Buang Emosi Negatif dengan Aktivitas Bakar Sampah Emosi

Ada yang pernah dikacangin sama murid waktu lagi ngajar di kelas?
Atau barangkali ada yang pernah menjelaskan sesuatu ke murid tapi loading nya lambat bener. Ga mudheng-mudheng (baca: gagal paham). Dijelaskan menggunakan cara A sampe Z ga berhasil.
Boleh jadi sebenarnya kesalahan bukan terletak pada daya tangkap siswa yang rendah.
Bisa jadi justru strategi kita yang kurang tepat dalam memulai kelas.
Kok bisa?
Kita paham bahwa kondisi kelas itu sangat dinamis. Ada kondisi-kondisi yang terkadang membuat pelajaran menjadi kurang kondusif. Habis olahraga lah, persis setelah makan siang lah, habis ulangan harian dan sebagainya.
Sebagai pendidik, kadang kita sudah memulai pembelajaran saat para siswa belum sepenuhnya hadir dan siap mengikuti pelajaran. Mungkin ada diantara mereka yang pikirannya masih tertaut di rumah. Bisa jadi perasaan mereka masih berkecamuk karena baru saja bertengkar dengan teman sebangkunya saat istirahat sekolah. Atau barangkali ada diantara mereka yang masih menahan lapar karena tidak sempat sarapan. Wajar jika akhirnya mereka tidak bisa mengikuti pembelajaran lantaran kondisi fisik maupun psikis yang belum 100% siap.
Lalu bagaimana solusinya?
Saya sempat diajari oleh rekan sekaligus guru belajar saya, Mas surya kresnanda bahwa agar lebih siap belajar, seluruh hambatan-hambatan psikis siswa perlu dibuang. Cara membuangnya? bisa secara simbolis. Strategi yang saya terapkan kali ini adalah dengan cara membakar semua emosi negatif yang dirasakan siswa.
AKtivitas ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi emosi negatif pada diri siswa yang dikhawatirkan akan mengganggu selama pembelajaran.
Alat yang dibutuhkan:
– kertas ukuran kecil (Anda bisa menyediakan untuk siswa atau siswa menyediakan sendiri)
– wadah logam yang kira-kira cukup untuk menampung kertas sejumlah siswa di kelas
– 1 botol kecil spiritus/alkohol
– korek api
Tahapan aktivitas:
i. Sampaikan pada siswa tujuan pembelajaran hari ini. Berikan pemahaman pada mereka bahwa untuk belajar itu perlu fokus dan untuk fokus maka semua emosi negatif perlu dibuang.
ii. Minta mereka menuliskan hal-hal negatif yang mereka rasakan saat itu di kertas kecil. Pikiran/prasangka/kekhawatiran yang dirasakan juga termasuk kategori emosi negatif
iii. Minta mereka meremas-remas kertas itu dan memasukkannya ke wadah logam yang telah Anda siapkan
iv. Sampaikan pada siswa bahwa demi mendapatkan ilmu dan agar dapat belajar dengan optimal, maka semua emosi negatif ini harus dimusnahkan
v. tuangkan spiritus ke dalam wadah berisi kertas lalu bakar seluruh kertas tersebut
Catatan:
– untuk mengurangi resiko timbulnya asap yang berlebihan, pastikan seluruh kertas terkena spiritus/alkohol
– gunakan spiritus/alkohol dalam jumlah sedikit (sekitar 5 mL saja), spiritus yang terlalu banyak akan menyebabkan waktu pembakaran terlalu lama dan menghabiskan waktu aktivitas pembuka
– pastikan tidak ada benda-benda yang mudah terbakar di sekitar tempat membakar kertas
Supaya lebih maksimal saya melakukan dialog yang isinya kira-kira sebagai berikut:
Saya (Sa): Anak-anak, menurut kalian belajar itu baik atau buruk?
Siswa (Si): Baiiiikkk
Sa: Kenapa belajar itu baik?
Si: Karena mencari ilmu itu termasuk amalan yang dimuliakan Allah pak
Si: Karena bisa jadi pinter
Si: Karena bisa minterin orang pak
Sa: Ok, kalau hal baik setan suka ga?
Si: Engggaaaa
Sa: Jadi kalo kita mau belajar biasanya setan ngapain?
Si: Gangguin pak.
Sa: Gimana cara mereka gangguin?
Si: Yaa… dibuat ngantuk
Si: Dibikin laperr paaak.
Si: Dibuat ga suka sama pelajarannyaa
Sa: Nah, banyak kan?? Makanya biar itu srtan pada ilang semua. Bapak minta kalian keluarkan kertas dan tuliskan semua ‘bisikan setan’ yang ada pada diri kalian. Tulis semua hal negatif yang kira-kira akan mengganggu kalian selama belajar di kertas itu. Kalau sudah Bapak minta masukkan kertas itu di wadah ini. Lalu aktivitas bakar-bakar pun dilakukan.
Hasilnya?
Alhamdulillah. Selama 3 jam pelajaran siswa dapat lebih kondusif. 70% siswa aktif selama proses pembelajaran. Meskipun masih ada juga sih yang ngantuk, yang iseng sama temennya, yang main-main dan sebagainya. Tapi adanya momentum bakar sampah emosi itu membuatku dapat lebih mudah mengingatkan mereka. “Lho… kok masih ngantuk? Bapak kira rasa ngantuknya udah kebakar tadi di depan.”, “Yuk ah, pengen ngejailin temen itu kan bagian dari emosi negatif. Masa iya masih ada? kan udah dibakar tadi.”
Aktivitas sederhana kaya makna dan tentunya berdampak terhadap proses pembelajaran siswa.
Yuk, jadi pendidik yang bermakna bagi anak didik kita.
Salah satunya dengan menyiapkan mentalitas belajar siswa sebelum pembelajaran dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *