Nyalakan tanda tanya dengan tiket bertanya

 

“Tiketnya, tiketnya…” Sergahku layaknya kondektur metromini sambil berdiri di depan laboratorium.
“Ga ada tiket, ga ada pertunjukan. Yang ga setor tiket belajarnya di luar kelas bareng sama kucing.”
Satu per satu muridku masuk ke ruang lab sambil menyerahkan tiket. Kali ini suasananya benar-benar mirip cinema XXI. Cuma kurang popcorn sama gandengan aja. *Eh.
.
Sambil menunggu semua masuk lab dan mempersiapkan diri, aku baca satu per satu tulisan di tiket itu. Isinya lucu-lucu. Dari yang paling sederhana dan terkesan konyol, yang ga kepikiran sama sekali dan yang rumit.
.
“Kenapa burung dikasi sayap tapi manusia engga?”
“Pak, kenapa ya ular itu jalannya pake perut. Kenapa ga pake kaki?”
“Kenapa pohon kelapa tinggi?”
“Kenapa sih ular itu sering menjulurkan lidahnya?”
“Kenapa air anget beda rasanya sama air biasa?”
“Kenapa setiap menjelang Maghrib banyak burung yang terbang-terbangan tapi terbangnya bergerombol?”
“Apa yang terjadi kalo bulan ga ada? Meledak?”
“Apa yang terjadi kalo oksigen di bumi hilang selama 3 menit?”
“Kenapa black hole itu bisa menarik benda angkasa yang ukurannya jauh lebih besar dari dia?”
.
Dan lain lain…
.
Bagiku, untuk ukuran anak berusia 12 tahun, pertanyaan-pertanyaan itu menarik sekali untuk dijawab. Bahkan beberapa aku tak mampu menjawabnya.
.
Aku jadi teringat akan sebuah hasil rirset yang dilakukan di inggris.  Dari 100 anak yang diteliti ternyata rata-rata dalam sehari (12 jam) mereka membuat sekurang-kurangnya 180 pertanyaan.
.
Hmm… Memang benar rupanya. Manusia itu adalah makhluk berpikir, dikaruniai akal oleh sang pencipta. Itu sebabnya wajar jika kita banyak bertanya. Namun sayangnya kebiasaan ini terkikis oleh pola pendidikan yang kurang memberikan kesempatan pada akal untuk bertanya, untuk berpikir.
.
Makanya… Tergerak oleh kegelisahan itu aku terapkan mekanisme ‘tiket bertanya’ sebelum murid-muridku masuk kelas. Mereka kuharuskan membuat sebuah pertanyaan tentang alam. Boleh berdasarkan apa yang mereka amati, khayalan, informasi yang mereka dapatkan atau bertanya berdasarkan apapun.
.
Untuk memudahkan, setiap dari mereka dibekali dengan 5 tiket dan mereka wajib bawa setiap akan masuk ke kelas.
.
Semoga dengan teknik ini mereka mpu menjadi pribadi yang lebih kritis, lebih peduli dan lebih mampu menggunakan akalnya sebagai modal dalam berkarya kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *