6 Tahun Bersama


Ada yang pernah ngerasa bosan sama pekerjaan? Ngelakuin hal yang sama setiap hari, setiap pekan, setiap bulan. Selama bertahun-tahun?

Adakah yang pernah bosan bekerja di kantor dengan tim yang sama? dengan orang yang itu itu aja. Hampir setiap hari ketemu. Membahas hal-hal yang itu itu melulu. Dengan tantangan yang ga jauh berbeda dari waktu ke waktu.

Lalu gimana klo Pertanyaannya sedikit diubah: pernah ga sih bosan menjalani PERAN sebagai suami/istri? Eits, bukan bosan SAMA suami/istri lho ya… bosan dengan PERAN sebagai ayah/ibu. Bosan dengan rutinitas yang sama setiap harinya. Merasa pernikahan dan rumah tangga hampa, kering makna. Tak tahu arah, akan dibawa kemana keluarga ini? Apa yang ingin diraih bersama pasangan semasa hidup? Apa yang ingin dicapai bersama anak-anak kelak? Apa iya keluarga kita tak jauh berbeda dengan kucing yang sekedar ‘menikah’, punya anak, lalu mati?.Wajar ga sih?

Aku pun tak tahu itu wajar atau engga. Yang aku tau, dulu aku pernah ada di situasi yang mirip-mirip seperti itu. Semacam kurang bergairah dalam membangun aktivitas di keluarga. Digerogoti oleh rutinitas yang kering makna.

Beruntungnya, Allah karuniakan pasangan yang diberikan kesabaran, yang selalu mengingatkan tentang tujuan pernikahan. Yang dengan lembut membawa ingatan ke masa beberapa tahun silam..Dulu saat awal menikah, kami sempat merumuskan apa tujuan pernikahan. Kami sempat menyepakati, mengapa Dan untuk apa kami menikah. Kami bahkan menentukan nama untuk keluarga kami: Educa familia; keluarga yang senantiasa belajar, berkarya, bersama. Dengan harapan, nama dan visi pernikahan ini menjadi pengingat tentang tujuan yang selalu ingin kami capai. Setiap hari. Setiap waktu. 

Berbekal ini, kami juga menjadi semakin bergairah dalam merumuskan target tahunan yang ingin kami capai. Membuat agenda pekanan dan bulanan. Semua terangkum dengan satu kerangka tujuan yang sama.

Dari pengalaman mengarungi bahtera kehidupan yang belum seberapa ini aku jadi belajar. Bahwa jangankan perusaahan yang orientasi nya pada umumnya hanya profit. Keluarga yang memiliki orientasi akhirat, yang memiliki orientasi dampak terhadap lingkungan sudah semestinya memiliki tujuan. Dalam bentuk sesederhana apapun..Bahwa tanpa tujuan, menjalani peran apapun dalam keluarga akan terasa sangat membosankan. Minim tantangan, sedikit kesempatan untuk tumbuh bersama pasangan.

Karena bagaimanapun, bukan kelimpahan materi atau gengsi yang tinggi yang membuat perjalanan keluarga menjadi bermakna. Tapi tujuan hidup bersama keluarga yang akan membuat sebuah perjalanan menjadi penuh makna. 

Terima kasih, sayang @syanisa.92 sudah membersamai ku dan menjadi navigator sang nahkoda selama ini.Happy 6th anniversary, dear. I love you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *