Merancang Model Pembelajaran Berbasis Permainan

Akhir pekan lalu saya berkesempatan untuk ikut belajar bersama teman-teman guru dari berbagai penjuru di Indonesia tentang menerapkan pembelajaran berbasis permainan.
“Emangnya bisa?”
Nah itu dia!
Dalam sesi toko bekerja (baca: workshop) saat festival belajar main tersebut kami belajar dari mas @eko nugroho, praktisi game designer dan game researcher untuk merancang sebuah sesi pembelajaran berbasiskan permainan.

Ada 5 tahapan yang perlu kita perhatikan saat akan merancang pembelajaran berbasis permainan:

  1. Planning (perencanaan)
  2. Briefing (pengarahan)
  3. Playing (bermain)
  4. De-brief (refleksi)
  5. Evaluasi

Tahapan 1 dan 5 adalah tahapan yang dilakukan oleh guru/pendidik/fasilitator di luar sesi permainan. Sedangkan tahapan 2,3 dan 4 dilakukan saat proses pembelajaran berlangsung.Kita bahas satu per satu ya:

Kita bahas satu per satu ya:

1. Planning (perencanaan)

Pada tahapan ini pendidik/guru/fasilitator belajar harus merencanakan beberapa hal utama.

Kita perlu memahami kondisi peserta yang akan belajar bersama kita. kita perlu mencari tahu profil mereka, kemampuan mereka, Kita juga perlu mendefinisikan tujuan pembelajaran dengan jelas.
Berikutnya kita perlu menentukan model permainan apa yang akan kita gunakan. Lalu menyesuaikan (adjust) model permainan tersebut agar sekiranya dapat memenuhi tujuan pembelajaran.

Ada 3 hal yang perlu kita perhatikan dalam menyesuaikan model permainan: Narasi/konten permainan, Tujuan permainan dan cara bermain.

Lalu sebelum eksekusi proses pembelajaran kita perlu menyiapkan beberapa hal teknis seperti berapa banyak mainan yang dibutuhkan, bagaimana setting tempat dan seterusnya.
Proses planning ini harus dilakukan setidak-tidaknya H-1 sebelum pembelajaran berlangsung
 

2. Briefing (pengarahan)

Permainan membutuhkan narasi/cerita pengantar agar peserta memiliki ikatan yang kuat dengan permainan.

Sebelum proses bermain dimulai, kita perlu memberikan narasi/cerita mengenai permainan kepada peserta. Misalkan, saat akan memainkan sebuah permainan ular tangga yang telah diadopsi untuk pembelajaran matematika dasar, kita bisa bercerita seperti ini:

Anak-anak. Beberapa waktu lalu Raja membuat sebuah sayembara. Barangsiapa menemukan pustaka kerajaan yang tersimpan di tebing terjalili maka ia akan dinobatkan menjadi panglima kerajaan.

Nah, sebagai seorang pemuda yang gagah berani, kalian akan berlomba-lomba mendapatkan pustaka kerajaan itu. Pustaka kerajaan itu ada di atas tebing nun jauh disana. Kita perlu melakukan perjalanan yang mahaberat. Kita akan berlomba-lomba mendapatkan harta karun itu. Jika menemukan tangga, segeralah naiki tangga itu. Tapi berhati-hatilah.

Saat bertemu ular kamu harus melompat kebawah agar kamu tidak terkena gigitannya yang berbahaya.

Ingat. Narasi ini harus dibawakan dengan sepenuh hati agar peserta semakin menjiwai permainan dan menikmati permainan.

Pada saat tahap briefing Anda juga perlu memberikan penjelasan yang lebih lengkap mengenai cara bermain dan kondisi permainan. Pastikan setiap peserta memahami dengan baik cara bermainnya. Jika perlu, Anda bisa mempraktikkan permainan sembari memberikan penjelasan.

3. Playing (bermain)

Saat waktu bermain tiba, sebagai fasilitator kita memiliki kewajiban untuk mendampingi peserta. Jangan sampai Anda membiarkan para pemain bermain sendiri tanpa Anda dampingi. Tanpa proses pendampingan yang tepat, proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif.

Lalu sebagai guru/fasilitator apa yang harus kita lakukan selama permainan berlangsung? Ada 3 hal yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan proses pembelajaran:
 
  • Observasi: amati proses permainan yang sedang terjadi di setiap kelompok/pemain
  • Intervensi: sebagai fasilitator kita perlu ikut campur dalam permainan jika dikhawatirkan permainan tidak berjalan dnegan baik. Misalkan ada peserta yang belum paham, kita bisa dekati dan berikan penjelasan lebih rinci. Jika ada proses bermain yang tidak sesuai prosedur kita bisa dekati dan ajak diskusi. Atau jika ada peserta yang ricuh satu sama lain kita bisa hadir untuk melerai dan mencari solusinya. Dan seterusnya
  • Intercept/cegat: lakukan hal-hal yang sekiranya bisa meningkatkan efektifitas pembelajaran. Misalkan ktia bisa hentikan permainan jika ternyata ada kelompok yang sudah selesai bermain. Kita bisa segera masuk ke tahapan de-brief. Dan seterusnya.

4. De-brief (refleksi)

Tahapan ini boleh jadi merupakan tahapan terpenting dalam proses pembelajaran berbasis permainan. Karena semua proses pembelajaran dari permainan akan direfleksikan pada tahapan ini.

Sebagai fasilitator Anda bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang memicu proses refleksi. Seperti misalnya:
  • Tadi siapa yang berhasil memenangkan permainan?
  • Bagian mana yang menurut kalian paling sulit dari permainan ini?
  • Apa yang seandainya terjadi ya kalau ternyata ada satu pemain yang tidak korporatif dalam tim?
  • Menurut kalian, apa dampak dari terlalu banyak mengambil uang dalam permainan ini?
  • Jika seandainya tidak ada pemain yang empati, kira-kira apa yang akan terjadi?

Dan sebagainya.

Sebagai pendidik kita perlu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan reflektif ini saat proses perencanaan.Kita juga bisa menjadikan fenomena menarik yang kita temui saat proses bermain berlangsung sebagai bahan refleksi. Misalkan ada pemain yang bertengkar saat bermain, kita bisa jadikan ini bahan refleksi. Atau misalkan ada pemain yang ternyata pasif saat bermain, ini juga bisa kita jadikan bahan refleksi.

Disinilah peran utama kita sebagai fasilitator dalam menerapkan pembelajaran berbasis permainan.


Semakin piawai kita menjadi fasilitator, semakin efektif proses pembelajaran yang dijalankan.

5. Evaluasi

Pada tahapan terakhir ini, sebagai fasilitator kita perlu membuka diri selebar-lebarnya untuk mendapatkan umpan balik dari proses pembelajaran berbasis permainan.

Kita perlu melihat dengan bijaksana mana proses-proses yang sekiranya bisa diperbaiki untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Mungkin narasinya kurang menarik, atau mungkin konten permainannya terlalu teoritis, atau mungkin cara bermainnya terlalu rumit, atau bisa jadi konteks pembelajaran dan permainan tidak sejalan, atau hal-hal lainnya.

Hasil refleksi dapat menjadi acuan utama dalam melakukan evaluasi. Anda juga bisa melakukan wawancara personal/komunal dengan peserta di luar sesi bermain.


Semakin banyak umpan balik yang Anda dapatkan, semakin besar peluang Anda untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis permainan.


Tidak jauh berbeda dengan proses riset, kelima proses ini perlu kita lakukan terus menerus untuk membuat rancangan pembelajaran berbasis permainan yang lebih baik.

Jadi jangan pernah lelah untuk terus menerus memperbaiki model yang dikembangkan demi meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dan jangan lupa, apapun model permainan yang dikembangkan, yang menjadi fokus kita adalah bagaimana caranya agar pembelajaran dapat lebih optimal, bukan pada seberapa seru permainannya. Sebab namanya juga pembelajaran berbasis permainan, belajar menggunakan pendekatan permainan. Belajar datang terlebih dahulu sebelum bermain.

Selamat mempraktikkan. Selamat mengeksplorasi dan memanfaatkan sisi positif permainan untuk pembelajaran. Silakan sebarkan konsep ini sebagai salah satu alternatif metode pengajaran.
Salam gembira penuh makna!
 
PS: ada yang ingin mencoba menerapkan konsep ini dan belajar bersama-sama membuat model pembelajaran berbasis permainan?
Silakan tinggalkan komentar “MAU” di postingan ini ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *