Posted on Leave a comment

7 Model Permainan yang Mudah Diadopsi Untuk Pembelajaran

Saat belajar bersama rekan-rekan guru dari seluruh Indonesia di TPN 2018 lalu, saya mendapatkan begitu banyak pertanyaan, “Pak, gimana cara termudah membuat boardgame untuk pembelajaran?”. Cara termudah? Sepertinya untuk kasus apapun cara termudah adalah dengan ATM: Amati Tiru Modifikasi. 

Jadi jika kita ingin mencoba menerapkan gamifikasi dalam pembelajaran, kita bisa coba perhatikan permainan-permainan yang ada, lalu kita coba modifikasi sedikit. Sesuaikan dengan konten dan konteks pembelajaran.

Nah berikut ini adalah 7 model permainan yang mudah diadopsi untuk pembelajaran di kelas (menurut saya): 

Siapa yang tidak mengenal permainan ini? 
Permainan yang mulanya diciptakan dari ketidaksengajaan ini sangatlah mendunia dan menjangkau berbagai usia di berbagai kalangan. Dari permainan analog hingga bentuk digital tersedia. Konsepnya mudah dimengerti dan pastinya mudah dimainkan.


Beberapa elemen penting yang bisa diadopsi dari monopoli:
1. Konsep papan: melingkar, peserta harus menjalankan bidak nya di atas petak-petak yang dibuat melingkar. Ada hal yang bisa dilakukan di setiap petak
2. Konsep kartu aksi: peserta diharuskan melakukan suatu aksi ketika mengambil kartu tersebut
3. Konsep jual-beli: peserta mencari sesuatu (mata uang) untuk kemudian digunakan melakukan aksi lainnya (membeli rumah/hotel, membayar sewa, denda dan lain sebagainya)
4. Goal akhir: menjadi yang paling kaya atau paling lama bertahan dalam permainan
5. Randomizer berupa dadu: tidak bisa ditebak langkah yang akan dijalankan

 

Ada salah seorang rekan saya, bu Amelia yang telah mengadopsi konsep monopoly untuk pengajaran Akuntansi. Berkat karyanya, beliau dinobatkan sebagai salah satu guru berprestasi tingkat nasional. 

(Yang pengen tau bentuk adopsi lainnya bisa cek di instastory saya berikut ini ya, klik di sini)

Permainan ini sangatlah populer bagi anak-anak di era 1990-an. Konsep permainannya sederhana. Setiap pemain harus berusaha mencapai kotak finish dengan melewati beberapa hambatan berupa ular. Jika terkena ular ia harus turun ke petak yang ada di bawah. Jika berhenti di tangga ia bisa naik ke petak di atasnya.

Berikut ini beberapa elemen yang bisa kita adopsi dari ular tangga:

  1. Winning state: mencapai garis finish
  2. Randomizer: kocokan dadu yang membuat perjalanan tidak menentu
  3. Twisting oleh ular/tangga. Pemain yang lebih di atas belum tentu menang karena bisa terkena ular dan jatuh jauh ke bawah. Yang di bawah pun belum tentu kalah karena bisa naik tangga melejit ke atas

Coba deh ulik sedikit dan sesuaikan dengan konteks pembelajaran di mata pelajaran rekan-rekan guru sekalian. Pasti semakin seru

Permainan klasik ini selalu menarik untuk dicoba. Bahkan hingga sekarang permainan puzzle masih menjadi permainan favorit bagi sebagian kalangan.

Berikut ini beberapa elemen permainan yang dapat kita adopsi dari puzzle:

  1. Winning state: dipicu oleh keingintahuan pemain akan gambar yang muncul setelah puzzle tersusun dengan lengkap
  2. Komponen permainan: potongan-potongan puzzle yang bisa disusun dan terkoneksi satu sama lain
  3. Tantangan: mengasah logika untuk menghubungkan puzzle dengan cara-cara tertentu

Rekan-rekan guru bisa memodifikasi di salah satu komponen permainannya atau seluruhnya. Yang jelas jangan meremehkan konsep puzzle yang tampak sederhana ini.

Bagi yang pengen tahu bagaimana implementasinya bisa cek di tulisan saya tentang memanfaatkan puzzle untuk quiz di sini dan untuk pembelajaran di sini

Siapa yang tak pernah bermain kartu? Hampir semua orang pernah memainkannya. Atau paling tidak mengetahuinya.

Kartu adalah salah satu jenis permainan yang sangat mudah diadopsi. Cara membuatnya relatif lebih mudah, banyak konten yang bisa dimasukkan dalam kartu dan bisa dimainkan dalam mekanika permainan apapun. 

Berikut ini beberapa elemen permainan dalam kartu yang bisa dimodifikasi:

  1. Bentuk kartu: Kartu tidak harus selalu berbentuk persegi panjang. Bisa dibuat persegi, heksagon, belah ketupat atau bentuk apapun yang Anda inginkan
  2. Cara memainkan kartu: sebagian besar permainan kartu hanya memainkan dengan cara buka dan tutup. Anda bisa memodifikasi dengan cara menggabungkan kartu, memasangkan kartu dan lain sebagainya.
  3. Konten Kartu: Anda bisa memodifikasi konten yang ditampilkan pada kartu. Bisa hanya satu sisi atau dua sisi. 

Berikut ini adalah beberapa contoh/model penggunaan kartu dalam permainan: 

Entah sejak kapan model permainan dadu ini dikembangkan. Yang jelas dadu adalah salah satu bentuk permainan yang entah kenapa selalu seru dimainkan.

Dalam game mechanic, dadu merupakan salah satu model randomizer (sebuah alat yang membuat sesuatu menjadi tidak menentu) yang efektif.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat Anda modifikasi dalam permainan dadu:

  1. Jumlah sisi dadu: dadu tidak harus selalu segi enam (kubus). Anda bisa membuat dadu 4 sisi, 7 sisi, 8 sisi, 10 sisi atau bahkan 12 sisi. 
  2. Konten dadu: dadu tidak harus selalu berisi titik-titik atau angka. KOnten pada setiap sisi dadu bisa dimodifikasi sesuka hati
  3. Jumlah dadu yang dilempar dalam satu waktu. Biasanya kita hanya melempar 1 atau 2 dadu dalam suatu permainan yang lazim. Tapi tahukah Anda beberapa board game yang terkenal menggunakan lebih dari 2 dadu untuk bermain. 

Anda bisa juga memodifikasi semua elemen tersebut dalam suatu permainan.

Ada yang pernah memainkan permainan ini?

 

Pemain harus memilih 2 petak yang tertutup. Apabila kedua gambar tidak sama maka kita harus tutup lagi kotak yang terbuka dan membuka lagi kotak lainnya. 

Terasa familiar?

Permainan ini memang sangat efektif untuk melatih memori pemain.

Beberapa elemen yang dapat dimodifikasi dalam permainan ini:

  1. Banyaknya kotak/kartu yang perlu dibuka: semakin banyak semakin menantang untuk dilakukan
  2. Konten kotak/kartu: tidak harus selalu gambar. bisa juga berupa kata-kata, atau dua hal yang saling terkait satu sama lain
  3. Cara bermain: tidak harus selalu 2 kartu yang sama yang dibuka. Misalkan pemain harus membuka 3 kartu yang berkaitan secara sekaligus

Mudah kan?

Ini dia salah satu permainan paling populer sepanjang masa: TTS Teka Teki Sulit. Hehe. Saking populernya, sampai-sampai ada sebuah percetakan yang mencetak ratusan ribu eksemplar buku TTS berisi gambar wanita-wanita cantik (entah apa motifnya).

Permainan ini bisa dimodifikasi untuk mengubah cara membawakan quiz di kelas.

Beberapa elemen yang bisa kita modifikasi dari permainan TTS:

  1. Konten Teka-teki: Anda tidak harus menggunakan kata-kata dalam TTS. Anda bisa saja memodifikasinya menjadi angka-angka (untuk pembelajaran matematika). 
    Seperti contohnya permainan Math Quest berikut ini
  2. Penambahan Poin untuk setiap jawaban benar: Pada TTS tidak ada sistem poin. Anda bisa menambahkan poin untuk setiap jawaban yang benar

Mau mencoba membuat TTS sendiri? Ada ide yang bagus ini dari rekan saya, Pak Nuno. Selengkapnya bisa cek di sini. 

 

Nah itu dia 7 jenis permainan yang mudah diadopsi untuk pembelajaran di kelas. Sekarang yang perlu Anda lakukan adalah mencoba melakukan eksplorasi permainan-permainan tersebut, lalu lakukan eksperimen dengan memodifikasi cara bermainnya. 

Kalau Anda masih bingung bagaimana merancang permainan untuk pembelajaran, coba baca tulisan saya tentang cara mudah membuat boardgame di tautan berikut ini. Klik di sini untuk membaca.

By the way, ada usulan model permainan lain yang mudah dimodifikasi untuk pembelajaran? Sebutkan di kolom komentar ya.

Posted on Leave a comment

Berikan Siswa Otonomi untuk Memanusiakan Hubungan dan Optimalkan Pembelajaran

Dalam bukunya, Drive, Daniel Pink menunjukkan fakta yang membuktikan bahwa pemberian otonomi bisa meningkatkan produktivitas. Di Atlassian – sebuah perusahaan IT asal australia – memberikan otonomi pada tim engineer untuk bebas mengerjakan proyek apapun, dengan siapapun dengan cara apapun di 20% waktu kerja mereka membuat produktivitas mereka meningkat.

Sebagai pendidik, apa yang bisa kita pelajari?

Kita perlu memberikan otonomi pada siswa kita dalam masa pembelajaran mereka. Berikan kesempatan pada siswa untuk memilih. Memilih apa? Bisa jadi apa saja yang sekiranya bisa mereka pilih. Contohnya: memberikan mereka pilihan mau belajar materi yang mana terlebih dahulu – tentunya pilihan materi ini sudah kita rancang sebelumnya, sebisa mungkin bukan topik pembelajaran yang sistem pre-requisite (harus dipahami sebelum memahami materi lainnya). Contoh lainnya, memberikan pilihan mau mengerjakan proyek yang mana, mau bekerja bersama kelompok yang mana, atau sesederhana: mau belajar di kelas atau di luar?
Sebagai gambaran yang lebih kongkrit, di pertemuan lalu saya mencoba menerapkan pemberian otonomi pada siswa saat memfasilitasi proses pembelajaran pembentukan ikatan ionik pada siswa. Berikut ini tahapan pembelajaran yang saya terapkan:
  1. demo memecahkan gula batu dan garam batu
  2. eksplorasi penyebab rapuhnya garam batu
  3. Penjelasan konsep ikatan ionik dengan menganalogikan pria dan wanita yang akan menikah
  4. pengenalan rumus kali silang
  5. konsep hasil ikatan ionik yang menghasilkan senyawa netral
  6. Pengenalan ion tunggal dan poli ion
  7. latihan membentuk senyawa ionik menggunakan puzzle ionik
  8. refleksi belajar
Mengingat tidak semua tahapan belajar perlu diterapkan konsep otonomi, maka saya mencoba menerapkan otonomi di tahapan nomor 7 saja.
Di tahapan ini saya letakkan semua potongan puzzle di meja. Setiap potongan merepresentasikan satu ion, baik itu ion tunggal maupun poli ion. Lalu saya berikan kesempatan pada setiap siswa untuk memilih sendiri kation dan anionnya. Setiap kali (menurut mereka) berhasil membuat suatu senyawa ionik, mereka tuliskan rumus senyawanya di papan tulis. Saya berikan tantangan kepada mereka: berapa banyak kelas ini mampu membuat senyawa ionik dalam kurun waktu 1×5 menit
Setelah waktu habis, saatnya refleksi dan mencari tau mana senyawa ionik yang benar dan mana senyawa ionik yang tidak eksis (tidak ada). Dari proses ini mereka bisa mengetahui bagaimana semestinya membentuk suatu senyawa ionik dari ion-ionnya serta sebaliknya bagaimana menguraikan senyawa ionik menjadi ion-ionnya.
Jika saya bandingkan dengan metode belajar yang dulu, yang monoton dan sekedar memberikan latihan soal di papantulis, cara ini jauh lebih memanusiakan hubungan. Melalui aktivitas ini saya merasakan siswa lebih antusias dalam belajar. Antusiasme itu terlihat dengan jelas saat mereka mencoba menggabung-gabungkan puzzle ion lalu menuliskan senyawa ionik di papan tulis. Semua ini karena satu hal: karena mereka diberikan pilihan, karena mereka memiliki otonomi, dan otonomi ini lah yang membuat mereka lebih berdaya.
Saya yakin konsep memberikan otonomi, memberikan pilihan pada siswa dapat memanusiakan hubungan. Dan semua proses ini dapat lebih mengoptimalkan pembelajaran. Sesederhana apapun bentuk pilihan yang diberikan.
Posted on Leave a comment

Buat Perencanaan Dengan Pola Pikir yang Benar

Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, fresh-grad, pekerja profesional, pebisnis, pedagang, ibu rumah tangga atau profesi apapun seringkali kita dihadapkan dengan satu masalah: perencanaan. Perencanaan terhadap setiap hal. Mulai dari urusan kantor atau bisnis yang bernilai milyaran rupiah hingga urusan perencanaan aktivitas liburan bersama keluarga.

Seringkali saat membuat perencanaan kita melakukannya menggunakan mindset (pola pikir) yang kurang tepat. Akibatnya banyak hal yang tidak kita inginkan terjadi. Mulai dari perencanaan yang berubah-ubah, target yang tidak pernah tercapai, konsistensi yang rendah dan lain sebagainya.

Beberapa bulan terakhir saya terlibat dalam sebuah proyek digital education untuk sebuah software studio dan mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga berkaitan dengan perencanaan ini. Salah satunya adalah memiliki mindset yang benar dalam merencanakan suatu hal.

Pertama: Tentukan Tujuan dengan Jelas

Banyak diantara kita ketika akan membuat perencanaan tidak menetapkan tujuan dengan cukup jelas. Misalkan, saat seorang mahasiswa tingkat akhir ditanya apa rencana yang akan dilakukan setelah lulus, tidak sedikit diantara mereka yang menjawab, “Bekerja, kang.” atau “Lanjut kuliah, mas” atau sejenisnya. Lalu mereka kebingungan setelah ditanya lagi, “Kerja dimana? di perusahaan bidang apa? Lanjut kuliah dimana? jurusan apa?”, dan seterusnya.

Tentu dalam merencanakan akan jauh lebih baik ketika kita bisa mendefinisikan dengan jelas apa yang jadi tujuan kita. Misalnya, “Saya akan mengambil gelas MA di bidang Educational Leadership di Institute of Education, University College London di tahun 2021.” Penetapan tujuan yang jelas ini membuat perencanaan kita jadi jauh lebih mudah.

Semakin jelas apa yang akan kita tuju, semakin mudah kita membuat perencanaan. Sebagai tips, pastikan dalam menentukan tujuan penuhi elemen-elemen berikut ini

  1. Apa yang ingin dicapai
  2. Dimana hal itu bisa dicapai
  3. Kapan kira-kira hal itu (direncanakan akan) dicapai

Kedua: Tahu sumber daya yang kita punya

Ada yang pernah membuat target lalu pada akhirnya target itu hanya menjadi retorika belaka? Alias apa yang kita targetkan itu hanya menjadi impian. Ya… impian yang tidak pernah terwujud. Mengapa? Sangat mungkin karena target kita ketinggian. Kenapa ketinggian? bisa jadi karena kita tidak tahu kondisi kita saat ini.

Ibaratnya begini. Ada seseorang yang ingin pergi ke temannya. Katakanlah rumah temannya ini ada di pusat pemukiman yang super padat. Ia menelpon temannya,

“Bro, rumahmu dimana?”
“Ini bro, ada di kavling 47 no 21A.”
“Lah dimana itu?”
“Gini deh, agak susah nyarinya. Sekarang kamu ada dimana? Ntar aku pandu lewat telepon.”
“Ga tau men, ini aku ada di mana. POkoknya ada banyak banget rumah disini.”
“Lah, rumah yang gimana?”
“Ga tau ya rumah aja. Ini ada yang pagernya pink. Ada tukang martabaknya.”
“Duh dimana pula itu?”
“Ga tau bro… Jadi gimana cara ke rumahmu?”
“Ya kamu nya ada dimana? aku ga bisa ngarahin kalo ga jelas kamu ada dimana.”
dan kisah itu berlanjut sampai besok subuh. Berakhir dengan gagalnya kunjungan itu.

Kebayang kan gimana kita bisa membuat perencanaan yang tepat kalau kita sendiri ga tau kita ada dimana. Gimana bisa tau cara terbaik mencapai tujuan kalau kita sendiri ga tau sumber daya yang kita punya apa aja.

Jadi penting sekali menentukan apa saja sumber daya yang kita miliki. Sebab dengan itu kita bisa membuat perencanaan dengan lebih bijak, tidak muluk-muluk, tapi juga tidak pesimistis.

 

Ketiga: Tahu bagaimana caranya

Kamu tau gimana caranya bikin telor dadar?
Pasti tahu lah, yes.
Tinggal ambil 2 butir telur, lalu pecahkan telurnya, masukkan telur ke mangkuk, tambahkan 1 sdt garam, lalu kocok-kocok menggunakan garpu. Tuangkan 100 mL minyak goreng ke teflon, hidupkan kompor dengan api kecil lalu jika minyak sudah panas tuangkan telur ke dalam teflon. Tunggu hingga telur berwarna coklat keemasan. Angka telur, tiriskan dan jadilah telur dadar.

Sekarang, gimana caranya bikin telor dadar kalo kita ga punya kompor? Tapi kita punya oven.
Bisa? Tentu saja. CAranya? mirip seperti tadi, cuma bedanya kita ga perlu hidupkan kompor. Cukup masukkan telur ke mangkuk tahan oven, hidupkan oven lalu tunggu hingga berwarna coklat keemasan.

Terakhir. Gimana caranya membuat telor dadar jika ternyata kita ga punya kompor, ga punya oven? Kita cuma punya telur, plastik, aluminium foil dan saat ini kita sedang berada di pinggir jalan beraspal yang sangat panas. Nahlo! Caranya ya sederhana saja. Buat aluminium foil seperti wadah berbentuk kotak, ceplok telurnya, lalu kocok-kocok menggunakan plastik lalu masukkan ke kertas aluminium foil. Kemudian letakkan kertas aluminium foil itu di atas aspal. Bisa? bisa saja.

Bisa lihat polanya?

Bahwa menentukan cara melakukan suatu hal selalu berkaitan dengan tujuan yang akan kita capai dan kondisi saat ini (sumber daya yang kita punya). Dalam membuat perencanaan, informasi tentang tujuan yang spesifik dan sumber daya yang ktia punya sangat berkaitan. Semakin banyak kita memiliki informasi tersebut, semakin mudah kita membuat perencanaan.

Lalu bagaimana jika tidak cukup punya informasi? Ya harus dicari. Sambil menentukan cara mencapai tujuannya.

 

Keempat: tahu apa yang kita evaluasi

Seandainya kita tidak mendefinisikan secara jelas telur dadar seperti apa yang ingin kita buat, apakah kita bisa menentukan bahwa kita telah berhasil membuat telur dadar yang kita inginkan?

Kalau kita tidak menentukan bahwa telur yang baik adalah telur yang: enak rasanya (tidak hambar), matang sempurna (tidak ada yang cair) dan berwarna keemasan, bagaimana kita bisa tahu bahwa kita sudah berhasil membuat telur dadar?

Ketiga cara yang kita lakukan bisa jadi memberikan hasil yang berbeda. Tanpa mengetahui parameter-parameter yang jelas tentang telur yang kita inginkan adalah telur yang seperti apa, sulit rasanya menentukan apakah kita berhasil atau tidak.

Bayangkan… membuat telur dadar yang sederhana saja perlu perencanaan yang tepat dan matang. Apalagi merencanakan kehidupan kita? Tentunya jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan.

 

Contoh Kasus

Untuk membuat perencanaan yang baik kita perlu melakukannya dengan pola pikir yang tepat:

  1. tentukan tujuan
  2. Pahami kondisi saat ini
  3. Pikirkan bagaimana caranya
  4. tentukan parameter-parameter ketercapaian tujuan

Proses ini tidak hanya dilakukan sekali. Namun harus dilakukan berkali-kali dan diulangi terus menerus.

Misalkan:

Punya target untuk menjadi seorang milyarder di usia ke 25. Lalu saat sudah menginjak usia 25 tahun, boro-boro jadi miliarder. 10 juta rupiah saja tak punya. Kita lupa dengan kondisi kita saat ini.

Mengapa hanya menjadi retorika/impian belaka? Kemungkinan besar penyebabnya ada 2:

  1. Targetnya terlalu tinggi, tidak mungkin dicapai dengan sumber daya yang kita punya
  2. Cara mencapainya mustahil bisa kita lakukan dengan sumber daya yang ada

Misalkan. Kita punya target jadi miliarder di usia 25 tahun. Tapi kita lupa, bahwa saat ini kita berusia 24 tahun dengan penghasilan per bulan hanya Rp 2.000.000 dan berprofesi sebagai kasir di alifmart dengan tabungan di rekening hanya Rp 1 juta dan tidak memiliki bisnis. Katakan kita cuma punya waktu 10 bulan untuk bisa menghasilkan uang Rp 1 Miliar. Itu artinya kita harus mendapatkan Rp100 juta per bulan.

Apakah itu mungkin didapatkan jika kita hanya bekerja dengan gaji Rp 2 juta per bulan? Tidak mungkin.
Lalu bagaimana cara mendapatkan Rp 100 juta per bulan?
Bisnis. Oke. Kalau memang begitu, bisnis apa yang bisa menghasilkan 100 juta per bulan? Bisa berdagang, mengimpor barang sejumlah 100.000 unit lalu kita jual lagi dengan keuntungan minimal per unit nya Rp 1.000.

Lalu kemudian pertanyaan selanjutnya, “Untuk mengimpor 100.000 unit berapa modal yang kita butuhkan? uangnya darimana? apakah kita punya uang sebanyak itu?” Jika jawabannya tidak memungkinkan untuk melakukan itu maka how to nya harus kita ubah.

Terus kalau how to nya ga nemu-nemu gimana? Ya berarti kemungkinan terbesarnya adalah target kita yang terlalu tinggi. Kita harus sesuaikan targetnya menjadi lebih rendah. Atau kita bisa perpanjang waktunya, tujuannya jangan jadi miliarder di usia 25 tahun, tapi di usia misalkan 30 tahun, atau 35 tahun. Tergantung rencana mana yang paling mungkin dilakukan.

Nah proses ini diulang terus menerus hingga kita mantap dengan rencana yang akan kita jalankan.

Penutup

Jadi, jika kita ingin membuat perencanaan yang lebih matang, ikuti prosesnya, jalani dengan pola pikir yang benar. memang tentu tidak mudah membuat perencanaan yang baik. Tapi yakinilah bahwa jika kita telah merencanakan dengan baik itu artinya kita sudah melakukan setengah pekerjaan dengan benar. Sisanya tinggal bagaimana kita mengeksekusi rencana itu menjadi aksi yang nyata.

Masih ingat dengan pepatah,

“Jika kita gagal merencanakan itu artinya kita sedang merencanakan kegagalan.”

Jadi apakah kamu mau merencanakan kegagalan?

Posted on 2 Comments

OTOPET: Strategi Membuat Siswa Termotivasi Belajar Tanpa Sogokan Tanpa Ancaman

Selama membaca tulisan ini mungkin Anda penasaran sebenarnya bagaimana caranya menumbuhkan motivasi poros ketiga, motivasi intrinsik dalam diri manusia?
Dalam bukunya yang berjudul, Drive: the surprising truth about what motivate us, Daniel Pink menyebutkan bahwa untuk menumbuhkan motivasi intrinsik kita harus memasukkan tiga elemen ini dalam aktivitas belajar bersama siswa: Otonomi, penguasaan dan tujuan. Saya menyingkatnya menjadi OTOPET

Otonomi.

Tahukah Anda bahwa perusahaan teknologi dan informasi Google mengizinkan para insinyurnya menggunakan 20% dari waktu kerja mereka untuk mengerjakan proyek pribadi mereka. Mereka berhak memilih proyek yang mereka suka, mereka boleh memilih dengan siapa mereka bisa mengerjakan proyek itu dan mereka bebas menentukan cara menyelesaikan proyek tersebut. Hasilnya? Sebagian dari proyek itu menjadi aplikasi yang berhasil dalam sejarah google. Seperti gmail, orkut, gogle news dan lain sebagainya.
Adanya otonomi ini akan memengaruhi sikap dan performa setiap orang, tidak terkecuali anak didik kita. Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk memilih membuat motivasi intrinsik mereka bertumbuh. Mereka akan merasa menjadi manusia seutuhnya yang lebih dihargai. Alih-alih hanya menjadi diktator yang mengharuskan mereka melakukan A, B, C dan seterusnya, kenapa tidak kita berikan saja kesempatan pada mereka untuk membuat pilihan mereka sendiri?
Ada 3 hal yang bisa kita berikan kesempatan pada siswa untuk memilih:
  1. Memilih apa yang akan mereka kerjakan (task)
  2. Memilih kapan mereka melakukannya (time)
  3. Memilih bersama siapa mereka melakukannya (team)
Contoh penerapannya? banyak sekali. Kita bisa memberikan kesempatan pada siswa untuk memilih sendiri paket soal quiz/ujiannya. Di awal pembelajaran sebelum kita mulai membawakan materi pelajaran kita bisa berikan kesempatan pada mereka untuk memilih: mau belajar topik yang mana dulu, nak? Atau kita bisa saja buatkan materi pembelajaran dalam bentuk lembaran poster lalu menempelkannya di beberapa area sekolah. Kita persilakan mereka untuk memilih mau mempelajari materi yang mana. Kita juga bisa berikan kesempatan pada mereka untuk menentukan sendiri kapan mereka mengerjakan tugasnya. Atau berikan kesempatan mereka untuk memilih bersama siapa mereka mengerjakan tugas atau aktivitas atau proyeknya. Intinya berikan kesempatan pada siswa untuk memilih.

Penguasaan

Pernah mendengar istilah reaktor nuklir? Ya, sebuah perangkat yang dapat memanfaatkan energi nuklir sebagai sumber energi. Biasanya perangkat ini dibuat oleh para pakar dan ilmuan-ilmuwan senior. Tapi percaya atau tidak, di Inggris ada seorang anak berusia 13 tahun yang berhasil menciptakan sendiri reaktor nuklirnya. Ya, namanya adalah Jamie Edwards. Ia membuat reaktor fusi nuklir di sekolahnya dengan cara yang sederhana. Saat ia mengemukakan gagasannya kepada gurunya, ia tidak digubris. Akhirnya ia mencoba mengajukan kepada kepala sekolah dan kepala sekolah mencoba memfasilitasinya. Berbekal izin dari kepala sekolahnya jamie berkunjung ke beberapa profesor di perguruan tinggi untuk belajar. Namun ternyata keinginannya disepelekan. Tidak putus asa, jamie mencoba mencari literatur dan mempelajari sendiri prinsip-prinsip dasar reaksi fusi. Ia bertanya ke para ahli yang peduli dengan gagasannya. Hingga akhirnya di tahun 2008 silam ia berhasil menciptakan mini reaktor fusinya sendiri dengan menghabiskan anggaran 2.600 poundsterling saja.
Hasil gambar untuk Jamie Edwards youngest scientist
Bisa terbayang bagaimana seorang anak usia SMP menciptakan reaktor fusinya sendiri?
Keinginan dalam diri jamie mendorong ia untuk mencari tau, belajar, mencoba berkali-kali tanpa peduli gagal atau berhasil. Yang ia tahu hanyalah ia ingin mencapai tujuannya. Ia mencoba melakukan dari hal yang sederhana. Sekali ia bisa menguasainya ia akan berusaha dengan sendirinya naik level ke jenjang yang lebih tinggi. Dan semua ia lakukan tanpa adanya sogokan apalagi ancaman.
Memberikan kesempatan pada siswa untuk bisa menguasai suatu hal adalah salah satu faktor pendorong dalam diri yang sangat kuat. Jika kita ingin siswa kita termotivasi, berikan kesempatan pada mereka untuk menguasai hal-hal tertentu. Biarkan mereka mencoba, yakinkan pada diri mereka bahwa mereka bisa, tunjukkan jalan seperlunya. Berikan kesempatan pada mereka untuk gagal. Dan yang tak kalah penting, apresiasi setiap langkah yang mereka lakukan, percayalah bahwa mereka mampu mencapainya.
Sebagai pendidik kita perlu memberikan ruang bagi murid-murid kita untuk menguasai hal-hal yang penting bagi mereka. Salah, gagal, keliru itu tidak mengapa. Karena dari kesalahan itulah mereka belajar. Dari kegagalan itu mereka mengerti mana yang harus diperbaiki agar mereka menjadi berhasil.

Tujuan.

Pernah merasa belajar sesuatu tapi mendadak lesu karena merasa tidak penting mempelajari hal itu?
Bayangkan Anda ditugaskan oleh Kepala sekolah atau manajer atau atasan Anda untuk mengikuti seminar/workshop. Tapi kenyataannya Anda sama sekali tidak tertarik dengan materi yang dibawakan dalam seminar/workshop itu. Kira-kira apa yang terjadi? Mengantuk? Bosan? Pengen seminarnya cepat selesai? Semua itu bisa terjadi karena Anda merasa tidak menemukan tujuan Anda belajar dalam seminar/workshop tersebut.
Coba kita berkaca pada murid-murid kita. Kira-kira apakah mereka merasa menemukan tujuannya mempelajari sesuatu saat belajar di ruang kelas bersama Anda?
Apakah sebagai pendidik kita sudah menghadirkan makna dalam pembelajaran bersama murid-murid kita?
Hasil gambar untuk teacher thinking
Tanpa tujuan, tanpa makna, setiap proses pembelajaran akan terasa kering dan hampa. Tidak hanya bagi murid, bagi kita sebagai pendidik pun demikian. Ketika kita mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban sebagai seorang guru, ketika kita masuk ke kelas hanya karena takut tidak mendapatkan gaji/honor di akhir bulan, ketika itu pula kita kehilangan makna dlam mendidik. Hal itu pula yang akan membuat semangat mendidik kita kian kendur.
Oleh karena itu penting bagi kita menghadirkan makna pembelajaran dalam diri murid-murid kita. Ajak mereka untuk memahami konsep AMBAK: Apa Manfaatnya Bagiku. Sebelum mengajar kita perlu membayangkan diri kita sebagai siswa, kemudian bertanya, “Jika aku mempelajari materi ini bersama pak/bu XXXX (Anda), apa manfaatnya bagiku?”, “Memangnya kalau belajar materi ini aku bisa apa?”, “Apa gunanya belajar materi ini?”, “Apa yang terjadi kalau aku tidak mempelajari hal ini?” dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya.
Saya yakin, dengan menanyakan hal-hal itu kita bisa menyisipkan pesan-pesan bermakna kepada murid-murid kita selama kita menjalankan peran kita sebagai pendidik di sekolah. Hadirkan makna, kuatkan tujuan pembelajaran, maka kita dan mereka akan merasa menjadi manusia seutuhnya.
Kesimpulan: apa yang bisa saya lakukan untuk menumbuhkan motivasi intriksik siswa?
Gunakan konsep otopet: otonomi, penguasaan, tujuan.
Berikan ruang bagi siswa untuk memiliki otonominya sendiri dalam belajar. Berikan mereka kesempatan untuk:
  1. Memilih topik mana yang akan dipelajari terlebih dahulu
  2. Memilih waktu mengerjakan tugas/proyek mereka sendiri
  3. Memilih proyek mereka sendiri
  4. Memilih anggota tim mereka sendiri
  5. Memilih tempat belajar
  6. Memilih tempat mengerjakan soal quiz
  7. dan lain sebagainya
Intinya berikan otonomi sehingga siswa memliki keleluasaan memilih apa yang mereka lakukan, kapan mereka melakukan hal itu dan bersama siapa mereka melakukan hal itu.
Penguasaan: berikan siswa ruang untuk mencari tahu, mempelajari, mencoba, melatih diri hingga mereka menguasai suatu hal.
Misalkan, Anda bisa melakukan hal-hal berikut ini:
  1. Saat mereka sudah tertarik terhadap suatu materi/topik pembelajaran, berikan tugas padanya untuk mempelajari hal itu dan melaporkan hasil pembelajarannya kepada kita/teman-temannya
  2. Berikan tantangan untuk melakukan suatu hal yang ia minati. Misalkan ia berminat dengan mencipta lagu, maka berikan kesempatan dan kepercayaan padanya untuk membuat lagu dan nyanyikan bersama teman-temannya
  3. Apresiasi setiap tahapan pembelajaran yang dijalani oleh murid, hindari merendahkan atau mencemooh hasil upaya mereka
  4. Berikan ruang pada siswa untuk melakukan kekeliruan dan gagal dan ajak mereka merefleksikan kegagalan itu
  5. Kuatkan siswa untuk menguasai suatu hal
  6. dan lain sebagainya
Tujuan: hadirkan makna pembelajaran di setiap kesempatan kita belajar bersama siswa.
Kita bisa melakukannya dengan cara:
  1. mengajak murid memikirkan mengapa kita mempelajari hal ini
  2. Memunculkan pertanyaan dalam diri siswa tentang apa yang akan kita pelajari
  3. Refleksi bersama murid di akhir pelajaran, mencari tau apa makna pembelajaran tersebut
  4. Mengajak mereka mengamati suatu fenomena untuk memahami makna dibalik fenomena itu
  5. dan lain sebaganya

Penutup

Zaman telah berganti, kini mendidik murid zaman now tidak bisa menggunakan cara zaman old. Mengutip kata baginda nabi,  bahwa kita harus mendidik anak sesuai zamannya. Kini era mendidik dengan kekerasan, dengan ancaman dan sogokan sudah berakhir. Murid-murid kita sudah tidak mempan dengan itu semua. Sebagai pendidik yang kekinian dan yang peduli dengan masa depan mereka kita harus mendobrak diri, berusaha semampunya untuk mendidik mereka dengan cara mereka.
Menumbuhkan motivasi intrinsik adalah cara mereka termotivasi untuk belajar secara mandiri. Maka mari hadirkan OTOPET dalam setiap pembelajaran kita bersama mereka dan jadikan diri kita semua manusia seutuhnya. Memang tidak mudah, tapi yakinilah bahwa semua jerih payah yang kita lakukan kelak akan terbayar lunas dengan keberhasilan mereka di masa yang akan datang.
Anggayudha (@ayesaja)
Pendidik, KGB Bandung.