Mendidik dengan cinta melalui satu kata sederhana: PERCAYA

Boleh jadi akhir pekan kemarin adalah salah satu akhir pekan yang paling mengesankan bagi saya. Saya diminta untuk menelaah (me-review) modul pelatihan guru dari kemendikbud. Melalui kesempatan yg hadir tanpa disengaja ini, sy bertemu dan tergabung dalam satu tim bersama bu Itje Chodijah. Beliau adalah sosok guru bahasa inggris yg (pada mulanya) nampak biasa biasa saja.

Pendapat saya itu sirna seketika saat saya, mas bukik dan bu Itje Chodijah berada di satu meja makan. Beliau banyak berkomentar tentang tata kelola pendidikan makro di Indonesia. Usut punya Usut ternyata beliau telah berkiprah sebagai guru bahasa inggris selama lebih dari 20 tahun yang lalu! Mulai dari mengajar anak anak di kota hingga ke pelosok pelosok desa di batas tepi negara Indonesia sudah pernah dilakoni oleh nya.

Malam itu, sambil menikmati hidangan di meja makan, beliau berkisah tentang pengalamannya memberikan pelatihan bagi guru-guru yang ada di daerah pedalaman kalimantan. Pelatihan diadakan dalam kurun waktu 3×2 pekan dengan jeda 4 pekan setiap tahapannya.

Selama pelatihan itu, beliau memengaruhi pemikiran para guru dan pemangku kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan di daerah setempat. Selama melatih beliau memegang satu prinsip:
“Mendidik itu harus dengan cinta. Dan kepercayaan adalah salah satu komponen terpenting dalam mencinta.”

Singkat cerita, berbekal kepercayaan yang beliau tanamkan kepada guru-guru di daerah tersebut, beberapa orang anak didik berhasil mewakili provinsi kalimantan barat untuk mengikuti final salah satu ajang kompetisi paling bergengsi di Jakarta. Padahal anak-anak ini tak memiliki akses pendidikan sebaik mereka yang berada di kota-kota besar.

Maka – kata beliau – disinilah kunci dalam mendidik: percaya.
Berikan kepercayaan kepada siapapun yang akan kita didik nantinya.
Bantu peserta didik untuk memercayai dirinya sendiri bahwa ia mampu melakukannya.

Jangan pernah anggap siswa didik kita tak mampu.
Jika memang benar demikian, coba cek ke dalam diri sendiri terlebih dahulu: jangan-jangan sebagai pendidik kita yang tak mampu sampaikan dengan baik dan benar?
Jangan-jangan kita yang tak cukup sabar?



Ah, benar adanya…
Mendidik itu bukan sekedar memindahkan isi kepala.
Lebih dalam lagi, mendidik itu memunculkan kesadaran dalam jiwa.

Tanpa cinta, tanpa ketulusan hati, apa yang akan kita munculkan dalam benak mereka?
Dan semuanya dimulai dengan satu kata penuh makna: percaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *