Posted on 2 Comments

Jangan Lupakan Sejarah Orang Terdekatmu!

Suatu hari kami sekeluarga mengikuti kajian Ustadz Budi Ashari. Dalam kajiannya beliau memberikan tugas kepada kami untu
k mencari tahu hasab dari keluarga kami masing-masing. Apa itu hasab?
Saat akan menikah, ada banyak sekali pertimbangan yang menjadi sebab bagi seseorang untuk memilih calon pendampingnya. Bagi umat muslim tentunya pertimbangan-pertimbangan tersebut harus tetap berada dalam koridor yang disunnahkan Rasulullah. Salah satu diantaranya adalah memperhatikan nasab dari calon pendamping. Tapi ternyata bukan hanya nasab yang harus kita perhatikan, Ustadz Budi menyampaikan bahwa disamping Nasab ada Hasab keluarga yang juga perlu kita pertimbangkan. Lho apa bedanya Nasab dan Hasab? Nasab berkenaan tentang garis keturunan atau ikatan kekeluargaan seseorang. Sementara hasab lebih dari itu, selain garis keturunan kita juga harus menelisik lebih jauh tentang sejarah keluarga kita mulai dari apa potensi yang dimiliki ayah & ibu, nenek & kakek serta buyut kita? Adakah hal baik dari mereka yang bisa kita tiru, atau adakah hal buruk yang bisa kita ambil pelajarannya agar tidak terulang dalam keluarga kita?
Setelah mendapatkan kajian tentang hasab, maka kami pun mulai mencari tahu tentang kepribadian, keahlian, serta perjalanan berkeluarga kakek, nenek, buyut, dan  orang tua kami masing-masing. Sampai kami pun menemukan suatu hal unik, ternyata ada keahlian yang mirip dari Abi dan mama mertua, sama-sama suka menulis dan dua-duanya sudah membuat buku. MasyaAllah.. kami pun tersadar bahwa potensi berkarya melalui tulisan itu juga menular dalam diri kami, anak-anaknya. Sehingga kami pun menyimpulkan bahwa garis keturunan kami memiliki potensi kebaikan di ranah kepenulisan. Kira-kira seperti itulah contoh sederhana dari hasab keluarga.
Apa manfaatnya mengetahui hasab keluarga?
Menurut Ustadz Budi, dengan memahami hasab keluarga kita sebelumnya, kita akan lebih mudah dalam memetakan kekuatan potensi keluarga  kita sendiri. Lebih jauh lagi kita pun bisa menentukan hal apa yang dapat keluarga kita kontribusikan bersama untuk kepentingan umat.
Bagi kami sendiri perjalanan mencari tahu hasab keluarga ini menjadi sesuatu yang sangat menarik, karena dengannya kami bisa kenal lebih dekat keluarga besar kami. Dengan mengetahui sejarah keluarga, kami mendapat banyak inspirasi dari hal baik yang kami temukan pada mereka, pun saat menemukan hal buruk kami menjadi  tersemangati untuk  memperbaikinya agar tidak berlanjut pada keluarga kami. Banyak sekali ibrah yang bisa kami petik dari proses ini.
Mencari tahu hasab seperti melongok sejarah keluarga kami di masa lalu, menghubungkan titik-titik yang belum terjalin dengan rapi. Sejarah yang bisa kami jadikan cermin untuk melanjutkan kebaikan yang telah diestafetkan atau membenahi apa yang perlu diperbaiki. Dan saya yakin sejarah itulah juga yang akan memberikan gambaran pada  keluarga kami untuk menapaki masa depan. Jangan pernah lupakan sejarah dari orang tedekatmu.
Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT1
Posted on Leave a comment

Rumah Impian, Dibangun dengan Keberkahan

rumah impian dibangun dengan keberkahan

Kami sering memanfaatkan saat-saat dalam perjalanan untuk menceritakan banyak hal, berbagi ide, atau sekadar berbicara hal ringan seputar keluarga kecil kami.

Suatu hari dalam perjalanan menuju rumah, kami melewati kawasan rumah elit yang desain rumahnya sangat bagus… tak ayal perbincangan kami pun menyinggung tentang rumah impian yang ingin kami bangun bersama. Obrolan pun mengalir..Desain-Rumah-Kayu-Minimalis-Modern

Kakang dengan penuh semangat menggambarkan suasana rumah yang memiliki area khusus untuk berbagi ilmu dengan warga sekitar. Saya tak kalah semangat menyampaikan tentang hunian yang ramah anak dan menjadi tempat paling nyaman bagi keluarga untuk belajar dan bertumbuh bersama. Merancang impian memang menyenangkan karena yang terbayang saat itu adalah kondisi ideal dari sesuatu yang kita harapkan, pada kenyataanya akan banyak sekali tantangan yang harus kita jalani sebelum mencapai harapan tersebut bukan?

Saat sedang seru-serunya berdiskusi, saya pun bertanya pada suami , “Bagaimana cara kita mendapatkan rumah idaman itu?” Jika diukur dengan keadaan saat ini memiliki rumah dalam waktu dekat masih menjadi sesuatu yang mustahil bagi kami, tapi siapa tahu..saya selalu meyakini akan ada campur tangan Allah yang mengiringi setiap ikhtiar kami.

“Neng, dari semua impian yang kita diskusikan tadi, ada satu hal yang harus selalu kita utamakan ya, keberkahan dari Allah. Dan kakang yakin bahwa keberkahan itu akan kita dapat salah satunya dengan berusaha melakukan cara yang benar untuk mendapatkan sesuatu. Kita harus saling menguatkan ya neng..Kakang gak mau terlibat riba saat membangun rumah kita nanti. “

“Tapi Kakang, temen ada lho yang pinjam uangnya dari bank syariah buat beli rumah, boleh ko katanya kalau dari bank syariah lebih sedikit madharatnya dibanding pinjam ke bank konvensional.” *polos 😀

“Oh gitu…Neng yang kuat aja ya doanya…mudah-mudahan Allah kasih rezeki yang cukup buat beli rumah tanpa harus meminjam ke bank.”

Jleb, jawaban suami membuat saya tercenung…teringat obrolan bersama teman yang tengah mempersiapkan suatu hal untuk membeli rumah beberapa hari lalu.

“ Kalau bukan melalui KPR, kapan kita bisa punya rumah nis? “

“Coba bayangin nis, kalau misalkan dalam sebulan kita Cuma bisa nabung 500.000, harus nunggu berapa puluh tahun lagi buat bisa beli rumah dengan cash?”

Pertanyaan itu sempat terlintas juga dalam benak saya, tapi setiap kali tanya itu terlontar, suami cepat cepat mengingatkan saya, “Kita teh sering lupa ya, ada Allah yang akan selalu menjamin kehidupan & memenuhi kebutuhan kita. Hati-hati neng, khawatir dengan berpikiran seperti itu tanpa sadar kita malah mengerdilkan kekuasaan Allah.”    Ah iyaa…matematikanya manusia itu memang terbataRumah-Idaman-Rumah-Impian-01s, padahal apa yang terlihat sulit dicapai akan terlaksana jika Allah berkehendak.

Sejak awal menikah, bukan sekali dua kali suami panjang lebar membahas tentang riba. Awalnya hanya berbagi tentang pengalaman beliau selama mengikuti training pengusaha tanpa riba, kemudian bercerita tentang bagaimana beliau dan team di perusahaannya berjuang keras agar tak sedikitpun terlibat hutang pada bank, hingga ia pun menyampaikan agar kami sama-sama berusaha menghindari riba dalam rumah tangga kami.

Saya patut bersyukur karena diingatkan langsung oleh suami mengenai bahaya riba’ ini. Kami sering membayangkan bagaimana jadinya kalau kami terlambat mengetahui ini dan terlanjur mengambil keputusan untuk mendapatkan rumah dengan jalan yang dilarang Allah? Sementara dalam rumah itu kami memiliki impian membangun generasi yang shalih & shalihah, sementara kami pun sepenuh harap meminta keberkahan dari do’a-do’a yang terlantun dalam rumah tersebut. Padahal kami tahu bahwa setiap do’a dan keberkahan terhalang oleh sesuatu yang haram yang melekat dalam diri kami.

Sejak saat itu, saya mulai mengubah sudut pandang saya tentang rumah impian. Bukan soal cepat atau lambat, bagus atau indah fisiknya… Namun tentang bagaimana agar rumah yang kami huni bisa selalu diliputi keberkahan dan dapat mengantarkan kami sekeluarga berkumpul kembali di syurga. Semoga…

Posted on Leave a comment

“Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?”

Ada satu pertanyaan menarik saat dosen menanggapi diskusi kami tentang manusia dan pemujaan. Saya lupa kronologisnya gimana, tapi tiba-tiba beliau bertanya kurang lebih seperti ini..

“Pernah terpikir gak kalau ternyata menuntut-ilmusholat kita ini beda dengan sholat yang Rasulullah lakukan? Iya beda, kita sudah terpaut terlalu jauh dengan zaman Rasulullah, sangat mungkin jika saat ini banyak praktek ibadah yang melenceng dari yang seharusnya.”Hmm, ya..saya sependapat dengan beliau. Bahkan dalam hati saya sering bertanya, “Apakah shalat saya sudah benar? Ya Allah…apakah Engkau menerima shalat saya selama ini? 😥

Pertanyaan itu terus mengusik saya hampir setiap waktu. Sampai suatu hari saya membaca nasihat bijak Nek Kiba dalam novel Amelia karya Tere Liye, meskipun ini fiksi tapi banyak ibrah yang bisa kita maknai didalamnya 🙂

Malam ini sepertinya Nek Kiba tidak akan bercerita tentang kisah Nabi atau para sahabat. Nek Kiba meluruskan kakinya. Meletakkan batang rotan. Bercakap santai tentang hal lain.

“Anak-anak, dalam agama kita, penting sekali melakukan sesuatu dengan ilmu. “ suara Nek Kiba terdengar lantang, mengisi langit-langit ruangan, memulai nasihatnya.

“Seseorang yang mengerjakan amal tapi dia tidak tahu tujuannya, tidak paham ilmunya, maka itu ibarat anak kecil yang disuruh mendirikan rumah. Tak tegak tiangnya. Tak kokoh dindingnya. Jangan tanya daun pintu, jendela, dan atapnya, sia-sia belaka.Semua orang dituntut untuk belajar, mempelajari apapun yang diperintahkan agama ini. Termasuk mempelajari ilmu yang tidak segera diamalkan. Naik haji misalnya, meskipun tak satu pun penduduk di kampong ini yang mampu naik haji, jangan tanya kapan akan berangkat, termimpikan pun tidak, tetap saja mempelajari ilmu naik haji jelas penting.”

“Lantas, apa itu yang disebut ilmu? Mudah saja. Ilmu adalah yang mendasari sebuah perbuatan ,dalil. Ilmu adalah yang menjelaskan secara benar kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Baik yang ditulis diatas kertas maupun yang disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Baik yang dikuasai oleh satu dua orang tertentu, apalagi yang diketahui banyak orang.:

Kami menatap wajah tua Nek Kiba yang terlihat semangat menjelaskan.

“Dalam kitab suci, jelas perintah soal ilmu ini. Ketika seseorang tidak mengetahui sebuah urusan, tidak paham, tidak mengerti maka bergegaslah bertanya pada orang yang tahu ilmunya. Jangan malas, jangan keras kepala, jangan bebal, apalagi hingga sok tahu mengerjakan sesuai pemahaman diri sendiri. Itu bisa jadi kekeliruan besar. Apa susahnya bertanya? Bukankah jika kita tidak tah ujalan, bertanya pada yang tahu mencegah kita tersesat. Jika kita tidak mengerti menghadapi binatang buas, bertanya mencegah kita diterkam. Bertanyalah, kalaupun kita sudah tahu, itu akan membuat kita lebih yakin lagi.

“Maka semua orang harus, menuntut ilmu adalah perintah agama. Kenapa kita shalat? Kenapa kita puasa? Semua orang harus tahu ilmunya. Tidak pantas seseorang saat ditanya kenapa ia shalat? Dia menjawabnya ikut-ikutan. Padahal dia sudah shalat beribu-ribu kali. Hanya ikut. Karena menirun semata. Iya Pukat, ada apa? Kau hendak bertanya?”

Kami menoleh ke arah Kak Pukat. Aku menghembuskan napas pelan. Aduh, kenapa pula Kak Pukat harus memotong kalimat Nek Kiba dengan mengacungkan jari?

“ Tetapi, nek, bukankah kami memang disuruh ikut saja orang tua saat sholat dan puasa? Mencontoh saja. “ Kak Pukat bertanya serius.

“Karena kalian masih anak-anak.” Nek Kiba menjawab takzim. “Maka kalian boleh mencontoh. Tapi dengan bertambahnya usia kalian, hukum menuntut ilmu itu jatuhpada kalian. Tidak ada alasan lagi. Beruntunglah yang sejak kecil sudah rajin membaca buku, sudah gemar mendengar nasihat-nasihat dari orang berilmu, maka dia mengerti lebih awal penjelasannya. Semoga itu akan terbawa hingga dewasa. Paham?”

(Novel AMELIA halaman 321-323, Tere Liye)

Kutipan Nasihat Nek Kiba diatas mengingatkan saya tentang pentingnya ilmu sebelum amal, dengannya bertambahlah iman kita dan hilanglah keraguan kita dalam menjalankan suatu perbuatan. Kita tidak pernah melihat langsung bagaimana Rasulullah mendirikan shalat ataupun amalan lainnya, tapi kita patut bersyukur karena para shahabat dan ulama telah banyak mewariskan ilmu yang akan memandu kita untuk mengamalkan apa yang telah Rasulullah teladankan.

Sekarang saya sudah menjadi orang tua, mungkin kelak akan tiba masanya Naira bertanya, “Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?” Menjawab pertanyaan anak dengan ilmu dan keimanan yang kokoh menjadi PR terbesar bagi saya dan suami. Karena jawaban itu bukan hanya terkait benar atau salah, tapi menjadi sebab diterima atau tidaknya amalan Naira disisi Allah kelak.. Apa yang harus kami usahakan sudah jelas yaitu giat membekali diri dengan ilmu dan meningkatkan kualitas amalan dengan ilmu yang dimiliki  semata meraih ridhaNya. Semoga Allah bimbing selalu…