Mengenalkan Allah Pada Anakku

“Pada usia dibawah 7 tahun dimana seluruh indera sedang berkembang pesat, keingintahuan anak sedang sangat tinggi, maka masa ini adalah masa terbaik untuk menanamkan TAUHID dalam jiwa anak.”

(Malik bin Marwan)

Sejak dikaruniai seorang anak, saya dan suami sepakat. Bahwa pendidikan pertama dan utama bagi anak-anak kami adalah aqidah, bagaimana ia mengenal Rabb-Nya. Maka selagi mengandung anak pertama, saya dan suami pun berusaha mengisi ruhiyah dengan mengikuti kajian, membaca buku, menambah kualitas ibadah, dll.

Tujuannya untuk ‘berisi sebelum mengisi”. Karena tidak mungkin berharap memiliki anak yang mencintai Allah, sementara orang tuanya sendiri tidak bersungguh-sungguh untuk mencintai Allah. Meski pada kenyataannya, sampai sekarang pun kami masih harus terus belajar dan akhirnya belajar bersama anak untuk memperkuat aqidah. Tapi tidak apa-apa, justru ini akan menjadi perjalanan belajar yg menyenangkan untuk kami, InsyaAllah.

Menyemai kecintaan pada Allah untuk anak balita tentu punya tantangan tersendiri, tapi bukan berarti sulit juga. InsyaAllah ada beberapa cara yang ingin kami bagi, semoga bekenan..

🌸 Mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi

Dalam buku prophetic parenting disebutkan bahwa hikmah mengumandangkan adzan di telinga bayi sesaat setelah dilahirkan adalah agar ucapan yang pertama masuk adalah kata-kata yang mengungkapkan sifat-sifat kebesaran Allah, keagungan-Nya dan mengenalkan ucapan syahadat sebagai syarat sah masuk islam.

🌸 Menjadikan Allah sebagai topik utama dalam keluarga.

Meskipun bayi belum bisa berbicara dan memahami maksud cerita ayah bunda, tapi kami berusaha sesering mungkin berbicara tentang kasih sayang Allah di depan anak2 kami. Percaya, InsyaAllah bayi adalah pendengar yang baik, semakin sering ortu berbicara tentang Allah, semakin akrab Allah di telinga anak. Dimulai dari yg sederhana saja..

Misal, sentuh mata anak dg lembut, lalu berbicaralah dg bayi kita.

“Ini mata, siapa yg ciptakan mata nak? Mata kita, Allah yg ciptakan. Alhamdulillah, Nizar dan bunda dikaruniai mata yg sehat ya, nak. Allah ingin kita jaga mata ini baik2, Allah ingin kita melihat apa yang Allah suka.”

Terus upayakan setiap perbincangan kita dan anak selalu dikaitkan dengan kasih sayang, nikmat & karunia dari Allah. Masa bayi hingga usia 5 tahun, adalah fase disaat jaringan-jaringan otak anak saling terhubung, ini adalah masa emas untuk mengenalkan banyak hal pada anak. Manfaatkan masa ini untuk mengenal Rabb-Nya.

🌸 Mengenalkan tentang Allah dg kalimat/suasana yang positif.

“Eh jangan nakal ya.. Allah benci loh sama anak nakal. Dosa loh, Kalau nakal nanti kamu jadi temennya setan.” Familiar dg kalimat-kalimat seperti itu? Yap, masih banyak ortu yang lebih sering mengenalkan Allah disaat anak-anak melakukan perbuatan kurang baik, Allah disandingkan dengan kebencian dan dosa. Secara tidak sadar, kalimat2 seperti itu akan memberi kesan negatif tentang Allah kepada anak. Memangnya salah gitu memberitahu kalau anak nakal itu gak disayang Allah?

Menurut kami, akan lebih baik jika caranya tidak seperti itu. Dalam islam kita mengenal khauf (rasa takut pada Allah), tapi jangan lupa juga ayah..bunda..ada Raja’ (harapan yang tinggi untuk mendapat ridha dan rahmat dari Allah). Maka bagi kami, penting sekali untuk mengenalkan Allah melalui kalimat-kalimat yg positif, sekalipun anak sedang berbuat kurang baik. Misal, saat Naira makan sambil berdiri, maka kami ingatkan Naira..

“Nak, Allah suka kalau Naira makannya sambil duduk. Yuk, makan sambil duduk biar Allah makin sayang sama Naira.”

Mulai dengan “Allah suka kalau (sebutkan perbaikan yg kita harapkan dari diri anak).”

Harapan kami dg cara itu maka anak akan memahami dengan sendirinya bahwa perbuatan yg berlawanan dg yang Allah suka, maka Allah tidak suka.

🌸 Memanfaatkan moment untuk mengajak anak bersyukur dan berdoa

Menanamkan syukur menjadi salah satu hal yang sangat mendasar dalam mendampingi perkembangan jiwa anak untuk mengenal Rabb-Nya. Dengan syukur, anak akan menyadari, ada Allah yang Maha Memberi, memenuhi kebutuhannya, mengabulkan do’anya.

Sebagai orang tua kita harus jeli memanfaatkan moment-moment sederhana untuk menumbuhkan rasa syukur. Salah satu moment yang sangat berpengaruh adalah saat anak dlm kondisi bahagia karena saat bahagia gelombang otak anak ada dalam kondisi alpha, kondisi ini sangat baik digunakan utk memasukkan nilai-nilai kebaikan pada anak.

Orang tua juga bisa menciptakan moment untuk melatih anak bersyukur melalui aktivitas-anak yang menarik, seperti membuat jurnal syukur bersama. Baca juga contoh DIY jurnal syukur Jurnal Syukur Naira

Tanamkan dalam jiwa kita dan anak-anak bahwa setiap kebaikan bermula dari Allah dan kebaikan apapun yang kita inginkan mintalah sungguh-sungguh hanya pada Allah.

🌸 Membaca buku bersama

Banyak sekali penelitian yang menjelaskan pentingnya membacakan buku sejak anak usia dini. Selain untuk membangun bonding antara orang tua dan anak, buku juga bisa menjadi media untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan.

Dalam bukunya ustadz Faudzil Adhim menyampaikan bahwa kegiatan membaca bersama anak harus kita manfaatkan untuk menanamkan tauhid dalam jiwa anak.

Saat ini sudah banyak sekali buku yang mendukung para orang tua untuk mengenalkan Allah pada anak, dari yang berbayar hingga gratis.

Ada beberapa buku yang ingin saya rekomendasikan. InsyaAllah di tulisan yang lain ya, semoga Allah mudahkan.

Pada intinya setiap orang tua pasti punya pendekatan masing-masing yang pas dengan kondisi anaknya untuk mengenalkan Allah. Dari semua cara itu, ada yang harus sama-sama kita perjuangkan yaitu memohon sepenuh harap pada Allah agar Allah bimbing hati dan lisan kita saat menyampaikan tentang rahman dan rahim-NYA pada anak-anak kita. Agar hati anak kita terpaut dengan cinta yang hakiki dan menjadikan setiap langkah hidup mereka untuk semakin mendekat padaNya. Saling mendo’akan ya 😊

Islamic Education Enthusiast, Home Educator

2 Comments

  1. sarieffe
    November 9, 2018

    waa..bagus mba..bisa buat ngajarin kakak nih..makasih mba

    Reply
    1. Syarifah Annisa
      November 30, 2018

      Sama-sama mba 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *