Posted on Leave a comment

Printable GRATIS : “Allah Ciptakan Diriku”

Assalamualaikum ayah bunda…

Adakah yang anak-anaknya mulai merasa jenuh belajar di rumah? Udah baca banyak buku masih bosen juga, coba crafting masih gak semangat juga, mau outing khawatir. Duh, serba salah ya 😅

Gak dipungkiri, 3 bulan belajar di rumah itu ternyata penuh perjuangan yaa buibuu 😄 Apalagi buat anak usia TK yang rentang konsentrasinya relatif masih pendek dan mudah bosan. Harus puter otak banget cari cara biar mereka gak jenuh. Iya gak?

Sama, kami di rumah juga gitu. Biasanya paling nggak dua minggu sekali kami main agak jauhan dari rumah buat variasi aktivitas, sekarang gak bisa 😆

Nah, ceritanya pekan lalu Naira mulai bosaaan, tapi dia mencoba tetap beraktivitas di rumah sambil minta dicariin printable yang isinya tentang identitas diri. Cari kesana kemari banyaknya cuma sekedar ngisi pertanyaan aja.

Saya pikir ko sayang ya, padahal ada banyak bgt hal baik yang bisa jadi bahan diskusi dari tema ini. Tentang Allah, syukur, tujuan dan hikmah penciptaan diri.

Akhirnya coba bikin sendiri. Meskipun dengan kemampuan alakadarnya, tapi isinya dibuat dengan sepenuh hati 😄

InsyaAllah di printable ini ada sedikit cerita yang mengajak anak untuk lebih mensyukuri dirinya, ayat yang berkaitan dengan penciptaan diri, mengisi identitas diri, dll.

Oya, printable ini sengaja saya buat dua versi, untuk laki-laki dan perempuan, biar ceritanya lebih mudah diterima anak.

Silakan download dan share kalau dirasa manfaat yaa. Semoga bisa menemani akhir pekan bersama anak di rumah. Semangat buibu semua 🤗


Posted on Leave a comment

Mengenalkan Emosi dengan Playdough Wajah

Tujuan aktivitas:

  • Mengenal berbagai emosi yang dirasakan
  • Mengetahui cara mengekspresikan emosi yang dirasakan
  • Melatih motorik halus anak melalui media yang dibuat.

Bahan yang digunakan:

  • Kertas bergambar wajah polos (tanpa mata, hidung, bibir, telinga)
  • Kartu bergambat ekspresi wajah senanh, sedih, kecewa, dll
  • Plqydough

Tahapan aktivitas:

  • Ajak anak untuk berdiskusi tentang perasaannya. Pagi ini apa yang sedang ia rasakan?
  • Tunjukkan kartu bergambar ekspresi wajah dan beri pemahaman kalau ekspresi wajah itu macam2 dan biasanya menunjukkan apa yang seseorang rasakan.
  • Arahkan anak untuk membuat ekspresi wajah dalam kertas bergambar wajah polos dengan bantuan playdough.”
Posted on Leave a comment

Mengenalkan Warna dengan Cap Tangan Berwarna

Usia Anak: 2 tahun

Tujuan belajar:
Melatih kemampuan motorik halus, melatih kemampuan mengenal warna


Tahapan belajar:

  1. Siapkan cat warna (merek apapun)
  2. Pilih 3 warna yang diinginkan anak
  3. Oleskan cat warna (boleh 1 warna, boleh campur beberapa warna) ke tangan kanan
  4. Pastikan seluruh bagian telapak tangan telah diolesi cat warna
  5. Tempelkan tangan yang sudah diolesi cat warna ke kertas kosong
  6. Lakukan untuk variasi warna yang lain

Posted on Leave a comment

Belajar Seru Konsep Udara dengan Roket Balon

Tujuan Belajar:
Mengenalkan konsep udara ke anak balita (usia 5 tahun)

Bahan yang diperlukan : ⁣
– Balon⁣
-sedotan Panjang⁣
-gambar roket⁣
-benang Kasur⁣
– lakban ⁣

Tahapan aktivitas :⁣
– Ikatkan salah satu ujung benang ke benda pengait ⁣
– Masukkan benang ke dalam sedotan⁣
– Bentangkan benang hingga jarak antara 3-5 meter⁣
– Bentangkan benang sehingga benang tidak kendur⁣
– Ikatkan ujung benang satunya ke benda pengait lainnya ⁣
– Tiup balon hingga cukup besar, lalu ikat dengan ikatan yang mudah dilepas⁣
– Rekatkan balon ke sedotan menggunakan selotip⁣
– Rekatkan roket ke salah satu sisi kanan/kiri balon
– Buka ikatan dan amati roket yang meluncur akibat gaya dorong dari balon⁣. ⁣

Posted on Leave a comment

Belajar Melestarikan Alam Di Jendela Alam Bandung

Sebagai keluarga homeschooler, belajar di luar rumah adalah salah satu agenda yang wajib dilakukan. Setiap bulan, kami memiliki agenda #EduTrip ,agenda belajar melalui perjalanan.

Kebetulan tema belajar naira bulan ini tentang hewan. Jadi, kami putuskan untuk mengadakan #EduTrip ke Jendela Alam, Bandung. Ada apa aja disana dan bagaimana naira belajar di sana? simak selengkapnya di video ini yuk!

Posted on 1 Comment

Anti Bosan Belajar Hijaiyah dengan Printable Eskrim Hijaiyah

“Nairaaa, kita baca iqro yuk!” pekik bunda.
“Gak mau ah bunda, Naira mau main aja!” Naira menjawab dengan tidak semangat.

Familiar dengan situasi ini, bun? Jangan khawatir, bunda tidak sendiri. Hehe 😊

Mengenalkan huruf-huruf Alquran pada anak usia dini memang punya tantangan tersendiri. Selain karena rentang konsentrasi anak yang masih pendek, anak juga cenderung lebih mudah jenuh saat belajar. Sehingga kita juga diharapkan bisa membuat media belajar yang kreatif untuk menarik perhatian dan memastikan si kecil tidak mudah jenuh dalam prosesnya.

Meskipun mengajarkan huruf hijaiyah sejak dini masih menuai pro dan kontra di tengah masyarakat, tapi saya meyakini bahwa tidak masalah mengenalkan huruf hijaiyah pada anak selagi kita tetap memerhatikan cara belajar yang sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya.

Saya mengenalkan Naira dengan huruf hijaiyah sejak masih bayi. Saat itu tidak ada ekspektasi apa-apa kecuali ingin Naira lebih banyak terpapar dengan huruf Alquran.

Media yang dibuat sebagian besar membuat sendiri dari bahan-bahan yang mudah didapatkan. Contohnya, saya membuat poster hijaiyah dengan warna-warna high contrast untuk merangsang penglihatan bayi. Lalu saya buat kartu hijaiyah bertekstur untuk stimulasi indera perabanya, dan yang lainnya. InsyaAllah DIY media belajar hijaiyah yang pernah saya buat akan saya ulas di tulisan yang lain ya supaya lebih jelas.

Nah, semakin besar Naira, adakalanya dia menolak untuk belajar hijaiyah. Sempat waktu itu saya kebingungan karena Naira mandeg baca iqro sampai 2 pekan. Saya paham, mungkin Naira bosan dengan cara belajarnya selama ini. Tapi kalau dibiarkan kok sayang ya, khawatir malah berhenti dan hilang semangatnya. Akhirnya saya dan ayahnya cari cara supaya Naira mau belajar iqro lagi.

Terpikirlah untuk membuat printable Eskrim hijaiyah ini. Alhamdulillah, ternyata ampuh untuk mengatasi kejenuhan Naira saat itu. Menariknya dari printable ini ayah bunda bisa membuat banyak variasi belajar hijaiyah yang sesuai dengan usia dan ketertarikan anak.

Ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan menggunakan printable hijaiyah ini, seperti berikut ini:

Membuat poster hijaiyah.

Anda bisa mengajak anak-anak untuk menempelkan es krim hijaiyah di dinding dan membentuknya menjadi seperti sebuah poster. Melalui aktivitas ini kemampuan anak menyusun benda secara rapi jadi terlatih.

Menara Es Krim Hijaiyah

Ajaklah anak Anda menyusun es krim secara bertumpuk tumpuk hingga berbentuk seperti menara. Saat melakukan aktivitas ini naira sangat antusias. Sepertinya ia membayangkan benar-benar ada es krim setinggi itu untuk bisa dimakan.

Mengelompokkan eskrim hijaiyah sesuai warnanya

Pada tahap perkembangan anak usia 2 tahun, mereka sedang belajar untuk mengenali warna dan belajar untuk mengelompokkan benda berdasarkan warna. Jadi aktivitas ini akan membantu mereka mencapai tahap tumbuh kembangnya.

Menyusun eskrim hijaiyah sesuai urutan pola warnanya

Jika anak sudah mulai terbiasa mengelompokkan benda dengan warna yang sama, cobalah memberikan tantangan pada anak agar mereka menyusun es krim hijaiyah dengan pola warna tertentu. Misalnya pink – hijau – biru atau kombinasi warna lainnya.

Printable hijaiyah ini sengaja saya buat tanpa harakat agar bisa menjangkau lebih banyak usia untuk memanfaatkannya. Jadi silahkan ayah bunda memberi harakat sendiri sesuai kemampuan anaknya ya.

Selamat mencoba Printable Eskrim Hijaiyah di rumah bersama anak tercinta. Jangan lupa share pengalamannya di kolom komentar atau di instagram dengan menandai akun @educafamilia yaa. 

Semangat belajar berkarya bersama.

Posted on Leave a comment

6 Aktivitas Seru Mengenalkan Matahari pada Anak

Terkadang mengenalkan sesuatu yang sifatnya konsep pada anak cukup menantang. Mengenalkan konsep matahari misalnya. Kita perlu mengenalkan matahari dengan beragam aktivitas yang dapat memicu rasa ingin tahu dan melatih kemampuan nalar mereka. 

Berikut ini adalah 6 aktivitas yang kami lakukan untuk mengenalkan matahari pada naira dan nizar.

Aktivitas 1 : Read Aloud QS Asy-Syams ayat 1

Saya biasa mengawali aktivitas pekanan Naira dengan membacakan ayat yang berkaitan dengan tema aktivitas. Salah satu buku rujukan yang dipakai saat ini adalah Juz Amma sains. Kali ini Naira belajar tentang matahari dan saya membacakan nyaring ayat dan terjemah QS Asy-Syams ayat 1 dari buku juz Amma sains. Dalam buku ini disertakan juga tulisan yang berkaitan dengan ayat untuk digali makna dan hikmahnya bersama anak.

 

Apakah Naira disuruh menghafal ayatnya? Ngga kok. Yang saya utamakan saat ini adalah Naira memahami bahwa apa yang tertulis dalam Alquran itu dekat dengan kehidupannya.
Bunda Nisa
Pendidik

Setelah membacakan , saya mengajak Naira untuk berdiskusi tentang kira-kira kenapa ya Allah ciptakan matahari? 
Naira bilang kalau gak ada matahari maka Naira dan Nizar gak bisa main dengan leluasa karena gelap (Jawaban khas anak-anak banget 😆), terus jemuran bunda susah keringnya.

Nah, lalu diskusi dilanjut dengan pertanyaan, gimana ya kalau jarak matahari itu sangat dekat dengan bumi? Atau sebaliknya, jarak matahari terlalu jauh dengan bumi? Apa yang akan terjadi?

Dari pertanyaan diatas sebenarnya bunda ingin menegaskan sama Naira kalau Allah memiliki nama Al-Muhaimin yaitu Yang Maha Mengatur. Allah atur matahari di jarak yang sangat tepat, tidak terlalu dekat dengan bumi sehingga makhluk Allah di bumi tidak meleleh karena kepanasan. Sebaliknya Allah atur jarak matahari tidak terlalu jauh dengan bumi, agar makhluk Allah di bumi tidak mengalami kedinginan. Maka diciptakannya matahari adalah salah satu bukti kasih sayang Allah untuk makhlukNya.

Aktivitas 2 : Menggambar bayangan

Tujuan dari aktivitas ini adalah untuk mengenalkan salah satu sifat matahari yaitu memancarkan sinar.

Bahan yang diperlukan :
  • Mainan anak (saya pakai hewan2 dan Lego)
  • kertas HVS dan spidol
  • Tempat yang terkena paparan cahaya matahari
  • meja untuk alas menggambar

 

Tahapan aktivitas :

  1. Ajak anak untuk bermain diluar rumah
  2. Letakkan meja di tempat yang terkena sinar matahari (saran : lakukan aktivitas di pagi hari)
  3. Simpan kertas HVS diatas meja, lalu letakkan mainan hewan diatas kertas dengan posisi berdiri.
  4. Saat bayangan muncul, jelaskan pada anak bahwa bayangan terjadi karena ada sinar matahari.
  5. Ajak anak untuk menggambar bayangan yang ada di kertas HVS.
  6. Warnai hasil menggambar sesuai kreativitas anak.

Aktivitas 3 : Menanam tumbuhan

Kali ini Naira belajar tentang salah satu manfaat sinar matahari yaitu membantu tanaman untuk tumbuh. Kalau mau lebih kompleks sih bisa sekalian mengenalkan proses fotosintesis. Tapi untuk usia Naira yang masih kurang dari 6 tahun, saya pikir belum perlu belajar fotosintesis.

Tujuan dari aktivitas ini adalah untuk memberitahu pada Naira bahwa Allah Al-Khaliq telah menciptakan matahari untuk membantu tanaman tumbuh besar lewat sinarnya. Selain itu Naira juga belajar mengamati bahwa untuk menjadi besar tanaman itu tidak sekaligus dan perlu melewati proses seperti mendapat sinar matahari dan disiram air. Sama seperti Naira dan adik-adik yang sekarang masih kecil, suatu saat Allah akan tumbuhkan Naira menjadi dewasa, badannya lebih tinggi dan lebih besar dari sekarang. Tapi untuk jadi tinggi Allah ingin Naira makan makanan yang bergizi supaya sehat, seperti tanaman yang perlu air dan sinar matahari untuk tumbuh. (Lha kok jadi nyambung kesini 😅)

Dari aktivitas ini Naira juga berlatih sabar dengan berusaha menyiram tanaman setiap pagi.

Bahan yang diperlukan :

-Kacang hijau
-Kapas
-2 wadah yang agak tinggi (bisa dengan Aqua gelas)
-air

Tahapan aktivitas :

1. Basahi beberapa kapas dengan air lalu masukkan ke wadah, kapas digunakan sebagai media tanam ya jadi gak perlu banyak-banyak.
2. Simpan 5-1 biji kacang di setiap wadah.
3. Simpan wadah yang berisi biji kacang hijau di tempat yang berbeda, satu di tempat yang terkena sinar matahari, satu lagi di tempat yang gelap.
4. Arahkan anak untuk menyiram tanaman setiap pagi.
5. Ajak anak untuk mengamati apa yang terjadi dengan biji kacang di wadah yang berbeda tempat. Adakah yang berbeda?
6. Diskusikan hasil pengamatan dengan anak. Ingat, penjelasan harus disesuaikan dengan usia anak yan bunda 😊

Aktivitas 4 : Membuat paper blooming sunflower

Ide ini sebetulnya spontan. Hehe. Tapi ternyata Naira terpesona banget pas lihat bunganya mekar di air. Tujuannya sih untuk melatih otot-otot tangan dengan menggunting dan melipat. Naira lumayan anteng pas diajak bikin ini. Boleh banget dicoba bareng anak-anak di rumah..

Bahan yang diperlukan :
  • Gambar bunga matahari / matahari
  • Gunting
  • Air
  • Wadah untuk menampung air
Tahapan aktivitas :
  1. Arahkan anak untuk menggunting gambar matahari yang sudah disediakan
  2. Lipat bagian sisi bunga ke arah tengah (cara melipat lihat di lampiran gambar)
  3. Lalu siapkan air dalam wadah
  4. Letakkan bunga yang sudah dilipat di air, dengan posisi lipatan bunga ada diatas.
  5. Maka akan terlihat bunga matahari yang sedang mekar.

Aktivitas 5 : Mencocokkan huruf besar dan kecil

Belakangan ini Naira lagi senang banget menulis. Tapi dia masih suka bingung menentukan mana huruf besar dan huruf kecil. Nah kemarin bunda coba bikin media sesuai tema untuk ajak Naira mengingat lagi huruf besar dan huruf kecil. Coba buat juga yuk..

Tahapan aktivitas :
  • Gambar matahari berbentuk bulat (ukuran bebas) , lalu tulis di sekeliling sisinya huruf-huruf besar
  • Gambar sinarnya secara terpisah, saya buat bentuk persegi panjang dengan ukuran lebar 1cm dan panjang 8cm (buat sebanyak jumlah huruf), lalu gunting
  • Tulis satu persatu huruf pada setiap ujung sinar matahari yang sudah digunting
  • Ajak anak untuk mencocokkan huruf besar dan huruf kecil dengan menempelkan sinar pada sisi bulat matahari.

Aktivitas 6 : Melatih kemampuan menjemur baju

Bagi kami kemampuan dasar sesederhana menjemur baju perlu dilatih pada anak. Selain untuk menambah keterampilan hidup, anak juga akan belajar tentang tanggung jawab terhadap diri sendiri. Sementara ini saya baru mengajak Naira untuk menjemur pakaiannya sendiri dulu. Kalau dia lagi berbaik hati biasanya minta ditambah sama baju adik-adiknya. Hehe…prinsipnya dalam melatih keterampilan ini harus pelan-pelan, jangan berekspektasi anak akan cepat bisa dalam waktu singkat. Idealnya kita melatih setiap keterampilan minimal satu bulan sampai anak bisa. Kalau ingin anak menjadi terbiasa melakukan keterampilan tersebut, tambah waktu latihannya sampai 3 bulan.

Share Pengalaman Ayah/Bunda yuk

Itulah 6 aktivitas yang kami lakukan untuk mengenalkan matahari kepada naira dan nizar. 

Ayah/Bunda punya punya pengalaman mengenalkan konsep matahari pada anak? tulis di komentar ya

Posted on 3 Comments

Big Siblings Blues: Mengatasi Sindrom Kakak Baru

Saya tidak akan pernah lupa, bagaimana reaksi Naira ketika saya melahirkan Nizar, anak kedua saya dan adik pertama bagi Naira. 

Saat itu Naira baru saja genap 3 tahun. Banyak orang bilang usia Naira sudah cukup untuk memiliki adik. Kami pikir ada benarnya juga, sepertinya Naira akan senang jika punya adik baru. Bukankah dengan itu rumah akan menjadi lebih ramai dan Naira jadi punya “someone to play with”? 

Hmm…saat itu, membayangkannya saja sudah membahagiakan 🙂

Seperti kebanyakan orang tua lain yang berencana menambah anak, kami berusaha untuk menyiapkan banyak hal. Disamping kesiapan kami sebagai orang tua, kami juga harus memperhatikan kondisi psikologis Naira untuk menyambut kedatangan adik barunya. 

Persiapan dimulai dengan banyak bercerita tentang adek bayi, karena Naira ini tipikal auditori maka untuk memberinya suatu pemahaman akan lebih mudah jika disampaikan dengan penuturan cerita. Lanjut dengan silaturahim ke rumah tetangga yang baru melahirkan. Harapannya ketika adeknya nanti sudah lahir, Naira tidak lagi kaget melihat adek bayi yang belum bisa melakukan banyak hal. Lalu tidak lupa kami juga melakukan pretend play (bermain peran) entah dengan media boneka-boneka Naira atau saya pura-pura menjadi kakak dan Naira jadi bayinya. Hehe..overall kami menikmati bersama proses persiapan menyambut adek bayi ini. Sekilas saya menangkap bahwa Naira sudah siap menjadi kakak. 

 Sampai waktu melahirkan adiknya tiba, Naira terlihat sangat gugup setelah saya bilang kalau sebentar lagi adiknya lahir. Saya pikir hal itu wajar, orang dewasa pun akan gugup jika menghadapi kondisi baru dalam kehidupannya. Saya dan ayahnya mencoba menenangkan Naira, mengalihkan fokusnya untuk bermain di playground dulu.

Qadarullah saat itu kami sedang merantau, baik orangtua dan mertua tidak ada yang bisa mendampingi proses persalinan saya. Praktis kami sempat kebingungan siapa yang bisa menjaga Naira saat persalinan berlangsung, karena Ayahnya juga ingin mendampingi saya di ruang persalinan. 

Tapi akhirnya ada seorang teman yang berbaik hati menawarkan diri menjaga Naira dan beruntungnya Naira pun mau dititipkan. 

Anehnya begitu dititipkan Naira tiba-tiba demam tinggi. Dalam hati ada perasaan khawatir Naira kenapa-kenapa, tapi pembukaan saya sudah lengkap. Saya pun hanya bisa berdoa, dan meyakinkan diri bahwa Naira akan baik-baik saja dengan Bu Rima dan Bu Hilda sementara saya fokus dengan proses persalinan yang ada di depan mata.

Jeda 20 menit kemudian tepat sebelum adzan magrib berkumandang, lahirlah adiknya Naira, disambut dengan demam Naira yang tiba-tiba turun. Alhamdulillah, lega sekali rasanya. Naira terlihat senang melihat adeknya sudah lahir. Namun menjelang malam hari, Naira mendadak tidak mau dekat-dekat dengan saya. Dia lebih memilih untuk bersama ayahnya. Sekitar jam 01.00 Naira yang biasanya jarang mengigau, tiba-tiba mengigau disusul tantrum yang sulit diredakan. 

Saat itu sebagai ibu, naluri saya merasa ada yang membuat Naira tidak nyaman. Dan baru saya sadar kalau demamnya, penolakannya untuk dekat dengan saya, dan mengigaunya di malam hari adalah gejala dari big Sibling blues atau sindrom yang dialami seorang anak saat menjadi kakak baru.

Ternyata bukan hanya seorang ibu yang mengalami sindrom setelah melahirkan. Tapi seorang anak juga bisa mengalami sindrom yang mempengaruhi psikologis mereka saat memiliki adik baru.

Apa itu Big Sibling Blues?

Big sibling blues adalah sebutan untuk kondisi dimana anak kaget, tidak siap, dan tertekan dengan kehadiran saudara baru di keluarganya. Anak berpikir jika kehadiran keluarga baru atau adik akan mengambil semua perhatian orangtua darinya. Anak akan berpikir orangtuanya tidak akan lagi menyayangi dan mencintainya.

Apa penyebab Big Sibling Blues?

Big sibling blues biasanya terjadi saat anak merasa tidak dipedulikan oleh orangtuanya, karena ayah dan ibunya sibuk mengurus sang adik yang baru lahir. Hal ini wajar, karena anak-anak belum mengerti konsep bersaudara, konsep bersaudara baru mereka pahami dari proses belajar. 

Bagaimana Reaksi Anak Ketika Mengalami Big Sibling Blues?

Separation Anxiety

Anak mengalami kecemasan berpisah dengan ibunya (separation anxiety) sehingga kehadiran adik membuatnya merasa tidak nyaman, terancam dan menakutkan yang menyebabkan anak lebih posesif terhdap ibunya.

Withdrawal (menarik diri)

Withdrawal yaitu anak menarik diri. Anak menunjukkan sikap murung, berubah menjadi pendiam dan lebih sensitif. Ia menjadi mudah menangis karena hal sepele.

Cemburu pada adik

Anak merasa cemburu kepada adiknya. Ia melihat adik sebagai penyebab hilangnya perhatian dan kasih sayang orangtua. kecemburuan itu bisa ditunjukkan secara terbuka bisa juga tidak.

Anger Instead

Anger instead (pengalihan kemarahan) selain menunjukkan kecemburuannya secara terbuka, sebagian anak menunjukkannya secara tersembunyi. Ia cenderung mengalihkan rasa cemburu yang tengah dirasakan.

Bentuk anger Instead yang biasa muncul :

  1. Sabotase bisa berupa menyembunyikan popok adik
  2. Sakit fisik bisa berupa badannya memang benar-benar sakit atau pura-pura sakit demi mendapatkan simpati.
  3. Monologuing (perilaku ngomel sendiri).
  4. Agresi pasif merupakan kemarahan yang tidak diekspresikan secara langsung kepada adik atau ibunya, contohnya ngambek atau tantrum.
  5. displacement anak; mengalihkan rasa cemburu atau kemarahan itu pada benda-benda.  Ia jadi senang membanting sendok, gelas maupun pintu.
  6. Regressive behaviour (perilaku regresif) yaitu kemunduran kemampuan, anak ingin diperlakukan kembali seperti bayi karena ia melihat bahwa bayi lebih disayangi.

Big Sibling blues apabila tidak ditangani dengan baik maka akan memicu tumbuhnya perilaku persaingan antar kakak dan adik di kemudian hari. Meskipun big sibling blues ini termasuk masa yang cukup sulit dilalui seorang anak, tapi inilah saatnya untuk memberikan pemahaman dan perhatian yang efektif tentang konsep bersaudara pada anak kita. 

Ada dua hal yang perlu kita perhatikan dalam mengatasi sindrom big sibling blues:

  1. Bagaimana kita menyikapi diri sendiri
  2. Bagaimana kita mengatasi perilaku anak

Bagaimana menyikapi diri sendiri saat menghadapi big sibling blues

  1. Tetap tenang,
    sadari bahwa being jealous is normal for all firstborns. Berapapun usia mereka. Coba bayangkan bagaimana rasanya jika perhatian seseorang yang sangat kita sayang tiba-tiba terbagi karena kehadiran orang baru? Sesak? Tidak nyaman? Sedih? Ingin marah? Kurang lebih seperti itulah yang tengah dirasakan sulung kita.
  2. Meminta bantuan pasangan
    untuk saling membantu dalam urusan pekerjaan domestik dan menjaga anak. Karena ada saatnya dimana kita akan kewalahan mengurusi berbagai amanah rumah tangga sekaligus memenuhi kebutuhan fisik dan psikis anak-anak. Jika tidak memungkinkan, jangan sungkan untuk meminta bantuan keluarga terdekat, atau mendatangkan ART agar perhatian kita bisa fokus pada anak-anak. Meminta bantuan bukan kelemahan kok, tapi bentuk ikhtiar kita agar tetap optimal dalam menjaga amanah dari Allah.
  3. Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan diri yaa bunda.
    Karena masa transisi ini adalah fase yang cukup sulit menurut saya dan suami. Selain asupan fisik, kita juga harus menjaga asupan mental kita. Jangan terlalu memperdulikan komentar orang lain yang tidak membantu, misalkan “Anak masih kecil gini kok tega sih udah dikasih adik lagi?”. Cukup kasih senyum aja, dan fokuskan energi untuk hal-hal yang jauh lebih penting.
  4. Banyak berdoa
    agar diberi kelapangan hati untuk bisa melalui tantangan ini dengan hati dan pikiran yang jernih.

8 Tips Menghadapi Anak dengan Sindrom Big Sibling Blues

  • Sampaikan apa adanya

    Sampaikan apa adanya tentang kondisi ketika adik baru lahir nanti. Meskipun memiliki adik baru itu menyenangkan, tapi orangtua juga harus menyampaikan kalau ada saatnya ayah bunda harus mengurus adek bayi ketika sedang main dengan kakak dan kakak belajar bersabar menunggu

  • Menyiapkan hadiah untuk kakak.

    Saat adik bayi lahir, biasanya banyak kerabat yang menjenguk dan tidak jarang memberi bingkisan. Ada baiknya bunda menyiapkan juga beberapa hadiah juga untuk kakak. Isinya bisa apa saja yang disukai kakak entah itu makanan, mainan atau buku. Sebelum adiknya lahir saya dan ayahnya menyiapkan kado kurang lebih sepuluh bungkus tanpa sepengetahuan Naira. Setiap kali ada tamu datang dan membawa bingkisan, saya atau ayah Naira selalu menitipkan satu hadiah yang telah kami siapkan untuk Naira. Kami meminta tolong pada tamu itu untuk memberikannya pada Naira bersamaan dengan bingkisan untuk adiknya. Reaksi Naira? Happy, Alhamdulillah..

  • Dahulukan kebutuhan kakak sebelum kebutuhan adik.

    Jangan sampai karena terlalu sibuk mengurusi adiknya bunda jadi lupa untuk memenuhi keperluan kakaknya. Misalkan sebelum memandikan adiknya saya selalu berusaha memastikan Naira sudah rapih dan sudah makan. Dengan cara ini paling tidak anak merasa orangtuanya masih memperhatikannya dengan baik meskipun ada adik bayi di rumah.

  • Penuhi tangki cinta anak pertama kita

    Disadari atau tidak setelah memiliki adik, interaksi fisik antara orangtua dan anak pertama akan berkurang. Usahakan untuk memperbanyak pelukan, menggenggam tangan, atau sentuhan cinta lainnya. Agar ia merasa bahwa ia akan baik-baik saja dengan adanya adik baru, karena kasih sayang orangtua untuknya tidak berkurang.

  • Ajaklah ia bicara.

    Beri kesempatan pada anak untuk mengungkapkan isi hatinya baik yang mengenakkan untuk didengar atau tidak. Jika ia sudah mengungkapkan semuanya, barulah kita mengisinya. Kita berikan pengertian kepadanya dan membuat ia bisa memahami sekaligus merasa dirinya diterima, diperhatikan, dan tidak disisihkan. Komunikasi yang hangat dan terbuka dan dilakukan dengan kesediaan ibu untuk mendengar isi hati anak, InsyaAllah akan cepat meredakan rasa cemburu dan kemarahan anak.

  • Libatkan kakak dalam merawat adik

    Contoh sederhana ajak kakak untuk membantu menyiapkan baju untuk adik, membantu mengayun bouncer saat adik menangis. Intinya ajak si sulung untuk melakukan aktivitas bersama adiknya agar bondong antara kakak dan adik semakin terbangun.

  • Berikan apresiasi yang tulus

    Ketika sang kakak turut terlibat dalam membantu adiknya, atau membantu kita dalam memenuhi kebutuhan adik, berikan apresiasi yang tulus. Bahkan sesederhana saat kakak melakukan hal baik untuk adik. Seperti mengambilkan popok untuk adik misalnya

  • Tahan diri untuk membandingkan setiap perbedaan antara adik dan kakak.

    Terkadang secara tidak sadar kita sebagai orangtua membandingkan antara sang kakak dengan sang adik. Ketika adik mampu lebih baik dari kakak, kita tidak sadar memuji adik di depan kakak. Terkadang hal-hal seperti ini yang membuat sindrom big sibling blue semakin tampak dalam diri sang kakak. Saya dan suami sering mengingatkan ketika salah seorang diantara kami tidak sadar/tidak sengaja membandingkan kakak dengan adik.

Nah, itu dia 8 tips mengatasi sindrom kakak baru (big siblings blues) versi saya.

Saya yakin, setiap orangtua pasti memiliki pengalaman dan trik nya sendiri untuk mengatasi sindrom kakak baru. Yuk, bagikan pengalaman Anda di komentar tulisan berikut ini. Sedikit pengalaman Anda akan berarti untuk orangtua lainnya.

Sumber : Adhim, Mohammad Fauzil. 2013. Segenggam Iman untuk Anak. Yogyakarta. Pro-U Media.

Posted on Leave a comment

Rumah Karet dan Jembatan Lego

Tujuan aktivitas:

– Melatih kemampuan problem solving
– Melatih kekuatan otot tangan
– Menambah rentang konsentrasi anak

Tahapan aktivitas:

Aktivitas 1, Rumah

  • Arahkan anak untuk membuat Pola rumah dengan menusukkan push pin para corkboard
  • Beri anak beberapa ikat rambut atau karet warna warni
  • Latih anak untuk mengaitkan karet antar push pin yang sudah dipola berbentuk rumah

Aktivitas 2, Membuat jembatan

  • Siapkan satu lembar kertas kosong, lalu gambar aliran sungai sepanjang kertas
  • Ceritakan pada anak bahwa ada hewan-hewan Yang Akan melewati sungai tersebut. Tapi mereka kesulitan untuk menyeberang Karena tidal ada jembatan. Bisakah Kita Bantu buatkan jembatan?
  • Dampingi anak untuk mengukur lebar sungai
  • Bangun sebuah jembatan dari Lego
  • Beri kesempatan pada anak untuk mendesain jembatan nya sendiri
  • Apresiasi basil karya anak
Posted on 4 Comments

Tips Membangun Romantisme Ibu dan Buku

Pernah gak, suatu hari dengar ada seseorang yang bilang, “Kayanya kalau udah jadi ibu mah, apalagi punya bayi boro-boro bisa baca ya. Bisa tidur tenang aja udah sesuatu.”

Sejujurnya saat bayik mungil ketiga lahir, hati saya pun sering bergumam hal yang sama. Ya Allah, kerjaan di rumah aja udah banyak begini, kapan atuh bacanya. Rasanya kangen gitu bisa baca buku di suatu tempat yang sejuk dan tenang, sambil menikmati teh hangat 😅

Sudah 2 bulan ini coba mencari cara gimana biar ‘romantisme’ dengan buku itu terbangun lagi. Dan akhirnya nemu pola yang paling tidak cocok sama kondisi saya sekarang. Caranya gimana?
Kurang lebih seperti ini..

📓 Memilih buku yang tepat

“Read a book because you are passionate about that subject (Jay Shetty)”

Kita tertarik dan bergairah untuk membaca buku tentang apa?
Tapi itu aja belum cukup menurut saya, semakin terbatas waktu untuk baca kita akan semakin pilih-pilih buku yang akan dibaca, bukan hanya sebatas ketertarikan tapi KEBUTUHAN. Parameternya sederhana, apakah dengan baca buku tersebut amalan kita akan jadi bertambah baik atau sebaliknya.

📓 Cari waktu harian untuk baca buku

Nah ini yang sering jadi problem buat ibu baru (baru punya anak 3 😅) macem saya. Sulit meluangkan waktu buat baca karena merasa banyak amanah yang harus dikerjakan. Belakangan ini saya coba memanfaatkan 3 pilihan waktu untuk baca,

📆 Sore, saat anak-anak lagi main mandiri.
📆 Malam, sesudah anak-anak tidur
📆 Shubuh, sebelum anak-anak bangun

Kadang bisa baca di 3 waktu itu sekaligus, kadang sore sama malam aja, gak jarang cuma baca di waktu malam juga. Kondisional aja 😊

📓 Buat target
Kebanyakan orang mungkin membuat target baca dengan ukuran berapa banyak halaman yang dibaca. Saya pernah mencoba cara seperti itu. Tapi ternyata kurang nyaman menjalaninya. Maka saya buat target berdasarkan durasi waktu baca. Maksimal setengah jam di masing-masing waktu. Salah satu tujuannya biar bisa nge-rem disaat keasyikan baca buku, padahal amanah lain menanti untuk diselesaikan.

📓 Menunda baca buku baru sebelum mengamalkan paling tidak 1 ilmu yang didapat dari buku dan membagikan inspirasi yang ditemukan dari buku ke orang terdekat.

Alhamdullilah, lewat cara diatas semakin hari saya menyadari satu hal, mungkin iya waktu baca saya sudah gak seluang dulu. Suka atau tidak suka fokus saya harus berubah, bukan lagi tentang kuantitas dan seberapa banyak waktu untuk baca, tapi bagaimana agar waktu baca yang sedikit itu bisa berkah. Berkah dalam arti menetapnya kebaikan yang didapat dari ilmu yang dibaca dengan cepat mengamalkannya, bertambah manfaat dengan membagikannya.

Posted on 1 Comment

Unduh Gratis : Printable “Bermain Bersama Hujan”

Anak kecanduan main HP? Ini alternatif solusinya.

Dulu pernah ada masa nya Naira (4.5th) dan Nizar (1.5th) kecanduan gawai (gadget). Dalam sehari mereka bisa berkali kali melihat video di HP atau main di HP.

Sebagai orangtua, kami merasa bingung gimana cara mengatasinya.

Kami berpikir, harus ada sesuatu yang lebih menarik dibandingkan gadget, yang bisa bikin perhatian mereka teralihkan.

Akhirnya kami coba searching berbagai media beraktivitas berupa printable (sesuatu yang bisa di print) dari internet. Awalnya sih oke-oke aja. Tapi sayangnya kebanyakan printable berbahasa Inggris. Jadi Naira agak kesulitan mencerna secara langsung.

Cari printable berbahasa Indonesia yang sesuai dengan yang kami butuhkan, susah.

Berangkat dari masalah itu akhirnya kami coba membuat sendiri printablenya sesuai dengan kebutuhan belajar Naira dan Nizar. Kami coba angkat satu tema yang dekat banget sama keseharian: hujan.

Alhamdulillah, setelah kami coba praktekkan ke anak sendiri, ternyata Naira antusias banget. Yaa… Aktivitas main HP nya jadi lebih bisa diredam dibandingkan sebelumnya.

Di dalamnya ada beragam aktivitas, mulai dari membaca kisah, ayat Al Qur’an, mengenalkan adab,, mengenal bentuk, tracing, mencacah, puzzle sederhana sampe Crafting.

Totalnya ada 27 halaman full colour.
Dan berhubung kami ingin media ini bisa dipakai banyak orang maka kami putuskan untuk menggratiskan media ini.

Klik di tautan ini untuk dapat unduhannya ya.

Selamat bermain bersama keluarga di akhir pekan 😊

Posted on Leave a comment

Printable : TV Putar Waktu Shalat

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan

(QS. Al Baqoroh : 110)

Shalat bagi Naira adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu, Iyaa…karena setiap waktu shalat tiba artinya dia bisa ikut Ayah jalan ke masjid. Awalnya Ayah agak risih ajak Naira ke masjid, karena khawatir Naira jadi berpikir kalau shaf putra & putri boleh dicampur. Tapi setelah menimbang, kami melihat momen ini bisa dijadikan kesempatan untuk mengajarkan banyak hal tentang shalat pada Naira mulai dari memberi tahu keutamaan shalat diawal waktu, melatihnya bergegas untuk siap-siap shalat saat adzan berkumandang, mengenalkan shalat berjamaah, adab-adab di masjid, dll. Akhirnya kami membolehkan Naira untuk ikut ayah ke masjid dengan beberapa syarat 

Adakah disini yang sedang mengenalkan waktu  shalat pada anaknya juga? Bagi anak usia dini, waktu memang merupakan sesuatu yang abstrak. Orang tua perlu sekali  untuk mengetahui bagaimana tahapan yang harus dilalui agar anak tidak kebingungan saat mengenal konsep waktu. Dilansir dari website Sahabat Keluarga Kemdikbud, setidaknya ada 4 tahapan pada anak saat mengenal waktu. Apa saja itu?

yaitu mengajarkan konsep waktu melalui hal-hal yang bisa dilihat, didengar, diraba, dirasa, dibaui sebagai suatu pola yang bisa dipelajari.

Anak diajarkan mengenai waktu melalui hal-hal yang bersifat konkrit. Di sini, pembiasaan terhadap pola-pola tertentu akan membangun persepsi hubungan antara waktu tertentu dengan kegiatan tertentu. Misalnya, kapan waktu mandi, kapan waktu makan, kapan waktu main dan kapan waktu tidur.

Pada tahap ini anak mulai mampu berpikir klasifikasi waktu dan saatnya anak belajar mengenai pentingnya mengelola waktu yang erat kaitannya dengan disiplin.

Pada usia ini anak mampu berpikir abstrak dan lebih fleksibel dalam memandang persoalan dari berbagai sudut yang berbeda. Oleh karena itu, pada tahap ini anak sudah lebih dapat menerima penjelasan yang kompleks mengenai pentingnya pengelolan waktu, termasuk untung ruginya jika tidak mengelola waktu dengan baik.

Jika dilihat dari proses diatas, maka anak usia dini ada di tahapan pertama yaitu tahap sensori-motor dimana anak akan lebih mudah mengenali waktu dengan sesuatu yang bisa ia rasakan melalui panca inderanya. Nah, untuk memudahkan proses belajar Naira dalam mengenal waktu shalat, kami terinsipirasi untuk membuat suatu media belajar anak. Dan jadilah printable TV Putar : Waktu Shalat. Silahkan unduh pada link dibawah ini ya bunda. Semoga bermanfaat

Posted on Leave a comment

Memaknai Kehadiran Adik

👩 : Kak, kakak Nai seneng ga adiknya sudah dua?
👧 : Seneng banget bunda..
👩 : Oya? Coba bunda pengen tau kenapa Naira seneng punya adik lagi?
👧 : Iya, itu berarti Allah kasih banyak rezeki buat kakak.
👩 : MasyaAllah, berarti kalau Allah kasih rezeki yang banyak kita harus apa kak?
👧 : Banyak berdo’a, banyak bersyukur..iya kan bunda?

Saya hanya bisa tersenyum dan mengangguk menanggapi jawaban Naira. Speechless :’)

Cara Allah menguatkan dan mengingatkan itu seringkali tidak terduga. Salah satunya lewat celoteh gadis kecil kesayangan kami ini. Saya yakin, hati seorang anak itu bersih sesuai fitrahnya. Apa yang terucap dari lisannya bisa jadi sebuah ‘alarm’ yang ingin Allah sampaikan pada orang tuanya.

Disaat saya sempat merasa kondisi baru ini begitu menguras energi.
Nizar yang sering tantrum tengah malam karena proses menyapih yang belum tuntas dan Naufal yang masih belajar mengatur pola tidur.

Naira justru punya cara pandang yang berbeda dengan kehadiran adik-adiknya ini. Padahal saya sendiri tau betul bagaimana rasanya menjadi kakak pertama. Tidak mudah. Tapi Naira bilang adik-adik adalah rezeki dari Allah yang harus disyukuri :’)

Pantas selama ini Naira begitu ringan tangan membantu bunda menyiapkan keperluan adiknya. Berinisiatif menyuapi Nizar saat jam makan tiba sementara bunda harus menangani bayi dulu. Mengajak adiknya bermain bersama saat bunda harus menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Semuanya seperti tanpa beban karena Naira menyadari bahwa ia sedang belajar mengekspresikan rasa syukur pada Allah lewat kehadiran adik-adiknya. Barakallah nak…💕

Posted on Leave a comment

Dua Kunci Penting Sebelum Mengajarkan Al-Quran pada Anak

Tujuh tahun lalu, masih terekam jelas dalam ingatan masa dimana saya masih mengenyam bangku kuliah dan diamanahi untuk menjadi mentor tahsin bagi mahasiswa tingkat baru. Ada momen yang membuat saya menangis tergugu saat berhadapan dengan seorang gadis berusia 19 tahun yang sama sekali belum mengenal huruf hijaiyyah, padahal ia seorang muslimah sejak lahir.

Apa yang salah dengan gadis ini? Penampilannya terlihat dari kalangan berada dan garis wajahnya pun terlihat seperti seorang yang cerdas. Tapi mengapa di usia dewasanya ini, ia masih terbata mengeja alif-ba-ta? Bagaimana ia belajar memahami Al-Quran sementara membacanya pun tak mampu? Berbagai pertanyaan berkelebat dalam pikiran saya, salah satu yang paling mengusik adalah, apa yang telah orang tuanya lakukan selama ini sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang belum mengenal Al-Quran?

Jujur saat itu ada kecemasan dalam diri, ada rasa khawatir tentang masa depan saya ketika menjadi orangtua. Mampukah saya menjadi orangtua yang mengantarkan anak-anak saya men0jadi seseorang yang mencintai Al-Quran? Saya tentu tidak ingin serta merta menyalahkan kedua orangtua gadis tersebut. Tapi pengalaman ini mengingatkan saya akan satu hal bahwa adalah hak anak untuk diajarkan Al-Quran sejak kecil oleh kedua orangtuanya.

Maka dari itu saya semakin menyadari, saya harus belajar dan menyiapkan banyak bekal untuk menjawab kecemasan saya tersebut. Dan saya meyakini bahwa usia dini adalah pondasi utama untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan termasuk didalamnya menyemai kecintaan anak terhadap Al-Quran. Saya ingin sekali menjadi orang pertama yang mengenalkan Al-Quran dalam kehidupan anak-anak saya.

Baca juga : 5 Aktivitas Seru “Mengenalkan Hijaiyyah pada Anak” (Part-1)

Perjalanan belajar mengantarkan saya untuk bertemu dengan salah satu buku karya Dr Sa’d Riyadh yang isinya begitu mengetuk hati saya, bahwa apapun yang ingin kita tanamkan pada anak akan selalu berpusat pada dua hal, yaitu :

🏠 Rumah Teladan

Dalam bukunya, Dr. Sa’d Riyadh menyampaikan bahwa rumah adalah taman pendidikan pertama dan utama, tempat anak bertumbuh dan berkembang. Jika rumah menjadi basic pendidikan yang baik maka akan menghasilkan anak yang shalih lagi bermanfaat.

Rumah teladan, adalah rumah yang dimana penghuninya mencintai dan mengamalkan Al-Quran dengan cara menerjemahkan kecintaan terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Sehingga anak-anak secara langsung melihat dan merasakan suasana rumah yang mendorong dan membentuk dirinya untuk mencintai Al-Quran.

Ada 4 tipe rumah dalam proses pendidikan Al-Quran di keluarga :

🏡 Rumah yang penghuninya tidak peduli terhadap Al-Quran dan hanya membacanya sesekali. Namun orang tua berusaha untuk memasukkan anak-anaknya ke taman pendidikan Al-Quran terbaik agar mau menghafal dan mempelajari Al-Quran. Mereka lupa bahwa bagaimanapun anak akan mencontoh lingkungan terdekatnya yaitu keluarga.

🏡 Rumah yang penghuninya mempraktekkan ajaran Islam secara sulit, kaku dan fanatik. Termasuk dalam mendidik Al-Quran pada anak-anaknya. Orang tua mengajarkan Al-Qur’an dengan cara yang tidak sesuai dengan pertumbuhan anak, karakteristik, kemampuan dan kecenderungan anak. Sehingga suasana rumah dalam mempelajari Al-Quran terkesan penuh ketegangan yang akan menghambat sampainya perasaan cinta Al-Quran ke dalam hati anak-anak.

🏡 Rumah yang penghuninya melupakan Al-Quran, sehingga Al-Quran pun melupakan mereka. Bahkan mereka membuat sesuatu yang menggantikan Al-Quran, berupa lagu dan musik. 😢

🏡 Rumah yang penghuninya mencintai Al-Quran. Mereka bukan hanya membaca dan mempelajari isinya, tapi juga menerjemahkan rasa cinta terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Mereka menghidupkan nilai-nilai kebaikan pada Al-Quran dalam keluarganya, seperti saling mencintai, tolong menolong dan saling berlomba beramal shalih.

Rumah kita, termasuk tipe yang mana ya? 😊

📌 Pendidik Teladan

Cara terbaik untuk membuat anak tumbuh melakukan amal shalih yang kita harapkan, termasuk didalamnya mencintai Al-Quran, adalah dengan menjadi sosok yang perbuatannya dapat diteladani. Oleh karena itu, jika seorang pendidik ingin menanamkan perasaan cinta kepada Al-Quran di hati anak-anaknya, makan terlebih dahulu ia harus berusaha agar perbuatannya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Jika orang tua mencintai Al-Quran maka anak-anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Al-Quran atas izin Allah.

Bagaimana menjadi pendidik teladan yang akan dicintai anak?

❤ Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan terus memperbaiki hubungan baik dengan Allah dan memperbanyak do’a terbaik untuk anak kita.

❤ Mampu berinteraksi dengan anak sesuai dengan tahap perkembangan dan psikologis anak.

❤ Membuat variasi metode dalam mendidik & mengarahkan anak untuk mempelajari Al-Quran.

❤ Memberi hukuman dengan cara tidak memberi atau membatasi kesenangannya dan jangan pernah merendahkan anak karena kesalahannya.

❤ Pahami kecenderungan dan potensi anak agar pendidik bisa menyesuaikan metode belajar yang diberikan.

❤ Berikan kepercayaan dan berinteraksilah pada anak dengan cara memposisikan diri sebagai pembimbing yang bisa memahami mereka.

❤ Tanamkan rasa percaya diri pada mereka agar mereka menjadi pribadi yang lurus, teguh dan tidak mudah menyerah saat mempelajari Al-Quran.

❤ Cari tahu hambatan-hambatan yang akan mengganggu proses mendidik anak, entah itu berasal dari diri kita sendiri atau faktor luar. Sehingga kita bisa meminimalisir hal buruk yang akan menghambat diri dan anak kita untuk mendekat pada Al-Qur’an.

❤ Tumbuhkan kesadaran pada anak bahwa kita mencintai mereka, dengan menunjukkannya melalui perbuatan dan perkataan. Sehingga anak akan merasa dirinya berharga dan dicintai oleh orang tuanya.

Sampai sini masih bisa bernafas, bun? Hehe.. Ternyata dari dua hal ini saja rasanya masih banyak sekali PR kami dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Quran di hati anak. Terlebih saat melihat diri sebagai orang tua yang masih sangat naik turun interaksinya dengan Al-Quran. Allah, semoga selalu diberi semangat untuk belajar 😢

Posted on 3 Comments

Belajar Menentukan Letak Unsur Pada Sistem Periodik Unsur dengan Permainan Kartu Unsur

Salah satu tantangan yang saya hadapi dalam mengajar siswa kelas 12 yang akan mengikuti ujian akhir nasional adalah kesulitan siswa memahami konsep dan keterkaitan antar konsep. Apalagi jika sudah dikaitkan dengan soal. Jangankan menjawab soal, memahami soalnya pun susahnya setengah hidup.
Belum lagi jika ditambah perspektif buruk sebagian besar siswa tentang kimia. Yang katanya soal susah lah, gurunya ngebosenin lah, dan segala macam hal buruk lainnya. Oh iya. Ditambah satu lagi bonus jackpot tantangan bagi guru kimia kelas 12 seperti saya: materinya yang harus diajarkan banyak, sementara waktunya sedikit.
Ah lengkaplah sudah….
Untuk mengatasi seluruh masalah itu, saya coba dekati pengajaran kali ini dengan sedikit gamifikasi. Elemen gamifikasi yang saya gunakan juga simpel: avatar. Maksudnya?
Maksudnya saya coba asosiasikan elemen (unsur) dengan satu gambar yang kira-kira bisa mereprentasikan unsur itu (lihat gambar). Saya buatkan 1 unsur = 1 kartu berisi avatar unsur tersebut. Untuk cara bermainnya saya juga cuma menggunakan 1 konsep saja: matching alias mencocokkan.
Kira-kira begini tahapan aktivitasnya:
  1. Siswa diajak untuk memahami konsep bilangan kuantum mengunakan analogi hotel berbintang
  2. Siswa diberikan penjelasan terlebih dahulu tentang cara menentukan konfigurasi elektron menggunakan metode susu sapi sedap.
  3. Siswa diajak untuk memahami keterkaitan antara jumlah kulit dengan periode dan jumlah elektron terluar dengan golongan
  4. Susun kartu unsur di suatu meja (baiknya unsur dengan nomor atom lebih dari 10). Berikan kesempatan pada setiap siswa untuk mengambil 3 unsur
  5. Mintalah mereka untuk menentukan konfigurasi elektron setiap unsur yang mereka pilih
  6. Mintalah mereka untuk menebak letak unsur tersebut pada SPU
  7. Jika sudah mendapatkan tebakannya, mereka dapat mencocokkan lokasi unsur mereka dengan SPU yang ada
  8. Lanjutkan dengan refleksi
Mudah sekali bukan?
Memang kesan bermainnya tidak terlalu kental. Tapi dengan adanya penggunaan media belajar ini diharapkan siswa jadi lebih mudah memahami konsep yang diajarkan.
Menariknya lagi, 3 materi langsung diselesaikan hanya dalam 1 jam pelajaran saja. Dan saya bersyukur ternyata semua siswa mampu menentukan letak unsur pada SPU dengan tepat. Dari 15 unsur yang diletakkan hanya ada 1 unsur yang diletakkan tidak pada tempatnya.
NB: bagi yang ingin punya kartu-kartunya bisa japri alamat emailnya ya.
Saya akan kirimkan pranala unduh nya melalui email.
Posted on Leave a comment

Saat Anak Merasa Kecewa

Di usia Naira yang beranjak 5 tahun, kebutuhannya untuk bermain berwama teman semakin tinggi. Jika dilihat dalam tahap perkembangannya kebutuhan ini muncul untuk melatih sisi emosi dan kemandirian anak.  Semakin sering bermain bersama, otomatis banyak stimulus yang datang mempengaruhi perkembangan emosinya.

Sebagai orang tua kami pun berusaha memfasilitasi kebutuhan ini. Berhubung baru dua bulan kami menetap kembali di Bandung dan belum begitu mengenal situasi sekitar rumah, kami pun membuat kesepakatan bersama Naira. Intinya, Naira boleh mengundang teman-temannya untuk main di rumah bersama. Jika Naira ingin main diluar rumah pun boleh, tapi masih terbatas di beberapa area yang mudah kami pantau.

Oya, sebelum pindah ke Bandung kami tinggal di komplek pondok pesantren. Disana suasananya cukup kondusif. Beberapa anak yang bermain bersama Naira terbilang kooperatif, bahasanya santun dan mudah diarahkan. Jarang sekali muncul konflik yang berarti dalam pertemanan mereka. Berbeda dengan disini. Kami tinggal di sekitar pemukiman warga, sehingga teman-teman sebaya Naira pun sangat beragam sikapnya. Mulai dari yang baik dan santun, suka membawa mainan Naira tanpa izin, pipis sembarangan di halaman rumah sampai yang berbicara kasar pun ada. Maka wajar jika konflik yang muncul menjadi lebih kompleks.

Seperti hari ini, selepas bermain bersama temannya tiba-tiba Naira menghampiri saya dengan wajah ditekuk sedih. Tampaknya Naira ingin menyampaikan sesuatu yang penting.

“Eh ada kakak Naira. Udah selesai kak mainnya?” tanya saya.

“Udah bunda.” Jawabnya singkat.

“Kenapa, Nak? Kelihatannya lagi sedih. Ada yang mau Naira ceritain sama bunda?” pungkas saya penasaran.

“Iya bunda, tadi teh ada teman kakak yang injak-injak telor plastik kaka, sambil ketawa-ketawa lagi! Terus telor  plastiknya jadi rusak. Huhuhu..” terang Naira sambil terisak.

“Ya Allah, pasti sedih ya kak lihat telornya jadi penyok gitu?” saya mencoba berempati. Mungkin jika ada di posisi Naira saya pun akan merasakan hal yang sama, melihat barang kesayangan rusak oleh orang lain tentu sangat menyedihkan.

“Kaka sedih jadi gak bisa masak-masakan lagi, bunda.” tangisnya makin kencang.

“Ya sudah, sekarang kakak coba tenang dulu ya. Bunda tau pasti sedih rasanya. Boleh gak kalau bunda pinjam dulu telor penyok nya?” saya berusaha menenangkan tangis Naira dengan merangkul pundaknya. Lalu menawarkan alternatif untuk mensiasati agar mainannya bisa utuh kembali.

“Kak, kira-kira telornya masih bisa kita perbaiki gak ya?” ujar saya.

“Tadi udah kakak coba tapi gak bisa bagus lagi.” ucapnya terlihat sangat kecewa.

“Coba kita perbaiki sama-sama ya, siapa tahu bentuknya bisa bagus lagi.”

Naira mengangguk tanda setuju. Saya pun mencoba memperbaiki telor itu dengan melibatkan Naira untuk membantu membawakan alat-alat yang diperlukan. Dan voila, kurang dari sepuluh menit telornya sudah tidak penyok. Naira girang bukan kepalang. Ia pun langsung meraih wajan dan kompor mainannya untuk masak-masakan. Dengan senyum manisnya ia berkata,

“Alhamdulillah ya bunda ternyata masih bisa diperbaiki.”

Dari kejadian ini, ada banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik. Sebenarnya tidak mudah bagi saya untuk bisa setenang itu menghadapi kekecewaan Naira. Saat sedang ‘tidak waras’ mungkin saja saya berujar, “Aduh, gitu aja kok nangis sih, Nak. Kan bisa beli lagi yang baru!”

Tapi jika jalan pintas seperti itu diambil, maka tidak akan ada perubahan apa-apa pada diri Naira. Saya berharap Naira bisa belajar untuk berdamai dengan rasa kecewa dan fokus pada solusi tanpa terus meratapi keadaan apalagi menyalahkan orang lain. Saya sadar, itu semua bisa tercapai hanya jika saya bisa berempati dan memberikan respon yang positif saat berkomunikasi dengannya. Jadi kuncinya ada pada saya. Ini reminder banget untuk diri saya sendiri.

Alhamdulillah hari ini saya belajar untuk melakukan salah satu poin dari komunikasi produktif dengan anak, yaitu menunjukkan empati dan fokus pada solusi. Semoga lisan bunda yang penuh kekurangan ini selalu dibimbing Allah untuk berkata yang baik dan benar di hadapan anak-anak 😇

 

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

 

 

 

 

Posted on Leave a comment

Atasi Emosi Negatif Anak dengan S-A-B-A-R

 

 

 

 

 

Kurang lebih sebulan ini, tiga grup parenting yang saya ikuti kompak membahas tentang pengelolaan emosi ibu dan anak. Materinya banyak, setiap narasumber punya tips yang beragam. Satu narasumber menyebutkan perlunya time out saat anak mulai mengeluarkan emosi negatifnya. Narasumber lain menyampaikan bahwa ternyata teknik time out itu sudah tidak relevan, karena seringkali menimbulkan efek hukuman dibanding pembelajaran. Maka muncul lah metode baru yaitu time in.  Bingung? Iya, saya bingung mau mengaplikasikan ilmu yang mana. Banjir informasi membuat saya harus lebih bijak dalam menyeleksi setiap ilmu yang datang.

Sampai suatu hari Allah validasi ilmu-ilmu yang saya terima di kulwap itu dengan Nizar yang tantrum setiap kali saya mau shalat dan Naira yang uring-uringan setiap ingin BAK (padahal sebelumnya lantjar jaya). Saya sadar, mungkin ini cara Allah agar ilmu yang saya dapat tidak sia-sia, jadi langsung diberi situasi sebegitu rupa supaya ilmunya lebih cepat diamalkan.

Pada dasarnya kondisi seperti ini sangat wajar dialami oleh balita. Di usia balita, anak sedang belajar mengenal perasaan yang dialaminya. Selain itu, kemampuan balita untuk mengekspresikan perasaan dalam bahasa verbal yang masih sangat terbatas, biasanya menjadi pemicu stres dalam diri mereka.  Karena ada keinginan yang tidak tersampaikan dengan baik, akhirnya mereka hanya bisa menangis untuk mengungkapkannya.

Sayangnya orang tua masih sering merespon kurang baik dan tidak menunjukkan rasa empati terhadap emosi negatif anak.  Kita cenderung menjawab emosi anak dengan luapan kekesalan yang terkadang terjadi dengan spontan. Sebagai orang dewasa idealnya kita bisa memilih respon yang tepat dalam menghadapi situasi itu. Saya pun merasakan memang tidak mudah tetap bersikap tenang saat anak sedang tantrum. Tapi bukan berarti tidak bisa diusahakan. Prinsipnya, setiap kali orang tua mengalami tekanan emosi karena anak,  cobalah renungkan sejenak apakah respon yang kita berikan sudah sesuai dengan kebutuhan anak atau hanya mengikuti hawa nafsu kita?

Jadi, sebaiknya orang tua harus bagaimana menyikapinya? Setiap anak memiliki tempramen yang berbeda, maka sangat mungkin jika penanganannya pun akan berbeda. Ada yang berhasil dengan satu metode, ada pula yang harus memutar otak mencari cara lain demi meredakan emosi anak. Termasuk saya, meskipun ada banyak tips pengelolaan emosi, tetap saja pada prakteknya tidak semua bisa dilakukan karena alasan diatas. Nah, beberapa langkah ini mungkin bisa membantu ayah dan bunda melalui masa sulit menghadapi tantrum anak.Agar mudah diingat saya beri singkatan S-A-B-A-R.

– SADARI bahwa emosi negatif itu wajar dirasakan oleh anak. Cari penyebab mengapa tantrum bisa terjadi. Jika sudah dalam kondisi sadar, bisa jadi kita lebih mudah dan tenang menghadapi tangisan anak yang meluap-luap.

– ATUR posisi yang tepat dan nyaman bagi kita untuk mengatasi emosi negatif anak. Saat berdiri biasanya saya sulit sekali meredam rasa kesal, maka duduk sering menjadi pilihan. Selain bisa mengurangi emosi negatif, duduk membuat posisi diri kita sejajar dengan anak dan memudahkan kita untuk berempati terhadap kondisi anak.

–  BANTU anak untuk mengetahui dan memberi nama atas perasaan yang tengah dialaminya. Apakah itu sedih, marah, takut atau perasaan lainnya.

– AJAK anak untuk menenangkan diri dan menyelesaikan emosi negatifnya. Jika sudah tenang, ajari anak untuk mengutarakan keinginannya dengan cara yang baik. Contoh kasus Naira yang tantrum ketika ingin BAK. Setelah ditelusuri penyebabnya ternyata Naira stres karena takut jika harus BAK di toilet sendiri. Maka saya berusaha menenangkan dulu tantrumnya, menyampaikan kalau bunda ada di dekat Naira dan InsyaAllah Naira aman sekalipun bunda tidak ikut masuk toilet.

– REFLEKSI, jika suasana sudah kondusif dan anak sudah bisa diajak berbicara, cobalah untuk mulai berdiskusi kira-kira cara ia menyampaikan keinginan sudah benar atau belum. Beri ruang pada anak untuk merefleksikan perbuatannya tersebut. Jika belum benar, maka bicarakan bersama apa yang seharusnya dilakukan kedepannya. Oya, jangan lupa untuk meminta maaf pada anak jika ada respon kita yang kurang baik saat menghadapi anak yang sedang tantrum dan berusahalah untuk memperbaikinya.

Sejujurnya ini adalah cara saya pribadi, tapi semoga apa yang dibagi bisa sedikit memberi solusi. 😊

Posted on 1 Comment

Menyapih atau NWP?

Saat mengetahui ada janin titipan Allah di usia Nizar yang belum menginjak 1 tahun, rasanya campur aduk, MasyaAllah. Tidak dapat dipungkiri ada rasa cemas kehilangan momen mengASIhi Nizar hingga usianya genap 2 tahun. Berbagai keraguan berkelebat dalam hati, saya khawatir tidak mampu melewati masa ini dengan baik. Namun perasaan tersebut langsung saya lawan dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan memberikan amanah melampaui batas kemampuan kita.

Pengalaman memberi ASI adalah sesuatu yang penuh kenangan bagi saya. Bukan karena ikut-ikutan trend jaman sekarang, terlebih karena menyusui adalah perintah Allah. ASI adalah rezeki yang dititipkan pada seorang ibu, sebagai tanda cinta dari Allah untuk setiap anak. Dan jika diniatkan untuk meraih ridha Allah, proses menyusui anak akan menjadi ibadah yang tak ternilai pahalanya.

Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang sedang menyusui bayinya,

“Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata’ala.”

Sejak itu saya mulai mencari dari beberapa literatur tentang bagaimana islam mengatasi kondisi ini. Dimana seorang ibu hamil saat anaknya belum usai disapih. Karena saya pun tidak ingin mengambil keputusan yang gegabah atau terburu-buru menyapih tanpa dasar ilmu.

Alhamdulillah, akhirnya menemukan rujukan dari buku Hanya Untukmu Anakku (terjemahan dari kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud) karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Beliau mengawalinya dengan anjuran untuk menyusui anak selama 2 tahun yang tertulis dalam Alquran.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)Ayat ini mengandung beberapa hukum :
1. Masa menyusui yang sempurna adalah dua tahun. Hal ini menjadi hak seorang anak jika dia membutuhkannya dan belum bisa lepas darinya. Penyebutan حولين (dua tahun) yang diperkuat dengan كاملين (penuh atau sempurna keduanya) bertujuan agar lafazh حولين tidak dipahami satu tahun atau lebih dari dua tahun.

2. Apabila kedua orang tua ingin menyapih anaknya sebelum masa itu dengan kerelaan keduanya dan setelah musyawarah, maka dibolehkan untuk menyapih selama tidak berdampak buruk pada anak.

3. Jika seorang bapak menginginkan anaknya disusui oleh wanita lain selain ibunya, maka hal itu boleh dilakukan sekalipun ibunya menolak. Kecuali jika hal tersebut akan mendatangkan keburukan bagi ibu atau anaknya, maka hal itu tidak diperkenankan. Dan ibunya pun boleh melanjutkan menyusuinya hingga jangka dua tahun atau lebih.

(Hanya Untukmu Anakku, halaman 436)

Dari penjelasan diatas saya menarik kesimpulan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang memungkinkan seorang ibu untuk menyapih anak lebih awal dari yang dianjurkan oleh Alquran. Pada bahasan berikutnya beliau pun membahas salah satu kondisi yang mungkin terjadi yaitu ibu hamil saat masih menyusui anaknya.

Menurut penuturan beliau ada beberapa pilihan yang harus diambil ketika ibu mengalami hal tersebut. Dua hal yang sangat beliau anjurkan adalah segera menyapih anak sekalipun belum mencapai usia 2 tahun atau mencarikan ibu susuan. Mengapa demikian? Karena seiring bertambahnya usia kehamilan, produksi ASI jumlahnya akan berkurang akibat homon estrogen yang semakin meningkat. Secara tidak langsung hal tersebut akan berpengaruh pada asupan gizi sang anak. Namun ungkap beliau, tidak juga ada larangan untuk meneruskan memberi ASI jika memang tidak ada efek buruk pada anak dan ibu setelahnya. Dua anjuran diatas disarankan atas dasar kehati-hatian. Wallahua’alam.

Saya sempat galau akan menyapih atau NWP (Nursing While Pregnant). Setelah menimbang, akhirnya saya pun mencoba untuk meneruskan mengASIhi Nizar. Karena selama ini tidak ada reaksi yang saya rasa akan membahayakan janin, seperti kontraksi saat menyusui atau lemas berlebihan setelah menyusui anak. Saya tidak ingin langsung menghentikan pemberian ASI pada Nizar, karena khawatir akan menciderai psikisnya.

Meskipun begitu saya berniat untuk menyapih Nizar lebih awal secara bertahap dan senatural mungkin, tanpa paksaan. Sehingga begitu adiknya lahir, Nizar sudah siap dengan kondisi barunya. Qadarullah, mungkin ini sudah menjadi sunnatullah. Di usia kehamilan menginjak 6 bulan, semakin jarang saya merasakan LDR (Let Down Reflex) atau asi mengalir deras saat menyusui. Sehingga Nizar pun mengurangi kebiasaan meminta ASI dengan sendirinya. MasyaAllah.

Hingga sekarang Nizar masih meminta ASI sewaktu-waktu dan saya pun masih memberikannya. Saya yakin Allah sudah mengaruniakan pada diri seorang anak kemampuan untuk mengenali kapan ia siap untuk menyapih dirinya sendiri. Biidznillah…

Posted on Leave a comment

Adab Sebelum Ilmu

Pernahkah kita merasa, betapa seringnya  mendapat ilmu tentang sesuatu tapi rasanya sulit sekali hati tergerak untuk mengamalkannya. Dalam dunia parenting misalnya, entah sudah berapa kali kita mendengar bahwa memarahi anak akan memberi dampak yang buruk pada psikis mereka. Berulangkali pula kita dengar hadits Rasulullah tentang keutamaan menahan amarah, namun kita masih saja sulit menahan diri untuk tidak mengomel disaat tingkah laku anak begitu menguji. Kita sibuk mencari ilmu kesana kemari tapi sedikit sekali yang membekas dalam  amalan dan hati.
Rasanya ada sesuatu yang keliru dari cara kita mencari ilmu 😢

Satu bulan yang lalu saya memutuskan untuk mengikuti dua kuliah online yaitu Halaqah Silsilah Islamiyah (HSI) yang dibimbing oleh Ustadz Abdullah Roy dan Kuliah Bunda Sayang dari Institut Ibu Profesional (IIP). Menariknya dua kelas ini diawali dengan materi yang sama, tentang adab sebelum ilmu. Lalu tiba-tiba saya merasa sedih, mengingat perjalanan menuntut ilmu selama ini ternyata masih jauh sekali dari adab yang seharusnya. Jangan-jangan selama ini saya hanya fokus menimbun ilmu tanpa peduli dengan adabnya. Padahal ulama terdahulu sangat tinggi perhatiannya terhadap adab ini. Seperti yang yang telah dikatakan Ibnul Mubarok,

“Kami mempelajari masalah adab  selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Adab qobla ‘ilmu. Tiga puluh tahun tentu bukan waktu yang singkat, butuh kesungguhan dan kesabaran dalam mempelajarinya. Semakin saya belajar tentang adab semakin saya mengerti kenapa para ulama menginvestasikan begitu banyak waktunya untuk mempelajari adab sebelum ilmu kepada gurunya. Karena adab lah yang akan menjadi kunci terbukanya hamparan ilmu yang dimiliki sang guru. Lebih dari itu, adab menjadi jaminan barakah atau tidaknya suatu ilmu bagi seseorang.

Dalam kajiannya, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan setidaknya ada 3 keutamaan bagi orang yang mempelajari ilmu dengan adabnya.

1. Orang yang menjaga adab dan kepada Allah saat menuntut ilmu akan Allah percepat pemahamannya terhadap ilmu.
Yusuf bin Al Husain berkata,

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

2. Orang yang menuntut ilmu dengan adabnya akan mudah mengamalkan ilmu yang diterimanya.

3. Orang yang menuntut ilmu dengan adabnya akan Allah mudahkan ia dalam mengamalkan ilmu disertai adab dari ilmu yang tengah diamalkannya. Misalkan seseorang belajar tentang shalat tahajud kepada seorang ulama dengan memperhatikan adab saat belajar, maka Allah berikan ia kemudahan untuk mengamalkan shalat tahajud plus adab dari shalat tahajud itu sendiri.

Lalu apa saja adab yang harus kita perhatikan sebelum menuntut ilmu? Ada beberapa hal yang harus menjadi fokus kita, diantaranya :

🌸 Membersihkan tempat ilmu yaitu hati. Apabila hati bersih maka ilmu akan berkenan masuk. Semakin bersih hati, semakin mudah menerima ilmu.
🌸 Mengikhlaskan NIAT dalam mencari ilmu. Contohnya mencari ilmu untuk :
⏺Mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain.
⏺Menghidupkan dan menjaga ilmu supaya tidak punah.
⏺Mengamalkan ilmu.
🌸 Mengumpulkan TEKAD untuk mempelajarinya, senantiasa memohon PERTOLONGAN ALLAH dan tidak merasa lemah.
🌸 Tawadhu dan tidak merasa paling tahu.
🌸 Memusatkan semangat untuk mempelajari Alquran dan Hadits.
🌸 Menempuh jalan yang benar dalam menuntut ilmu.
🌸 Bersegera dalam mendapatkan ilmu.
🌸 Pelan-pelan dalam menuntut ilmu dengan memulai dari buku-buku yang ringkas.
🌸 Memilih teman yang shalih dalm perjalanan menuntut ilmu.
🌸 Berusaha keras dalam menghafal, mengulang dan bertanya kepada guru apabila ada yang tidak dipahami.
🌸 Menghormati ahli ilmu atau guru, termasuk meluruskan dengan cara yang baik dan benar jika melihat kesalahan dalam diri sang guru.
🌸 Menghormati majelis ilmu dan sumber ilmu.

Saya sangat berterima kasih kepada para guru yang sudah begitu banyak mengingatkan betapa pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Semoga ilmu yang sudah dibagi membekas dalam hati dan amalan sehingga mengundang pahala yang terus mengalir untuk beliau semua. Dan semoga Allah membimbing langkah kita untuk memperbaiki setiap kekurangan dalam menuntut ilmu.

“Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.” (Syaikh Al-Ushoimi)

Sumber :
– Ringkasan materi “Adab Menuntut Ilmu IIP”
– Ringkasan materi HSI “Pengagungan terhadap Ilmu’
https://muslim.or.id/21107-pelajarilah-dahulu-adab-dan-akhlak.html

Posted on Leave a comment

Kenangan Bersama para Permata Alquran 💕

Malam itu, di penghujung halaqah quran, seorang santri ragu-ragu maju ke hadapan saya. Wajahnya tertunduk malu, lirih ia menyampaikan kalau hafalannya belum lancar.

Saya pun memintanya untuk mencoba dulu. Baru baris kedua hafalannya mulai tersendat, susah payah ia coba mengingat tapi hasilnya masih sama. Akhirnya ia pun tergugu, air matanya tumpah di depan saya. Saya hanya bisa mengusap pundaknya dan berusaha memahami kondisinya.

Saya tahu, betapa menghafal alquran bukanlah sesuatu yang mudah ditengah aktivitas pondok yang padat dan sedikit waktu istirahat.

” Coba tenangkan hatinya dulu, ibu tunggu kalau masih mau setor hafalannya.” ucap saya. Tapi ia menolak dan memilih untuk melanjutkan usahanya.

MasyaAllah. Ia pun mengulang hafalannya lagi dengan sisa isak tangis yg masih terdengar. Alhamdulillah…hasilnya lebih baik dari sebelumnya dan 2 halaman pun selesai ia setorkan.

Selepas setoran ternyata ia masih menangis, pelan ia bilang..

“Ibu, kalau ada pelajaran yang saya lupa, saya masih bisa tenang untuk belajar lagi. Tapi kalau saya lupa sama hafalan quran, rasanya sedih bu, bawaannya ingin nangis terus.”

Ahh..saya jadi ingat, setiap kali saya menyimak hafalannya, di sudut halaman quran miliknya selalu ada note kecil bertuliskan “Murajaah, Dzikrullah”. Mungkin saat ia mulai lupa dengan hafalannya, saat itu juga ia merasa bahwa hari itu sedikit sekali baginya mengingat Allah.

Nak..ibu kagum, sungguh.. :’)

Pada kesempatan lain selepas ujian tahfidz seorang gadis kecil lagi-lagi menangis. Dengan raut wajah yang bingung campur sedih ia pun bercerita pada saya.

“Ibu, Nisa bingung. Nisa sudah berusaha itikaf di masjid sambil terus muraja’ah. Nisa kurangi jam tidur untuk persiapan ujian tahfidz. Tapi apa hasilnya bu? Nisa tetap lupa banyak ayat saat setoran. Aneh bu, padahal teman Nisa yang lain meskipun kelihatan banyak main tapi setorannya lancar. Nisa kurang usaha apa bu?” tangisnya semakin meledak.

“Nisa, tau gak ada banyak cara Allah untuk mendekatkan kita dengan alquran? Salah satunya lewat ujian tahfidz ini. Nisa, lupa itu bukan suatu kesalahan, tapi itu tanda dari Allah supaya kamu lebih sering mengulang hafalanmu, supaya nisa lebih dekat dengan alquran. Nisa tau kan pahala membaca quran? Setiap hurufnya ada sepuluh kebaikan. Bayangkan kalau misalkan dalam sehari nisa murajaah 1 halaman dan ada 200 huruf yang Nisa baca. Lalu Nisa lupa dan nisa ulangi lagi muraja’ah halaman itu sampai 5 kali. Ada berapa banyak pahala yang Nisa kumpulkan? Banyaaaak sekali nis. Itu baru hitungannya manusia. Belum lagi pahala dari itikaf nisa dan waktu tambahan untuk murajaah. Allah pasti lipat gandakan pahalanya. Nisa, kamu sudah berusaha keras. Ibu ingin Nisa jaga terus semangat untuk itikaf dan muraja’ah sampai gak ada waktu yang terlewat sia-sia. Karena semakin sungguh-sungguh Nisa memperjuangkan itu, InsyaAllah semakin mudah pertolongan Allah datang. Ibu yakin Nisa bisa. “ jawab saya panjang lebar.

Tangisnya pun mulai mereda. Wajahnya terlihat lebih tenang.

Ah, menjadi guru itu bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang saya bagi pada murid saya. Tapi tentang bagaimana cara Allah menegur dan mengingatkan saya dengan lembut melalui mereka. Apa kabar saya yang masih menjadikan hal-hal remeh sebagai alasan untuk melalaikan qur’an 😭
Saya guru, saya tidak lebih mulia dari mereka. Tapi mereka, santri-santri saya, selalu memberi saya pelajaran yang sangat berharga dengan cara mereka yang mulia..Barakallahu fiikum, kesayangan ibu, para permata Al-Quran ❤

Dua tahun menemani para permata alquran untuk mengingat ayat-ayat Allah adalah kenangan yang akan terus terekam dalam ingatan saya. Dari mereka saya memaknai arti kesungguhan untuk selalu mendekatkan diri dengan alquran.

Meski hari ini raga sudah tidak lagi bisa membersamai, tapi kenangan-kenangan bersama kalian akan selalu menjadi penawar disaat rindu itu datang.

Posted on Leave a comment

Jurnal Syukur Naira

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Nikmat apa yang paling pertama kita rasakan saat diri diliputi rasa syukur? Saya yakin, banyak sekali cara Allah menambah nikmat untuk setiap hambanya. Tapi, ada satu hal yang selalu mengiringi setiap syukur yang terungkap. Ya..nikmat ketika Allah karuniakan hati yang tenang, dan kondisi hati yang tenang ini akan saaangat mempengaruhi sikap kita dalam menjalani kehidupan. MasyaAllah…

Rasa syukur yang terus bertumbuh tidak serta merta tersemai dalam diri seseorang. Maka menanamkan syukur menjadi salah satu hal yang sangat mendasar dalam mendampingi perkembangan jiwa anak. Hati tenang yang dipenuhi rasa syukur akan mengantarkan seorang anak untuk memiliki konsep diri yang baik seiring proses tumbuh kembangnya. Mengapa? Karena syukur mengajarkan anak untuk selalu menjaga prasangka baiknya atas setiap kejadian yang Allah takdirkan pada dirinya, sehingga ia mampu menerima dirinya secara positif.

Bagaimana menanamkan rasa syukur untuk anak usia balita? Tentu akan ada tantangannya tersendiri..tapi setidaknya kita bisa melatihnya bersyukur melalui hal-hal sederhana yang paling dekat dengan dirinya 😇

Ramadhan lalu bunda & Naira membuat jurnal syukur untuk proyek #PesantrenRamadhan_Kids . Sebelumnya bunda menyediakan banyak potongan gambar dari majalah-majalah anak yang sudah rusak kondisinya, lalu Naira diberi kesempatan untuk memilih gambar mana saja yang Naira suka untuk ditempel di jurnal syukur. Di sela-sela membuat jurnal syukur bunda ajak ngobrol Naira,

B : “Kakak, pohonnya bagus ya, siapa kak yang ciptakan pohon?”

N : “Allah, bunda..”

B : “Betuuul..kak, kalau kakak Allah kasih nikmat atau suatu kebaikan kita harus bilang apa sama Allah kak?”

N : “Alhamdulillah, thank you Allah..”

B : “Alhamdulillah…alhamdulillah itu ucapan syukur kak, semakin banyak kita bersyukur, semakin sayang Allah sama kita..kalau Allah sudah sayang, semua yang Naira butuhkan nanti Allah berikan, InsyaAllah..”

N : “Kalau Naira bilang alhamdulillah, Allah kasih eskrim ga buat Naira?” 😂

B : “Hehe, InsyaAllah ya, nak..”

Isi jurnal syukur Naira

Salah satu anugerah yang harus kita berikan kepada anak, ungkap Ustadz @fauzhiladhim, adalah membangkitkan kecenderungan hati anak untuk senantiasa bersyukur. Kita Dorong mereka untuk merasakan setiap kesempatan sebagai karunia Allah ta’ala sehingga ungkapan hamdalah selalu punya makna yang mendalam pada kehidupan anak. Kita perdengarkan di telinga mereka nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dengan sering menyebut-nyebut nikmat-Nya di hadapan mereka, sebagaimana Allah ta’ala perintahkan…

“Dan terhadap nikmat dari Rabb-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.”

Ah.., ini pe-er besar untuk ayah bunda sebelum mendidik anak-anak, melatih diri menjadi hamba yang penuh syukur dalam memaknai kehidupan. Semoga Allah mampukan jadi teladan 😇

Setelah bikin jurnal syukur Naira, bunda jadi terinspirasi bikin jurnal syukur untuk diri sendiri. Ada yang mau ikutan? *nyaritemenbiarsemangat 😍

Posted on Leave a comment

Menata Niat Menggapai Barakah Pernikahan

Jika suatu hari datang melamar kepadamu 3 lelaki yang..
1. Shalih, paras tampan, belum berpenghasilan.
2. Belum shalih, paras sangat tampan, sudah mapan.
3. Sedang belajar menjadi seorang yang shalih, paras biasa, penghasilan belum tetap.
Kira-kira lelaki mana yang akan dipilih?
Shalihat, tidak ada jawaban yang benar ataupun salah tentunya, tapi disadari atau tidak pilihan kita akan sangat dipengaruhi oleh satu hal yang akan menjadi sandaran kita saat mengarungi bahtera pernikahan di kemudian hari bersamanya. Apakah itu?
Menikah dalam Islam bukan hanya menyatukan jalinan cinta dua insan, tetapi lebih dari itu, karena dengan menikah maka menjadi sempurnalah setengah agama kita. Menikah menurut sebagian ulama menjadi ibadah terpanjang dalam kehidupan umat muslim jika diawali dengan niat yang benar. Oleh sebab itu sangat penting bagi kita untuk mempersiapkannya dengan baik.

Tentu kita tidak ingin ibadah terpanjang kita menjadi sia-sia, menjadi tak berpahala karena niat yang keliru. Lalu apa itu niat? Niat adalah amalan hati (amaliyah qolbiyah), ia menjadi pondasi dalam melakukan amalan dan menjadi syarat diterimanya suatu amalan.Niat bukanlah semata apa yang kita ucapkan, tapi ia menjadi alasan yang menggerakkan kita untuk melakukan suatu amalan.

Sebagai muslim, kita mengetahui bahwa setiap niat yang terbersit dalam hati harus dalam kerangka ibadah dan meraih keridhaan Allah. Begitupun dengan menikah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang mengawini seorang perempuan karena parasnya, maka Allah akan menambahkan kehinaan padanya (suaminya), barang siapa yang menikahi perempuan karena hartanya, maka Allah akan menambah kemiskinan padanya. Barangsiapa yang mengawini perempuan karena tahtanya, maka Allah akan menambah kerendahan padanya. Dan barangsiapa yang mengawini orang dengan maksud hendak menjaga pandangan mata, menjaga kemaluan, atau menyambung hubungan keluarga, maka Allah akan memberkahi ia pada istrinya dan memberkahi istri padanya.” (HR. Al-Thabrani)

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari hadits diatas? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menentukan niat menikah, karena ia menjadi penyebab barakah atau tidaknya kehidupan pernikahan yang akan kita jalani. Maka niat menikah harus bersandar pada ketaatan kita kepada Allah,

🌷 Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul
🌷 Menjaga Pandangan dan kemaluan dari hal yang diharamkan.
🌷 Melahirkan generasi muslim pengemban risalah islam
🌷 Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan keluarga).

Paras yang tampan, harta yang melimpah dan tahta tidaklah abadi, semua akan mengundang rasa kecewa jika tidak diniatkan karena Allah. Bahkan saat memilih karena keshalihan pun, kita harus mau berusaha menelisik hati apakah niat nya sudah karena Allah atau ada terbersit perasaan ingin dipuji karena memiliki pasangan yang shalih.

Terkadang kita sulit mendeteksi apakah niat kita sudah lurus karena Allah atau belum. Tapi saat niat kita sudah lurus, coba maknai… akan Allah karuniakan dalam hati kita :

🌹 Jiwa yang tenang saat melakukan amalan
🌹Tidak terpengaruh penilaian orang lain
🌹 Tidak kecewa jika Allah menghendaki suatu hal selain dari yang kita inginkan

Adakalanya niat awal kita sudah lurus, namun berubah sesaat setelah akad terucap. Shalihat, syaithan itu gerah jika ada orang yang beramal baik, maka ia akan terus mencari celah untuk menggugurkan amal baiknya, godaan akan terus dilancarakan agar kita melenceng dari apa yang dikehendaki Allah, niat kita dibuat goyah.

Maka sangat penting bagi kita untuk menjaga niat tetap lurus karena Allah baik saat memutuskan memilih calon pendamping, saat berproses, dan setelah menikah pun kita harus selalu berusaha untuk terus memperbaiki niat kita. Bagaimana caranya? Hati kita, Allah yang genggam, maka sebaik-baik upaya adalah dengan memohon pertolongan Allah agar ditetapkan hati kita untuk menjadikan pernikahan sebagai sarana ibadah meraih ridha-Nya.

Adapun pertolongan Allah dapat kita jemput melalui beberapa Amaliyah, seperti :

💕 Rajin membaca dan mengkaji Al-Qur’an dengan tujuan untuk mendapatkan petunjuk dari Allah. Kita tahu bahwa salah satu nama Al-Quran adalah Asy-Syifa, dalam bahasa arab Syifa diartikan sbg obat yang paling ampuh untuk membersihkan hati kita dari berbagai penyakit, hati yang bersih InsyaAllah akan melahirkan niat yang lurus karena Allah.

💕 Memperbanyak qiyamullail dan shaum untuk menjaga diri kita dari perbuatan sia-sia yang bisa menyebabkanl niat kita luntur.

💕 Yang paling penting adalah dengan tekun berDOA, kita manusia adalah makhluk yang lemah mintalah pertolongan dan kekuatan darinya untuk teguh menjaga niat karena-NYA.

Sejatinya memperbaiki niat adalah pembelajaran kita seumur hidup, ia akan selalu diuji seiring perjalanan hidup kita. Jangan sampai bahtera pernikahan kita kelak menjadi salah arah karena niat yang salah. Jadikan ia lillah, berharaplah agar pernikahan kita selalu diliputi barakah. Berusahalah sekuat upaya untuk mendekat pada Allah, mintalah padaNya agar selalu membimbing pernikahan kita hingga bermuara di Jannah-Nya. Agar jika suatu saat ada masalah berat menyapa, maka Allah kuatkan diri dan pasangan kita untuk melaluinya dengan penuh keimanan.

Selamat menata hati,
Selamat mempersiapkan diri,
Membangun cinta yang

tinggi,

Menggapai ridha Illahi.

*Beberapa waktu lalu saya diminta untuk mengisi kulwap tentang niat menikah. Cara Allah mengingatkan saya, supaya saya mau merenungi dan meresapi lagi tentang niat yang harus senantiasa diperbaiki menjelang 5 tahun pernikahan kami. Karena saya percaya, apa yang ditulis dan dibagi itu sejujurnya adalah media refleksi untuk diri sendiri.. 😊

Posted on 2 Comments

Mengenalkan Allah Pada Anakku

“Pada usia dibawah 7 tahun dimana seluruh indera sedang berkembang pesat, keingintahuan anak sedang sangat tinggi, maka masa ini adalah masa terbaik untuk menanamkan TAUHID dalam jiwa anak.”

(Malik bin Marwan)

Sejak dikaruniai seorang anak, saya dan suami sepakat. Bahwa pendidikan pertama dan utama bagi anak-anak kami adalah aqidah, bagaimana ia mengenal Rabb-Nya. Maka selagi mengandung anak pertama, saya dan suami pun berusaha mengisi ruhiyah dengan mengikuti kajian, membaca buku, menambah kualitas ibadah, dll.

Tujuannya untuk ‘berisi sebelum mengisi”. Karena tidak mungkin berharap memiliki anak yang mencintai Allah, sementara orang tuanya sendiri tidak bersungguh-sungguh untuk mencintai Allah. Meski pada kenyataannya, sampai sekarang pun kami masih harus terus belajar dan akhirnya belajar bersama anak untuk memperkuat aqidah. Tapi tidak apa-apa, justru ini akan menjadi perjalanan belajar yg menyenangkan untuk kami, InsyaAllah.

Menyemai kecintaan pada Allah untuk anak balita tentu punya tantangan tersendiri, tapi bukan berarti sulit juga. InsyaAllah ada beberapa cara yang ingin kami bagi, semoga bekenan..
Continue reading Mengenalkan Allah Pada Anakku

Posted on Leave a comment

4 Tahapan Menanamkan Iman Pada Anak

Suatu hari di kelas Perbandingan Agama, seorang teman bertanya…

“Pak, apa yang mengharuskan kami mempelajari mata kuliah ini, sementara kami tahu bahwa Islam adalah agama yang sempurna?”

Suasana mendadak hening, beberapa kepala mengangguk sepakat dengan pertanyaan yang diajukan.

Beliau nampak termenung & menghela nafas…

“Karena kelak anda akan memiliki anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka akan menanyakan banyak hal, termasuk tentang agama kita. Anda harus tahu, pertanyaan anak-anak itu seringkali melampaui apa yang kita bayangkan..”

Saya tertegun mendengar jawaban beliau yang diluar dugaan. Pikiran langsung melayang pada Naira. Sudah sesiap apa diri ini menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu kelak? Sudah seserius apa saya membekali diri dengan ilmu agama? Mampukah saya menumbuhkan benih iman yg sudah Allah karuniakan dalam jiwanya, seiring pertumbuhannya?

Lalu dengan mantap beliau menyampaikan..

Continue Reading

Posted on Leave a comment

Untukmu, Cermin diri Ayah & Bunda

Anakku…

Banyak orang bilang, buah tak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin tak keliru jika ayah & bunda mengartikan kelak ketaatanmu kepada Allah, kecintaanmu kepada Rasulullaah, komitmenmu terhadap  Islam, kedekatanmu dengan Al-Qur’an tak akan jauh berbeda dari apa yang tertanam dalam diri ayah & bunda sejak saat ini. Baik, setengah-setengah ataukah buruk? Tentu bunda inginkan yang terbaik untukmu, nak…

Ananda, penentram jiwa bunda..

Seorang ibu adalah madrasah pertama untuk anaknya, yang apabila ia mempersiapkannya dengan baik maka akan terlahirlah generasi-generasi yang hebat buah dari pendidikannya. Lalu bunda tersadar, semua persiapan itu tidaklah instan, semua persiapan itu tidak bisa tercapai tiba-tiba. Perlu proses  panjang yang akhirnya membuat bunda banyak belajar dan memahami makna keutamaan sebuah “madrasah”. Ibarat menanam benih yang baik, agar ia tumbuh subur dan dapat memberi manfaat kelak kepada banyak orang, maka bunda harus mengetahui kapan saat terbaik untuk menyiramnya, pupuk apa saja yang akan menopang tumbuh kembangnya, bagaimana ilmu untuk merawatnya. Bunda harus telaten dan sabar untuk itu. Tak elok rasanya jika bunda inginkan yang terbaik untukmu, tapi bunda sendiri enggan berjuang memantaskan diri di hadapan Allah.

Semakin bertambah usiamu nak..
Kau ajarkan ayah & bunda untuk tak lelah belajar dan memperbaiki diri. Kami pun semakin memahami bahwa dalam ikhtiar mendidikmu kunci utama yang harus selalu kami tekadkan adalah tak henti menumbuhkan kesabaran. Terimakasih nak… 🙂

Ayah & Bunda bingkis doa terindah untukmu nak,

“Rabbii hablii minash shaalihiin.”

Shalih, shalihah, kelak jadilah permata hati kami yang mencinta & dicintai Allah…