Menyapih atau NWP?

Saat mengetahui ada janin titipan Allah di usia Nizar yang belum menginjak 1 tahun, rasanya campur aduk, MasyaAllah. Tidak dapat dipungkiri ada rasa cemas kehilangan momen mengASIhi Nizar hingga usianya genap 2 tahun. Berbagai keraguan berkelebat dalam hati, saya khawatir tidak mampu melewati masa ini dengan baik. Namun perasaan tersebut langsung saya lawan dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan memberikan amanah melampaui batas kemampuan kita.

Pengalaman memberi ASI adalah sesuatu yang penuh kenangan bagi saya. Bukan karena ikut-ikutan trend jaman sekarang, terlebih karena menyusui adalah perintah Allah. ASI adalah rezeki yang dititipkan pada seorang ibu, sebagai tanda cinta dari Allah untuk setiap anak. Dan jika diniatkan untuk meraih ridha Allah, proses menyusui anak akan menjadi ibadah yang tak ternilai pahalanya.

Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang sedang menyusui bayinya,

“Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata’ala.”

Sejak itu saya mulai mencari dari beberapa literatur tentang bagaimana islam mengatasi kondisi ini. Dimana seorang ibu hamil saat anaknya belum usai disapih. Karena saya pun tidak ingin mengambil keputusan yang gegabah atau terburu-buru menyapih tanpa dasar ilmu.

Alhamdulillah, akhirnya menemukan rujukan dari buku Hanya Untukmu Anakku (terjemahan dari kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud) karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Beliau mengawalinya dengan anjuran untuk menyusui anak selama 2 tahun yang tertulis dalam Alquran.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)Ayat ini mengandung beberapa hukum :
1. Masa menyusui yang sempurna adalah dua tahun. Hal ini menjadi hak seorang anak jika dia membutuhkannya dan belum bisa lepas darinya. Penyebutan حولين (dua tahun) yang diperkuat dengan كاملين (penuh atau sempurna keduanya) bertujuan agar lafazh حولين tidak dipahami satu tahun atau lebih dari dua tahun.

2. Apabila kedua orang tua ingin menyapih anaknya sebelum masa itu dengan kerelaan keduanya dan setelah musyawarah, maka dibolehkan untuk menyapih selama tidak berdampak buruk pada anak.

3. Jika seorang bapak menginginkan anaknya disusui oleh wanita lain selain ibunya, maka hal itu boleh dilakukan sekalipun ibunya menolak. Kecuali jika hal tersebut akan mendatangkan keburukan bagi ibu atau anaknya, maka hal itu tidak diperkenankan. Dan ibunya pun boleh melanjutkan menyusuinya hingga jangka dua tahun atau lebih.

(Hanya Untukmu Anakku, halaman 436)

Dari penjelasan diatas saya menarik kesimpulan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang memungkinkan seorang ibu untuk menyapih anak lebih awal dari yang dianjurkan oleh Alquran. Pada bahasan berikutnya beliau pun membahas salah satu kondisi yang mungkin terjadi yaitu ibu hamil saat masih menyusui anaknya.

Menurut penuturan beliau ada beberapa pilihan yang harus diambil ketika ibu mengalami hal tersebut. Dua hal yang sangat beliau anjurkan adalah segera menyapih anak sekalipun belum mencapai usia 2 tahun atau mencarikan ibu susuan. Mengapa demikian? Karena seiring bertambahnya usia kehamilan, produksi ASI jumlahnya akan berkurang akibat homon estrogen yang semakin meningkat. Secara tidak langsung hal tersebut akan berpengaruh pada asupan gizi sang anak. Namun ungkap beliau, tidak juga ada larangan untuk meneruskan memberi ASI jika memang tidak ada efek buruk pada anak dan ibu setelahnya. Dua anjuran diatas disarankan atas dasar kehati-hatian. Wallahua’alam.

Saya sempat galau akan menyapih atau NWP (Nursing While Pregnant). Setelah menimbang, akhirnya saya pun mencoba untuk meneruskan mengASIhi Nizar. Karena selama ini tidak ada reaksi yang saya rasa akan membahayakan janin, seperti kontraksi saat menyusui atau lemas berlebihan setelah menyusui anak. Saya tidak ingin langsung menghentikan pemberian ASI pada Nizar, karena khawatir akan menciderai psikisnya.

Meskipun begitu saya berniat untuk menyapih Nizar lebih awal secara bertahap dan senatural mungkin, tanpa paksaan. Sehingga begitu adiknya lahir, Nizar sudah siap dengan kondisi barunya. Qadarullah, mungkin ini sudah menjadi sunnatullah. Di usia kehamilan menginjak 6 bulan, semakin jarang saya merasakan LDR (Let Down Reflex) atau asi mengalir deras saat menyusui. Sehingga Nizar pun mengurangi kebiasaan meminta ASI dengan sendirinya. MasyaAllah.

Hingga sekarang Nizar masih meminta ASI sewaktu-waktu dan saya pun masih memberikannya. Saya yakin Allah sudah mengaruniakan pada diri seorang anak kemampuan untuk mengenali kapan ia siap untuk menyapih dirinya sendiri. Biidznillah…

Islamic Education Enthusiast, Home Educator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *