Resume Buku Start With Why – Memulai Dengan ‘Mengapa’

Buku ini ditulis oleh Simon Sinek, seorang etnografer handal yang sangat peduli dengan kepemimpinan yang menginspirasi.
 
Buku ini Ditulis atas kegelisahan sekaligus keingintahuan penulis atas satu pertanyaan, “Mengapa hanya ada sedikit sekali perusahaan/organisasi yang terus berkembang dan bertahan untuk puluhan, bahkan ratusan tahun. Sementara sebagian sisanya hanya mampu bertahan jauh lebih singkat.”
“Apa yang membuat para pemimpin besar dunia mampu menciptakan perubahan-perubahan besar dalam peradaban?”
Dan pertanyaan sejenisnya.
 
Buku ini menceritakan pola itu, sebuah keberhasilan yang dicapai ternyata bermula dari satu motif sederhana: mereka mengetahui secara persis MENGAPA mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Dan mereka mengajak, menginspirasi orang lain untuk duduk, berdiri, berlari bahkan berjuang hingga mati bersamanya.
 
Ada 6 poin bahasan yang disajikan dalam buku ini: mengapa manipulasi berbeda dengan menginspirasi, konsep lingkaran emas, kepemimpinan, orang-orang yang senantiasa percaya, alasan yang besar. Klik untuk melihat setiap bahasan
Simon percaya bahwa kepemimpinan yang sejati lekat dengan kemampuan untuk menginspirasi orang lain dengan sebuah tujuan yang jelas, tanpa embel-embel keuntungan ataupun insentif. Orang-orang ini mampu memimpin karena mereka benar-benar menginspirasi para pengikut mereka tanpa adanya manipulasi.
 
 
 
Dalam buku ini, SImon menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi dengan dua cara: menginspirasi atau memanipulasi.
 
Hari ini kita sangat familiar dengan manipulasi. Penjualan, promosi, periklanan, pemasaran, mereka semua adalah bentuk dari manipulasi yang sering kita temui. Teknik ini memang mampu menghasilkan penjualan jangka pendek namun bukan pembelian jangka panjang, apalagi meningkatkan loyalitas pelanggan.
 
“Kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan orang lain untuk mengikutinya bukan hanya untuk sesekali saja, melainkan untuk bertahun-tahun lamanya. Dalam bisnis, kepemimpinan berarti membuat pelanggan terus mendukung perusahaan meskipun perusahaan sedang terjatuh.” (Simon SInek)
 
Tujuan dari sebuah kepemimpinan dalam bisnis adalah menginspirasi para pelanggan yang loyal. Para pelanggan loyal ini bersedia membayar lebih mahal untuk tetap dapat berbisnis dengan kita. 
 
Memang, melakukan manipulasi untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek adalah pilihan yang mudah. Tapi sayangnya hal itu tidak membuat bisnis kita tetap berkesinambungan. Menginspirasi para pelanggan memang membutuhkan upaya yang lebih menantang, tapi hal itu bisa memberikan keuntungan jangka panjang untuk bisnis kita.a
Menurut Simon sinek, ada pola yang sama persis terjadi pada organisasi serta para pemimpin yang membuat perubahan besar di dunia dan pola ini sama sekali tidak ditemukan pada orang/organisasi lain.
 
Setiap orang normal mengetahui dengan persis APA yang sedang ia kerjakan. Tanpa terkecuali. Namun hanya sebagian diantara mereka yang mengetahui BAGAIMANA cara melakukannya. Dan sayangnya lagi, hanya sangat sedikit diantara Orang-orang itu yang memahami MENGAPA mereka melakukannya.
konsep lingkaran emas


 
 
Penulis menyebut pola ini adalah lingkaran emas. Sebuah konsep yang boleh jadi paling sederhana dari banyak konsep yang ada. Jika diilustrasikan Dalam bentuk diagram, konsep ini digambarkan sebagai 3 lingkaran dengan ukuran berbeda: lingkaran terluar adalah APA, lingkaran tengah adalah BAGAIMANA dan lingkaran terdalam adalah MENGAPA.
 
.
Para pemimpin, para penggerak di dunia dan organisasi-organisasi terbaik memahami dengan baik ketiga hal ini. Mereka tidak sekedar mengetahui APA yang mereka lakukan -misi dan visi mereka, BAGAIMANA mereka mencapainya dan yang terpenting: MENGAPA mereka melakulannya.
.
Kebanyakan orang/organisasi mengkomunikasikan dari luar ke dalam. Sementara para pemimpin/penggerak perubahan mengkomunikasikan nya dari dalam ke luar. Mereka menjelaskan terlebih dahulu keyakinan mereka (berkaitan dengan MENGAPA) mereka melakukan hal itu, lalu BAGAIMANA mereka mencapai itu dan APA yang mereka tawarkan.
.
Penulis memberikan contoh, Apple – salah satu perusahaan raksasa yang bergerak dalam bidang teknologi. PAda umumnya perusahaan menjual produk dengan cara menjelaskan produknya seperti ini, lalu inilah yang kamu lakukan dan beginilah kami melakukanya. Namun Apple melakukan kebalikannya. 
 
Dalam melakukan semua hal, kami berupaya untuk menentang status quo dan berpikir berbeda (menjelaskan MENGAPA). Kami melakukannya dengan cara menciptakan prduk yang didesain dengan sangat indah dan sangat mudah digunakan (menjelaskan BAGAIMANA). Dan kami baru saja menciptakan sebuah komputer yang hebat. Apakah Anda ingin membelinya? (Menjelaskan APA yang ditawarkan).
 
“Sebenarnya, konsep ini bukanlah konsep yang baru,”, Simon menjelaskan, “Ini adalah biologi.” Konsep lingkaran emas sangat berkaitan erat dengan struktur otak. Aspek ‘APA’ berkaitan dengan sebuah area pada neokorteks yang memiliki fungsi berpikir secara rasional. Aspek ‘BAGAIMANA’ sangat erat kaitannya dengan otak limbik, bagian otak yang memunculkan emosi dan tempat mengambil keputusan. Otak limbik tidak memiliki kendali atas bahasa. 
 
Jika kita ‘menyentuh’ otak limbik lawan bicara dengan MENGAPA dan BAGAIMANA maka kita dapat membuat lawan bicara kita segera menyentuh emosinya dan membuatnya mengambil keputusan. Berikutnya bagian logis (neokorteks) yang akan merasionalkan keputusan yang sudah dibuat. Itulah alasan mengapa penting sekali mengkomunikasikan sesuatu dengan pola MENGAPA – BAGAIMANA dan APA.
 
Simon menemukan fakta bahwa manusia akan tertarik pada manusia lain yang memiliki keyakinan dan nilai yang serupa. Kita akan cenderung tertarik pada mereka, menjalin relasi dan membangun kepercayaan berdasarkan keyakinan dan nilai-nilai tersebut. Sebagai seorang pemimpin, jika ingin menginspirasi dan mendapatkan pengikut, ia harus dipercaya.
 
Kembali pada konsep biologi, kepercayaan bukan dibangun berdasarkan rasionalitas atau logika. kepercayaan dibangun berdasarkan emosi. 
 
“You have to earn trust by communicating and demonstrating that you share the same values and beliefs. You have to talk about your WHY and prove it with WHAT you do. Again, a WHY is just a belief, HOWs are the actions we take to realise that belief, and WHATs are the results of those actions. When all three are in balance, trust is built and value is perceived.”
 
“Anda harus mendapatkan kepercayaan dengan berkomunikasi dan menunjukkan bahwa Anda memiliki nilai dan keyakinan yang sama. Anda harus menyampaikan ke-MENGAPA-an Anda dan membuktikannya dengan APA yang Anda lakukan. Lagi-lagi, MENGAPA hanyalah sebuah keyakinan, BAGAIMANA adalah langkah aksi untuk mewujudkan keyakinan itu dan APA adalah hasil dari aksi-aksi tersebut. Saat ketiganya seimbang, kepercayaan akan terbangun dan nilai akan diperoleh.” (simon Sinek)
 
Saat merekrut anggota tim, yang perlu Anda lakukan adalah mencari orang dengan keyakinan dan value yang mirip/sejalan. Keahlian adalah yang kedua. 
“Perusahaan-perusahaan hebat tidak merekrut orang-orang terlatih dan memotivasi mereka. Mereka merekrut orang ysang sudah termotivasi lalu menginspirasi mereka.” (Simon Sinek)
 
Simon menjelaskan organisasi yang hebat memiliki kesatuan budaya dan kepemilikan yang kuat. Dua hal ini yang akan melindungi orang-orang di dalamnya. Mereka akan saling bahu membahu satu sama lain. Tidak ada kekhawatiran akan ketidak-percayaan.
 
Sebagai pemimpin kita akan meraih kesuksesan dalam kepemimpinan (baik secara individu ataupun bisnis) ketika kita telah meraih 15-18% dari total pasar/jumlah masyarakat. Dalam hukum sebaran (law of diffusion), sebagian besar orang baru berani mengikuti/membeli hal baru ketika orang lain sudah mengikuti/menggunakannya. Simon menyebutkan, sebagai pemimpin kita tidak harus menginspirasi seluruh manusia di dunia. Kita perlu meraih sejumlah orang saja, dan sisanya akan segera mengikuti.
Konsep lingkaran emas yang diusung oleh Simon Sinek sebenarnya adalah representasi dari struktur kerucut dalam organisasi. 
 
Sebuah organisasi tidak dapat dibangun oleh satu jenis orang tertentu saja. Perlu ada kombinasi dari ketiga tipe orang di dalamnya. Simon mencontohkan perusahaan Apple yang diprakarsai oleh Steve Jobs dan Steve Wozniak. Steve jobs hadir dengan visinya yang kuat dan kental. Sedangkan Steve wozniak hadir dengan kemampuannya dalam mewujudkan visi besar yang dibawa oleh Steve Jobs. Pemimpin ada di puncak kerucut, orang yang memastikan perusahaan/organisasi memiliki aspek ke-MENGAPA-an. Orang-orang dengan tipe BAGAIMANA (HOW) berada di bawah para pemimpin. Memastikan setiap visi dan keyakinan yang dimiliki oleh perusahaan dapat terwujud. 
 
Tanpa komunikasi yang jelas mengenai keyakinan dan nilai yang dianut oleh perusahaan, perusahaan/organisasi akan mengalami kesulitan dalam mencapai konsumennya seperti yang mereka harapkan. Divisi pemasaran dan branding memegang peranan kunci dalam mengkampanyekan keyakinan dan nilai-nilai yang dianut perusahaan/organisasi. Mereka harus menginspirasi para calon pelanggan, alih-alih hanya menyampaikan pesan pada calon pelanggan. ketika calon pelanggan terinspirasi, ia akan membeli/menerima penawaran yang kita lakukan dan berubah menjadi pelanggan. Selama kita menginspirasi mereka, mereka akan memberikan kepercayaannya kepada kita dan mereka akan berubah menjadi pelanggan setia, pelanggan loyal hingga fans kita.
 
 
Dalam buku ini Simon menceritakan pengalamannya mengikuti acara GOT: Gathering Of Titans. Sebuah acara dimana para entrepreneur tersukses di Amerika berkumpul. Fakta menariknya adalah 80% diantaranya telah mencapai tujuan finansialnya. Namun 80% nya tidak merasa telah sukses. Seiring bertumbuhnya perusahaan mereka, mereka merasa kehilangan motif dan ke-mengapa-an mereka. Keyakinan dan motif yang mereka bangun di awal perusahaan berdiri kini menjadi bias dan terkadang mereka cenderung merasa kehilangan arah.
 
Untuk para pemimpin hebat, lingkaran emas yang ia miliki haruslah selalu seimbang. Mereka mengejar motif, ke-mengapa-an. Mereka selalu berusaha mencari cara BAGAIMANA melakukannya dan APA yang mereka lakukan adalah atas bukti nyata keyakinan yang mereka anut. (Simon Sinek)
 
Saat perusahaan fokus pada aspek BAGAIMANA dan APA, mereka kehilangan motif, kehilangan aspek ke-MENGAPA-an. Perusahaan akan cenderung melakukan semua inovasi dan performa-performa terbaik hanya untuk mencapai tujuan jangka pendek, bukan mencapai sesuatu yang mereka yakini. Dorongan untuk melakukan lebih akan sirna.
 
 
 
”The WHY does not come from looking ahead at what you want to achieve and figuring out an appropriate strategy to get there. It is not born out of any market research. It does not come from extensive interviews with customers or even employees. It comes from looking in the completely opposite direction from where you are now. Finding WHY is a process of discovery, not invention.”
 
Motif tidak datang dari pemikiran tentang apa yang ingin diraih dan bagaimana strategi paling tepat untuk meraihnya. Motif tidak lahir dari riset pasar. Ia juga tidak datang dari interview dengan pelanggan ataupun karyawan. Motif besar didapatkan dari melihat segala sesuatu dari arah yang benar-benar berbeda. Menemukan motif, ke-MENGAPA-an adalah proses pencarian, bukan penemuan. (Simon Sinek).

KESIMPULAN

Setiap orang/organisasi mengetahui secara persis APA yang ia lakukan. Sedikit diantaranya mengerti BAGAIMANA cara melakukannya dengan benar. Namun hanya sedikit sekali yang mengetahui MOTIF, MENGAPA ia melakukan itu semua. Sebagai manusia kita memiliki keinginan untuk membagikan keyakinan dan nilai-nilai yang kita anut. Tapi sayangnya tidak semua orang memiliki MOTIF yang kuat dalam dirinya.

Untuk menginspirasi orang lain, kita perlu memulainya dengan satu pertanyaan sederhana: MENGAPA? Temukan motif yang kuat dalam diri kita, temukan BAGAIMANA cara mewujudkan visi, keyakinan dan nilai-nilai yang kita anut. Sehingga kita mendapatkan APA yang kita inginkan.

Simon menjelaskan bagaimana menemukan MOTIF, aspek ke-MENGAPA-an kita di buku berikutnya: FINDING YOUR WHY.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *