Posted on Leave a comment

Dua Kunci Penting Sebelum Mengajarkan Al-Quran pada Anak

Tujuh tahun lalu, masih terekam jelas dalam ingatan masa dimana saya masih mengenyam bangku kuliah dan diamanahi untuk menjadi mentor tahsin bagi mahasiswa tingkat baru. Ada momen yang membuat saya menangis tergugu saat berhadapan dengan seorang gadis berusia 19 tahun yang sama sekali belum mengenal huruf hijaiyyah, padahal ia seorang muslimah sejak lahir.

Apa yang salah dengan gadis ini? Penampilannya terlihat dari kalangan berada dan garis wajahnya pun terlihat seperti seorang yang cerdas. Tapi mengapa di usia dewasanya ini, ia masih terbata mengeja alif-ba-ta? Bagaimana ia belajar memahami Al-Quran sementara membacanya pun tak mampu? Berbagai pertanyaan berkelebat dalam pikiran saya, salah satu yang paling mengusik adalah, apa yang telah orang tuanya lakukan selama ini sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang belum mengenal Al-Quran?

Jujur saat itu ada kecemasan dalam diri, ada rasa khawatir tentang masa depan saya ketika menjadi orangtua. Mampukah saya menjadi orangtua yang mengantarkan anak-anak saya men0jadi seseorang yang mencintai Al-Quran? Saya tentu tidak ingin serta merta menyalahkan kedua orangtua gadis tersebut. Tapi pengalaman ini mengingatkan saya akan satu hal bahwa adalah hak anak untuk diajarkan Al-Quran sejak kecil oleh kedua orangtuanya.

Maka dari itu saya semakin menyadari, saya harus belajar dan menyiapkan banyak bekal untuk menjawab kecemasan saya tersebut. Dan saya meyakini bahwa usia dini adalah pondasi utama untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan termasuk didalamnya menyemai kecintaan anak terhadap Al-Quran. Saya ingin sekali menjadi orang pertama yang mengenalkan Al-Quran dalam kehidupan anak-anak saya.

Baca juga : 5 Aktivitas Seru “Mengenalkan Hijaiyyah pada Anak” (Part-1)

Perjalanan belajar mengantarkan saya untuk bertemu dengan salah satu buku karya Dr Sa’d Riyadh yang isinya begitu mengetuk hati saya, bahwa apapun yang ingin kita tanamkan pada anak akan selalu berpusat pada dua hal, yaitu :

🏠 Rumah Teladan

Dalam bukunya, Dr. Sa’d Riyadh menyampaikan bahwa rumah adalah taman pendidikan pertama dan utama, tempat anak bertumbuh dan berkembang. Jika rumah menjadi basic pendidikan yang baik maka akan menghasilkan anak yang shalih lagi bermanfaat.

Rumah teladan, adalah rumah yang dimana penghuninya mencintai dan mengamalkan Al-Quran dengan cara menerjemahkan kecintaan terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Sehingga anak-anak secara langsung melihat dan merasakan suasana rumah yang mendorong dan membentuk dirinya untuk mencintai Al-Quran.

Ada 4 tipe rumah dalam proses pendidikan Al-Quran di keluarga :

🏡 Rumah yang penghuninya tidak peduli terhadap Al-Quran dan hanya membacanya sesekali. Namun orang tua berusaha untuk memasukkan anak-anaknya ke taman pendidikan Al-Quran terbaik agar mau menghafal dan mempelajari Al-Quran. Mereka lupa bahwa bagaimanapun anak akan mencontoh lingkungan terdekatnya yaitu keluarga.

🏡 Rumah yang penghuninya mempraktekkan ajaran Islam secara sulit, kaku dan fanatik. Termasuk dalam mendidik Al-Quran pada anak-anaknya. Orang tua mengajarkan Al-Qur’an dengan cara yang tidak sesuai dengan pertumbuhan anak, karakteristik, kemampuan dan kecenderungan anak. Sehingga suasana rumah dalam mempelajari Al-Quran terkesan penuh ketegangan yang akan menghambat sampainya perasaan cinta Al-Quran ke dalam hati anak-anak.

🏡 Rumah yang penghuninya melupakan Al-Quran, sehingga Al-Quran pun melupakan mereka. Bahkan mereka membuat sesuatu yang menggantikan Al-Quran, berupa lagu dan musik. 😢

🏡 Rumah yang penghuninya mencintai Al-Quran. Mereka bukan hanya membaca dan mempelajari isinya, tapi juga menerjemahkan rasa cinta terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Mereka menghidupkan nilai-nilai kebaikan pada Al-Quran dalam keluarganya, seperti saling mencintai, tolong menolong dan saling berlomba beramal shalih.

Rumah kita, termasuk tipe yang mana ya? 😊

📌 Pendidik Teladan

Cara terbaik untuk membuat anak tumbuh melakukan amal shalih yang kita harapkan, termasuk didalamnya mencintai Al-Quran, adalah dengan menjadi sosok yang perbuatannya dapat diteladani. Oleh karena itu, jika seorang pendidik ingin menanamkan perasaan cinta kepada Al-Quran di hati anak-anaknya, makan terlebih dahulu ia harus berusaha agar perbuatannya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Jika orang tua mencintai Al-Quran maka anak-anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Al-Quran atas izin Allah.

Bagaimana menjadi pendidik teladan yang akan dicintai anak?

❤ Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan terus memperbaiki hubungan baik dengan Allah dan memperbanyak do’a terbaik untuk anak kita.

❤ Mampu berinteraksi dengan anak sesuai dengan tahap perkembangan dan psikologis anak.

❤ Membuat variasi metode dalam mendidik & mengarahkan anak untuk mempelajari Al-Quran.

❤ Memberi hukuman dengan cara tidak memberi atau membatasi kesenangannya dan jangan pernah merendahkan anak karena kesalahannya.

❤ Pahami kecenderungan dan potensi anak agar pendidik bisa menyesuaikan metode belajar yang diberikan.

❤ Berikan kepercayaan dan berinteraksilah pada anak dengan cara memposisikan diri sebagai pembimbing yang bisa memahami mereka.

❤ Tanamkan rasa percaya diri pada mereka agar mereka menjadi pribadi yang lurus, teguh dan tidak mudah menyerah saat mempelajari Al-Quran.

❤ Cari tahu hambatan-hambatan yang akan mengganggu proses mendidik anak, entah itu berasal dari diri kita sendiri atau faktor luar. Sehingga kita bisa meminimalisir hal buruk yang akan menghambat diri dan anak kita untuk mendekat pada Al-Qur’an.

❤ Tumbuhkan kesadaran pada anak bahwa kita mencintai mereka, dengan menunjukkannya melalui perbuatan dan perkataan. Sehingga anak akan merasa dirinya berharga dan dicintai oleh orang tuanya.

Sampai sini masih bisa bernafas, bun? Hehe.. Ternyata dari dua hal ini saja rasanya masih banyak sekali PR kami dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Quran di hati anak. Terlebih saat melihat diri sebagai orang tua yang masih sangat naik turun interaksinya dengan Al-Quran. Allah, semoga selalu diberi semangat untuk belajar 😢

Posted on Leave a comment

Permen Ekspresi Buat Refleksi Makin Berarti

Sebagai guru, dengan umpan balik kita bisa mengetahui bagian mana yang sudah dimengerti oleh siswa, bagian mana yang belum dipahami, bagian mana yang paling disuka, bagian mana yang paling membosankan, mengasyikkan dan seterusnya. Semuanya diperoleh melalui ativitas sederhana sarat makna: refleksi.
Namun sayangnya, terkadang saat aktivitas refleksi, tidak semua siswa mau sumbang suara. Beberapa diantara mereka cenderung diam dan tidak mengungkapkan apa-apa. Inilah yang saya alami di kelas yang saya ampu saat ini. Ada sekitar 2 siswa yang sangat pasif saat belajar. Mereka cenderung bungkam saat ditanya, cenderung memilih untuk berdiam diri saat diajak berdiskusi. Bagi saya hal ini bisa jadi petaka. Karena saya jadi tidak bisa menilai apa yang mereka rasakan, saya juga tidak bisa mengukur apakah metode pembelajaran yang saya bawakan cukup efektif untuknya.
Terinspirasi dari seorang teman yang sangat suka makan manisan kacang berbalut coklat bermerek CHA-CHA, saya terpikir untuk memanfaatkan butiran lezat itu ke ruang refleksi. Saya ambil botol kaca bekas minuman bervitamin C, saya keringkan, lalu saya isi botol itu dengan dua bungkus CHA-CHA. Lalu saya bawa ke kelas.
Saat akhir sesi belajar, saya minta mereka secara bergiliran mengambil SATU BUAH PERMEN secara acak dan melarang mereka memakannya sebelum ada instruksi dari saya. Setelah seluruh siswa mendapatkan permennya masing-masing, saya tampilkan di proyektor tulisan ini:
Kemudian saya arahkan mereka untuk mengangkat tinggi-tinggi permennya masing-masing dan menyebutkan secara ringkas jawaban atas pertanyaan yang tertera di layar sesuai warna permen yang mereka dapatkan secara bergiliran. Siswa baru boleh memakan permennya jika semua siswa sudah mengutarakan perasaannya masing-masing.
Alhamdulillah, siswa yang biasanya diam sekarang cenderung mau berbicara. Meskipun cara penyampaiannya masih seperti berbicara dengan tembok. Tapi tidak mengapa. Yang penting mereka sudah berani mengutarakan pendapat mereka. Dan yang lebih penting, saya mendapatkan umpan balik dari siswa terkait proses pembelajaran yang baru saja saya lakukan.
Setelah semua bahagia karena mendapatkan permen, pertemuan tersebut saya tutup dengan menyampaikan resume materi berikut hal-hal penting yang sudah kami pelajari selama 90 menit kebelakang.
Dengan begini, semua nyaman, semua senang.
#SemuaMuridSemuaGuru #praktikBaik #refleksiBelajar #KGB #GuruMerdekaBelajar
Posted on Leave a comment

Memanfaatkan Dadu Untuk Membuat Pembelajaran Jadi Lebih Menyenangkan

Seiring dengan berjalannya waktu, dadu semakin populer digunakan untuk beberapa permainan. Sebagai pendidik, bagaimana cara kita memanfaatkan dadu? Berikut ini adalah beberapa mekanika permainan (game mechanics) yang bisa kita adopsi untuk membuat pembelajaran di ruang kelas semakin berkesan dan bermakna.
 

Lempar dadu untuk melakukan sesuatu

Pada permainan ini, kita bisa menambahkan beberapa simbol pada dadu yang berkaitan dengan aktivitas. 
Misalkan kita beri simbol Berlari di sisi A, berjalan di sisi B, merangkak di sisi C, melompat di sisi D dan seterusnya. Lalu kita minta siswa melakukan hal tertentu sesuai dengan dadu yang ditampilkan.
Aktivitas ini bisa dilakukan untuk mengenalkan aktivitas tertentu kepada siswa usia rendah (balita). Atau bisa juga untuk aktivitas lainnya. Contohnya membagi tugas kelompok, tantangan kelompok dan seterusnya.
Dalam beberapa boardgame, dadu seringkali digunakan untuk melakukan suatu aksi dalam permainan.
 
 

lempar dadu untuk mengumpulkan sesuatu

Jenis mekanika permainan seperti ini sangat sering digunakan dalam kebanyakan boardgame. Pemain diminta melemparkan dadu untuk mengumpulkan poin, harta karun, angka dan lain sebagainya. Sangat cocok dikombinasikan dengan tipe mekanik pertama
 
 

Lempar beberapa jenis dadu untuk kombinasi aksi

Misalkan kita menggunakan 3 buah dadu: 2 dadu berisi jumlah, 1 dadu berisi aksi. Pemain melemparkan secara sekaligus ketiga dadu. Jika yang muncul adalah angka 2, 1 dan lompat maka pemain diharuskan melompat sebanyak 3 kali (2+1). Atau misalkan ada 3 buah dadu: 2 dadu berisi jumlah, 1 dadu berisi jenis koin yang dikumpulkan. Pemain melemparkan 3 dadu tersebut dan dadu menunjukkan angka 6, 1 serta koin emas. Maka pemain mendapatkan 7 koin emas.
 
————————————
 
Itu adalah 3 contoh penggunaan dadu sebagai mekanik permainan. Sebenarnya masih ada cukup banyak mekanika permainan lainnya yang menggunakan dadu. Salah satu yang paling powerful adalah mekanik permainan dadu Yahtzee. Seperti apa mekanik permainannya? Simak di postingan selanjutnya ya.
 
Omong-omong, bagi yang mau menggunakan dadu sebagai media permainan, bisa unduh template nya di tombol berikut ini ya. Tinggal dicetak, lalu dimodifikasi sesuai kebutuhan. Ada dadu 6 sisi, 8 sisi dan 12 sisi.