Posted on Leave a comment

Kenangan Bersama para Permata Alquran 💕

Malam itu, di penghujung halaqah quran, seorang santri ragu-ragu maju ke hadapan saya. Wajahnya tertunduk malu, lirih ia menyampaikan kalau hafalannya belum lancar.

Saya pun memintanya untuk mencoba dulu. Baru baris kedua hafalannya mulai tersendat, susah payah ia coba mengingat tapi hasilnya masih sama. Akhirnya ia pun tergugu, air matanya tumpah di depan saya. Saya hanya bisa mengusap pundaknya dan berusaha memahami kondisinya.

Saya tahu, betapa menghafal alquran bukanlah sesuatu yang mudah ditengah aktivitas pondok yang padat dan sedikit waktu istirahat.

” Coba tenangkan hatinya dulu, ibu tunggu kalau masih mau setor hafalannya.” ucap saya. Tapi ia menolak dan memilih untuk melanjutkan usahanya.

MasyaAllah. Ia pun mengulang hafalannya lagi dengan sisa isak tangis yg masih terdengar. Alhamdulillah…hasilnya lebih baik dari sebelumnya dan 2 halaman pun selesai ia setorkan.

Selepas setoran ternyata ia masih menangis, pelan ia bilang..

“Ibu, kalau ada pelajaran yang saya lupa, saya masih bisa tenang untuk belajar lagi. Tapi kalau saya lupa sama hafalan quran, rasanya sedih bu, bawaannya ingin nangis terus.”

Ahh..saya jadi ingat, setiap kali saya menyimak hafalannya, di sudut halaman quran miliknya selalu ada note kecil bertuliskan “Murajaah, Dzikrullah”. Mungkin saat ia mulai lupa dengan hafalannya, saat itu juga ia merasa bahwa hari itu sedikit sekali baginya mengingat Allah.

Nak..ibu kagum, sungguh.. :’)

Pada kesempatan lain selepas ujian tahfidz seorang gadis kecil lagi-lagi menangis. Dengan raut wajah yang bingung campur sedih ia pun bercerita pada saya.

“Ibu, Nisa bingung. Nisa sudah berusaha itikaf di masjid sambil terus muraja’ah. Nisa kurangi jam tidur untuk persiapan ujian tahfidz. Tapi apa hasilnya bu? Nisa tetap lupa banyak ayat saat setoran. Aneh bu, padahal teman Nisa yang lain meskipun kelihatan banyak main tapi setorannya lancar. Nisa kurang usaha apa bu?” tangisnya semakin meledak.

“Nisa, tau gak ada banyak cara Allah untuk mendekatkan kita dengan alquran? Salah satunya lewat ujian tahfidz ini. Nisa, lupa itu bukan suatu kesalahan, tapi itu tanda dari Allah supaya kamu lebih sering mengulang hafalanmu, supaya nisa lebih dekat dengan alquran. Nisa tau kan pahala membaca quran? Setiap hurufnya ada sepuluh kebaikan. Bayangkan kalau misalkan dalam sehari nisa murajaah 1 halaman dan ada 200 huruf yang Nisa baca. Lalu Nisa lupa dan nisa ulangi lagi muraja’ah halaman itu sampai 5 kali. Ada berapa banyak pahala yang Nisa kumpulkan? Banyaaaak sekali nis. Itu baru hitungannya manusia. Belum lagi pahala dari itikaf nisa dan waktu tambahan untuk murajaah. Allah pasti lipat gandakan pahalanya. Nisa, kamu sudah berusaha keras. Ibu ingin Nisa jaga terus semangat untuk itikaf dan muraja’ah sampai gak ada waktu yang terlewat sia-sia. Karena semakin sungguh-sungguh Nisa memperjuangkan itu, InsyaAllah semakin mudah pertolongan Allah datang. Ibu yakin Nisa bisa. “ jawab saya panjang lebar.

Tangisnya pun mulai mereda. Wajahnya terlihat lebih tenang.

Ah, menjadi guru itu bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang saya bagi pada murid saya. Tapi tentang bagaimana cara Allah menegur dan mengingatkan saya dengan lembut melalui mereka. Apa kabar saya yang masih menjadikan hal-hal remeh sebagai alasan untuk melalaikan qur’an 😭
Saya guru, saya tidak lebih mulia dari mereka. Tapi mereka, santri-santri saya, selalu memberi saya pelajaran yang sangat berharga dengan cara mereka yang mulia..Barakallahu fiikum, kesayangan ibu, para permata Al-Quran ❤

Dua tahun menemani para permata alquran untuk mengingat ayat-ayat Allah adalah kenangan yang akan terus terekam dalam ingatan saya. Dari mereka saya memaknai arti kesungguhan untuk selalu mendekatkan diri dengan alquran.

Meski hari ini raga sudah tidak lagi bisa membersamai, tapi kenangan-kenangan bersama kalian akan selalu menjadi penawar disaat rindu itu datang.

Posted on Leave a comment

Jurnal Syukur Naira

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Nikmat apa yang paling pertama kita rasakan saat diri diliputi rasa syukur? Saya yakin, banyak sekali cara Allah menambah nikmat untuk setiap hambanya. Tapi, ada satu hal yang selalu mengiringi setiap syukur yang terungkap. Ya..nikmat ketika Allah karuniakan hati yang tenang, dan kondisi hati yang tenang ini akan saaangat mempengaruhi sikap kita dalam menjalani kehidupan. MasyaAllah…

Rasa syukur yang terus bertumbuh tidak serta merta tersemai dalam diri seseorang. Maka menanamkan syukur menjadi salah satu hal yang sangat mendasar dalam mendampingi perkembangan jiwa anak. Hati tenang yang dipenuhi rasa syukur akan mengantarkan seorang anak untuk memiliki konsep diri yang baik seiring proses tumbuh kembangnya. Mengapa? Karena syukur mengajarkan anak untuk selalu menjaga prasangka baiknya atas setiap kejadian yang Allah takdirkan pada dirinya, sehingga ia mampu menerima dirinya secara positif.

Bagaimana menanamkan rasa syukur untuk anak usia balita? Tentu akan ada tantangannya tersendiri..tapi setidaknya kita bisa melatihnya bersyukur melalui hal-hal sederhana yang paling dekat dengan dirinya 😇

Ramadhan lalu bunda & Naira membuat jurnal syukur untuk proyek #PesantrenRamadhan_Kids . Sebelumnya bunda menyediakan banyak potongan gambar dari majalah-majalah anak yang sudah rusak kondisinya, lalu Naira diberi kesempatan untuk memilih gambar mana saja yang Naira suka untuk ditempel di jurnal syukur. Di sela-sela membuat jurnal syukur bunda ajak ngobrol Naira,

B : “Kakak, pohonnya bagus ya, siapa kak yang ciptakan pohon?”

N : “Allah, bunda..”

B : “Betuuul..kak, kalau kakak Allah kasih nikmat atau suatu kebaikan kita harus bilang apa sama Allah kak?”

N : “Alhamdulillah, thank you Allah..”

B : “Alhamdulillah…alhamdulillah itu ucapan syukur kak, semakin banyak kita bersyukur, semakin sayang Allah sama kita..kalau Allah sudah sayang, semua yang Naira butuhkan nanti Allah berikan, InsyaAllah..”

N : “Kalau Naira bilang alhamdulillah, Allah kasih eskrim ga buat Naira?” 😂

B : “Hehe, InsyaAllah ya, nak..”

Isi jurnal syukur Naira

Salah satu anugerah yang harus kita berikan kepada anak, ungkap Ustadz @fauzhiladhim, adalah membangkitkan kecenderungan hati anak untuk senantiasa bersyukur. Kita Dorong mereka untuk merasakan setiap kesempatan sebagai karunia Allah ta’ala sehingga ungkapan hamdalah selalu punya makna yang mendalam pada kehidupan anak. Kita perdengarkan di telinga mereka nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dengan sering menyebut-nyebut nikmat-Nya di hadapan mereka, sebagaimana Allah ta’ala perintahkan…

“Dan terhadap nikmat dari Rabb-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.”

Ah.., ini pe-er besar untuk ayah bunda sebelum mendidik anak-anak, melatih diri menjadi hamba yang penuh syukur dalam memaknai kehidupan. Semoga Allah mampukan jadi teladan 😇

Setelah bikin jurnal syukur Naira, bunda jadi terinspirasi bikin jurnal syukur untuk diri sendiri. Ada yang mau ikutan? *nyaritemenbiarsemangat 😍

Posted on Leave a comment

Menata Niat Menggapai Barakah Pernikahan

Jika suatu hari datang melamar kepadamu 3 lelaki yang..
1. Shalih, paras tampan, belum berpenghasilan.
2. Belum shalih, paras sangat tampan, sudah mapan.
3. Sedang belajar menjadi seorang yang shalih, paras biasa, penghasilan belum tetap.
Kira-kira lelaki mana yang akan dipilih?
Shalihat, tidak ada jawaban yang benar ataupun salah tentunya, tapi disadari atau tidak pilihan kita akan sangat dipengaruhi oleh satu hal yang akan menjadi sandaran kita saat mengarungi bahtera pernikahan di kemudian hari bersamanya. Apakah itu?
Menikah dalam Islam bukan hanya menyatukan jalinan cinta dua insan, tetapi lebih dari itu, karena dengan menikah maka menjadi sempurnalah setengah agama kita. Menikah menurut sebagian ulama menjadi ibadah terpanjang dalam kehidupan umat muslim jika diawali dengan niat yang benar. Oleh sebab itu sangat penting bagi kita untuk mempersiapkannya dengan baik.

Tentu kita tidak ingin ibadah terpanjang kita menjadi sia-sia, menjadi tak berpahala karena niat yang keliru. Lalu apa itu niat? Niat adalah amalan hati (amaliyah qolbiyah), ia menjadi pondasi dalam melakukan amalan dan menjadi syarat diterimanya suatu amalan.Niat bukanlah semata apa yang kita ucapkan, tapi ia menjadi alasan yang menggerakkan kita untuk melakukan suatu amalan.

Sebagai muslim, kita mengetahui bahwa setiap niat yang terbersit dalam hati harus dalam kerangka ibadah dan meraih keridhaan Allah. Begitupun dengan menikah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang mengawini seorang perempuan karena parasnya, maka Allah akan menambahkan kehinaan padanya (suaminya), barang siapa yang menikahi perempuan karena hartanya, maka Allah akan menambah kemiskinan padanya. Barangsiapa yang mengawini perempuan karena tahtanya, maka Allah akan menambah kerendahan padanya. Dan barangsiapa yang mengawini orang dengan maksud hendak menjaga pandangan mata, menjaga kemaluan, atau menyambung hubungan keluarga, maka Allah akan memberkahi ia pada istrinya dan memberkahi istri padanya.” (HR. Al-Thabrani)

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari hadits diatas? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menentukan niat menikah, karena ia menjadi penyebab barakah atau tidaknya kehidupan pernikahan yang akan kita jalani. Maka niat menikah harus bersandar pada ketaatan kita kepada Allah,

🌷 Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul
🌷 Menjaga Pandangan dan kemaluan dari hal yang diharamkan.
🌷 Melahirkan generasi muslim pengemban risalah islam
🌷 Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan keluarga).

Paras yang tampan, harta yang melimpah dan tahta tidaklah abadi, semua akan mengundang rasa kecewa jika tidak diniatkan karena Allah. Bahkan saat memilih karena keshalihan pun, kita harus mau berusaha menelisik hati apakah niat nya sudah karena Allah atau ada terbersit perasaan ingin dipuji karena memiliki pasangan yang shalih.

Terkadang kita sulit mendeteksi apakah niat kita sudah lurus karena Allah atau belum. Tapi saat niat kita sudah lurus, coba maknai… akan Allah karuniakan dalam hati kita :

🌹 Jiwa yang tenang saat melakukan amalan
🌹Tidak terpengaruh penilaian orang lain
🌹 Tidak kecewa jika Allah menghendaki suatu hal selain dari yang kita inginkan

Adakalanya niat awal kita sudah lurus, namun berubah sesaat setelah akad terucap. Shalihat, syaithan itu gerah jika ada orang yang beramal baik, maka ia akan terus mencari celah untuk menggugurkan amal baiknya, godaan akan terus dilancarakan agar kita melenceng dari apa yang dikehendaki Allah, niat kita dibuat goyah.

Maka sangat penting bagi kita untuk menjaga niat tetap lurus karena Allah baik saat memutuskan memilih calon pendamping, saat berproses, dan setelah menikah pun kita harus selalu berusaha untuk terus memperbaiki niat kita. Bagaimana caranya? Hati kita, Allah yang genggam, maka sebaik-baik upaya adalah dengan memohon pertolongan Allah agar ditetapkan hati kita untuk menjadikan pernikahan sebagai sarana ibadah meraih ridha-Nya.

Adapun pertolongan Allah dapat kita jemput melalui beberapa Amaliyah, seperti :

💕 Rajin membaca dan mengkaji Al-Qur’an dengan tujuan untuk mendapatkan petunjuk dari Allah. Kita tahu bahwa salah satu nama Al-Quran adalah Asy-Syifa, dalam bahasa arab Syifa diartikan sbg obat yang paling ampuh untuk membersihkan hati kita dari berbagai penyakit, hati yang bersih InsyaAllah akan melahirkan niat yang lurus karena Allah.

💕 Memperbanyak qiyamullail dan shaum untuk menjaga diri kita dari perbuatan sia-sia yang bisa menyebabkanl niat kita luntur.

💕 Yang paling penting adalah dengan tekun berDOA, kita manusia adalah makhluk yang lemah mintalah pertolongan dan kekuatan darinya untuk teguh menjaga niat karena-NYA.

Sejatinya memperbaiki niat adalah pembelajaran kita seumur hidup, ia akan selalu diuji seiring perjalanan hidup kita. Jangan sampai bahtera pernikahan kita kelak menjadi salah arah karena niat yang salah. Jadikan ia lillah, berharaplah agar pernikahan kita selalu diliputi barakah. Berusahalah sekuat upaya untuk mendekat pada Allah, mintalah padaNya agar selalu membimbing pernikahan kita hingga bermuara di Jannah-Nya. Agar jika suatu saat ada masalah berat menyapa, maka Allah kuatkan diri dan pasangan kita untuk melaluinya dengan penuh keimanan.

Selamat menata hati,
Selamat mempersiapkan diri,
Membangun cinta yang

tinggi,

Menggapai ridha Illahi.

*Beberapa waktu lalu saya diminta untuk mengisi kulwap tentang niat menikah. Cara Allah mengingatkan saya, supaya saya mau merenungi dan meresapi lagi tentang niat yang harus senantiasa diperbaiki menjelang 5 tahun pernikahan kami. Karena saya percaya, apa yang ditulis dan dibagi itu sejujurnya adalah media refleksi untuk diri sendiri.. 😊

Posted on 4 Comments

Mengenalkan Allah Pada Anakku

“Pada usia dibawah 7 tahun dimana seluruh indera sedang berkembang pesat, keingintahuan anak sedang sangat tinggi, maka masa ini adalah masa terbaik untuk menanamkan TAUHID dalam jiwa anak.”

(Malik bin Marwan)

Sejak dikaruniai seorang anak, saya dan suami sepakat. Bahwa pendidikan pertama dan utama bagi anak-anak kami adalah aqidah, bagaimana ia mengenal Rabb-Nya. Maka selagi mengandung anak pertama, saya dan suami pun berusaha mengisi ruhiyah dengan mengikuti kajian, membaca buku, menambah kualitas ibadah, dll.

Tujuannya untuk ‘berisi sebelum mengisi”. Karena tidak mungkin berharap memiliki anak yang mencintai Allah, sementara orang tuanya sendiri tidak bersungguh-sungguh untuk mencintai Allah. Meski pada kenyataannya, sampai sekarang pun kami masih harus terus belajar dan akhirnya belajar bersama anak untuk memperkuat aqidah. Tapi tidak apa-apa, justru ini akan menjadi perjalanan belajar yg menyenangkan untuk kami, InsyaAllah.

Menyemai kecintaan pada Allah untuk anak balita tentu punya tantangan tersendiri, tapi bukan berarti sulit juga. InsyaAllah ada beberapa cara yang ingin kami bagi, semoga bekenan..
Continue reading Mengenalkan Allah Pada Anakku

Posted on Leave a comment

4 Tahapan Menanamkan Iman Pada Anak

Suatu hari di kelas Perbandingan Agama, seorang teman bertanya…

“Pak, apa yang mengharuskan kami mempelajari mata kuliah ini, sementara kami tahu bahwa Islam adalah agama yang sempurna?”

Suasana mendadak hening, beberapa kepala mengangguk sepakat dengan pertanyaan yang diajukan.

Beliau nampak termenung & menghela nafas…

“Karena kelak anda akan memiliki anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka akan menanyakan banyak hal, termasuk tentang agama kita. Anda harus tahu, pertanyaan anak-anak itu seringkali melampaui apa yang kita bayangkan..”

Saya tertegun mendengar jawaban beliau yang diluar dugaan. Pikiran langsung melayang pada Naira. Sudah sesiap apa diri ini menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu kelak? Sudah seserius apa saya membekali diri dengan ilmu agama? Mampukah saya menumbuhkan benih iman yg sudah Allah karuniakan dalam jiwanya, seiring pertumbuhannya?

Lalu dengan mantap beliau menyampaikan..

Continue Reading

Posted on Leave a comment

Untukmu, Cermin diri Ayah & Bunda

Anakku…

Banyak orang bilang, buah tak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin tak keliru jika ayah & bunda mengartikan kelak ketaatanmu kepada Allah, kecintaanmu kepada Rasulullaah, komitmenmu terhadap  Islam, kedekatanmu dengan Al-Qur’an tak akan jauh berbeda dari apa yang tertanam dalam diri ayah & bunda sejak saat ini. Baik, setengah-setengah ataukah buruk? Tentu bunda inginkan yang terbaik untukmu, nak…

Ananda, penentram jiwa bunda..

Seorang ibu adalah madrasah pertama untuk anaknya, yang apabila ia mempersiapkannya dengan baik maka akan terlahirlah generasi-generasi yang hebat buah dari pendidikannya. Lalu bunda tersadar, semua persiapan itu tidaklah instan, semua persiapan itu tidak bisa tercapai tiba-tiba. Perlu proses  panjang yang akhirnya membuat bunda banyak belajar dan memahami makna keutamaan sebuah “madrasah”. Ibarat menanam benih yang baik, agar ia tumbuh subur dan dapat memberi manfaat kelak kepada banyak orang, maka bunda harus mengetahui kapan saat terbaik untuk menyiramnya, pupuk apa saja yang akan menopang tumbuh kembangnya, bagaimana ilmu untuk merawatnya. Bunda harus telaten dan sabar untuk itu. Tak elok rasanya jika bunda inginkan yang terbaik untukmu, tapi bunda sendiri enggan berjuang memantaskan diri di hadapan Allah.

Semakin bertambah usiamu nak..
Kau ajarkan ayah & bunda untuk tak lelah belajar dan memperbaiki diri. Kami pun semakin memahami bahwa dalam ikhtiar mendidikmu kunci utama yang harus selalu kami tekadkan adalah tak henti menumbuhkan kesabaran. Terimakasih nak… 🙂

Ayah & Bunda bingkis doa terindah untukmu nak,

“Rabbii hablii minash shaalihiin.”

Shalih, shalihah, kelak jadilah permata hati kami yang mencinta & dicintai Allah…