OTOPET: Strategi Membuat Siswa Termotivasi Belajar Tanpa Sogokan Tanpa Ancaman

Selama membaca tulisan ini mungkin Anda penasaran sebenarnya bagaimana caranya menumbuhkan motivasi poros ketiga, motivasi intrinsik dalam diri manusia?
Dalam bukunya yang berjudul, Drive: the surprising truth about what motivate us, Daniel Pink menyebutkan bahwa untuk menumbuhkan motivasi intrinsik kita harus memasukkan tiga elemen ini dalam aktivitas belajar bersama siswa: Otonomi, penguasaan dan tujuan. Saya menyingkatnya menjadi OTOPET

Otonomi.

Tahukah Anda bahwa perusahaan teknologi dan informasi Google mengizinkan para insinyurnya menggunakan 20% dari waktu kerja mereka untuk mengerjakan proyek pribadi mereka. Mereka berhak memilih proyek yang mereka suka, mereka boleh memilih dengan siapa mereka bisa mengerjakan proyek itu dan mereka bebas menentukan cara menyelesaikan proyek tersebut. Hasilnya? Sebagian dari proyek itu menjadi aplikasi yang berhasil dalam sejarah google. Seperti gmail, orkut, gogle news dan lain sebagainya.
Adanya otonomi ini akan memengaruhi sikap dan performa setiap orang, tidak terkecuali anak didik kita. Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk memilih membuat motivasi intrinsik mereka bertumbuh. Mereka akan merasa menjadi manusia seutuhnya yang lebih dihargai. Alih-alih hanya menjadi diktator yang mengharuskan mereka melakukan A, B, C dan seterusnya, kenapa tidak kita berikan saja kesempatan pada mereka untuk membuat pilihan mereka sendiri?
Ada 3 hal yang bisa kita berikan kesempatan pada siswa untuk memilih:
  1. Memilih apa yang akan mereka kerjakan (task)
  2. Memilih kapan mereka melakukannya (time)
  3. Memilih bersama siapa mereka melakukannya (team)
Contoh penerapannya? banyak sekali. Kita bisa memberikan kesempatan pada siswa untuk memilih sendiri paket soal quiz/ujiannya. Di awal pembelajaran sebelum kita mulai membawakan materi pelajaran kita bisa berikan kesempatan pada mereka untuk memilih: mau belajar topik yang mana dulu, nak? Atau kita bisa saja buatkan materi pembelajaran dalam bentuk lembaran poster lalu menempelkannya di beberapa area sekolah. Kita persilakan mereka untuk memilih mau mempelajari materi yang mana. Kita juga bisa berikan kesempatan pada mereka untuk menentukan sendiri kapan mereka mengerjakan tugasnya. Atau berikan kesempatan mereka untuk memilih bersama siapa mereka mengerjakan tugas atau aktivitas atau proyeknya. Intinya berikan kesempatan pada siswa untuk memilih.

Penguasaan

Pernah mendengar istilah reaktor nuklir? Ya, sebuah perangkat yang dapat memanfaatkan energi nuklir sebagai sumber energi. Biasanya perangkat ini dibuat oleh para pakar dan ilmuan-ilmuwan senior. Tapi percaya atau tidak, di Inggris ada seorang anak berusia 13 tahun yang berhasil menciptakan sendiri reaktor nuklirnya. Ya, namanya adalah Jamie Edwards. Ia membuat reaktor fusi nuklir di sekolahnya dengan cara yang sederhana. Saat ia mengemukakan gagasannya kepada gurunya, ia tidak digubris. Akhirnya ia mencoba mengajukan kepada kepala sekolah dan kepala sekolah mencoba memfasilitasinya. Berbekal izin dari kepala sekolahnya jamie berkunjung ke beberapa profesor di perguruan tinggi untuk belajar. Namun ternyata keinginannya disepelekan. Tidak putus asa, jamie mencoba mencari literatur dan mempelajari sendiri prinsip-prinsip dasar reaksi fusi. Ia bertanya ke para ahli yang peduli dengan gagasannya. Hingga akhirnya di tahun 2008 silam ia berhasil menciptakan mini reaktor fusinya sendiri dengan menghabiskan anggaran 2.600 poundsterling saja.
Hasil gambar untuk Jamie Edwards youngest scientist
Bisa terbayang bagaimana seorang anak usia SMP menciptakan reaktor fusinya sendiri?
Keinginan dalam diri jamie mendorong ia untuk mencari tau, belajar, mencoba berkali-kali tanpa peduli gagal atau berhasil. Yang ia tahu hanyalah ia ingin mencapai tujuannya. Ia mencoba melakukan dari hal yang sederhana. Sekali ia bisa menguasainya ia akan berusaha dengan sendirinya naik level ke jenjang yang lebih tinggi. Dan semua ia lakukan tanpa adanya sogokan apalagi ancaman.
Memberikan kesempatan pada siswa untuk bisa menguasai suatu hal adalah salah satu faktor pendorong dalam diri yang sangat kuat. Jika kita ingin siswa kita termotivasi, berikan kesempatan pada mereka untuk menguasai hal-hal tertentu. Biarkan mereka mencoba, yakinkan pada diri mereka bahwa mereka bisa, tunjukkan jalan seperlunya. Berikan kesempatan pada mereka untuk gagal. Dan yang tak kalah penting, apresiasi setiap langkah yang mereka lakukan, percayalah bahwa mereka mampu mencapainya.
Sebagai pendidik kita perlu memberikan ruang bagi murid-murid kita untuk menguasai hal-hal yang penting bagi mereka. Salah, gagal, keliru itu tidak mengapa. Karena dari kesalahan itulah mereka belajar. Dari kegagalan itu mereka mengerti mana yang harus diperbaiki agar mereka menjadi berhasil.

Tujuan.

Pernah merasa belajar sesuatu tapi mendadak lesu karena merasa tidak penting mempelajari hal itu?
Bayangkan Anda ditugaskan oleh Kepala sekolah atau manajer atau atasan Anda untuk mengikuti seminar/workshop. Tapi kenyataannya Anda sama sekali tidak tertarik dengan materi yang dibawakan dalam seminar/workshop itu. Kira-kira apa yang terjadi? Mengantuk? Bosan? Pengen seminarnya cepat selesai? Semua itu bisa terjadi karena Anda merasa tidak menemukan tujuan Anda belajar dalam seminar/workshop tersebut.
Coba kita berkaca pada murid-murid kita. Kira-kira apakah mereka merasa menemukan tujuannya mempelajari sesuatu saat belajar di ruang kelas bersama Anda?
Apakah sebagai pendidik kita sudah menghadirkan makna dalam pembelajaran bersama murid-murid kita?
Hasil gambar untuk teacher thinking
Tanpa tujuan, tanpa makna, setiap proses pembelajaran akan terasa kering dan hampa. Tidak hanya bagi murid, bagi kita sebagai pendidik pun demikian. Ketika kita mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban sebagai seorang guru, ketika kita masuk ke kelas hanya karena takut tidak mendapatkan gaji/honor di akhir bulan, ketika itu pula kita kehilangan makna dlam mendidik. Hal itu pula yang akan membuat semangat mendidik kita kian kendur.
Oleh karena itu penting bagi kita menghadirkan makna pembelajaran dalam diri murid-murid kita. Ajak mereka untuk memahami konsep AMBAK: Apa Manfaatnya Bagiku. Sebelum mengajar kita perlu membayangkan diri kita sebagai siswa, kemudian bertanya, “Jika aku mempelajari materi ini bersama pak/bu XXXX (Anda), apa manfaatnya bagiku?”, “Memangnya kalau belajar materi ini aku bisa apa?”, “Apa gunanya belajar materi ini?”, “Apa yang terjadi kalau aku tidak mempelajari hal ini?” dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya.
Saya yakin, dengan menanyakan hal-hal itu kita bisa menyisipkan pesan-pesan bermakna kepada murid-murid kita selama kita menjalankan peran kita sebagai pendidik di sekolah. Hadirkan makna, kuatkan tujuan pembelajaran, maka kita dan mereka akan merasa menjadi manusia seutuhnya.
Kesimpulan: apa yang bisa saya lakukan untuk menumbuhkan motivasi intriksik siswa?
Gunakan konsep otopet: otonomi, penguasaan, tujuan.
Berikan ruang bagi siswa untuk memiliki otonominya sendiri dalam belajar. Berikan mereka kesempatan untuk:
  1. Memilih topik mana yang akan dipelajari terlebih dahulu
  2. Memilih waktu mengerjakan tugas/proyek mereka sendiri
  3. Memilih proyek mereka sendiri
  4. Memilih anggota tim mereka sendiri
  5. Memilih tempat belajar
  6. Memilih tempat mengerjakan soal quiz
  7. dan lain sebagainya
Intinya berikan otonomi sehingga siswa memliki keleluasaan memilih apa yang mereka lakukan, kapan mereka melakukan hal itu dan bersama siapa mereka melakukan hal itu.
Penguasaan: berikan siswa ruang untuk mencari tahu, mempelajari, mencoba, melatih diri hingga mereka menguasai suatu hal.
Misalkan, Anda bisa melakukan hal-hal berikut ini:
  1. Saat mereka sudah tertarik terhadap suatu materi/topik pembelajaran, berikan tugas padanya untuk mempelajari hal itu dan melaporkan hasil pembelajarannya kepada kita/teman-temannya
  2. Berikan tantangan untuk melakukan suatu hal yang ia minati. Misalkan ia berminat dengan mencipta lagu, maka berikan kesempatan dan kepercayaan padanya untuk membuat lagu dan nyanyikan bersama teman-temannya
  3. Apresiasi setiap tahapan pembelajaran yang dijalani oleh murid, hindari merendahkan atau mencemooh hasil upaya mereka
  4. Berikan ruang pada siswa untuk melakukan kekeliruan dan gagal dan ajak mereka merefleksikan kegagalan itu
  5. Kuatkan siswa untuk menguasai suatu hal
  6. dan lain sebagainya
Tujuan: hadirkan makna pembelajaran di setiap kesempatan kita belajar bersama siswa.
Kita bisa melakukannya dengan cara:
  1. mengajak murid memikirkan mengapa kita mempelajari hal ini
  2. Memunculkan pertanyaan dalam diri siswa tentang apa yang akan kita pelajari
  3. Refleksi bersama murid di akhir pelajaran, mencari tau apa makna pembelajaran tersebut
  4. Mengajak mereka mengamati suatu fenomena untuk memahami makna dibalik fenomena itu
  5. dan lain sebaganya

Penutup

Zaman telah berganti, kini mendidik murid zaman now tidak bisa menggunakan cara zaman old. Mengutip kata baginda nabi,  bahwa kita harus mendidik anak sesuai zamannya. Kini era mendidik dengan kekerasan, dengan ancaman dan sogokan sudah berakhir. Murid-murid kita sudah tidak mempan dengan itu semua. Sebagai pendidik yang kekinian dan yang peduli dengan masa depan mereka kita harus mendobrak diri, berusaha semampunya untuk mendidik mereka dengan cara mereka.
Menumbuhkan motivasi intrinsik adalah cara mereka termotivasi untuk belajar secara mandiri. Maka mari hadirkan OTOPET dalam setiap pembelajaran kita bersama mereka dan jadikan diri kita semua manusia seutuhnya. Memang tidak mudah, tapi yakinilah bahwa semua jerih payah yang kita lakukan kelak akan terbayar lunas dengan keberhasilan mereka di masa yang akan datang.
Anggayudha (@ayesaja)
Pendidik, KGB Bandung.

2 Comments

  1. Taufik Junaidie
    October 11, 2018

    Wah keren Pak

    Awalnya pikiran saya, strategi Otopet menjadi terbayang scooter (sesuai image nya)

    Wah ternyata singkatan to ^_^

    Mantap Pak… Tulisannya sangat menginspirasi dan kembali menggali pemahaman saya, berkenaan belajar tanpa sogokan…

    Reply
    1. Anggayudha
      October 24, 2018

      Alhamdulillah… Iya pak. biar gampang ngingetnya. hehe..
      Semoga kita semua bisa adopsi ya

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *