Picu dan Pacu Rasa Ingin Tahu Siswa dengan Jurnal Bertanya

Dalam publikasinya prof. Dr. Andreas krapp, seorang ilmuwan psikologi Jerman  menyatakan pangkal dari motivasi seseorang dalam belajar adalah ketertarikan nya terhadap sesuatu (Krapp, 1998). Jadi jika kita ingin menumbuhkan motivasi belajar siswa, maka hal pertama yang harus disentuh adalah ketertarikannya.
Sebagai seorang guru kimia dan fisika, menghadirkan ketertarikan ini menjadi salah satu tantangan tersendiri. Apalagi jika sudah berkaitan dengan perhitungan atau hal-hal yang mengharuskan mereka berpikir.
Teringat dengan konsep framework iB (internasional baccalaureate) yang mengedepankan curiosity (rasa ingin tahu) saya mencoba merancang mekanisme bertanya pada siswa, “Bener ga sih bertanya, memunculkan rasa ingin tahu itu bisa meningkatkan motivasi mereka dalam belajar??”.
Sekitar 2 pekan lalu saya menerapkan aturan belajar baru kepada mereka:
Sebelum masuk mereka harus menyerahkan tiket bertanya. Isinya adalah sebuah pertanyaan yg mengusik pikiran mereka tentang alam.
Saat awal masuk kelas, saya pilih pertanyaan yang paling menarik dan mencoba membahasnya bersama-sama. Cukup 10 menit di awal kelas untuk memupuk rasa ingin tahu mereka sekaligus membiasakan mereka berpikir.
.
Lalu bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tidak sempat terbahas di kelas? Tidakkah mereka mendapatkan hak yang sama memeproleh jawaban atas lertsnyaan mereka?
Saya kumpulkan pertanyaan setiap siswa dalam jurnal bertanya: sebuah buku berisi kompilasi pertanyaan murid.1 murid, 1 lembar, beragam pertanyaan. Saya upayakan yang terbaik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Mulai dari yang paling konyol, yang ga kepikiran sampe yang paling abstrak. Saat sesi belajar diadakan, jurnal itu saya bawa dan saya berikan kesempatan pada mereka membaca jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Dengan harapan dahaga mereka akan ilmu pengetahuan terpuaskan.
Hasilnya? Setelah diberlakukan selama 2 pekan dampaknya cukup menggembirakan. Mereka lebih sering bertanya dibandingkan sebelumnya. Meskipun belum mencapai tahap deep questioning alias bertanya secara mendalam. Tapi paling tidak kebiasaan bertanya semakin terbentuk.
Saya percaya bahwa bertanya adalah Gerbang awal memasuki istana ilmu pengetahuan. Bertanya adalah pupuk bagi rasa ingin tahu siswa. Dan bertanya adalah sumber antusiasme dalam belajar.
Mengelola Kelas tanpa pertanyaan itu ibarat memakan gulai kambing yang baru keluarkan dari lemari pendingin: lengket, berlemak dan pastinya tidak enak. Tidak nyaman bagi guru dan tentunya tidak menggairahkan untuk siswa.
Saya yakin, dengan menghadirkan pembelajaran yang memicu rasa ingin tahu, siswa akan semakin antusias dalam belajar. Sebab sejatinya anak-anak Didik kita itu bukanlah komputer yang hanya perlu diisi beragam informasi. Tapi mereka adalah manusia yang dahaganya akan ilmu harus dipenuhi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *