Guru itu pendidik, bukan hakim

“Menjadi guru itu… Bisa membuat kita pertama kali masuk surga atau pertama kali masuk neraka.” Papar pak uswadin, kepala sekolah SMP labschool Cibubur.

“Jika kita benar benar menjadi guru, menjadi pendidik yang membimbing anak Didik kita dalam hal yang benar dan baik, kita bisa memperoleh pahala jariyah yang berlimpah. Dan boleh jadi karena itu kita masuk surga.

Namun jika sebagai guru kita hanya omdo, alias omong doang, nyuruh murid jujur tapi kita nya tidak jujur, menghimbau murid untuk bekerja keras tapi kita nya malah malas, Malah sangat mungkin kita lah yg masuk neraka. Karena kita mengajarkan hal yang buruk.” Lanjutnya.

Mataku tak bisa lepas dari sosok guru senior yg telah berkecimpung dalam dunia pendidikan selama 24 tahun itu.

Ia melanjutkan ceritanya, “Saya jadi teringat bagaimana murid saya yang dulu sangat bandel. Kerjaannya selalu berantem sama temennya. Ada masalah dikit berantem. Berkali-kali orangtuanya dipanggil namun orangtuanya malah bilang ‘Gapapa pak. Namanya juga laki, biar jadi jagoan.’ saya hampir menyerah. Saya kira anak itu masa depannya suram. Tapi siapa sangka ternyata sekarang dia menjadi seorang artis papan atas. Namanya Herjunot Ali. Pemeran film box office Indonesia.”
.
“Dulu saya juga pernah menghadapi siswa yang susahnya setengah mati diajak ke sekolah. Saya harus menelpon anak ini setiap kali mau sekolah. Bahkan pernah suatu ketika anak ini harus kami jemput ke rumahnya agar ia mau sekolah. Dulu saya pikir anak ini akan sulit belajar dan sulit naik ke jenjang berikutnya. Namun ternyata saya keliru. Sekitar beberapa bulan yang lalu saya terhubung dengannya di Facebook. Ngobrol punya ngobrol, saya baru tau jika sekarang dia menjadi seorang psikolog lulusan UI.” tukas pak uswadin mengenang penuh haru.
.
“Sebagai guru, tidak bijak rasanya jika kita memberikan label yang buruk pada mrid kita. Kita tidak boleh menyerah dengan mereka, dengan berbagai problematika yg mereka hadapi.”
.
“Mereka boleh jadi nakal, mereka boleh jadi sering membolos, mereka boleh jadi sering berkelahi. Kewajiban kita adalah meluruskannya. Kita boleh menegur mereka, tapi satu hal yang tidak boleh kita lakukan: menghakimi mereka atas kesalahan mereka.”

“Tugas kita sebagai guru adalah memberikan bimbingan dan pendidikan terbaik pada mereka. Bukan menghakimi. Karena sejatinya kita adalah pendidik, bukan hakim.”
.
“Kita tidak berhak menghakimi mereka, karena hanya Allah yang paling berhak. Hanya Allah yg paling tahu masa depan mereka. Kita tidak akan pernah tahu bahwa boleh jadi siswa yang kita anggap paling buruk kelak mereka menjadi pribadi terbaik. Siapa yg bs memastikan bahwa siswa yang paling sering membangkang peraturan kelak menjadi penegak peraturan terbaik?”
.
Aku tercekat. Seolah ada sebuah pisau yang menusuk ulu hatiku. Kata kata pak uswadin seperti mencekik leherku. Mataku dibuat basah oleh petuahnya.
.
Tak jarang dalam hati ini terbersit penghakiman atas murid-murid ku. Seringkali tindakan indisipliner mereka membuatku geram dan memunculkan tuduhan-tuduhan atas diri meekea.
.
Ah, betapa celakanya diriku jika masih menganggap mereka yang kudidik adalah anak-anak yang nakal, yang pemalas, anak anak pembangkang dan tidak taat aturan.
Meskipun kenyataannya demikian, sebagai pendidik aku masih harus terus menumbuhkan keyakinan bahwa sejatinya mereka adalah pribadi yang baik, pribadi yang dapat berubah.
.
Terima kasih pak uswadin. Kesempatan dibina oleh salah satu sekolah terbaik di Indonesia, labschool benar benar membuka mata tentang peran kami sebagai pendidik. Alhamdulillah…
.
Gedung shafaa, saat pendampingan akademik oleh SMP labschool Cibubur.
Pandeglang, 15 September 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *