4 Tahapan Menanamkan Iman Pada Anak

Suatu hari di kelas Perbandingan Agama, seorang teman bertanya…

“Pak, apa yang mengharuskan kami mempelajari mata kuliah ini, sementara kami tahu bahwa Islam adalah agama yang sempurna?”

Suasana mendadak hening, beberapa kepala mengangguk sepakat dengan pertanyaan yang diajukan.

Beliau nampak termenung & menghela nafas…

“Karena kelak anda akan memiliki anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka akan menanyakan banyak hal, termasuk tentang agama kita. Anda harus tahu, pertanyaan anak-anak itu seringkali melampaui apa yang kita bayangkan..”

Saya tertegun mendengar jawaban beliau yang diluar dugaan. Pikiran langsung melayang pada Naira. Sudah sesiap apa diri ini menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu kelak? Sudah seserius apa saya membekali diri dengan ilmu agama? Mampukah saya menumbuhkan benih iman yg sudah Allah karuniakan dalam jiwanya, seiring pertumbuhannya?

Lalu dengan mantap beliau menyampaikan..

“Persiapkanlah diri kalian…orang tua harus menjadi sumber utama yang dapat meyakinkan anak bahwa Islam lah satu-satunya agama yang Allah ridhai.”

Kali ini saya yang menghela nafas dalam-dalam. Amanah ini…semoga Allah selalu menuntun kami untuk melipatgandakan ikhtiar, menempa diri dengan iman, ilmu dan amal yang terus bertambah baik.

images

Ucapan dosen saya diatas seakan terus terngiang di telinga bahkan sampai saat ini, entah kenapa… seolah menjadi pelecut bagi saya untuk mencari tau bagaimana seharusnya tahapan yang dilakukan orangtua dalam menanamkan kecintaan terhadap nilai-nilai islam pada anak, yang bukan hanya sebatas pengetahuan, tapi juga teraplikasikan dalam kehidupan. Dan qadarullah, seminggu kemarin saat sedang mencari bahan untuk skripsi, saya menemukan bahasan yang menarik terkait pendidikan agama yang terilhami dari kitab Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah) karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

Tujuan utama pendidikan agama pada anak menurut Ibnu Qayyim adalah menjaga kesucian fitrahnya dan melindunginya agar tidak jatuh ke dalam penyimpangan serta mewujudkan dalam dirinya ubudiyah (penghambaan) kepada Allah.

Senada dengan Ibnu Qayyim,Imam Ghazali menambahkan bahwa pendidikan agama harus mulai diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Sebab dalam tahun-tahun tersebut, seorang anak mempunyai persiapan menerima kepercayaan agama semata-mata dengan mengimani saja dan tidak dituntut untuk mencari dalilnya. Bagaimana caranya? Tentunya teladan dari orangtua menjadi kunci yang paling penting dan harus diutamakan dalam pelaksanaannya. Sekokoh apa tauhid, iman dan akhlaq orangtua maka akan seperti itulah anak meneladani. Ibnu Qayyim mendorong agar para orang tua sebagai pendidik, menjadikan dirinya orang yang istiqamah dan kokoh dalam perilaku akhlaknya, agar mereka mampu mendidik anak-anaknya dengan qudwah (teladan) sebelum mendidik dengan kata-kata. (kemudian saya malu, merasa belum ada apa-apanya dalam memberi teladan :'(

Lalu apa yang harus dilakukan orang tua sembari berusaha terus memberikan teladan pada anak?

Dari tujuan pendidikan agama yang disebutkan Ibnu Qayyim, sederhananya saya menarik kesimpulan bahwa proses yang dilakukan haruslah menjembatani anak untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Allah. Oleh karena itu, aktivitas pendidikan yang dilakukan harus selalu diarahkan untuk kepentingan akhirat.

Berikut ini adalah implikasi pendidikan dari konsep tasawuf Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang bisa memandu kita dalam upaya mendidik anak :

  1. Al-Yaqzhah (Tahap Penyadaran)

Al-Yaqzhah adalah terjaga dari tidur yang lelap, maksudnya adalah tersadarnya seseorang dari ketidaktahuan yang berkepanjangan.

Proses awal yang paling penting bagi orang tua saat mendidik anak mengenal Islam adalah memunculkan kesadaran tentang betapa pentingnya mempelajari Islam untuk kehidupan. Dan gerbang pembuka kesadaran ini adalah dengan menghadirkan iman di dalam hati anak kita.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Hal paling krusial yang sering ditanyakan anak adalah segala sesuatu tentang Allah. Maka orang tua harus belajar dan menguasai benar jawaban yang akan disampaikan, karena jawaban kita akan sangat mempengaruhi kondisi keimanan anak.

Ibnu Qayyim menyarankan kepada para orangtua untuk memahami tahap perkembangan musia anak, sehingga apa yang disampaikan lebih mudah diterima karena sesuai kemampuan anak.

Salah satu contoh yang bisa dijadikan rujukan bisa kita pelajari disini

2. Al-Fikrah (Tahap Penghayatan)

Al-Fikrah diartikan sebagai kekuatan pikiran yang muncul karena adanya perenungan.

Setelah anak memiliki kesadaran untuk beriman kepada Allah, misalnya. Maka orang tua hendaknya mengajak anak untuk merenungkan berbagai kekuasaanNya, bentuk kasih sayangNya yang bisa dikaitkan dengan keseharian anak. Hal ini sangat berguna agar anak mampu menghayati dengan hati dan kekuatan pikirannya tentang apa yang telah kita sampaikan, ia mampu mengambil hikmah yang akan semakin menghujamkan keimanan dalam dirinya.

3. Al-Bashirah (Tahap Pemantapan)

Al-Bashirah (pandangan batin) adalah tahapan yang membebaskan hati dari kebingungan.

Setelah anak mampu mengambil hikmah di tahapan al-fikrah maka anak akan semakin menikmati penjelasan yang akan kita utarakan selanjutnya dan mungkin akan muncul pertanyaan baru untuk menghilangkan keraguannya. Maka kondisi ini adalah kesempatan emas bagi orang tua untuk menanamkan dan memantapkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang sesuai dengan ajaran Islam, serta membentuk kepribadian anak yang berakhlaq mulia.

4. Al-Azm (Tahap Peneguhan)

Al-Azm adalah ketajaman hati yang mendorong seseorang untuk melakukan kebenaran.

Dalam tahapan ini, peran orang tua selanjutnya adalah mengarahkan anak untuk memaknai ilmu yang telah dia dapat dengan cara memberikan motivasi pada anak agar dapat mengimplementasikan dalam kesehariannya. Pemaknaan ini bisa juga dilakukan dengan cara bertanya pada anak, misalnya, “Menurut adek, bukti kita mencintai Allah itu bisa dilakukan dengan cara seperti apa ya?. Dari pertanyaan itu akan muncul inisiatif yang mendorong anak untuk melakukan suatu perbuatan. Tugas orang tua selanjutnya adalah membimbing dan membersamai anak untuk mengamalkan ilmunya dalam kehidupan.

Beberapa tahapan diatas semoga bisa membantu kita dalam mengupayakan diri memberikan pendidikan islam terbaik bagi anak-anak kita. Doa’akan saya juga bisa menerapkannya untuk anak-anak. Karena bagaimanapun apa yang ditulis akan tetap menjadi teori sebelum kita mengamalkannya (*ntms :’( )

Sumber :

SKRIPSI : Implikasi Paedagogis dari Konsep Ibnu Qayyim Al-Jauziyah tentang Persinggahan Salik menuju Allah terhadap Fase-Fase Metode Pengajaran (Penyusun : Taufik Arifin)

Segenggam Iman Anak Kita, Fauzhil Adhim

#ODOPfor99days #day2

#InstitutIbuProfesional

Islamic Education Enthusiast, Home Educator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *