TPN: Momentum Belajar dan Refleksi Diri Tahunan

Tak terasa ini adalah kali kelima aku mengikuti TPN; Temu Pendidik Nusantara. Mulai dari tahun 2015 hingga 2019. Ada banyak momen istimewa yang terjadi dari tahun ke tahun.

4 Tahun Pertama Sebagai Pembicara TPN

Tergerak semangat untuk belajar aku mengawali keikutsertaan ku di TPN 2015 dengan menjadi pembicara. Sebuah langkah awal yang nekat. Bagaimana tidak? Pengalaman jadi guru baru seupil tapi nekat menerima tantangan jadi pembicara kelas kemerdekaan. Modalnya hanya keinginan belajar menyampaikan gagasan dan berbagi pengalaman belajar. Saat itu temanya tentang melakukan gamifikasi dalam proses belajar. 

 

Di tahun berikutnya, aku memberanikan diri (lagi) untuk tantangan yang lebih besar: menjadi pembicara kelas kompetensi. Durasi lebih panjang dengan luaran yang lebih menantang: menumbuhkan suatu kompetensi pada peserta. Aku masih ingat betul, saat itu aku memfasilitasi kelas kompetensi tentang cara menumbuhkan kreativitas dalam proses pembelajaran. Sekali lagi, ini kenekatan kedua sejak tahun sebelumnya. Guru bawang tapi nekat memfasilitasi proses belajar para guru. Dorongannya? Masih sama..ingin belajar memfasilitasi proses belajar yang lebih kompleks. Oh iya, omong omong di kelas ini aku bertemu dengan sosok guru inspiratif dari Pekalongan: pak Nuno.

TPN 2017. Aku turut serta lagi. Namun kali ini aku ingin mendapatkan pengalaman yang berbeda. Aku memilih untuk menjadi peserta di kelas kompetensi, kolaborasi dan karier. Kelas kemerdekaan? Aku ikut terlibat sebagai pembicara. Di tahun ini malahan aku satu kelas bersama pak Nuno, sama sama sebagai pembicara. Dengan topik yang sama: gamifikasi dalam pembelajaran.

Di tahun keempat keikutsertaan ku, aku mengikuti TPN. Lagi lagi, berbekal pengalaman menciptakan 11 permainan untuk mendukung pembelajaran, aku tertantang untuk mengajak teman-teman guru belajar bersama bagaimana caranya menciptakan permainan. 

Akhirnya di TPN 2018 Aku mendaftarkan diri sebagai pembicara di kelas kompetensi. Kali ini aku tidak sendirian. Aku berkolaborasi dengan sosok guru yang kutemui 2 tahun sebelumnya: pak Nuno. Kami berdua memandu kelas bersama-sama. Dua duanya sama sama nekat. Kami tidak tahu bagaimana caranya merancang program pelatihan saat itu. Yang kami tahu, kami ingin belajar bersama-sama guru keren dari berbagi penjuru di indonesia melalui kelas kompetensi.

TPN 2019

Tahun berganti, hingga akhirnya Oktober 2019 datang. Itu artinya kesempatan besar untuk belajar dan melakukan refleksi telah tiba. Di tahun ini aku berkesempatan menjadi narasumber untuk 2 kelas yang paling menantang: kelas kompetensi dan kelas karier. 

 Kelas kompetensi nya sangat menantang. Karena aku harus memfasilitasi proses belajar selama 6 jam! Sendirian. Topik bahasannya pun adalah topik yang sangat berbeda dibandingkan tahun tahun sebelumnya. Di tahun ini aku membawakan modul merancang program blended learning. Padahal kalau dipikir-pikir, aku hanya menerapkan sistem blended learning untuk 1 program pembelajaran saja. Terlebih di tahun ini, aku mengompori para guru untuk menjadi pelatih melalui program pelatihan yang kurancang bersama teman-teman di @sekolah.mu. Hmmm… Nekat memang…

 

Dua Pelajaran Berharga

Dari perjalanan dan pengalaman belajar bersama 5 tahun terkahir bersama para guru inspiratif dari berbagai daerah di Indonesia ini aku belajar 2 hal penting. 

Pertama. Nekat itu terkadang diperlukan. Memberanikan diri untuk mengambil sebuah tantangan seringkali dibutuhkan jika kita ingin belajar dengan lebih cepat dan optimal. Dalam beragam cara, tantangan yang diambil sepenuh hati, dengan penuh kesadaran membuat kita mau tidak mau melecut diri untuk menembus batas diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Nekat itu terkadang diperlukan. Memberanikan diri untuk mengambil sebuah tantangan seringkali dibutuhkan jika kita ingin belajar dengan lebih cepat dan optimal.
Pak Aye
Guru Pelatih

Saya membayangkan… Seandainya dulu saat TPN pertama saya enggan mengambil tantangan untuk belajar, untuk berbagi, untuk berkontribusi terhadap pendidikan di indonesia, maka saya curiga, saya tidak akan mendapatkan pencapaian seperti saat ini. 
Berkaca dari pengalaman ini, ada banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan, ada beragam keterampilan baru yang saya pelajari, ada kompetensi tertentu yang saya tumbuhkan. Tidak cuma itu. Jejaring saya bertambah luas, peluang melakukan kolaborasi dengan lebih banyak pihak terbuka lebar secara signifikan. Dan semua itu mengakselerasi pertumbuhan karir saya sebagai pendidik.

Hal kedua yang saya pelajari dari pengalaman 5 kali mengikuti tpn adalah pentingnya menentukan momen refleksi secara berkala. Dan periode itu perlu dibentuk dari sebuah momentum. Secara tidak sadar, saya telah membuat TPN sebagai momentum melakukan refleksi. Refleksi atas proses belajar yang dialami. Refleksi terhadap pencapaian yang sudah dibuat.

Semua poin pembelajaran yang saya tuliskan di bagian pertama adalah bagian dari hasil refleksi yang kita lakukan. 

Sebagai insan pembelajar, momentum untuk refleksi ini perlu kita tetapkan. Tanpa adanya momentum, tanpa adanya checkpoint, proses belajar kita jadi rentan kehilangan arah. Refleksi yang dilakukan dengan tepat akan membantu kita untuk mengukur proses belajar yang sedang kita jalani. 

Sudah sejauh mana kita belajar? Sudah tepatkah cara belajar kita? Apa yang sudah kita pelajari? Apa proses bekajar berikutnya yang akan kita pilih? Bagaimana kita menilai keberhasilan proses belajar yang sudah kita lewati? 

Saat proses refleksi, bombardir diri kita dengan beragam pertanyaan yang membantu kita menilai diri sendiri dengan lebih jernih, lebih terbuka. Meskipun memang terkadang jawabannya terasa menyakitkan bagi diri sendiri, tak masalah. Justru ketika kita berhasil menerima diri kita, dengan pencapaian proses belajar yang kita lalui, kita bisa lebih banyak belajar.

Hal kedua yang saya pelajari dari pengalaman 5 kali mengikuti tpn adalah pentingnya menentukan momen refleksi secara berkala. 
Pak Aye
Guru Pelatih

Kesimpulannya?

Nekat itu terkadang perlu. Berani mengambil tantangan adalah pilihan yang bisa kita ambil jika kita ingin mengakselerasi proses belajar yang kita lakukan. Dan untuk mengoptimalkan proses belajar itu, kita perlu melakukan refleksi secara berkala.
.
Jadi, apa hasil refleksimu setelah belajar di TPN selama ini? Apa pembelajaran yang didapatkan? Apa langkah yang ingin dilakukan berikutnya?
.
Yuk, ambil tantangan dengan membagikan hasil refleksimu di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *