Mekanika Permainan 03: Pilih Dadu

Mengajarkan topik yang kompleks selalu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi bagi guru kimia sepertiku yang dituntut menyampaikan materi yang abstrak dan sulit dipahami dalam waktu yang relatif singkat.

Dalam suatu pertemuan aku harus memberikan pemahaman bahwa dalam suatu reaksi, tidak semua zat habis bereaksi. Ada zat yang jika ia habis maka reaksinya juga habis alias berhenti.

Kalau hanya sekedar dijelaskan seperti itu mungkin tidak semuanya paham dengan mudah. Kalau praktikum, aku khawatir waktunya  tidak memadai. Akhirnya agar lebih kongkrit aku coba buatkan permainan yang mengadopsi salah satu mekanik permainan lempar dan pilih dadu.

Aku menyebut permainan ini permainan eksplosif. Setiap dari mereka memiliki tugas membuat b*m TNT – trinitro toluena. TNT ini dibuat dengan cara mereaksikan toluena dan asam nitrat dengan kadar tertentu dengan bantuan asam sulfat.

Aku sudah siapkan tiga jenis kartu dan 2 jenis dadu: 1 jenis kartu toluena, 1 jenis kartu asam nitrat dan 1 jenis kartu TNT serta dadu berisi angka bergambar koin dan tabung asam sulfat. Setiap kartu terdiri dari 3 ukuran: ukuran 1 tabung, 1/2 tabung dan 1/4 tabung. Setiap kartu memiliki harga yang bervariasi. Dari 2 koin hingga 5 koin. Pun hal nya setiap dadu. Ada 5 dadu dengan variasi angka koin DNA tabung asam sulfat yang berbeda-beda.

Komponen permainan: Kartu asam nitrat (ki), kartu toluena (ka), dadu (tengah)

Cara Bermain:

  1. di awal permainan aku jelaskan pada mereka bahwa kita sedang darurat militer. Sebagai siswa SMA yang mahir kimia, mereka diminta bantuan membuat TNT. Sayangnya laboratorium rusak parah karena serangan lawan. Jadi mereka harus mengumpulkan koin untuk membeli bahan.
  2. berikutnya aku jelaskan pada mereka cara membuat TNT. Persamaan reaksinya dan rasio nya.
  3. dalam setiap giliran pemain boleh memilih untuk melakukan salah satu hal berikut ini: + Mengumpulkan koin dan asam.sulfat dengan cara melempar dadu+ membeli kartu reaktan+ Membuat senyawa TNT
  4. Secara bergiliran pemain diharuskan melempar 5 dadu. Dalam satu giliran pemain diperbolehkan melempar dadu sebanyak maksimal 3 kali. Pemain boleh memilih mana dadu yang disimpan dalam setiap lemparan.  Misalkan pemain A melempar dadu untuk yg pertama kali. Hasilnya adalah dadu 1 koin, 3 koin, 2 koin, 4 koin, dan 2 asam sulfat (gambar 4.1). Kemudian ia memilih menyimpan dadu 4 koin dan 2 asam sulfat (gambar 4.2). Sisa dadu lainnya boleh dilempar lagi. Di lemparan kedua ternyata kedua dadu menunjukkan 4 koin, 4 koin dan 2 asam sulfat (gambar 4.3). Ia boleh memilih mengambil semuanya atau salah satu atau tidak sama sekali. Misalkan ia memilih mengambil dadu 4 koin dan 2 asam sulfat (gambar 4.4). Sisanya 1 dadu dilempar lagi. Di lemparan ketiga ia mendapatkan 1 asam sulfat, 
  5. koin dan asam sulfat yang berhasil mereka peroleh dicatat di sebuah kembar terpisah. Misalkan dalam giliran tadi, pemain mendapatkan 8 koin dan 5 asam sulfat (darii 2 dadu 4 koin dan 3 dadu asam sulfat)
  6. koin yang berhasil dikumpulkan dapat digunakan untuk membeli zat – baik asam nitrat maupun toluena.
  7. asam sulfat yang didapatkan digunakan untuk mereaksikan asam nitrat dan toluena yang mereka miliki. Untuk 1x reaksi dibutuhkan 10 asam sulfat.
  8. berikan durasi waktu 15-20 menit. 
  9. Pemain yang berhasil membuat TNT terbanyak dalam durasi tersebut adalah pemenangnya

Setelah aku coba praktikkan, ternyata mereka antusias sekali. Strategi yang mereka terapkan pun beragam. Ada yang memilih mengumpulkan koin terlebih dahulu, ada yg fokus mendapatkan 10 asam sulfat baru berbelanja, ada juga yang ga peduli dapet berapa koin dan asam sulfat. Yang penting bisa membuat TNT duluan. Meskipun hasilnya sedikit. 

Di akhir permainan, aku coba refleksi bersama mereka dan mengarahkan pemikiran mereka ke konsep pereaksi pembatas. Jadi aku memanfaatkan permainan ini sebagi intro, alias pengenalan terhadap topik yang akan dibahas. 

Hasilnya?
Seperti biasa. Ada yang paham, ada yang tidak. Yang berbeda adalah, yang tidak paham jadi lebih aktif bertanya. Mereka tidak sekedar menerima materi apa adanya; ada keingintahuan yang kemudian dicurahkan melalui pertanyaan.

Yang berbeda adalah, mereka yang tidak paham jadi lebih aktif bertanya.

(Anggayudha)

Aku jadi belajar.
Bahwa menumbuhkan keingintahuan dan membuat siswa bertanya itu lebih penting dari sekedar memastikan materi tersampaikan. Karena ketika keingintahuan sudah dinyalakan, maka siswa telah memiliki kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Setuju?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *