Mendidik dengan hati, kunci sukses pendidik kini dan nanti

Riuh ramai suara anak anak seragam putih biru itu memenuhi ruangan auditorium salah satu sekolah ternama di Jakarta.
Hampir semua tampak sibuk dengan aktivitasnya. Mulai dari yang menjahili teman, tertawa cekikikan, main HP sampai ada yang jingkrak jingkrak entah karena alasan apa.

Tapi perlahan lahan suara itu meredam tatkala sesosok tubuh renta berdiri di hadapan mereka seraya membawa microphone. Ia hanya berdiri tegap sambil melihat satu per satu wajah anak anak tadi. Seolah seperti sihir, tanpa kata, tanpa isyarat apa apa tak kurang dari 3 menit auditorium mendadak sunyi.

“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.”.
Sapa sang Kakek.
” Waalaykumsalam warahmatullah wabarakatuh. ”
Suara anak anak itu menggemuruh di ruangan.

Lalu sang Kakek membuka obrolan pagi itu dengan sebuah cerita. Cerita tentang masa lalu nya yg penuh dengan perjuangan. Cerita masa remaja nya yang telah ia gunakan untuk menjelajahi dunia dengan satu misi utama: belajar.

Sang Kakek bertutur, di usia 14 tahun ia sudah mengunjungi 2 negara di luar Indonesia. Saat usianya genap 17 tahun tak kurang dari 10 negara di dunia telah ia kunjungi. Ia bukan orang yg kaya raya. Kenyataannya semua itu dilakukan dengan dukungan penuh dari negara.

Ia lanjutan cerita tentang secuil episode kehidupan nya. Cerita tentang bagaimana ia bisa meraih kesuksesan Dan menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di Mata dunia.

Dalam cerita itu tampak sang kakek begitu larut dalam sejarah kehidupan nya. Ada nasehat nasehat bijak yg tersirat. Ada hikmah yang sangat mendalam.

Anak Anak yang tadinya begitu ‘liar’ tampak mulai merunduk lesu. Wajah mereka mulai terlipat. beberapa bola mata sudah berkaca kaca. Bahkan Sesekali kudengar isak tangis yang tak tertahan.

Saya merasakan sosok ini begitu tulus dalam bertutur. Untaian kalimatnya boleh jadi biasa saja, tapi vibrasi hatinya terdengar dengan jelas mengiringi kata Demi kata. Kejernihan hati nya dalam menasehati Anak Anak ini begitu mudah dirasakan.

Ah,.. Benar juga. Pantas saja sang kakek begitu menggetarkan hati. Sebab ia melakukan ini semua karena ketulusan hati. Guru saya pernah bertutur ,bahwa bagaimanapun hati tetap akan menyentuh hati.

***

Terkagum dengan sosok ini,akhirnya saya mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang beliau.
Belakangan saya baru tahu,
sang kakek adalah duta Indonesia untuk UNESCO. Kini usianya sudah 78 tahun. Beliau pernah 13 Kali keluar masuk penjara karena menjadi aktivis Dan menentang beberapa kebijakan rezim pemerintah yang zalim. Puluhan tahun beliau habiskan dengan mendidik, menjadi guru. Mulai dari guru bagi Anak Anak hingga guru bagi para guru (dosen). Namanya menjadi kian dikenal karena berhasil menyulap Sekolah biasa bernama Labschool menjadi salah satu Sekolah terbaik di Indonesia.

Beliau adalah Prof. Dr. Arief Rachman. Guru besar di UNJ. Dan saya bersyukur berkesempatan belajar langsung dari beliau melalui forum ini.

Semoga kita bs meneladani beliau yg mendidik Dan berkirpah dengan hati.
Karena hati akan selalu menyentuh hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *