Buat Perencanaan Dengan Pola Pikir yang Benar

Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, fresh-grad, pekerja profesional, pebisnis, pedagang, ibu rumah tangga atau profesi apapun seringkali kita dihadapkan dengan satu masalah: perencanaan. Perencanaan terhadap setiap hal. Mulai dari urusan kantor atau bisnis yang bernilai milyaran rupiah hingga urusan perencanaan aktivitas liburan bersama keluarga.

Seringkali saat membuat perencanaan kita melakukannya menggunakan mindset (pola pikir) yang kurang tepat. Akibatnya banyak hal yang tidak kita inginkan terjadi. Mulai dari perencanaan yang berubah-ubah, target yang tidak pernah tercapai, konsistensi yang rendah dan lain sebagainya.

Beberapa bulan terakhir saya terlibat dalam sebuah proyek digital education untuk sebuah software studio dan mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga berkaitan dengan perencanaan ini. Salah satunya adalah memiliki mindset yang benar dalam merencanakan suatu hal.

Pertama: Tentukan Tujuan dengan Jelas

Banyak diantara kita ketika akan membuat perencanaan tidak menetapkan tujuan dengan cukup jelas. Misalkan, saat seorang mahasiswa tingkat akhir ditanya apa rencana yang akan dilakukan setelah lulus, tidak sedikit diantara mereka yang menjawab, “Bekerja, kang.” atau “Lanjut kuliah, mas” atau sejenisnya. Lalu mereka kebingungan setelah ditanya lagi, “Kerja dimana? di perusahaan bidang apa? Lanjut kuliah dimana? jurusan apa?”, dan seterusnya.

Tentu dalam merencanakan akan jauh lebih baik ketika kita bisa mendefinisikan dengan jelas apa yang jadi tujuan kita. Misalnya, “Saya akan mengambil gelas MA di bidang Educational Leadership di Institute of Education, University College London di tahun 2021.” Penetapan tujuan yang jelas ini membuat perencanaan kita jadi jauh lebih mudah.

Semakin jelas apa yang akan kita tuju, semakin mudah kita membuat perencanaan. Sebagai tips, pastikan dalam menentukan tujuan penuhi elemen-elemen berikut ini

  1. Apa yang ingin dicapai
  2. Dimana hal itu bisa dicapai
  3. Kapan kira-kira hal itu (direncanakan akan) dicapai

Kedua: Tahu sumber daya yang kita punya

Ada yang pernah membuat target lalu pada akhirnya target itu hanya menjadi retorika belaka? Alias apa yang kita targetkan itu hanya menjadi impian. Ya… impian yang tidak pernah terwujud. Mengapa? Sangat mungkin karena target kita ketinggian. Kenapa ketinggian? bisa jadi karena kita tidak tahu kondisi kita saat ini.

Ibaratnya begini. Ada seseorang yang ingin pergi ke temannya. Katakanlah rumah temannya ini ada di pusat pemukiman yang super padat. Ia menelpon temannya,

“Bro, rumahmu dimana?”
“Ini bro, ada di kavling 47 no 21A.”
“Lah dimana itu?”
“Gini deh, agak susah nyarinya. Sekarang kamu ada dimana? Ntar aku pandu lewat telepon.”
“Ga tau men, ini aku ada di mana. POkoknya ada banyak banget rumah disini.”
“Lah, rumah yang gimana?”
“Ga tau ya rumah aja. Ini ada yang pagernya pink. Ada tukang martabaknya.”
“Duh dimana pula itu?”
“Ga tau bro… Jadi gimana cara ke rumahmu?”
“Ya kamu nya ada dimana? aku ga bisa ngarahin kalo ga jelas kamu ada dimana.”
dan kisah itu berlanjut sampai besok subuh. Berakhir dengan gagalnya kunjungan itu.

Kebayang kan gimana kita bisa membuat perencanaan yang tepat kalau kita sendiri ga tau kita ada dimana. Gimana bisa tau cara terbaik mencapai tujuan kalau kita sendiri ga tau sumber daya yang kita punya apa aja.

Jadi penting sekali menentukan apa saja sumber daya yang kita miliki. Sebab dengan itu kita bisa membuat perencanaan dengan lebih bijak, tidak muluk-muluk, tapi juga tidak pesimistis.

 

Ketiga: Tahu bagaimana caranya

Kamu tau gimana caranya bikin telor dadar?
Pasti tahu lah, yes.
Tinggal ambil 2 butir telur, lalu pecahkan telurnya, masukkan telur ke mangkuk, tambahkan 1 sdt garam, lalu kocok-kocok menggunakan garpu. Tuangkan 100 mL minyak goreng ke teflon, hidupkan kompor dengan api kecil lalu jika minyak sudah panas tuangkan telur ke dalam teflon. Tunggu hingga telur berwarna coklat keemasan. Angka telur, tiriskan dan jadilah telur dadar.

Sekarang, gimana caranya bikin telor dadar kalo kita ga punya kompor? Tapi kita punya oven.
Bisa? Tentu saja. CAranya? mirip seperti tadi, cuma bedanya kita ga perlu hidupkan kompor. Cukup masukkan telur ke mangkuk tahan oven, hidupkan oven lalu tunggu hingga berwarna coklat keemasan.

Terakhir. Gimana caranya membuat telor dadar jika ternyata kita ga punya kompor, ga punya oven? Kita cuma punya telur, plastik, aluminium foil dan saat ini kita sedang berada di pinggir jalan beraspal yang sangat panas. Nahlo! Caranya ya sederhana saja. Buat aluminium foil seperti wadah berbentuk kotak, ceplok telurnya, lalu kocok-kocok menggunakan plastik lalu masukkan ke kertas aluminium foil. Kemudian letakkan kertas aluminium foil itu di atas aspal. Bisa? bisa saja.

Bisa lihat polanya?

Bahwa menentukan cara melakukan suatu hal selalu berkaitan dengan tujuan yang akan kita capai dan kondisi saat ini (sumber daya yang kita punya). Dalam membuat perencanaan, informasi tentang tujuan yang spesifik dan sumber daya yang ktia punya sangat berkaitan. Semakin banyak kita memiliki informasi tersebut, semakin mudah kita membuat perencanaan.

Lalu bagaimana jika tidak cukup punya informasi? Ya harus dicari. Sambil menentukan cara mencapai tujuannya.

 

Keempat: tahu apa yang kita evaluasi

Seandainya kita tidak mendefinisikan secara jelas telur dadar seperti apa yang ingin kita buat, apakah kita bisa menentukan bahwa kita telah berhasil membuat telur dadar yang kita inginkan?

Kalau kita tidak menentukan bahwa telur yang baik adalah telur yang: enak rasanya (tidak hambar), matang sempurna (tidak ada yang cair) dan berwarna keemasan, bagaimana kita bisa tahu bahwa kita sudah berhasil membuat telur dadar?

Ketiga cara yang kita lakukan bisa jadi memberikan hasil yang berbeda. Tanpa mengetahui parameter-parameter yang jelas tentang telur yang kita inginkan adalah telur yang seperti apa, sulit rasanya menentukan apakah kita berhasil atau tidak.

Bayangkan… membuat telur dadar yang sederhana saja perlu perencanaan yang tepat dan matang. Apalagi merencanakan kehidupan kita? Tentunya jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan.

 

Contoh Kasus

Untuk membuat perencanaan yang baik kita perlu melakukannya dengan pola pikir yang tepat:

  1. tentukan tujuan
  2. Pahami kondisi saat ini
  3. Pikirkan bagaimana caranya
  4. tentukan parameter-parameter ketercapaian tujuan

Proses ini tidak hanya dilakukan sekali. Namun harus dilakukan berkali-kali dan diulangi terus menerus.

Misalkan:

Punya target untuk menjadi seorang milyarder di usia ke 25. Lalu saat sudah menginjak usia 25 tahun, boro-boro jadi miliarder. 10 juta rupiah saja tak punya. Kita lupa dengan kondisi kita saat ini.

Mengapa hanya menjadi retorika/impian belaka? Kemungkinan besar penyebabnya ada 2:

  1. Targetnya terlalu tinggi, tidak mungkin dicapai dengan sumber daya yang kita punya
  2. Cara mencapainya mustahil bisa kita lakukan dengan sumber daya yang ada

Misalkan. Kita punya target jadi miliarder di usia 25 tahun. Tapi kita lupa, bahwa saat ini kita berusia 24 tahun dengan penghasilan per bulan hanya Rp 2.000.000 dan berprofesi sebagai kasir di alifmart dengan tabungan di rekening hanya Rp 1 juta dan tidak memiliki bisnis. Katakan kita cuma punya waktu 10 bulan untuk bisa menghasilkan uang Rp 1 Miliar. Itu artinya kita harus mendapatkan Rp100 juta per bulan.

Apakah itu mungkin didapatkan jika kita hanya bekerja dengan gaji Rp 2 juta per bulan? Tidak mungkin.
Lalu bagaimana cara mendapatkan Rp 100 juta per bulan?
Bisnis. Oke. Kalau memang begitu, bisnis apa yang bisa menghasilkan 100 juta per bulan? Bisa berdagang, mengimpor barang sejumlah 100.000 unit lalu kita jual lagi dengan keuntungan minimal per unit nya Rp 1.000.

Lalu kemudian pertanyaan selanjutnya, “Untuk mengimpor 100.000 unit berapa modal yang kita butuhkan? uangnya darimana? apakah kita punya uang sebanyak itu?” Jika jawabannya tidak memungkinkan untuk melakukan itu maka how to nya harus kita ubah.

Terus kalau how to nya ga nemu-nemu gimana? Ya berarti kemungkinan terbesarnya adalah target kita yang terlalu tinggi. Kita harus sesuaikan targetnya menjadi lebih rendah. Atau kita bisa perpanjang waktunya, tujuannya jangan jadi miliarder di usia 25 tahun, tapi di usia misalkan 30 tahun, atau 35 tahun. Tergantung rencana mana yang paling mungkin dilakukan.

Nah proses ini diulang terus menerus hingga kita mantap dengan rencana yang akan kita jalankan.

Penutup

Jadi, jika kita ingin membuat perencanaan yang lebih matang, ikuti prosesnya, jalani dengan pola pikir yang benar. memang tentu tidak mudah membuat perencanaan yang baik. Tapi yakinilah bahwa jika kita telah merencanakan dengan baik itu artinya kita sudah melakukan setengah pekerjaan dengan benar. Sisanya tinggal bagaimana kita mengeksekusi rencana itu menjadi aksi yang nyata.

Masih ingat dengan pepatah,

“Jika kita gagal merencanakan itu artinya kita sedang merencanakan kegagalan.”

Jadi apakah kamu mau merencanakan kegagalan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *