependapat dengan beliau. Bahkan dalam hati saya sering bertanya, “Apakah shalat saya sudah benar? Ya Allah…apakah Engkau menerima shalat saya selama ini? 😥

Pertanyaan itu terus mengusik saya hampir setiap waktu. Sampai suatu hari saya membaca nasihat bijak Nek Kiba dalam novel Amelia karya Tere Liye, meskipun ini fiksi tapi banyak ibrah yang bisa kita maknai didalamnya 🙂

Malam ini sepertinya Nek Kiba tidak akan bercerita tentang kisah Nabi atau para sahabat. Nek Kiba meluruskan kakinya. Meletakkan batang rotan. Bercakap santai tentang hal lain.

“Anak-anak, dalam agama kita, penting sekali melakukan sesuatu dengan ilmu. “ suara Nek Kiba terdengar lantang, mengisi langit-langit ruangan, memulai nasihatnya.

“Seseorang yang mengerjakan amal tapi dia tidak tahu tujuannya, tidak paham ilmunya, maka itu ibarat anak kecil yang disuruh mendirikan rumah. Tak tegak tiangnya. Tak kokoh dindingnya. Jangan tanya daun pintu, jendela, dan atapnya, sia-sia belaka.Semua orang dituntut untuk belajar, mempelajari apapun yang diperintahkan agama ini. Termasuk mempelajari ilmu yang tidak segera diamalkan. Naik haji misalnya, meskipun tak satu pun penduduk di kampong ini yang mampu naik haji, jangan tanya kapan akan berangkat, termimpikan pun tidak, tetap saja mempelajari ilmu naik haji jelas penting.”

“Lantas, apa itu yang disebut ilmu? Mudah saja. Ilmu adalah yang mendasari sebuah perbuatan ,dalil. Ilmu adalah yang menjelaskan secara benar kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Baik yang ditulis diatas kertas maupun yang disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Baik yang dikuasai oleh satu dua orang tertentu, apalagi yang diketahui banyak orang.:

Kami menatap wajah tua Nek Kiba yang terlihat semangat menjelaskan.

“Dalam kitab suci, jelas perintah soal ilmu ini. Ketika seseorang tidak mengetahui sebuah urusan, tidak paham, tidak mengerti maka bergegaslah bertanya pada orang yang tahu ilmunya. Jangan malas, jangan keras kepala, jangan bebal, apalagi hingga sok tahu mengerjakan sesuai pemahaman diri sendiri. Itu bisa jadi kekeliruan besar. Apa susahnya bertanya? Bukankah jika kita tidak tah ujalan, bertanya pada yang tahu mencegah kita tersesat. Jika kita tidak mengerti menghadapi binatang buas, bertanya mencegah kita diterkam. Bertanyalah, kalaupun kita sudah tahu, itu akan membuat kita lebih yakin lagi.

“Maka semua orang harus, menuntut ilmu adalah perintah agama. Kenapa kita shalat? Kenapa kita puasa? Semua orang harus tahu ilmunya. Tidak pantas seseorang saat ditanya kenapa ia shalat? Dia menjawabnya ikut-ikutan. Padahal dia sudah shalat beribu-ribu kali. Hanya ikut. Karena menirun semata. Iya Pukat, ada apa? Kau hendak bertanya?”

Kami menoleh ke arah Kak Pukat. Aku menghembuskan napas pelan. Aduh, kenapa pula Kak Pukat harus memotong kalimat Nek Kiba dengan mengacungkan jari?

“ Tetapi, nek, bukankah kami memang disuruh ikut saja orang tua saat sholat dan puasa? Mencontoh saja. “ Kak Pukat bertanya serius.

“Karena kalian masih anak-anak.” Nek Kiba menjawab takzim. “Maka kalian boleh mencontoh. Tapi dengan bertambahnya usia kalian, hukum menuntut ilmu itu jatuhpada kalian. Tidak ada alasan lagi. Beruntunglah yang sejak kecil sudah rajin membaca buku, sudah gemar mendengar nasihat-nasihat dari orang berilmu, maka dia mengerti lebih awal penjelasannya. Semoga itu akan terbawa hingga dewasa. Paham?”

(Novel AMELIA halaman 321-323, Tere Liye)

Kutipan Nasihat Nek Kiba diatas mengingatkan saya tentang pentingnya ilmu sebelum amal, dengannya bertambahlah iman kita dan hilanglah keraguan kita dalam menjalankan suatu perbuatan. Kita tidak pernah melihat langsung bagaimana Rasulullah mendirikan shalat ataupun amalan lainnya, tapi kita patut bersyukur karena para shahabat dan ulama telah banyak mewariskan ilmu yang akan memandu kita untuk mengamalkan apa yang telah Rasulullah teladankan.

Sekarang saya sudah menjadi orang tua, mungkin kelak akan tiba masanya Naira bertanya, “Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?” Menjawab pertanyaan anak dengan ilmu dan keimanan yang kokoh menjadi PR terbesar bagi saya dan suami. Karena jawaban itu bukan hanya terkait benar atau salah, tapi menjadi sebab diterima atau tidaknya amalan Naira disisi Allah kelak.. Apa yang harus kami usahakan sudah jelas yaitu giat membekali diri dengan ilmu dan meningkatkan kualitas amalan dengan ilmu yang dimiliki  semata meraih ridhaNya. Semoga Allah bimbing selalu…

Islamic Education Enthusiast, Home Educator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *