Merangsang daya pikir dengan 6 topi berpikir

“Pak, hari ini kita main apa?”, Tanya salah seorang muridku di Kelas.
“Udah, liat aja nanti.”,jawabku polos sambil mengeluarkan beberapa benda dari tas.
“Waaahhh! Kita bakalan main sulap-sulapan ya pak?” Sahut bocah lainnya.
“……… (mengrenyitkan dahi)”
“Bukan, bukan! Kita bakalan ngadain pesta ulang tahun.” Yang lain menimpali diiringi riuh tawa teman-teman mereka.
Aku cuma mesem mesem aja sambil mempersiapkan semua media ajar yang kubutuhkan.
.
Begitulah awal mula kelas fisika siang hari itu. Sebuah tantangan besar bagiku, mengajar anak SMP usia 12 tahun pelajaran fisika di tengah terik matahari yang merona. Saat itu am pelajaran terakhir dan waktu yang tersedia hanya 40 menit. Ditambah lagi mereka baru makan siang. Jreng! Kompit!
.
Meskipun aku tahu saat itu semestinya lebih tepat digunakan untuk tidur siang/istirahat, tapi aku perlu tetap menjaga komitmen sebagai seorang pendidik: mengajar.
.
“Oke, anak-anak. Hari ini kita akan mempelajari satu hal yang ternyata bisa mengantarkan banyak orang mencapai keberhasilan tertingginya. Satu hal yang bisa membuat kalian bisa ngobrol sama orangtua kalian tanpa harus ketemu. Satu hal yang membuat kamu bisa tidur nyenyak di malam hari. Satu hal yang melandasi semua penciptaan teknologi. Dan satu hal itu adalah?”
Suasana kelas hening sejenak, lalu membahana kembali.
“Ber-ta-nya.”
“KOk bisa pak?”
“Lha iya… kalo orang jaman purba dulu ga pernah bertanya gimana bisa ngobrol jarak jauh, masa iya bisa muncul teknologi telepon?”
Blablabla… blablabla…
.
Celetukan-celetukan itu muncul selama aku membawakan kelas.
Suasana semakin riuh saat aku mulai mengenakan topi ini satu per satu.
.
Lalu aku mulai menjelaskan hal yang harus mereka lakukan setiap kali aku menggunakan topi dengan warna tertentu. Jika aku menggunakan topi merah, berarti mereka harus membuat pertanyaan yang jawabannya sekiranya berkaitan dengan kondisi emosi. Jika aku menggunakan topi putih artinya mereka harus membuat pertanyaan yang jawabannya berupa fakta dan data. Jika aku menggunakan topi biru artinya mereka harus menanyakan suatu hal yang berkaitan dengan proses. Jika aku menggunakan topi hijau maka mereka harus membuat pertanyaan-pertanyaan yang memunculkan sisi kreativitas dari sebuah topik. Topi hitam untuk hal-hal yang memunculkan sikap waspada serta topi kuning yang berkaitan dengan optimisme, hal-hal yang positif.
.
Sebagai aktivitas inti, aku meminta mereka untuk menjelajahi area sekolah, mencari hal yang menarik lalu membuat pertanyaan sesuai topi berpikir masing-masing kelompok. Setelah mendapatkan daftar pertanyaan, mereka dikumpulkan kembali dan kelas ditutup dengan refleksi atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
.
Aktivitas sederhana. Bahan-bahannya pun sederhana.
Namun semoga sesi belajar ini bisa membuat mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, yang dapat menjadi bekal bagi mereka untuk menjadi cendekia.
.
Sungguh, otak kita berhenti berpikir saat kita berhenti bertanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *