Mengajak dengan kesadaran

Siapa bilang guru baru mau belajar jika disuruh oleh dinas/atasannya?
Siapa yang bilang kalau ga ada ongkos, guru malas untuk belajar?
.
Beberapa hari yg lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah konferensi guru yang paling fenomenal di kalangan pendidik: Temu Pendidik Nusantara. Mungkin event ini tak seramai kegiatan konferensi yg diadakan oleh Kemdikbud yang jumlah pesertanya lebih dari 3.000 orang guru. Tapi bagi saya ada hal yang sangat menarik.
.
Dalam salah satu sesi, Bu @najeelashihab (pendiri komunitas guru belajar) menyebutkan ada begitu banyak salah kaprah dalam pendidikan. Salah satunya adalah bahwa baik siswa maupun guru hanya mau belajar apabila diberi iming-iming berupa insentif. Kalau ada tunjangannya, kalau ada sertifikat nya,kalau ada ongkos nya baru mereka mau ikut pelatihan.
.
Atau… Guru baru akan mengikuti pelatihan apabila ada ancaman. Kalau tidak ikut pelatihan, tunjangannya dicabut. Kalau tidak ikut pelatihan, nanti ga bisa naik pangkat, klo ga pelatihan nanti di mutasi dan sebagainya.
.
Kenyataannya? Dalam agenda temu pendidik Nusantara ini, banyak kok guru yang berangkat meski tanpa harus ada ancaman dari dinas dsb. Ga sedikit juga guru yang datang jauh jauh dari pelosok negeri dan merogoh kocek sampai jutaan rupiah. Bahkan ada sekelompok guru dari pekalongan yang bersedia menggalang dana dengan melakukan beberapa event demi mendapatkan keuntungan yang digunakan sebagai biaya akomodasi.
.
Semua dilakukan karena sebuah dorongan yang begitu mendalam: keinginan untuk belajar, keinginan untuk membekali diri dan berkontribusi dalam memajukan pendidikan generasi penerus negeri.
.
Saya jadi semakin percaya, bahwa belajar tidak harus didasarkan pada iming-iming insentif atau nilai, prestasi dan semacamnya. Tidak semua ajakan harus didasarkan pada ancaman dan menebar rasa takut. Akan lebih bijak jika kita mengajak dengan cara membangun kesadaran. Memunculkan motivasi intrinsik dalam diri.
.
Sebagai pendidik, Mungkin inilah salah satu tantangan terbesar yang harus kita hadapi di ruang belajar: menghadirkan kesadaran siswa untuk belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *