Mendalami pemahaman murid dengan kertas ilmu dan jurnal refleksi

“Ya ampun pak…. Masuknya udah susah pake tiket masuk. Masa iya keluar kelas juga harus pake tiket?” Rengek salah seorang murid kepadaku.
“Bukan tiket keluar.. cuma kertas tempelan.”
“iya pak… Sama aja. Kan susah….”
“Ah, masa iya? Emang apa sih susahnya nulis apa yg kamu dapet selama belajar sama bapak?”
“Ya susaaah… Kan harus mikirrrr.”
“Yaelaaah… Mikir doang. Justru dengan mikir kamu makin pinter. Ya kan.??”
“Hehe…”
Dan ia pun melengos pergi sambil senyam-senyum sendiri.
.
Siang itu aku memang menerapkan satu aturan baru: menempelkan kertas ilmu di pintu kelas sebelum mereka keluar. Tanpa itu mereka belum boleh meninggalkan ruangan.
.
Instruksi nya sangat sederhana, setiap orang diminta menuliskan ilmu apa saja yang telah mereka dapatkan selama belajar 3 jam pelajaran denganku. Boleh berupa informasi yang paling diingat, yang paling berkesan, rumus atau apapun. Yang jelas apa yang mereka tuliskan harus menjadi gambaran hal yang mereka pelajari selama di kelas.
.
“Alasan orang menggoreng pake minyak bukan pake air.”
“Ternyata minyak lebih mudah menyerap panas dibandingkan air sesuai dengan kapasitas kalor nya.”
“Saya baru tau kalo setiap zat itu kapasitas kalor nya beda-beda.”
Kubaca kata per kata di setiap lembaran yang ada.
.
Melalui lembaran ini aku bisa mengetahui mana materi yang tersampaikan dengan baik, mana materi yang masih perlu lebih dipertajam. Dari sisi murid, mereka bisa merefleksikan apa materi yang telah mereka dapatkan dan yang belum mereka dapatkan.
.
Supaya dampaknya lebih optimal, seluruh kertas tadi kutempelkan pada selembar kertas lalu kuberikan komentar positif yang membangun. Di pertemuan selanjutnya, kertas ini kuberikan pada mereka sebagai media refleksi.
.
Enak gitu kan?
Sebagai murid mereka dapat melakukan refleksi, pun halnya aku sebagai pendidik. Kayak kata parents jaman old,
“Sambil menyelam minum kopi dan menikmati sepotong roti.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *