Posted on 3 Comments

Belajar Menentukan Letak Unsur Pada Sistem Periodik Unsur dengan Permainan Kartu Unsur

Salah satu tantangan yang saya hadapi dalam mengajar siswa kelas 12 yang akan mengikuti ujian akhir nasional adalah kesulitan siswa memahami konsep dan keterkaitan antar konsep. Apalagi jika sudah dikaitkan dengan soal. Jangankan menjawab soal, memahami soalnya pun susahnya setengah hidup.
Belum lagi jika ditambah perspektif buruk sebagian besar siswa tentang kimia. Yang katanya soal susah lah, gurunya ngebosenin lah, dan segala macam hal buruk lainnya. Oh iya. Ditambah satu lagi bonus jackpot tantangan bagi guru kimia kelas 12 seperti saya: materinya yang harus diajarkan banyak, sementara waktunya sedikit.
Ah lengkaplah sudah….
Untuk mengatasi seluruh masalah itu, saya coba dekati pengajaran kali ini dengan sedikit gamifikasi. Elemen gamifikasi yang saya gunakan juga simpel: avatar. Maksudnya?
Maksudnya saya coba asosiasikan elemen (unsur) dengan satu gambar yang kira-kira bisa mereprentasikan unsur itu (lihat gambar). Saya buatkan 1 unsur = 1 kartu berisi avatar unsur tersebut. Untuk cara bermainnya saya juga cuma menggunakan 1 konsep saja: matching alias mencocokkan.
Kira-kira begini tahapan aktivitasnya:
  1. Siswa diajak untuk memahami konsep bilangan kuantum mengunakan analogi hotel berbintang
  2. Siswa diberikan penjelasan terlebih dahulu tentang cara menentukan konfigurasi elektron menggunakan metode susu sapi sedap.
  3. Siswa diajak untuk memahami keterkaitan antara jumlah kulit dengan periode dan jumlah elektron terluar dengan golongan
  4. Susun kartu unsur di suatu meja (baiknya unsur dengan nomor atom lebih dari 10). Berikan kesempatan pada setiap siswa untuk mengambil 3 unsur
  5. Mintalah mereka untuk menentukan konfigurasi elektron setiap unsur yang mereka pilih
  6. Mintalah mereka untuk menebak letak unsur tersebut pada SPU
  7. Jika sudah mendapatkan tebakannya, mereka dapat mencocokkan lokasi unsur mereka dengan SPU yang ada
  8. Lanjutkan dengan refleksi
Mudah sekali bukan?
Memang kesan bermainnya tidak terlalu kental. Tapi dengan adanya penggunaan media belajar ini diharapkan siswa jadi lebih mudah memahami konsep yang diajarkan.
Menariknya lagi, 3 materi langsung diselesaikan hanya dalam 1 jam pelajaran saja. Dan saya bersyukur ternyata semua siswa mampu menentukan letak unsur pada SPU dengan tepat. Dari 15 unsur yang diletakkan hanya ada 1 unsur yang diletakkan tidak pada tempatnya.
NB: bagi yang ingin punya kartu-kartunya bisa japri alamat emailnya ya.
Saya akan kirimkan pranala unduh nya melalui email.
Posted on Leave a comment

Saat Anak Merasa Kecewa

Di usia Naira yang beranjak 5 tahun, kebutuhannya untuk bermain berwama teman semakin tinggi. Jika dilihat dalam tahap perkembangannya kebutuhan ini muncul untuk melatih sisi emosi dan kemandirian anak.  Semakin sering bermain bersama, otomatis banyak stimulus yang datang mempengaruhi perkembangan emosinya.

Sebagai orang tua kami pun berusaha memfasilitasi kebutuhan ini. Berhubung baru dua bulan kami menetap kembali di Bandung dan belum begitu mengenal situasi sekitar rumah, kami pun membuat kesepakatan bersama Naira. Intinya, Naira boleh mengundang teman-temannya untuk main di rumah bersama. Jika Naira ingin main diluar rumah pun boleh, tapi masih terbatas di beberapa area yang mudah kami pantau.

Oya, sebelum pindah ke Bandung kami tinggal di komplek pondok pesantren. Disana suasananya cukup kondusif. Beberapa anak yang bermain bersama Naira terbilang kooperatif, bahasanya santun dan mudah diarahkan. Jarang sekali muncul konflik yang berarti dalam pertemanan mereka. Berbeda dengan disini. Kami tinggal di sekitar pemukiman warga, sehingga teman-teman sebaya Naira pun sangat beragam sikapnya. Mulai dari yang baik dan santun, suka membawa mainan Naira tanpa izin, pipis sembarangan di halaman rumah sampai yang berbicara kasar pun ada. Maka wajar jika konflik yang muncul menjadi lebih kompleks.

Seperti hari ini, selepas bermain bersama temannya tiba-tiba Naira menghampiri saya dengan wajah ditekuk sedih. Tampaknya Naira ingin menyampaikan sesuatu yang penting.

“Eh ada kakak Naira. Udah selesai kak mainnya?” tanya saya.

“Udah bunda.” Jawabnya singkat.

“Kenapa, Nak? Kelihatannya lagi sedih. Ada yang mau Naira ceritain sama bunda?” pungkas saya penasaran.

“Iya bunda, tadi teh ada teman kakak yang injak-injak telor plastik kaka, sambil ketawa-ketawa lagi! Terus telor  plastiknya jadi rusak. Huhuhu..” terang Naira sambil terisak.

“Ya Allah, pasti sedih ya kak lihat telornya jadi penyok gitu?” saya mencoba berempati. Mungkin jika ada di posisi Naira saya pun akan merasakan hal yang sama, melihat barang kesayangan rusak oleh orang lain tentu sangat menyedihkan.

“Kaka sedih jadi gak bisa masak-masakan lagi, bunda.” tangisnya makin kencang.

“Ya sudah, sekarang kakak coba tenang dulu ya. Bunda tau pasti sedih rasanya. Boleh gak kalau bunda pinjam dulu telor penyok nya?” saya berusaha menenangkan tangis Naira dengan merangkul pundaknya. Lalu menawarkan alternatif untuk mensiasati agar mainannya bisa utuh kembali.

“Kak, kira-kira telornya masih bisa kita perbaiki gak ya?” ujar saya.

“Tadi udah kakak coba tapi gak bisa bagus lagi.” ucapnya terlihat sangat kecewa.

“Coba kita perbaiki sama-sama ya, siapa tahu bentuknya bisa bagus lagi.”

Naira mengangguk tanda setuju. Saya pun mencoba memperbaiki telor itu dengan melibatkan Naira untuk membantu membawakan alat-alat yang diperlukan. Dan voila, kurang dari sepuluh menit telornya sudah tidak penyok. Naira girang bukan kepalang. Ia pun langsung meraih wajan dan kompor mainannya untuk masak-masakan. Dengan senyum manisnya ia berkata,

“Alhamdulillah ya bunda ternyata masih bisa diperbaiki.”

Dari kejadian ini, ada banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik. Sebenarnya tidak mudah bagi saya untuk bisa setenang itu menghadapi kekecewaan Naira. Saat sedang ‘tidak waras’ mungkin saja saya berujar, “Aduh, gitu aja kok nangis sih, Nak. Kan bisa beli lagi yang baru!”

Tapi jika jalan pintas seperti itu diambil, maka tidak akan ada perubahan apa-apa pada diri Naira. Saya berharap Naira bisa belajar untuk berdamai dengan rasa kecewa dan fokus pada solusi tanpa terus meratapi keadaan apalagi menyalahkan orang lain. Saya sadar, itu semua bisa tercapai hanya jika saya bisa berempati dan memberikan respon yang positif saat berkomunikasi dengannya. Jadi kuncinya ada pada saya. Ini reminder banget untuk diri saya sendiri.

Alhamdulillah hari ini saya belajar untuk melakukan salah satu poin dari komunikasi produktif dengan anak, yaitu menunjukkan empati dan fokus pada solusi. Semoga lisan bunda yang penuh kekurangan ini selalu dibimbing Allah untuk berkata yang baik dan benar di hadapan anak-anak 😇

Posted on Leave a comment

Atasi Emosi Negatif Anak dengan 5 Langkah Ini !

Kurang lebih sebulan ini, tiga grup parenting yang saya ikuti kompak membahas tentang pengelolaan emosi ibu dan anak. Materinya banyak, setiap narasumber punya tips yang beragam. Satu narasumber menyebutkan perlunya time out saat anak mulai mengeluarkan emosi negatifnya. Narasumber lain menyampaikan bahwa ternyata teknik time out itu sudah tidak relevan, karena seringkali menimbulkan efek hukuman dibanding pembelajaran. Maka munculah metode baru yaitu time in.  Bingung? Iya, saya bingung mau mengaplikasikan ilmu yang mana. Banjir informasi membuat saya harus lebih bijak dalam menyeleksi setiap ilmu yang datang.

Sampai suatu hari Allah validasi ilmu-ilmu yang saya terima di kulwap itu dengan Nizar yang tantrum setiap kali saya mau shalat dan Naira yang uring-uringan setiap ingin BAK (padahal sebelumnya lantjar jaya). Saya sadar, mungkin ini cara Allah agar ilmu yang saya dapat tidak sia-sia, jadi langsung diberi situasi sebegitu rupa supaya ilmunya lebih cepat diamalkan.

Pada dasarnya kondisi seperti ini sangat wajar dialami oleh balita. Di usia balita, anak sedang belajar mengenal perasaan yang dialaminya. Selain itu, kemampuan balita untuk mengekspresikan perasaan dalam bahasa verbal yang masih sangat terbatas, biasanya menjadi pemicu stres dalam diri mereka.  Karena ada keinginan yang tidak tersampaikan dengan baik, akhirnya mereka hanya bisa menangis untuk mengungkapkannya.

Sayangnya orang tua masih sering merespon kurang baik dan tidak menunjukkan rasa empati terhadap emosi negatif anak.  Kita cenderung menjawab emosi anak dengan luapan kekesalan yang terkadang terjadi dengan spontan. Sebagai orang dewasa idealnya kita bisa memilih respon yang tepat dalam menghadapi situasi itu. Saya pun merasakan memang tidak mudah tetap bersikap tenang saat anak sedang tantrum. Tapi bukan berarti tidak bisa diusahakan. Prinsipnya, setiap kali orang tua mengalami tekanan emosi karena anak,  cobalah renungkan sejenak apakah respon yang kita berikan sudah sesuai dengan kebutuhan anak atau hanya mengikuti hawa nafsu kita?

Jadi, sebaiknya orang tua harus bagaimana menyikapinya? Setiap anak memiliki tempramen yang berbeda, maka sangat mungkin jika penanganannya pun akan berbeda. Ada yang berhasil dengan satu metode, ada pula yang harus memutar otak mencari cara lain demi meredakan emosi anak. Termasuk saya, meskipun ada banyak tips pengelolaan emosi, tetap saja pada prakteknya tidak semua bisa dilakukan karena alasan diatas. Nah, beberapa langkah ini mungkin bisa membantu ayah dan bunda melalui masa sulit menghadapi tantrum anak.Agar mudah diingat saya beri singkatan S-A-B-A-R.

– SADARI bahwa emosi negatif itu wajar dirasakan oleh anak. Cari penyebab mengapa tantrum bisa terjadi. Jika sudah dalam kondisi sadar, bisa jadi kita lebih mudah dan tenang menghadapi tangisan anak yang meluap-luap.

– ATUR posisi yang tepat dan nyaman bagi kita untuk mengatasi emosi negatif anak. Saat berdiri biasanya saya sulit sekali meredam rasa kesal, maka duduk sering menjadi pilihan. Selain bisa mengurangi emosi negatif, duduk membuat posisi diri kita sejajar dengan anak dan memudahkan kita untuk berempati terhadap kondisi anak.

–  BANTU anak untuk mengetahui dan memberi nama atas perasaan yang tengah dialaminya. Apakah itu sedih, marah, takut atau perasaan lainnya.

– AJAK anak untuk menenangkan diri dan menyelesaikan emosi negatifnya. Jika sudah tenang, ajari anak untuk mengutarakan keinginannya dengan cara yang baik. Contoh kasus Naira yang tantrum ketika ingin BAK. Setelah ditelusuri penyebabnya ternyata Naira stres karena takut jika harus BAK di toilet sendiri. Maka saya berusaha menenangkan dulu tantrumnya, menyampaikan kalau bunda ada di dekat Naira dan InsyaAllah Naira aman sekalipun bunda tidak ikut masuk toilet.

– REFLEKSI, jika suasana sudah kondusif dan anak sudah bisa diajak berbicara, cobalah untuk mulai berdiskusi kira-kira cara ia menyampaikan keinginan sudah benar atau belum. Beri ruang pada anak untuk merefleksikan perbuatannya tersebut. Jika belum benar, maka bicarakan bersama apa yang seharusnya dilakukan kedepannya. Oya, jangan lupa untuk meminta maaf pada anak jika ada respon kita yang kurang baik saat menghadapi anak yang sedang tantrum dan berusahalah untuk memperbaikinya.

Semoga 5 cara diatas bisa sedikit memberi solusi ya.  😊

 

Posted on 1 Comment

Menyapih atau NWP?

Saat mengetahui ada janin titipan Allah di usia Nizar yang belum menginjak 1 tahun, rasanya campur aduk, MasyaAllah. Tidak dapat dipungkiri ada rasa cemas kehilangan momen mengASIhi Nizar hingga usianya genap 2 tahun. Berbagai keraguan berkelebat dalam hati, saya khawatir tidak mampu melewati masa ini dengan baik. Namun perasaan tersebut langsung saya lawan dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan memberikan amanah melampaui batas kemampuan kita.

Pengalaman memberi ASI adalah sesuatu yang penuh kenangan bagi saya. Bukan karena ikut-ikutan trend jaman sekarang, terlebih karena menyusui adalah perintah Allah. ASI adalah rezeki yang dititipkan pada seorang ibu, sebagai tanda cinta dari Allah untuk setiap anak. Dan jika diniatkan untuk meraih ridha Allah, proses menyusui anak akan menjadi ibadah yang tak ternilai pahalanya.

Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang sedang menyusui bayinya,

“Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata’ala.”

Sejak itu saya mulai mencari dari beberapa literatur tentang bagaimana islam mengatasi kondisi ini. Dimana seorang ibu hamil saat anaknya belum usai disapih. Karena saya pun tidak ingin mengambil keputusan yang gegabah atau terburu-buru menyapih tanpa dasar ilmu.

Alhamdulillah, akhirnya menemukan rujukan dari buku Hanya Untukmu Anakku (terjemahan dari kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud) karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Beliau mengawalinya dengan anjuran untuk menyusui anak selama 2 tahun yang tertulis dalam Alquran.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)Ayat ini mengandung beberapa hukum :
1. Masa menyusui yang sempurna adalah dua tahun. Hal ini menjadi hak seorang anak jika dia membutuhkannya dan belum bisa lepas darinya. Penyebutan حولين (dua tahun) yang diperkuat dengan كاملين (penuh atau sempurna keduanya) bertujuan agar lafazh حولين tidak dipahami satu tahun atau lebih dari dua tahun.

2. Apabila kedua orang tua ingin menyapih anaknya sebelum masa itu dengan kerelaan keduanya dan setelah musyawarah, maka dibolehkan untuk menyapih selama tidak berdampak buruk pada anak.

3. Jika seorang bapak menginginkan anaknya disusui oleh wanita lain selain ibunya, maka hal itu boleh dilakukan sekalipun ibunya menolak. Kecuali jika hal tersebut akan mendatangkan keburukan bagi ibu atau anaknya, maka hal itu tidak diperkenankan. Dan ibunya pun boleh melanjutkan menyusuinya hingga jangka dua tahun atau lebih.

(Hanya Untukmu Anakku, halaman 436)

Dari penjelasan diatas saya menarik kesimpulan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang memungkinkan seorang ibu untuk menyapih anak lebih awal dari yang dianjurkan oleh Alquran. Pada bahasan berikutnya beliau pun membahas salah satu kondisi yang mungkin terjadi yaitu ibu hamil saat masih menyusui anaknya.

Menurut penuturan beliau ada beberapa pilihan yang harus diambil ketika ibu mengalami hal tersebut. Dua hal yang sangat beliau anjurkan adalah segera menyapih anak sekalipun belum mencapai usia 2 tahun atau mencarikan ibu susuan. Mengapa demikian? Karena seiring bertambahnya usia kehamilan, produksi ASI jumlahnya akan berkurang akibat homon estrogen yang semakin meningkat. Secara tidak langsung hal tersebut akan berpengaruh pada asupan gizi sang anak. Namun ungkap beliau, tidak juga ada larangan untuk meneruskan memberi ASI jika memang tidak ada efek buruk pada anak dan ibu setelahnya. Dua anjuran diatas disarankan atas dasar kehati-hatian. Wallahua’alam.

Saya sempat galau akan menyapih atau NWP (Nursing While Pregnant). Setelah menimbang, akhirnya saya pun mencoba untuk meneruskan mengASIhi Nizar. Karena selama ini tidak ada reaksi yang saya rasa akan membahayakan janin, seperti kontraksi saat menyusui atau lemas berlebihan setelah menyusui anak. Saya tidak ingin langsung menghentikan pemberian ASI pada Nizar, karena khawatir akan menciderai psikisnya.

Meskipun begitu saya berniat untuk menyapih Nizar lebih awal secara bertahap dan senatural mungkin, tanpa paksaan. Sehingga begitu adiknya lahir, Nizar sudah siap dengan kondisi barunya. Qadarullah, mungkin ini sudah menjadi sunnatullah. Di usia kehamilan menginjak 6 bulan, semakin jarang saya merasakan LDR (Let Down Reflex) atau asi mengalir deras saat menyusui. Sehingga Nizar pun mengurangi kebiasaan meminta ASI dengan sendirinya. MasyaAllah.

Hingga sekarang Nizar masih meminta ASI sewaktu-waktu dan saya pun masih memberikannya. Saya yakin Allah sudah mengaruniakan pada diri seorang anak kemampuan untuk mengenali kapan ia siap untuk menyapih dirinya sendiri. Biidznillah…

Posted on 1 Comment

Adab Sebelum Ilmu

Pernahkah kita merasa, betapa seringnya  mendapat ilmu tentang sesuatu tapi rasanya sulit sekali hati tergerak untuk mengamalkannya. Dalam dunia parenting misalnya, entah sudah berapa kali kita mendengar bahwa memarahi anak akan memberi dampak yang buruk pada psikis mereka. Berulangkali pula kita dengar hadits Rasulullah tentang keutamaan menahan amarah, namun kita masih saja sulit menahan diri untuk tidak mengomel disaat tingkah laku anak begitu menguji. Kita sibuk mencari ilmu kesana kemari tapi sedikit sekali yang membekas dalam  amalan dan hati.
Rasanya ada sesuatu yang keliru dari cara kita mencari ilmu 😢

Satu bulan yang lalu saya memutuskan untuk mengikuti dua kuliah online yaitu Halaqah Silsilah Islamiyah (HSI) yang dibimbing oleh Ustadz Abdullah Roy dan Kuliah Bunda Sayang dari Institut Ibu Profesional (IIP). Menariknya dua kelas ini diawali dengan materi yang sama, tentang adab sebelum ilmu. Lalu tiba-tiba saya merasa sedih, mengingat perjalanan menuntut ilmu selama ini ternyata masih jauh sekali dari adab yang seharusnya. Jangan-jangan selama ini saya hanya fokus menimbun ilmu tanpa peduli dengan adabnya. Padahal ulama terdahulu sangat tinggi perhatiannya terhadap adab ini. Seperti yang yang telah dikatakan Ibnul Mubarok,

“Kami mempelajari masalah adab  selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Adab qobla ‘ilmu. Tiga puluh tahun tentu bukan waktu yang singkat, butuh kesungguhan dan kesabaran dalam mempelajarinya. Semakin saya belajar tentang adab semakin saya mengerti kenapa para ulama menginvestasikan begitu banyak waktunya untuk mempelajari adab sebelum ilmu kepada gurunya. Karena adab lah yang akan menjadi kunci terbukanya hamparan ilmu yang dimiliki sang guru. Lebih dari itu, adab menjadi jaminan barakah atau tidaknya suatu ilmu bagi seseorang.

Dalam kajiannya, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan setidaknya ada 3 keutamaan bagi orang yang mempelajari ilmu dengan adabnya.

1. Orang yang menjaga adab dan kepada Allah saat menuntut ilmu akan Allah percepat pemahamannya terhadap ilmu.
Yusuf bin Al Husain berkata,

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

2. Orang yang menuntut ilmu dengan adabnya akan mudah mengamalkan ilmu yang diterimanya.

3. Orang yang menuntut ilmu dengan adabnya akan Allah mudahkan ia dalam mengamalkan ilmu disertai adab dari ilmu yang tengah diamalkannya. Misalkan seseorang belajar tentang shalat tahajud kepada seorang ulama dengan memperhatikan adab saat belajar, maka Allah berikan ia kemudahan untuk mengamalkan shalat tahajud plus adab dari shalat tahajud itu sendiri.

Lalu apa saja adab yang harus kita perhatikan sebelum menuntut ilmu? Ada beberapa hal yang harus menjadi fokus kita, diantaranya :

🌸 Membersihkan tempat ilmu yaitu hati. Apabila hati bersih maka ilmu akan berkenan masuk. Semakin bersih hati, semakin mudah menerima ilmu.
🌸 Mengikhlaskan NIAT dalam mencari ilmu. Contohnya mencari ilmu untuk :
⏺Mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain.
⏺Menghidupkan dan menjaga ilmu supaya tidak punah.
⏺Mengamalkan ilmu.
🌸 Mengumpulkan TEKAD untuk mempelajarinya, senantiasa memohon PERTOLONGAN ALLAH dan tidak merasa lemah.
🌸 Tawadhu dan tidak merasa paling tahu.
🌸 Memusatkan semangat untuk mempelajari Alquran dan Hadits.
🌸 Menempuh jalan yang benar dalam menuntut ilmu.
🌸 Bersegera dalam mendapatkan ilmu.
🌸 Pelan-pelan dalam menuntut ilmu dengan memulai dari buku-buku yang ringkas.
🌸 Memilih teman yang shalih dalm perjalanan menuntut ilmu.
🌸 Berusaha keras dalam menghafal, mengulang dan bertanya kepada guru apabila ada yang tidak dipahami.
🌸 Menghormati ahli ilmu atau guru, termasuk meluruskan dengan cara yang baik dan benar jika melihat kesalahan dalam diri sang guru.
🌸 Menghormati majelis ilmu dan sumber ilmu.

Saya sangat berterima kasih kepada para guru yang sudah begitu banyak mengingatkan betapa pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Semoga ilmu yang sudah dibagi membekas dalam hati dan amalan sehingga mengundang pahala yang terus mengalir untuk beliau semua. Dan semoga Allah membimbing langkah kita untuk memperbaiki setiap kekurangan dalam menuntut ilmu.

“Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.” (Syaikh Al-Ushoimi)

Sumber :
– Ringkasan materi “Adab Menuntut Ilmu IIP”
– Ringkasan materi HSI “Pengagungan terhadap Ilmu’
https://muslim.or.id/21107-pelajarilah-dahulu-adab-dan-akhlak.html