Menata Niat Menggapai Barakah Pernikahan

Jika suatu hari datang melamar kepadamu 3 lelaki yang..
1. Shalih, paras tampan, belum berpenghasilan.
2. Belum shalih, paras sangat tampan, sudah mapan.
3. Sedang belajar menjadi seorang yang shalih, paras biasa, penghasilan belum tetap.
Kira-kira lelaki mana yang akan dipilih?
Shalihat, tidak ada jawaban yang benar ataupun salah tentunya, tapi disadari atau tidak pilihan kita akan sangat dipengaruhi oleh satu hal yang akan menjadi sandaran kita saat mengarungi bahtera pernikahan di kemudian hari bersamanya. Apakah itu?
Menikah dalam Islam bukan hanya menyatukan jalinan cinta dua insan, tetapi lebih dari itu, karena dengan menikah maka menjadi sempurnalah setengah agama kita. Menikah menurut sebagian ulama menjadi ibadah terpanjang dalam kehidupan umat muslim jika diawali dengan niat yang benar. Oleh sebab itu sangat penting bagi kita untuk mempersiapkannya dengan baik.

Tentu kita tidak ingin ibadah terpanjang kita menjadi sia-sia, menjadi tak berpahala karena niat yang keliru. Lalu apa itu niat? Niat adalah amalan hati (amaliyah qolbiyah), ia menjadi pondasi dalam melakukan amalan dan menjadi syarat diterimanya suatu amalan.Niat bukanlah semata apa yang kita ucapkan, tapi ia menjadi alasan yang menggerakkan kita untuk melakukan suatu amalan.

Sebagai muslim, kita mengetahui bahwa setiap niat yang terbersit dalam hati harus dalam kerangka ibadah dan meraih keridhaan Allah. Begitupun dengan menikah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang mengawini seorang perempuan karena parasnya, maka Allah akan menambahkan kehinaan padanya (suaminya), barang siapa yang menikahi perempuan karena hartanya, maka Allah akan menambah kemiskinan padanya. Barangsiapa yang mengawini perempuan karena tahtanya, maka Allah akan menambah kerendahan padanya. Dan barangsiapa yang mengawini orang dengan maksud hendak menjaga pandangan mata, menjaga kemaluan, atau menyambung hubungan keluarga, maka Allah akan memberkahi ia pada istrinya dan memberkahi istri padanya.” (HR. Al-Thabrani)

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari hadits diatas? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menentukan niat menikah, karena ia menjadi penyebab barakah atau tidaknya kehidupan pernikahan yang akan kita jalani. Maka niat menikah harus bersandar pada ketaatan kita kepada Allah,

🌷 Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul
🌷 Menjaga Pandangan dan kemaluan dari hal yang diharamkan.
🌷 Melahirkan generasi muslim pengemban risalah islam
🌷 Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan keluarga).

Paras yang tampan, harta yang melimpah dan tahta tidaklah abadi, semua akan mengundang rasa kecewa jika tidak diniatkan karena Allah. Bahkan saat memilih karena keshalihan pun, kita harus mau berusaha menelisik hati apakah niat nya sudah karena Allah atau ada terbersit perasaan ingin dipuji karena memiliki pasangan yang shalih.

Terkadang kita sulit mendeteksi apakah niat kita sudah lurus karena Allah atau belum. Tapi saat niat kita sudah lurus, coba maknai… akan Allah karuniakan dalam hati kita :

🌹 Jiwa yang tenang saat melakukan amalan
🌹Tidak terpengaruh penilaian orang lain
🌹 Tidak kecewa jika Allah menghendaki suatu hal selain dari yang kita inginkan

Adakalanya niat awal kita sudah lurus, namun berubah sesaat setelah akad terucap. Shalihat, syaithan itu gerah jika ada orang yang beramal baik, maka ia akan terus mencari celah untuk menggugurkan amal baiknya, godaan akan terus dilancarakan agar kita melenceng dari apa yang dikehendaki Allah, niat kita dibuat goyah.

Maka sangat penting bagi kita untuk menjaga niat tetap lurus karena Allah baik saat memutuskan memilih calon pendamping, saat berproses, dan setelah menikah pun kita harus selalu berusaha untuk terus memperbaiki niat kita. Bagaimana caranya? Hati kita, Allah yang genggam, maka sebaik-baik upaya adalah dengan memohon pertolongan Allah agar ditetapkan hati kita untuk menjadikan pernikahan sebagai sarana ibadah meraih ridha-Nya.

Adapun pertolongan Allah dapat kita jemput melalui beberapa Amaliyah, seperti :

💕 Rajin membaca dan mengkaji Al-Qur’an dengan tujuan untuk mendapatkan petunjuk dari Allah. Kita tahu bahwa salah satu nama Al-Quran adalah Asy-Syifa, dalam bahasa arab Syifa diartikan sbg obat yang paling ampuh untuk membersihkan hati kita dari berbagai penyakit, hati yang bersih InsyaAllah akan melahirkan niat yang lurus karena Allah.

💕 Memperbanyak qiyamullail dan shaum untuk menjaga diri kita dari perbuatan sia-sia yang bisa menyebabkanl niat kita luntur.

💕 Yang paling penting adalah dengan tekun berDOA, kita manusia adalah makhluk yang lemah mintalah pertolongan dan kekuatan darinya untuk teguh menjaga niat karena-NYA.

Sejatinya memperbaiki niat adalah pembelajaran kita seumur hidup, ia akan selalu diuji seiring perjalanan hidup kita. Jangan sampai bahtera pernikahan kita kelak menjadi salah arah karena niat yang salah. Jadikan ia lillah, berharaplah agar pernikahan kita selalu diliputi barakah. Berusahalah sekuat upaya untuk mendekat pada Allah, mintalah padaNya agar selalu membimbing pernikahan kita hingga bermuara di Jannah-Nya. Agar jika suatu saat ada masalah berat menyapa, maka Allah kuatkan diri dan pasangan kita untuk melaluinya dengan penuh keimanan.

Selamat menata hati,
Selamat mempersiapkan diri,
Membangun cinta yang

tinggi,

Menggapai ridha Illahi.

*Beberapa waktu lalu saya diminta untuk mengisi kulwap tentang niat menikah. Cara Allah mengingatkan saya, supaya saya mau merenungi dan meresapi lagi tentang niat yang harus senantiasa diperbaiki menjelang 5 tahun pernikahan kami. Karena saya percaya, apa yang ditulis dan dibagi itu sejujurnya adalah media refleksi untuk diri sendiri.. 😊

Islamic Education Enthusiast, Home Educator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *