Posted on 1 Comment

Latih Kemampuan Anak Bermain Peran dengan 20+ Boneka Kertas Buatan Sendiri

Saat anak-anak sudah memasuki usia 24 bulan, mereka sudah mulai dapat mengenali peran setiap orang. Sebagai implikasinya mereka akan mengamati serta mulai menirukan peran ibu/ayah/siapapun yang ia lihat. 

Memiliki kemampuan dalam bermain peran sangatlah penting bagi anak-anak kita. Dengan bermain peran anak-anak belajar bagaimana cara bertindak sesuai dengan suatu peran. 

Salah satu stimulus/rangsangan agar kemampuan anak bermain peran dapat meningkat maka dibutuhkan sarana bermain peran yang tepat. Seperti misalnya adalah boneka. Meskipun bermain peran menggunakan boneka sangat bermanfaat (khususnya bagi anak perempuan) sayangnya bagi beberapa keluarga mengalami kesulitan membeli boneka dengan harga yang fantastis.

Sebagai solusinya, kami mencoba mengumpulkan beberapa template boneka kertas dari berbagai sumber. Berikut ini adalah template boneka kertas yang dapat Anda unduh, cetak dan mainkan bersama buah hati Anda.

Unduh Boneka Kertas

Posted on Leave a comment

Picu dan Pacu Rasa Ingin Tahu Siswa dengan Jurnal Bertanya

Dalam publikasinya prof. Dr. Andreas krapp, seorang ilmuwan psikologi Jerman  menyatakan pangkal dari motivasi seseorang dalam belajar adalah ketertarikan nya terhadap sesuatu (Krapp, 1998). Jadi jika kita ingin menumbuhkan motivasi belajar siswa, maka hal pertama yang harus disentuh adalah ketertarikannya.
Sebagai seorang guru kimia dan fisika, menghadirkan ketertarikan ini menjadi salah satu tantangan tersendiri. Apalagi jika sudah berkaitan dengan perhitungan atau hal-hal yang mengharuskan mereka berpikir.
Teringat dengan konsep framework iB (internasional baccalaureate) yang mengedepankan curiosity (rasa ingin tahu) saya mencoba merancang mekanisme bertanya pada siswa, “Bener ga sih bertanya, memunculkan rasa ingin tahu itu bisa meningkatkan motivasi mereka dalam belajar??”.
Sekitar 2 pekan lalu saya menerapkan aturan belajar baru kepada mereka:
Sebelum masuk mereka harus menyerahkan tiket bertanya. Isinya adalah sebuah pertanyaan yg mengusik pikiran mereka tentang alam.
Saat awal masuk kelas, saya pilih pertanyaan yang paling menarik dan mencoba membahasnya bersama-sama. Cukup 10 menit di awal kelas untuk memupuk rasa ingin tahu mereka sekaligus membiasakan mereka berpikir.
.
Lalu bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tidak sempat terbahas di kelas? Tidakkah mereka mendapatkan hak yang sama memeproleh jawaban atas lertsnyaan mereka?
Saya kumpulkan pertanyaan setiap siswa dalam jurnal bertanya: sebuah buku berisi kompilasi pertanyaan murid.1 murid, 1 lembar, beragam pertanyaan. Saya upayakan yang terbaik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Mulai dari yang paling konyol, yang ga kepikiran sampe yang paling abstrak. Saat sesi belajar diadakan, jurnal itu saya bawa dan saya berikan kesempatan pada mereka membaca jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Dengan harapan dahaga mereka akan ilmu pengetahuan terpuaskan.
Hasilnya? Setelah diberlakukan selama 2 pekan dampaknya cukup menggembirakan. Mereka lebih sering bertanya dibandingkan sebelumnya. Meskipun belum mencapai tahap deep questioning alias bertanya secara mendalam. Tapi paling tidak kebiasaan bertanya semakin terbentuk.
Saya percaya bahwa bertanya adalah Gerbang awal memasuki istana ilmu pengetahuan. Bertanya adalah pupuk bagi rasa ingin tahu siswa. Dan bertanya adalah sumber antusiasme dalam belajar.
Mengelola Kelas tanpa pertanyaan itu ibarat memakan gulai kambing yang baru keluarkan dari lemari pendingin: lengket, berlemak dan pastinya tidak enak. Tidak nyaman bagi guru dan tentunya tidak menggairahkan untuk siswa.
Saya yakin, dengan menghadirkan pembelajaran yang memicu rasa ingin tahu, siswa akan semakin antusias dalam belajar. Sebab sejatinya anak-anak Didik kita itu bukanlah komputer yang hanya perlu diisi beragam informasi. Tapi mereka adalah manusia yang dahaganya akan ilmu harus dipenuhi.
Posted on Leave a comment

Menyelami Pendidikan Finlandia Melalui Buku Sarat Makna

Finlandia mengejutkan dunia ketika siswa-siswinya yang masih berusia 15 tahun berhasil mencatatkan skor tertinggi di penyelenggaraan pertama PISA pada 2001. Ujian itu meliputi penilaian keterampilan berpikir kritis di matematika, sains dan membaca. Hingga kini negara mungil ini terus-menerus memukau.  Continue reading Menyelami Pendidikan Finlandia Melalui Buku Sarat Makna

Posted on Leave a comment

Menuju Jannah Bersama Ayah

Kami percaya bahwa menjalani rumah tangga itu tidak sama seperti menggoreng pisang. Bisa jadi kita tidak perlu belajar secara serius dan kontinyu cara menggoreng pisang. Berbeda dengan berumah tangga. Tantangan yang kita hadapi kian hari kian kompleks, tanpa ilmu rasanya mustahil semua bisa dilalui dengan mulus. Tanpa persiapan yang matang, naif rasanya jika kita ingin rumah tangga kita menjadi jalan ke surga.

Sebagai bentuk pembelajaran, pekan lalu kami menonton tayangan ulang sahabat kami, yabi canun di kanal facebook miliknya. Seperti biasa kami mencoba membuat catatan atas materi-materi yang kami pahami berdasarkan pemaparan kang canun. 

Materinya bagus sekali. Menggugah kesadaran saya selaku kepala keluarga untuk menjadi imam yang sepatutnya bagi keluarga kecil kami. Pikir saya, materi sebagus ini sudah semestinya dinikmati pula oleh para ayah lainnya. Tapi, tidak semua ayah memiliki waktu yang cukup untuk menyimak webinar selama 1 jam. Oleh karena itu saya coba buatkan sebuah infografis sederhana berisi materi yang disampaikan oleh kang canun. Dengan harapan para ayah tetap belajar sesuatu dalam waktu yang relatif lebih singkat.

Berikut ini adalah infografis berisi catatan kami saat mengikuti webinar bersama kang canun tanggal 7 november lalu. Bagi yang ingin menyimak webinarnya silakan bisa klik di sini.

 

Unduh infografis

Posted on Leave a comment

Mendalami pemahaman murid dengan kertas ilmu dan jurnal refleksi

“Ya ampun pak…. Masuknya udah susah pake tiket masuk. Masa iya keluar kelas juga harus pake tiket?” Rengek salah seorang murid kepadaku.
“Bukan tiket keluar.. cuma kertas tempelan.”
“iya pak… Sama aja. Kan susah….”
“Ah, masa iya? Emang apa sih susahnya nulis apa yg kamu dapet selama belajar sama bapak?”
“Ya susaaah… Kan harus mikirrrr.”
“Yaelaaah… Mikir doang. Justru dengan mikir kamu makin pinter. Ya kan.??”
“Hehe…”
Dan ia pun melengos pergi sambil senyam-senyum sendiri.
.
Siang itu aku memang menerapkan satu aturan baru: menempelkan kertas ilmu di pintu kelas sebelum mereka keluar. Tanpa itu mereka belum boleh meninggalkan ruangan.
.
Instruksi nya sangat sederhana, setiap orang diminta menuliskan ilmu apa saja yang telah mereka dapatkan selama belajar 3 jam pelajaran denganku. Boleh berupa informasi yang paling diingat, yang paling berkesan, rumus atau apapun. Yang jelas apa yang mereka tuliskan harus menjadi gambaran hal yang mereka pelajari selama di kelas.
.
“Alasan orang menggoreng pake minyak bukan pake air.”
“Ternyata minyak lebih mudah menyerap panas dibandingkan air sesuai dengan kapasitas kalor nya.”
“Saya baru tau kalo setiap zat itu kapasitas kalor nya beda-beda.”
Kubaca kata per kata di setiap lembaran yang ada.
.
Melalui lembaran ini aku bisa mengetahui mana materi yang tersampaikan dengan baik, mana materi yang masih perlu lebih dipertajam. Dari sisi murid, mereka bisa merefleksikan apa materi yang telah mereka dapatkan dan yang belum mereka dapatkan.
.
Supaya dampaknya lebih optimal, seluruh kertas tadi kutempelkan pada selembar kertas lalu kuberikan komentar positif yang membangun. Di pertemuan selanjutnya, kertas ini kuberikan pada mereka sebagai media refleksi.
.
Enak gitu kan?
Sebagai murid mereka dapat melakukan refleksi, pun halnya aku sebagai pendidik. Kayak kata parents jaman old,
“Sambil menyelam minum kopi dan menikmati sepotong roti.”
Continue reading Mendalami pemahaman murid dengan kertas ilmu dan jurnal refleksi

Posted on 1 Comment

Hadirkan keseruan belajar dengan dadu buatan.

Pelu: “Yah… O lagi.”
Kresna: “Emang ente udah punya berapa atom O?”
Pelu: “Udah sebelas…”
Kresna: “Hahaha… Ga bisa bikin molekul apa apa dong?”
.
Begitulah kira kira suasana pembelajaran saat itu. Mereka tampak seru melempar dadu, menulis coretan di kertas sembari bercanda. Beberapa ada yang tampak termenung melihat plafon ruangan, seolah-olah ada jawaban atas apa yang mereka cari disana.
.
Riuh ramai suasana kelas siang itu seakan membuat mereka lupa, bahwa saat itu mereka sedang belajar mata pelajaran yang mereka benci di waktu yang paling menantang: persis setelah makan siang.
.
Topik pelajaran pekan ini adalah menentukan struktur lewis suatu molekul. Aku buatkan 2 dadu: satu dadu berisi atom-atom nonlogam, satu lagi berisi angka: 1, 2 atau 3. Mereka harus kumpulkan atom-atom tadi dengan cara melempar kedua dadu. Dari atom-atom yang dikumpulkan mereka boleh membuat struktur senyawa-senyawa yang sudah kutentukan di awal. Untuk memudahkan, aku beri semacam ‘cheating sheet’ berisi informasi yg memudahkan mereka menentukan struktur senyawa yang mereka mau. Mereka akan mendapatkan poin sesuai struktur senyawa yang berhasil mereka buat.
.
Sebetulnya sih ini tak ubahnya latihan soal seperti biasa. Aku hanya memberikan 3 sentuhan gamifikasi di dalamnya: ketidakpastian, pilihan dan poin.
.
Dampaknya? Aku sendiri pun terkejut. Mereka seharusnya sudah keluar kelas pukul 13.40, tapi saat bel berbunyi malah mereka sendiri yang menolak keluar kelas dan memilih meneruskan permainan.Antusiasme belajar mereka meningkat drastis. Setiap siswa sibuk sendiri mencoba-coba menentukan struktur senyawa yang mereka inginkan. Tak satupun saya melihat ada siswa yang mengacuhkan instruksi. Mereka begitu tertarik untuk menjawab tantangan yang kuberikan. Akhirnya dengan terpaksa mereka ‘kuusir’ pukul 14.00
.
Aku jadi belajar. Ternyata untuk membuat kelas jadi sedemikian asyik dan menarik tak selalu membutuhkan teknologi yang ciamik. Hanya bermodal dadu dan model permainan yang seru, siswa jadi menggebu-gebu.
.
Ah, aku jadi teringat pesan guruku dulu.. “Nak, jika kamu mengalami kesulitan, coba lakukan saja hal yang bisa kamu lakukan. Tak perlu menunggu fasilitas yang serba ada, tak perlu menunggu sempurna untuk memulai, tapi mulailah dengan apa yang kamu punya.” (Pak Anam Zakaria).
.

Posted on Leave a comment

Membentuk Kesiapan Siswa Sebelum Belajar dengan Ember Ilmu

Education’s purpose is to replace An empty Mind with open one.
Tujuan pendidikan adalah mengisi jiwa yang kosong. (Malcolm forbe)

Dulu saat di awal mengajar aku seringkali kesulitan mengatasi siswa yang acap kali tidak mau mengikuti instruksi, mengantuk, sulit memahami materi dan seabrek permasalahan lainnya. Tak jarang aku dibuat stress karena hal ini.
Selidik punya selidik, baca sana sini, ternyata salah satu penyebabnya adalah karena saat awal belajar siswa belum benar-benar siap belajar belajar. badan mereka di kelas bersama kita,namun pikiran mereka melayang kemana-mana.
.
Salah satu cara paling ampuh mengatasinya adalah dengan menciptakan kondisi yang membuat fokus mereka teralihkan dari aktivitas sebelumnnya ke aktivitas di kelas saat ini. Trik ember ilmu ini agaknya bisa memfasilitasi terwujudnya kondisi itu.
.
Bawalah ember kosong bersih ke dalam kelas. Lalu sampaikan pada mereka bahwa sebelum memulai belajar, kita (guru) ingin mengumpulkan ilmu dari kelas itu. Lalu Sebelum memulai aktivitas di kelas, kita dapat meminta siswa:
1. Mengambil ½ lembar kertas
2. Menuliskan materi yg mereka ingat sebelumnya di atas kertas
3. Remas kertas dan lemparkan ke dalam EMBER ILMU sambil berucap dengan lantang, “saya [NAMA] SIAP BELAJAR!”
.
Hasilnya?
.
Sebagian besar siswa tampak lebih siap Belajar dibandingkan sebelumnya. Yang biasanya ngantuk mulai bisa lebih fokus. Yang semula sulit diarahkan sekarang lebih mudah.
.
Kalaupun ada yg ngantuk, kita bisa ‘sentil’ mereka dengan pertanyaan sederhana, “Katanya tadi siap belajar??”, Atau ungkapan serupa, “yuk ah semangat lagi belajar. Kan tadi katanya siap belajar?” Dan sebagainya.
Continue reading Membentuk Kesiapan Siswa Sebelum Belajar dengan Ember Ilmu

Posted on Leave a comment

Guru itu pendidik, bukan hakim

“Menjadi guru itu… Bisa membuat kita pertama kali masuk surga atau pertama kali masuk neraka.” Papar pak uswadin, kepala sekolah SMP labschool Cibubur.

“Jika kita benar benar menjadi guru, menjadi pendidik yang membimbing anak Didik kita dalam hal yang benar dan baik, kita bisa memperoleh pahala jariyah yang berlimpah. Dan boleh jadi karena itu kita masuk surga.

Namun jika sebagai guru kita hanya omdo, alias omong doang, nyuruh murid jujur tapi kita nya tidak jujur, menghimbau murid untuk bekerja keras tapi kita nya malah malas, Malah sangat mungkin kita lah yg masuk neraka. Karena kita mengajarkan hal yang buruk.” Lanjutnya.

Mataku tak bisa lepas dari sosok guru senior yg telah berkecimpung dalam dunia pendidikan selama 24 tahun itu.

Ia melanjutkan ceritanya, “Saya jadi teringat bagaimana murid saya yang dulu sangat bandel. Kerjaannya selalu berantem sama temennya. Ada masalah dikit berantem. Berkali-kali orangtuanya dipanggil namun orangtuanya malah bilang ‘Gapapa pak. Namanya juga laki, biar jadi jagoan.’ saya hampir menyerah. Saya kira anak itu masa depannya suram. Tapi siapa sangka ternyata sekarang dia menjadi seorang artis papan atas. Namanya Herjunot Ali. Pemeran film box office Indonesia.”
.
“Dulu saya juga pernah menghadapi siswa yang susahnya setengah mati diajak ke sekolah. Saya harus menelpon anak ini setiap kali mau sekolah. Bahkan pernah suatu ketika anak ini harus kami jemput ke rumahnya agar ia mau sekolah. Dulu saya pikir anak ini akan sulit belajar dan sulit naik ke jenjang berikutnya. Namun ternyata saya keliru. Sekitar beberapa bulan yang lalu saya terhubung dengannya di Facebook. Ngobrol punya ngobrol, saya baru tau jika sekarang dia menjadi seorang psikolog lulusan UI.” tukas pak uswadin mengenang penuh haru.
.
“Sebagai guru, tidak bijak rasanya jika kita memberikan label yang buruk pada mrid kita. Kita tidak boleh menyerah dengan mereka, dengan berbagai problematika yg mereka hadapi.”
.
“Mereka boleh jadi nakal, mereka boleh jadi sering membolos, mereka boleh jadi sering berkelahi. Kewajiban kita adalah meluruskannya. Kita boleh menegur mereka, tapi satu hal yang tidak boleh kita lakukan: menghakimi mereka atas kesalahan mereka.”

“Tugas kita sebagai guru adalah memberikan bimbingan dan pendidikan terbaik pada mereka. Bukan menghakimi. Karena sejatinya kita adalah pendidik, bukan hakim.”
.
“Kita tidak berhak menghakimi mereka, karena hanya Allah yang paling berhak. Hanya Allah yg paling tahu masa depan mereka. Kita tidak akan pernah tahu bahwa boleh jadi siswa yang kita anggap paling buruk kelak mereka menjadi pribadi terbaik. Siapa yg bs memastikan bahwa siswa yang paling sering membangkang peraturan kelak menjadi penegak peraturan terbaik?”
.
Aku tercekat. Seolah ada sebuah pisau yang menusuk ulu hatiku. Kata kata pak uswadin seperti mencekik leherku. Mataku dibuat basah oleh petuahnya.
.
Tak jarang dalam hati ini terbersit penghakiman atas murid-murid ku. Seringkali tindakan indisipliner mereka membuatku geram dan memunculkan tuduhan-tuduhan atas diri meekea.
.
Ah, betapa celakanya diriku jika masih menganggap mereka yang kudidik adalah anak-anak yang nakal, yang pemalas, anak anak pembangkang dan tidak taat aturan.
Meskipun kenyataannya demikian, sebagai pendidik aku masih harus terus menumbuhkan keyakinan bahwa sejatinya mereka adalah pribadi yang baik, pribadi yang dapat berubah.
.
Terima kasih pak uswadin. Kesempatan dibina oleh salah satu sekolah terbaik di Indonesia, labschool benar benar membuka mata tentang peran kami sebagai pendidik. Alhamdulillah…
.
Gedung shafaa, saat pendampingan akademik oleh SMP labschool Cibubur.
Pandeglang, 15 September 2017.

Posted on Leave a comment

Memanfaatkan Board Game untuk Pengajaran

“Pak, bisa ga sih kita make permainan ular tangga untuk pelajaran?”
Begitu tanya salah seorang peserta saat beberapa waktu lalu saya berbagi tentang gamifikasi dalam pendidikan dalam sebuah seminar.
.
Jawabannya?
.
Berdasarkan ajaran yang saya dapatkan dari mastah game indonesia, mas @enugroho ,sangat mungkin, Hanya saja kita memang perlu memerhatikan konteks pembelajarannya. Agak garing dan kurang ‘nempat’ klo kita langsung niru plek cara main ular tangga dengan pelajaran di sekolah. Perlu diperhatikan dulu tujuannya untuk apa, tahapan pembelajarannya seperti apa, bagaimana kondisi siswa dan sebagainya. Sebab membuat permainan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses pemikiran yang (boleh jadi) sangat panjang agar permainan yang kita ciptakan tidak sekedar berujung kesenangan, tapi juga menjadi penuh makna. (Cmiiw klo keliru ya mas @enugroho 🙏)
.
Sekitar sepekan yang lalu saya mencoba merancang sebuah permainan papan (board game) sederhana sebagai sarana pembelajaran murid-murid saya.

Hasilnya?
.
Murid-murid saya senang dan mereka memahami makna dari energi ionisasi. Semoga fakta bahwa 90% siswa mampu menjawab post test tentang energi ionisasi benar-benar menjadi bukti bahwa pembelajaran ini tidak hanya menyenangkan belaka, namun juga bermakna.

 


Materi pembelajaran: Kimia kelas X – Sifat periodik – energi ionisasi.
Tujuan pembelajaran: membuat siswa memahami konsep energi ionisasi dan pembentukan molekul
Pre-kondisi: siswa mengetahui cara menentukan konfigurasi elektron, mengetahui konsep kulit pada atom, mengetahui keterkaitan ukuran atom dengan tarik menarik antara inti dan elektron terluar.

Alat yang dibutuhkan:

1. Papan permainan ionization game
2. 10 Keping kation
3. 20 keping anion
4. 1 buah dadu
5. 50 butir energi (menggunakan manik-manik)
6. Tabel energi ionisasi kation yang digunakan

Cara bermain:
– Bentuk satu kelompok yang terdiri dari 4 orang
– Setiap kelompok mendapatkan 1 set peralatan seperti di atas
– Setiap orang dipersilakan memilih 1 keping kation di awal permainan
– Tugas setiap orang adalah membuat senyawa dengan cara mengumpulkan keping anion dan menggabungkannya dengan keping kation yang sudah teraktivasi
– Anion dapat diperoleh jika pemain menginjak papan ‘AMBIL ANION’
– pemain harus mengumpulkan butir-butir energi dengan cara menginjak papan energi
– Kation yang didapatkan akan teraktivasi jika pemain sudah memiliki energi yang sesuai dengan energi ionisasi kation yang dimilikinya. Misalkan: Si A memiliki kation Na+. Energi ionisasinya 500 kJ. Maka ia harus kumpulkan butir energi sebesar 500 kJ
– jika kation sudah teraktivasi dan pemain sudah memiliki anion, maka ia dapat membuat senyawa yang diinginkan
– Permainan dilakukan antara 15-20 menit.
– Pemain yang menjadi pemenangnya adalah pemain yang berhasil membuat senyawa paling banyak

Note:
Apabila pemain menginjak kotak ‘TERCYDUQUE’ maka pemain langsung mendapatkan butir energi sebanyak yang diperlukan untuk membuat sebuah senyawa.

Posted on Leave a comment

Justru karena mereka berbeda, hidup menjadi kian berwarna.

Dunia ini menjadi indah karena terdiri atas beragam berwarna. Menjadi pendidik itu sangatlah indah karena kita selalu dihadapkan pada keberagaman. Dalam mendidik, kita akan selalu menemukan anak-anak dengan perbedaan yang sangat (boleh jadi) sangat mencolok. Ada yang sering berisik, ada ya.g kerjaannya sepanjang pelajaran dieeeem aja. Ada yang rajin nyatet, ada juga yang buku catatan pun ga punya.
.
Termasuk soal sikap saat belajar dan pencapaian akademik. Ada yang begitu diajarin langsung ngerti, ada yang pas pelajaran kerjaannya tiduurr melulu tapi pas ditunjuk dan disuruh jawab pertanyaan dia bisa jawab dengan benar (yang ini tipe murid sakti). Ada juga yang kapasitas matanya cuma 5 Watt: sayu sepanjang waktu.
.
Ada juga yang bikin ngurut dada: pas dijelasin materi pelajaran nyimak dengan serius, ga ngantuk sama sekali, tampak sangat meyakinkan bahwa ia mengerti. Tapi ternyata pas di cek dengan latihan soal, ga ada pelajaran yang masuk.
.
Ya… Anak anak kita memang diciptakan dengan berbeda dan saangat beragam. Bagaimanapun mereka tak bisa disamakan. Hampir dari segi apapun.
.
Merefleksikan apa yang dilakukan oleh guru-guru saya, saya jadi teringat kan kembali. bahwa sebagai pendidik tugas kita adalah memahami perbedaan itu dan memberikan penanganan yang sesuai dengan karakteristik mereka masing-masing.
.
Tentu tidak bijak rasanya jika sebagai pendidik kita hanya memfasilitasi sebagian siswa saja. Seperti misalnya memilih untuk mengajar dan memberikan perhatian pada murid yang memiliki kemampuan intelektual tinggi saja. Sementara siswa yang ga ngerti-ngerti ditinggalkan begitu saja.
.
Ya… Bagaimanapun dunia kita ini penuh dengan warna. Pun hal nya siswa didik kita, anak-anak kita. Maka kita perlu memperlakukan mereka sebagaimana keberagaman yang ada.
.
Bukankah pelangi itu indah karena ia terdiri dari banyak warna?

Posted on Leave a comment

Mengajak dengan kesadaran

Siapa bilang guru baru mau belajar jika disuruh oleh dinas/atasannya?
Siapa yang bilang kalau ga ada ongkos, guru malas untuk belajar?
.
Beberapa hari yg lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah konferensi guru yang paling fenomenal di kalangan pendidik: Temu Pendidik Nusantara. Mungkin event ini tak seramai kegiatan konferensi yg diadakan oleh Kemdikbud yang jumlah pesertanya lebih dari 3.000 orang guru. Tapi bagi saya ada hal yang sangat menarik.
.
Dalam salah satu sesi, Bu @najeelashihab (pendiri komunitas guru belajar) menyebutkan ada begitu banyak salah kaprah dalam pendidikan. Salah satunya adalah bahwa baik siswa maupun guru hanya mau belajar apabila diberi iming-iming berupa insentif. Kalau ada tunjangannya, kalau ada sertifikat nya,kalau ada ongkos nya baru mereka mau ikut pelatihan.
.
Atau… Guru baru akan mengikuti pelatihan apabila ada ancaman. Kalau tidak ikut pelatihan, tunjangannya dicabut. Kalau tidak ikut pelatihan, nanti ga bisa naik pangkat, klo ga pelatihan nanti di mutasi dan sebagainya.
.
Kenyataannya? Dalam agenda temu pendidik Nusantara ini, banyak kok guru yang berangkat meski tanpa harus ada ancaman dari dinas dsb. Ga sedikit juga guru yang datang jauh jauh dari pelosok negeri dan merogoh kocek sampai jutaan rupiah. Bahkan ada sekelompok guru dari pekalongan yang bersedia menggalang dana dengan melakukan beberapa event demi mendapatkan keuntungan yang digunakan sebagai biaya akomodasi.
.
Semua dilakukan karena sebuah dorongan yang begitu mendalam: keinginan untuk belajar, keinginan untuk membekali diri dan berkontribusi dalam memajukan pendidikan generasi penerus negeri.
.
Saya jadi semakin percaya, bahwa belajar tidak harus didasarkan pada iming-iming insentif atau nilai, prestasi dan semacamnya. Tidak semua ajakan harus didasarkan pada ancaman dan menebar rasa takut. Akan lebih bijak jika kita mengajak dengan cara membangun kesadaran. Memunculkan motivasi intrinsik dalam diri.
.
Sebagai pendidik, Mungkin inilah salah satu tantangan terbesar yang harus kita hadapi di ruang belajar: menghadirkan kesadaran siswa untuk belajar.

Posted on Leave a comment

Temu Pendidik Nusantara: Semua murid semua guru.

Aseli. Baru kali ini saya mengikuti konferensi. Meskipun secara formal ini bukan konferensi ilmiah tingkat tinggi dan bergengsi tingkat internasional macam yang diselenggarakan oleh RSC, ACS dll dsb dkk dsj Namun bagi saya konferensi ini sangat berarti.
.
Pekan lalu saya berkesempatan mengikuti#TemuPendidikNusantara atau yg sering disingkat#TPN2017 ; sebuah konferensi bagi para guru dari seluruh Indonesia. Sebuah ajang belajar bersama antar sesama guru.
.
Seru!
Karena yang dibahas kebanyakan adalah praktik baik pengajaran di ruang kelas. Lintas bidang, lintas jenjang, lintas strukural, lintas kultur dan pastinya lintas daerah. Sangat beragam dan kaya warna. Mulai dari guru PAUD hingga dosen. Mulai dari bidang seni yang sangat bebas hingga bidang eksak yang sangat rigid. Mulai dari guru PNS hingga pengajar anak jalanan. Semua berkumpul menjadi satu dengan satu motif: belajar.
.
Jauh sebelum konferensi diadakan, setiap guru berhak mengajukan naskah untuk dipresentasikan kepada peserta konferensi. Lalu panitia melakukan penilaian materi dan menyeleksi yang sekiranya sesuai dengan tujuan konferensi. Hal ini memberikan kesempatan bagi setiap guru untuk menjadi presentan, menjadi guru tanpa bermaksud menjustifikasi presentan lebih baik dibandingkan peserta.
.
Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah, selain setiap orang berhak menjadi guru (presentan) setiap orang juga berhak menjadi murid. Peserta diberikan kebebasan memilih beberapa kelas yang ingin diikuti. Di #tpn2017 lalu ada lebih dari 20 kelas yang bisa diikuti! Kelas nya pun beragam: ada kelas kemerdekaan (berbagi praktik baik pengajaran), kelas kompetensi (melatih kompetensi tertentu), kelas kolaborasi, kelas karir dsb.
.
Sejalan dengan konsep yang diusung bu @najeelashihab , semua murid semua guru. Karena sejatinya setiap dari kita adalah pendidik dan setiap kita adalah pembeljaar sepanjang hayat.

Posted on Leave a comment

Refleksi: bagian paling berat bagi seorang pendidik

Kecewa.
Sekitar pekan lalu ujian telah dilakukan namun ternyata nilai murid-murid yang kudidik tak mencapai seperti yang kuinginkan. Padahal selama ulangan harian kemarin nilai mereka cukup memuaskan.
.
Merasa penasaran, aku coba lakukan siklus tahap akhir dalam mendidik yang diajarkan saat#TPN2017 lalu: refleksi. Kucoba buka beberapa buku dan pelajari beberapa teknik yang bisa digunakan untuk refleksi.
.
Dan… Inilah suasana kelas saat refleksi dilakukan. Aku berikan setiap siswa 3 lembar post it. Secara bertahap aku minta mereka merefleksikan ke dalam diri mereka 3 hal: hal baik yang perlu dipertahankan, hal buruk yang harus dihilangkan dan hal-hal yang masih ingin dipelajari hingga akhir semester.
.
Setelah menuliskan hasil refleksi, kami membahas hal-hal yangs sekiranya perlu dibahas. Aku coba gali lebih dalam kelebihan dan kekuranganku dalam mengajar. Mereka pun demikian, menggali hal baik dan hal buruk selama proses pembelajaran.
.
Hasilnya mengejutkan. Ada banyak hal-hal yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Dan ternyata sangat mungkin perkara-perkara itulah yang membuat pencapaian siswa-siswa yg kubimbing tidak mencapai performa tertinggi.
.
Awalnya aku sangat terpukul ketika mengetahui bahwa metode pengajaran yang kulakukan banyak sekali kekurangannya. Sebab aku merasa selama ini aku sudah mengupayakan yang terbaik untuk mereka. Namun kenyataannya banyak sekali yang masih harus diperbaiki.
.
Aku jadi teringat pesan Bu @najeelashihab ,sebagai guru rasanya akan berat sekali menghadapi tahapan refleksi. Sebab di tahapan ini kita harus menurunkan ego kita serendah-rendahnya demi memperoleh umpan balik terbaik dan memperbaiki diri. Ibarat sedang sakit parah, refleksi adalah pil pahit dan menyengsarakan yang harus kita telan.
.
Hhh.,.. memang benar. Tidak mudah menjadi pembelajar sepanjang hayat. Harus selalu bisa menerima kekurangan diri dan berupaya yang terbaik untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
.
Sebab sejatinya, seperti yang disabdakan oleh nabi bahwa kita harus terus belajar bahkan hingga tiba waktu ajal.

Posted on Leave a comment

Merangsang daya pikir dengan 6 topi berpikir

“Pak, hari ini kita main apa?”, Tanya salah seorang muridku di Kelas.
“Udah, liat aja nanti.”,jawabku polos sambil mengeluarkan beberapa benda dari tas.
“Waaahhh! Kita bakalan main sulap-sulapan ya pak?” Sahut bocah lainnya.
“……… (mengrenyitkan dahi)”
“Bukan, bukan! Kita bakalan ngadain pesta ulang tahun.” Yang lain menimpali diiringi riuh tawa teman-teman mereka.
Aku cuma mesem mesem aja sambil mempersiapkan semua media ajar yang kubutuhkan.
.
Begitulah awal mula kelas fisika siang hari itu. Sebuah tantangan besar bagiku, mengajar anak SMP usia 12 tahun pelajaran fisika di tengah terik matahari yang merona. Saat itu am pelajaran terakhir dan waktu yang tersedia hanya 40 menit. Ditambah lagi mereka baru makan siang. Jreng! Kompit!
.
Meskipun aku tahu saat itu semestinya lebih tepat digunakan untuk tidur siang/istirahat, tapi aku perlu tetap menjaga komitmen sebagai seorang pendidik: mengajar.
.
“Oke, anak-anak. Hari ini kita akan mempelajari satu hal yang ternyata bisa mengantarkan banyak orang mencapai keberhasilan tertingginya. Satu hal yang bisa membuat kalian bisa ngobrol sama orangtua kalian tanpa harus ketemu. Satu hal yang membuat kamu bisa tidur nyenyak di malam hari. Satu hal yang melandasi semua penciptaan teknologi. Dan satu hal itu adalah?”
Suasana kelas hening sejenak, lalu membahana kembali.
“Ber-ta-nya.”
“KOk bisa pak?”
“Lha iya… kalo orang jaman purba dulu ga pernah bertanya gimana bisa ngobrol jarak jauh, masa iya bisa muncul teknologi telepon?”
Blablabla… blablabla…
.
Celetukan-celetukan itu muncul selama aku membawakan kelas.
Suasana semakin riuh saat aku mulai mengenakan topi ini satu per satu.
.
Lalu aku mulai menjelaskan hal yang harus mereka lakukan setiap kali aku menggunakan topi dengan warna tertentu. Jika aku menggunakan topi merah, berarti mereka harus membuat pertanyaan yang jawabannya sekiranya berkaitan dengan kondisi emosi. Jika aku menggunakan topi putih artinya mereka harus membuat pertanyaan yang jawabannya berupa fakta dan data. Jika aku menggunakan topi biru artinya mereka harus menanyakan suatu hal yang berkaitan dengan proses. Jika aku menggunakan topi hijau maka mereka harus membuat pertanyaan-pertanyaan yang memunculkan sisi kreativitas dari sebuah topik. Topi hitam untuk hal-hal yang memunculkan sikap waspada serta topi kuning yang berkaitan dengan optimisme, hal-hal yang positif.
.
Sebagai aktivitas inti, aku meminta mereka untuk menjelajahi area sekolah, mencari hal yang menarik lalu membuat pertanyaan sesuai topi berpikir masing-masing kelompok. Setelah mendapatkan daftar pertanyaan, mereka dikumpulkan kembali dan kelas ditutup dengan refleksi atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
.
Aktivitas sederhana. Bahan-bahannya pun sederhana.
Namun semoga sesi belajar ini bisa membuat mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, yang dapat menjadi bekal bagi mereka untuk menjadi cendekia.
.
Sungguh, otak kita berhenti berpikir saat kita berhenti bertanya.
Posted on Leave a comment

Nyalakan tanda tanya dengan tiket bertanya

 

“Tiketnya, tiketnya…” Sergahku layaknya kondektur metromini sambil berdiri di depan laboratorium.
“Ga ada tiket, ga ada pertunjukan. Yang ga setor tiket belajarnya di luar kelas bareng sama kucing.”
Satu per satu muridku masuk ke ruang lab sambil menyerahkan tiket. Kali ini suasananya benar-benar mirip cinema XXI. Cuma kurang popcorn sama gandengan aja. *Eh.
.
Sambil menunggu semua masuk lab dan mempersiapkan diri, aku baca satu per satu tulisan di tiket itu. Isinya lucu-lucu. Dari yang paling sederhana dan terkesan konyol, yang ga kepikiran sama sekali dan yang rumit.
.
“Kenapa burung dikasi sayap tapi manusia engga?”
“Pak, kenapa ya ular itu jalannya pake perut. Kenapa ga pake kaki?”
“Kenapa pohon kelapa tinggi?”
“Kenapa sih ular itu sering menjulurkan lidahnya?”
“Kenapa air anget beda rasanya sama air biasa?”
“Kenapa setiap menjelang Maghrib banyak burung yang terbang-terbangan tapi terbangnya bergerombol?”
“Apa yang terjadi kalo bulan ga ada? Meledak?”
“Apa yang terjadi kalo oksigen di bumi hilang selama 3 menit?”
“Kenapa black hole itu bisa menarik benda angkasa yang ukurannya jauh lebih besar dari dia?”
.
Dan lain lain…
.
Bagiku, untuk ukuran anak berusia 12 tahun, pertanyaan-pertanyaan itu menarik sekali untuk dijawab. Bahkan beberapa aku tak mampu menjawabnya.
.
Aku jadi teringat akan sebuah hasil rirset yang dilakukan di inggris.  Dari 100 anak yang diteliti ternyata rata-rata dalam sehari (12 jam) mereka membuat sekurang-kurangnya 180 pertanyaan.
.
Hmm… Memang benar rupanya. Manusia itu adalah makhluk berpikir, dikaruniai akal oleh sang pencipta. Itu sebabnya wajar jika kita banyak bertanya. Namun sayangnya kebiasaan ini terkikis oleh pola pendidikan yang kurang memberikan kesempatan pada akal untuk bertanya, untuk berpikir.
.
Makanya… Tergerak oleh kegelisahan itu aku terapkan mekanisme ‘tiket bertanya’ sebelum murid-muridku masuk kelas. Mereka kuharuskan membuat sebuah pertanyaan tentang alam. Boleh berdasarkan apa yang mereka amati, khayalan, informasi yang mereka dapatkan atau bertanya berdasarkan apapun.
.
Untuk memudahkan, setiap dari mereka dibekali dengan 5 tiket dan mereka wajib bawa setiap akan masuk ke kelas.
.
Semoga dengan teknik ini mereka mpu menjadi pribadi yang lebih kritis, lebih peduli dan lebih mampu menggunakan akalnya sebagai modal dalam berkarya kelak.

Posted on Leave a comment

Hadirkan keseruan belajar dengan dadu buatan

Pelu: “Yah… O lagi.”
Kresna: “Emang ente udah punya berapa atom O?”
Pelu: “Udah sebelas…”
Kresna: “Hahaha… Ga bisa bikin molekul apa apa dong?”
.
Begitulah kira kira suasana pembelajaran saat itu. Mereka tampak seru melempar dadu, menulis coretan di kertas sembari bercanda. Beberapa ada yang tampak termenung melihat plafon ruangan, seolah-olah ada jawaban atas apa yang mereka cari disana.
.
Riuh ramai suasana kelas siang itu seakan membuat mereka lupa, bahwa saat itu mereka sedang belajar mata pelajaran yang mereka benci di waktu yang paling menantang: persis setelah makan siang.
.
Topik pelajaran pekan ini adalah menentukan struktur lewis suatu molekul. Aku buatkan 2 dadu: satu dadu berisi atom-atom nonlogam, satu lagi berisi angka: 1, 2 atau 3. Mereka harus kumpulkan atom-atom tadi dengan cara melempar kedua dadu. Dari atom-atom yang dikumpulkan mereka boleh membuat struktur senyawa-senyawa yang sudah kutentukan di awal. Untuk memudahkan, aku beri semacam ‘cheating sheet’ berisi informasi yg memudahkan mereka menentukan struktur senyawa yang mereka mau. Mereka akan mendapatkan poin sesuai struktur senyawa yang berhasil mereka buat.

.
Sebetulnya sih ini tak ubahnya latihan soal seperti biasa. Aku hanya memberikan 3 sentuhan gamifikasi di dalamnya: ketidakpastian, pilihan dan poin.
.
Dampaknya? Aku sendiri pun terkejut. Mereka seharusnya sudah keluar kelas pukul 13.40, tapi saat bel berbunyi malah mereka sendiri yang menolak keluar kelas dan memilih meneruskan permainan.Antusiasme belajar mereka meningkat drastis. Setiap siswa sibuk sendiri mencoba-coba menentukan struktur senyawa yang mereka inginkan. Tak satupun saya melihat ada siswa yang mengacuhkan instruksi. Mereka begitu tertarik untuk menjawab tantangan yang kuberikan.  Akhirnya dengan terpaksa mereka ‘kuusir’ pukul 14.00
.
Aku jadi belajar. Ternyata untuk membuat kelas jadi sedemikian asyik dan menarik tak selalu membutuhkan teknologi yang ciamik. Hanya bermodal dadu dan model permainan yang seru, siswa jadi menggebu-gebu.
.
Ah, aku jadi teringat pesan guruku dulu.. “Nak, jika kamu mengalami kesulitan, coba lakukan saja hal yang bisa kamu lakukan. Tak perlu menunggu fasilitas yang serba ada, tak perlu menunggu sempurna untuk memulai, tapi mulailah dengan apa yang kamu punya.” (Pak Anam Zakaria).