Berikan Siswa Otonomi untuk Memanusiakan Hubungan dan Optimalkan Pembelajaran

Dalam bukunya, Drive, Daniel Pink menunjukkan fakta yang membuktikan bahwa pemberian otonomi bisa meningkatkan produktivitas. Di Atlassian – sebuah perusahaan IT asal australia – memberikan otonomi pada tim engineer untuk bebas mengerjakan proyek apapun, dengan siapapun dengan cara apapun di 20% waktu kerja mereka membuat produktivitas mereka meningkat.

Sebagai pendidik, apa yang bisa kita pelajari?

Kita perlu memberikan otonomi pada siswa kita dalam masa pembelajaran mereka. Berikan kesempatan pada siswa untuk memilih. Memilih apa? Bisa jadi apa saja yang sekiranya bisa mereka pilih. Contohnya: memberikan mereka pilihan mau belajar materi yang mana terlebih dahulu – tentunya pilihan materi ini sudah kita rancang sebelumnya, sebisa mungkin bukan topik pembelajaran yang sistem pre-requisite (harus dipahami sebelum memahami materi lainnya). Contoh lainnya, memberikan pilihan mau mengerjakan proyek yang mana, mau bekerja bersama kelompok yang mana, atau sesederhana: mau belajar di kelas atau di luar?
Sebagai gambaran yang lebih kongkrit, di pertemuan lalu saya mencoba menerapkan pemberian otonomi pada siswa saat memfasilitasi proses pembelajaran pembentukan ikatan ionik pada siswa. Berikut ini tahapan pembelajaran yang saya terapkan:
  1. demo memecahkan gula batu dan garam batu
  2. eksplorasi penyebab rapuhnya garam batu
  3. Penjelasan konsep ikatan ionik dengan menganalogikan pria dan wanita yang akan menikah
  4. pengenalan rumus kali silang
  5. konsep hasil ikatan ionik yang menghasilkan senyawa netral
  6. Pengenalan ion tunggal dan poli ion
  7. latihan membentuk senyawa ionik menggunakan puzzle ionik
  8. refleksi belajar
Mengingat tidak semua tahapan belajar perlu diterapkan konsep otonomi, maka saya mencoba menerapkan otonomi di tahapan nomor 7 saja.
Di tahapan ini saya letakkan semua potongan puzzle di meja. Setiap potongan merepresentasikan satu ion, baik itu ion tunggal maupun poli ion. Lalu saya berikan kesempatan pada setiap siswa untuk memilih sendiri kation dan anionnya. Setiap kali (menurut mereka) berhasil membuat suatu senyawa ionik, mereka tuliskan rumus senyawanya di papan tulis. Saya berikan tantangan kepada mereka: berapa banyak kelas ini mampu membuat senyawa ionik dalam kurun waktu 1×5 menit
Setelah waktu habis, saatnya refleksi dan mencari tau mana senyawa ionik yang benar dan mana senyawa ionik yang tidak eksis (tidak ada). Dari proses ini mereka bisa mengetahui bagaimana semestinya membentuk suatu senyawa ionik dari ion-ionnya serta sebaliknya bagaimana menguraikan senyawa ionik menjadi ion-ionnya.
Jika saya bandingkan dengan metode belajar yang dulu, yang monoton dan sekedar memberikan latihan soal di papantulis, cara ini jauh lebih memanusiakan hubungan. Melalui aktivitas ini saya merasakan siswa lebih antusias dalam belajar. Antusiasme itu terlihat dengan jelas saat mereka mencoba menggabung-gabungkan puzzle ion lalu menuliskan senyawa ionik di papan tulis. Semua ini karena satu hal: karena mereka diberikan pilihan, karena mereka memiliki otonomi, dan otonomi ini lah yang membuat mereka lebih berdaya.
Saya yakin konsep memberikan otonomi, memberikan pilihan pada siswa dapat memanusiakan hubungan. Dan semua proses ini dapat lebih mengoptimalkan pembelajaran. Sesederhana apapun bentuk pilihan yang diberikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *