Posted on Leave a comment

Hati-hati! Jangan ta’aruf Kalau Belum Menyiapkan Pertanyaan Pamungkas ini

Belakangan ini ramai para pemuda-i yang melakukan proses ta’aruf sebagai bentuk ikhtiar mendapatkan pasangan hidup yang diidam-idamkan. Sebagai pelaku proses ta’aruf, teman-temanku (terlebih yang akan menikah) sering bertanya-tanya kepadaku tentang hal-hal penting yang akan perlu dilakukan saat melakukan ta’aruf. Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah,

Gimana caranya kita bisa tau kalo dia emang 'tepat' buat jadi pendamping hidup kita?

Wajar sih. Namanya juga kita ga pengen salah pilih pasangan kan? Menikah itu kan diusahakan seumur hidup sekali. Jadi memang kita perlu mastiin kalo dia emang pasangan yang paling tepat untuk menemani hidup kita. Aku garis bawahi paling tepat ya, bukan paling pas. Karena namanya pasangan ga mungkin ada yang 100% pas. Bagi yang udah nikah pasti ngerti, namanya pasangan pasti ada aja ‘ga pas’ nya.

Nah balik lagi ke pertanyaan tadi: jadi gimana cara nyari tau kalo emang doi itu tepat menjadi teman hidup kita? Setiap orang pasti punya caranya masing-masing untuk mengenal calon pendamping hidupnya. Apapun caranya, yang jelas ga ada satu cara yang pasti ampuh untuk semua orang. Dari pengalamanku pake proses ta’aruf sebelum nikah, ini langkah-langkah yang aku lakuin untuk mastiin bahwa aku ga salah pilih. Mungkin bisa jadi referensi buat kamu yang lagi (mau) jalanin ta’aruf sama calon suami/istri kamu.

Apa jadinya kalo temen kamu atau sodara kamu ngelakuin sesuatu yang bertentangan sama prinsip kamu? Misalkan kamu orang yang punya prinsip orangtua nomer satu. Tapi ternyata temen kamu ngelecehin orangtua kamu di depan kamu. Rasanya gimana? pasti kesel banget sama orang itu kan?

Nah, bayangin kalo kamu ngadepin kondisi yang kayak gitu tiap hari. Pasti super duper ga nyaman, bawannya pasti kesel dan rasanya pengen buang orang itu jauh-jauh. 
Itu kira-kira yang bakalan terjadi kalo kamu nikah sama orang yang beda prinsip sama kamu. Makanya penting banget sebelum kamu ta’aruf, kamu tentuin hal-hal apa yang paling prinsip bagi kamu dalam memilih pasangan.

Contohnya aja nih. Istriku tuh punya prinsip yang namanya laki-laki harus bisa jadi imam (pemimpin) di keluarga yang bakalan membimbing keluarga ke surga bersama-sama. Indikator paling sederhananya adalah suaminya kelak harus bisa ngaji. Jadi kalo misalnya ga bisa ngaji, ya udah, pasti lewat. Ga lolos sebagai calon suami.

Contoh lain. Aku punya prinsip, bahwa yang namanya istri itu sudah selayaknya membersamai suami dalam mendidik anak-anak, apapun karier profesional yang dia pilih. Jadi kalo calon pasangan hidupku ga punya orientasi mendidik anak, pasti aku tolak sebagai calon istri.

Setelah kamu tau apa aja hal-hal yang prinsip banget buat diri kamu, kamu bisa lanjutin dengan nentuin hal-hal yang menurut kamu bisa kamu tolerir. Gampangnya nih, kalo misalnya calon istri kamu/suami kamu perilakunya atau kondisinya kayak gitu kamu masih bisa mentolerir.

Yang paling gampang adalah, semua hal di luar yang prinsip itu artinya bisa kamu tolerir. Kayak contohnya untuk pengalamanku waktu ta’aruf dulu. Aku ngeliat istriku orangnya natural banget (ga pake make up). Memang jarang bersolek, pakaiannya sederhana. Bagiku itu bukan hal yang prinsip. Soalnya menurutku itu cuma soal kebiasaan aja. Jadi bisa banget dilatih. Karena menurutku itu bukan masalah, ya udah aku go aja sama dia. 

Biasanya hal-hal yang bisa ditolerir ini bisa kamu cari tau selama kamu proses ta’aruf sama dia. Misalnya dari interaksi kamu selama ta’aruf kamu kan bisa liat kebiasaan dia, cara dia bicara, pola pikir dia, kondisi ekonomi dia, kondisi sosial dia dsb. Terus dari semua yang kamu tau itu kamu bisa filter mana yang prinsip buat kamu, mana yang bisa ditolerir.

Kalo kamu udah pastiin hal-hal yang prinsipil dan yang bisa ditolerir atas calon pasangan hidup kamu, berarti kamu udah siap ke tahapan yang paling kongkrit: Ajukan pertanyaan pamungkas.

Apa itu pertanyaan pamungkas?
Gampangnya pertanyaan pamungkas itu pertanyaan yang bakalan kamu ajuin ke calon pasangan kamu yang jawabannya bisa bantu kamu menilai: nih orang sejalan atau melanggar prinsip-prinsip yang aku punya?

Contohnya gini. Di bagian satu tadi aku nyampein kalo hal yang prinsip bagi istriku pas milih suami waktu itu adalah: suamiku harus bisa ngaji. Jadi akhirnya waktu ta’aruf, doi minta aku ngaji sebelum sesi ta’arufnya dimulai. 

Contoh lainnya. Berhubung hal yang prinsip bagiku adalah istriku harus memprioritaskan pendidikan anak-anak di atas kepentingan karier profesionalnya. Jadi akhirnya aku ajuin pertanyaan ke istriku waktu ta’aruf dulu. Kira-kira gini pertanyaannya:

“Nanti kalau sudah menikah, gimana rencana pengembangan karier kamu?”

Dan ternyata doi ngejawab, “Setelah menikah saya ingin menyelesaikan kuliah (waktu itu doi emang aku nikahin pas jaman kuliah). Setelah lulus ingin fokus mendidik anak-anak. Dan kalau usia anak-anak sudah cukup mandiri barulah saya mau mengembangkan karier di luar rumah.”

Dari jawaban itu aku langsung sreg. Karena emang dalam prinsipku, istri perlu membersamai suami mendidik anak-anak di rumah.

Nah itu dia 3 langkah yang aku lakukan waktu aku ta’aruf sama istriku dulu. Berdasarkan hal-hal yang prinsipil tadi, aku akhirnya merumuskan 5 pertanyaan pamungkas yang semuanya aku ajuin waktu proses ta’aruf sama istriku.

Alhamdulillah, 4 dari 5 pertanyaan pamungkas itu jawabannya sejalan banget sama hal-hal prinsipil yang aku pegang. Itulah yang membuat aku akhirnya yakin memilih dia sebagai pendamping hidupku. Setelah pertemuan ta’aruf pertama dan beberapa minggu interaksi aku jadi semakin yakin dengan pilihan yang akan aku buat. Memang sih dari ta’aruf itu aku akhirnya bisa lebih mengenali dia. Ada beberapa hal yang sebenernya emang ga sesuai ekspektasiku. Tapi berhubung hal-hal itu termasuk yang bisa aku tolerir (bukan prinsip) jadi akhirnya aku tetep memilih dia.

Atas izin Allah, selama 8 tahun kami menjalani rumah tangga ga ada pertikaian besar yang terjadi. Ga konflik yang terjadi karena hal yang prinsipil bagi kami berdua. Yang aku yakini, ini bisa terjadi karena kami sudah mengenal dan sepaat terlebih dahulu di awal tentang hal-hal yang prinsip dan hal-hal yang bisa ditolerir satu sama lain. 

Selamat mencoba, selamat menyelami diri sendiri dan calon suami/istri. Semoga mendapatkan pasangan yang tepat, yang mendukung visi dan misi kehidupan kita.

Posted on Leave a comment

Printable GRATIS : “Allah Ciptakan Diriku”

Assalamualaikum ayah bunda…

Adakah yang anak-anaknya mulai merasa jenuh belajar di rumah? Udah baca banyak buku masih bosen juga, coba crafting masih gak semangat juga, mau outing khawatir. Duh, serba salah ya 😅

Gak dipungkiri, 3 bulan belajar di rumah itu ternyata penuh perjuangan yaa buibuu 😄 Apalagi buat anak usia TK yang rentang konsentrasinya relatif masih pendek dan mudah bosan. Harus puter otak banget cari cara biar mereka gak jenuh. Iya gak?

Sama, kami di rumah juga gitu. Biasanya paling nggak dua minggu sekali kami main agak jauhan dari rumah buat variasi aktivitas, sekarang gak bisa 😆

Nah, ceritanya pekan lalu Naira mulai bosaaan, tapi dia mencoba tetap beraktivitas di rumah sambil minta dicariin printable yang isinya tentang identitas diri. Cari kesana kemari banyaknya cuma sekedar ngisi pertanyaan aja.

Saya pikir ko sayang ya, padahal ada banyak bgt hal baik yang bisa jadi bahan diskusi dari tema ini. Tentang Allah, syukur, tujuan dan hikmah penciptaan diri.

Akhirnya coba bikin sendiri. Meskipun dengan kemampuan alakadarnya, tapi isinya dibuat dengan sepenuh hati 😄

InsyaAllah di printable ini ada sedikit cerita yang mengajak anak untuk lebih mensyukuri dirinya, ayat yang berkaitan dengan penciptaan diri, mengisi identitas diri, dll.

Oya, printable ini sengaja saya buat dua versi, untuk laki-laki dan perempuan, biar ceritanya lebih mudah diterima anak.

Silakan download dan share kalau dirasa manfaat yaa. Semoga bisa menemani akhir pekan bersama anak di rumah. Semangat buibu semua 🤗

Posted on Leave a comment

Belajar Pendidikan Anak Usia Dini dari Finlandia

Di tahun 2019 lalu, Finlandia memperoleh index Worldwide Educating for the Future Index terbaik di dunia. Sederhananya dapat dikatakan bahwa secara sistemik pendidikan di Finlandia membantu setiap anak untuk siap menghadapi masa depan.

Menariknya, sistem pendidikan ini dimulai dari anak usia dini.

Bagaimana pendidikan anak usia dini di Finlandia? Pada tanggal 17 Februari lalu Educa Familia mengadakan EduChat – belajar lewat obrolan bersama bunda Nurfiitriani, seorang ibu rumah tangga sekaligus co founder sainspop yg tinggal di Finlandia selama beberapa tahun.

Kita banyak belajar tentang bagaimana peran pemerintah dalam pendidikan anak usia dini di Finlandia. Kita juga jadi banyak tahu bagaimana pola pengasuhan orang Finlandia terhadap anak-anaknya yang masih balita.

Bagi Anda yang belum sempat ikut diskusinya, silakan unduh materi diskusi dengan cara klik tombol berikut ini ya.

Sampai jumpa di Edu Chat berikutnya!

Posted on Leave a comment

Mengenalkan Emosi dengan Playdough Wajah

Tujuan aktivitas:

  • Mengenal berbagai emosi yang dirasakan
  • Mengetahui cara mengekspresikan emosi yang dirasakan
  • Melatih motorik halus anak melalui media yang dibuat.

Bahan yang digunakan:

  • Kertas bergambar wajah polos (tanpa mata, hidung, bibir, telinga)
  • Kartu bergambat ekspresi wajah senanh, sedih, kecewa, dll
  • Plqydough

Tahapan aktivitas:

  • Ajak anak untuk berdiskusi tentang perasaannya. Pagi ini apa yang sedang ia rasakan?
  • Tunjukkan kartu bergambar ekspresi wajah dan beri pemahaman kalau ekspresi wajah itu macam2 dan biasanya menunjukkan apa yang seseorang rasakan.
  • Arahkan anak untuk membuat ekspresi wajah dalam kertas bergambar wajah polos dengan bantuan playdough.”
Posted on Leave a comment

Mengenalkan Warna dengan Cap Tangan Berwarna

Usia Anak: 2 tahun

Tujuan belajar:
Melatih kemampuan motorik halus, melatih kemampuan mengenal warna


Tahapan belajar:

  1. Siapkan cat warna (merek apapun)
  2. Pilih 3 warna yang diinginkan anak
  3. Oleskan cat warna (boleh 1 warna, boleh campur beberapa warna) ke tangan kanan
  4. Pastikan seluruh bagian telapak tangan telah diolesi cat warna
  5. Tempelkan tangan yang sudah diolesi cat warna ke kertas kosong
  6. Lakukan untuk variasi warna yang lain

Posted on Leave a comment

Belajar Seru Konsep Udara dengan Roket Balon

Tujuan Belajar:
Mengenalkan konsep udara ke anak balita (usia 5 tahun)

Bahan yang diperlukan : ⁣
– Balon⁣
-sedotan Panjang⁣
-gambar roket⁣
-benang Kasur⁣
– lakban ⁣

Tahapan aktivitas :⁣
– Ikatkan salah satu ujung benang ke benda pengait ⁣
– Masukkan benang ke dalam sedotan⁣
– Bentangkan benang hingga jarak antara 3-5 meter⁣
– Bentangkan benang sehingga benang tidak kendur⁣
– Ikatkan ujung benang satunya ke benda pengait lainnya ⁣
– Tiup balon hingga cukup besar, lalu ikat dengan ikatan yang mudah dilepas⁣
– Rekatkan balon ke sedotan menggunakan selotip⁣
– Rekatkan roket ke salah satu sisi kanan/kiri balon
– Buka ikatan dan amati roket yang meluncur akibat gaya dorong dari balon⁣. ⁣

Posted on Leave a comment

Belajar Melestarikan Alam Di Jendela Alam Bandung

Sebagai keluarga homeschooler, belajar di luar rumah adalah salah satu agenda yang wajib dilakukan. Setiap bulan, kami memiliki agenda #EduTrip ,agenda belajar melalui perjalanan.

Kebetulan tema belajar naira bulan ini tentang hewan. Jadi, kami putuskan untuk mengadakan #EduTrip ke Jendela Alam, Bandung. Ada apa aja disana dan bagaimana naira belajar di sana? simak selengkapnya di video ini yuk!

Posted on Leave a comment

Science Play Day #2: MEJIKIMIA

Tahu ga sih?
Ternyata dengan menggunakan beberapa bahan kimia alami yang ada pada tanaman, kita bisa bermain sulap warna-warni lho! 😱

Yuk, ajak si kecil bermain sulap warna bersama Educa Familia di acara
Science Play Day #2: MEJIKIMIA

Catat waktu dan tempat nya ya!
🗓 Minggu, 24 November 2019
⏰ 09.30 s/d 11.30 WIB
📍Ruang Baca The Green City View. Jl Jatihandap KM 01, Kec. Mandalajati. htpp://bit.ly/PerpustakaanGCV

Perlengkapan yang dibawa:

– gelas plastik bening 3 buah

– palet cat air berwarna putih/bening

– snack dan tumblr untuk minum

informasi Pendaftaran

– Diperuntukkan untuk anak usia 5-10 tahun

– Harga tiket masuk Rp 15.000 (sudah termasuk kit eksperimen)

Yuk, rasakan keseruan belajar sains dengan aktivitas yang seru dan menyenangkan bersama Educa Familia.

Klik http://bit.ly/DaftarPlayDayEducaFamilia untuk mendaftar sekarang juga.
Terbatas untuk 25 pendaftar pertama!

Posted on 1 Comment

Anti Bosan Belajar Hijaiyah dengan Printable Eskrim Hijaiyah

“Nairaaa, kita baca iqro yuk!” pekik bunda.
“Gak mau ah bunda, Naira mau main aja!” Naira menjawab dengan tidak semangat.

Familiar dengan situasi ini, bun? Jangan khawatir, bunda tidak sendiri. Hehe 😊

Mengenalkan huruf-huruf Alquran pada anak usia dini memang punya tantangan tersendiri. Selain karena rentang konsentrasi anak yang masih pendek, anak juga cenderung lebih mudah jenuh saat belajar. Sehingga kita juga diharapkan bisa membuat media belajar yang kreatif untuk menarik perhatian dan memastikan si kecil tidak mudah jenuh dalam prosesnya.

Meskipun mengajarkan huruf hijaiyah sejak dini masih menuai pro dan kontra di tengah masyarakat, tapi saya meyakini bahwa tidak masalah mengenalkan huruf hijaiyah pada anak selagi kita tetap memerhatikan cara belajar yang sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya.

Saya mengenalkan Naira dengan huruf hijaiyah sejak masih bayi. Saat itu tidak ada ekspektasi apa-apa kecuali ingin Naira lebih banyak terpapar dengan huruf Alquran.

Media yang dibuat sebagian besar membuat sendiri dari bahan-bahan yang mudah didapatkan. Contohnya, saya membuat poster hijaiyah dengan warna-warna high contrast untuk merangsang penglihatan bayi. Lalu saya buat kartu hijaiyah bertekstur untuk stimulasi indera perabanya, dan yang lainnya. InsyaAllah DIY media belajar hijaiyah yang pernah saya buat akan saya ulas di tulisan yang lain ya supaya lebih jelas.

Nah, semakin besar Naira, adakalanya dia menolak untuk belajar hijaiyah. Sempat waktu itu saya kebingungan karena Naira mandeg baca iqro sampai 2 pekan. Saya paham, mungkin Naira bosan dengan cara belajarnya selama ini. Tapi kalau dibiarkan kok sayang ya, khawatir malah berhenti dan hilang semangatnya. Akhirnya saya dan ayahnya cari cara supaya Naira mau belajar iqro lagi.

Terpikirlah untuk membuat printable Eskrim hijaiyah ini. Alhamdulillah, ternyata ampuh untuk mengatasi kejenuhan Naira saat itu. Menariknya dari printable ini ayah bunda bisa membuat banyak variasi belajar hijaiyah yang sesuai dengan usia dan ketertarikan anak.

Ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan menggunakan printable hijaiyah ini, seperti berikut ini:

Membuat poster hijaiyah.

Anda bisa mengajak anak-anak untuk menempelkan es krim hijaiyah di dinding dan membentuknya menjadi seperti sebuah poster. Melalui aktivitas ini kemampuan anak menyusun benda secara rapi jadi terlatih.

Menara Es Krim Hijaiyah

Ajaklah anak Anda menyusun es krim secara bertumpuk tumpuk hingga berbentuk seperti menara. Saat melakukan aktivitas ini naira sangat antusias. Sepertinya ia membayangkan benar-benar ada es krim setinggi itu untuk bisa dimakan.

Mengelompokkan eskrim hijaiyah sesuai warnanya

Pada tahap perkembangan anak usia 2 tahun, mereka sedang belajar untuk mengenali warna dan belajar untuk mengelompokkan benda berdasarkan warna. Jadi aktivitas ini akan membantu mereka mencapai tahap tumbuh kembangnya.

Menyusun eskrim hijaiyah sesuai urutan pola warnanya

Jika anak sudah mulai terbiasa mengelompokkan benda dengan warna yang sama, cobalah memberikan tantangan pada anak agar mereka menyusun es krim hijaiyah dengan pola warna tertentu. Misalnya pink – hijau – biru atau kombinasi warna lainnya.

Printable hijaiyah ini sengaja saya buat tanpa harakat agar bisa menjangkau lebih banyak usia untuk memanfaatkannya. Jadi silahkan ayah bunda memberi harakat sendiri sesuai kemampuan anaknya ya.

Selamat mencoba Printable Eskrim Hijaiyah di rumah bersama anak tercinta. Jangan lupa share pengalamannya di kolom komentar atau di instagram dengan menandai akun @educafamilia yaa. 

Semangat belajar berkarya bersama.

Posted on Leave a comment

TPN: Momentum Belajar dan Refleksi Diri Tahunan

Tak terasa ini adalah kali kelima aku mengikuti TPN; Temu Pendidik Nusantara. Mulai dari tahun 2015 hingga 2019. Ada banyak momen istimewa yang terjadi dari tahun ke tahun.

4 Tahun Pertama Sebagai Pembicara TPN

Tergerak semangat untuk belajar aku mengawali keikutsertaan ku di TPN 2015 dengan menjadi pembicara. Sebuah langkah awal yang nekat. Bagaimana tidak? Pengalaman jadi guru baru seupil tapi nekat menerima tantangan jadi pembicara kelas kemerdekaan. Modalnya hanya keinginan belajar menyampaikan gagasan dan berbagi pengalaman belajar. Saat itu temanya tentang melakukan gamifikasi dalam proses belajar. 

 

Di tahun berikutnya, aku memberanikan diri (lagi) untuk tantangan yang lebih besar: menjadi pembicara kelas kompetensi. Durasi lebih panjang dengan luaran yang lebih menantang: menumbuhkan suatu kompetensi pada peserta. Aku masih ingat betul, saat itu aku memfasilitasi kelas kompetensi tentang cara menumbuhkan kreativitas dalam proses pembelajaran. Sekali lagi, ini kenekatan kedua sejak tahun sebelumnya. Guru bawang tapi nekat memfasilitasi proses belajar para guru. Dorongannya? Masih sama..ingin belajar memfasilitasi proses belajar yang lebih kompleks. Oh iya, omong omong di kelas ini aku bertemu dengan sosok guru inspiratif dari Pekalongan: pak Nuno.

TPN 2017. Aku turut serta lagi. Namun kali ini aku ingin mendapatkan pengalaman yang berbeda. Aku memilih untuk menjadi peserta di kelas kompetensi, kolaborasi dan karier. Kelas kemerdekaan? Aku ikut terlibat sebagai pembicara. Di tahun ini malahan aku satu kelas bersama pak Nuno, sama sama sebagai pembicara. Dengan topik yang sama: gamifikasi dalam pembelajaran.

Di tahun keempat keikutsertaan ku, aku mengikuti TPN. Lagi lagi, berbekal pengalaman menciptakan 11 permainan untuk mendukung pembelajaran, aku tertantang untuk mengajak teman-teman guru belajar bersama bagaimana caranya menciptakan permainan. 

Akhirnya di TPN 2018 Aku mendaftarkan diri sebagai pembicara di kelas kompetensi. Kali ini aku tidak sendirian. Aku berkolaborasi dengan sosok guru yang kutemui 2 tahun sebelumnya: pak Nuno. Kami berdua memandu kelas bersama-sama. Dua duanya sama sama nekat. Kami tidak tahu bagaimana caranya merancang program pelatihan saat itu. Yang kami tahu, kami ingin belajar bersama-sama guru keren dari berbagi penjuru di indonesia melalui kelas kompetensi.

TPN 2019

Tahun berganti, hingga akhirnya Oktober 2019 datang. Itu artinya kesempatan besar untuk belajar dan melakukan refleksi telah tiba. Di tahun ini aku berkesempatan menjadi narasumber untuk 2 kelas yang paling menantang: kelas kompetensi dan kelas karier. 

 Kelas kompetensi nya sangat menantang. Karena aku harus memfasilitasi proses belajar selama 6 jam! Sendirian. Topik bahasannya pun adalah topik yang sangat berbeda dibandingkan tahun tahun sebelumnya. Di tahun ini aku membawakan modul merancang program blended learning. Padahal kalau dipikir-pikir, aku hanya menerapkan sistem blended learning untuk 1 program pembelajaran saja. Terlebih di tahun ini, aku mengompori para guru untuk menjadi pelatih melalui program pelatihan yang kurancang bersama teman-teman di @sekolah.mu. Hmmm… Nekat memang…

 

Dua Pelajaran Berharga

Dari perjalanan dan pengalaman belajar bersama 5 tahun terkahir bersama para guru inspiratif dari berbagai daerah di Indonesia ini aku belajar 2 hal penting. 

Pertama. Nekat itu terkadang diperlukan. Memberanikan diri untuk mengambil sebuah tantangan seringkali dibutuhkan jika kita ingin belajar dengan lebih cepat dan optimal. Dalam beragam cara, tantangan yang diambil sepenuh hati, dengan penuh kesadaran membuat kita mau tidak mau melecut diri untuk menembus batas diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Nekat itu terkadang diperlukan. Memberanikan diri untuk mengambil sebuah tantangan seringkali dibutuhkan jika kita ingin belajar dengan lebih cepat dan optimal.
Pak Aye
Guru Pelatih

Saya membayangkan… Seandainya dulu saat TPN pertama saya enggan mengambil tantangan untuk belajar, untuk berbagi, untuk berkontribusi terhadap pendidikan di indonesia, maka saya curiga, saya tidak akan mendapatkan pencapaian seperti saat ini. 
Berkaca dari pengalaman ini, ada banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan, ada beragam keterampilan baru yang saya pelajari, ada kompetensi tertentu yang saya tumbuhkan. Tidak cuma itu. Jejaring saya bertambah luas, peluang melakukan kolaborasi dengan lebih banyak pihak terbuka lebar secara signifikan. Dan semua itu mengakselerasi pertumbuhan karir saya sebagai pendidik.

Hal kedua yang saya pelajari dari pengalaman 5 kali mengikuti tpn adalah pentingnya menentukan momen refleksi secara berkala. Dan periode itu perlu dibentuk dari sebuah momentum. Secara tidak sadar, saya telah membuat TPN sebagai momentum melakukan refleksi. Refleksi atas proses belajar yang dialami. Refleksi terhadap pencapaian yang sudah dibuat.

Semua poin pembelajaran yang saya tuliskan di bagian pertama adalah bagian dari hasil refleksi yang kita lakukan. 

Sebagai insan pembelajar, momentum untuk refleksi ini perlu kita tetapkan. Tanpa adanya momentum, tanpa adanya checkpoint, proses belajar kita jadi rentan kehilangan arah. Refleksi yang dilakukan dengan tepat akan membantu kita untuk mengukur proses belajar yang sedang kita jalani. 

Sudah sejauh mana kita belajar? Sudah tepatkah cara belajar kita? Apa yang sudah kita pelajari? Apa proses bekajar berikutnya yang akan kita pilih? Bagaimana kita menilai keberhasilan proses belajar yang sudah kita lewati? 

Saat proses refleksi, bombardir diri kita dengan beragam pertanyaan yang membantu kita menilai diri sendiri dengan lebih jernih, lebih terbuka. Meskipun memang terkadang jawabannya terasa menyakitkan bagi diri sendiri, tak masalah. Justru ketika kita berhasil menerima diri kita, dengan pencapaian proses belajar yang kita lalui, kita bisa lebih banyak belajar.

Hal kedua yang saya pelajari dari pengalaman 5 kali mengikuti tpn adalah pentingnya menentukan momen refleksi secara berkala. 
Pak Aye
Guru Pelatih

Kesimpulannya?

Nekat itu terkadang perlu. Berani mengambil tantangan adalah pilihan yang bisa kita ambil jika kita ingin mengakselerasi proses belajar yang kita lakukan. Dan untuk mengoptimalkan proses belajar itu, kita perlu melakukan refleksi secara berkala.
.
Jadi, apa hasil refleksimu setelah belajar di TPN selama ini? Apa pembelajaran yang didapatkan? Apa langkah yang ingin dilakukan berikutnya?
.
Yuk, ambil tantangan dengan membagikan hasil refleksimu di kolom komentar.
Posted on Leave a comment

6 Aktivitas Seru Mengenalkan Matahari pada Anak

Terkadang mengenalkan sesuatu yang sifatnya konsep pada anak cukup menantang. Mengenalkan konsep matahari misalnya. Kita perlu mengenalkan matahari dengan beragam aktivitas yang dapat memicu rasa ingin tahu dan melatih kemampuan nalar mereka. 

Berikut ini adalah 6 aktivitas yang kami lakukan untuk mengenalkan matahari pada naira dan nizar.

Aktivitas 1 : Read Aloud QS Asy-Syams ayat 1

Saya biasa mengawali aktivitas pekanan Naira dengan membacakan ayat yang berkaitan dengan tema aktivitas. Salah satu buku rujukan yang dipakai saat ini adalah Juz Amma sains. Kali ini Naira belajar tentang matahari dan saya membacakan nyaring ayat dan terjemah QS Asy-Syams ayat 1 dari buku juz Amma sains. Dalam buku ini disertakan juga tulisan yang berkaitan dengan ayat untuk digali makna dan hikmahnya bersama anak.

 

Apakah Naira disuruh menghafal ayatnya? Ngga kok. Yang saya utamakan saat ini adalah Naira memahami bahwa apa yang tertulis dalam Alquran itu dekat dengan kehidupannya.
Bunda Nisa
Pendidik

Setelah membacakan , saya mengajak Naira untuk berdiskusi tentang kira-kira kenapa ya Allah ciptakan matahari? 
Naira bilang kalau gak ada matahari maka Naira dan Nizar gak bisa main dengan leluasa karena gelap (Jawaban khas anak-anak banget 😆), terus jemuran bunda susah keringnya.

Nah, lalu diskusi dilanjut dengan pertanyaan, gimana ya kalau jarak matahari itu sangat dekat dengan bumi? Atau sebaliknya, jarak matahari terlalu jauh dengan bumi? Apa yang akan terjadi?

Dari pertanyaan diatas sebenarnya bunda ingin menegaskan sama Naira kalau Allah memiliki nama Al-Muhaimin yaitu Yang Maha Mengatur. Allah atur matahari di jarak yang sangat tepat, tidak terlalu dekat dengan bumi sehingga makhluk Allah di bumi tidak meleleh karena kepanasan. Sebaliknya Allah atur jarak matahari tidak terlalu jauh dengan bumi, agar makhluk Allah di bumi tidak mengalami kedinginan. Maka diciptakannya matahari adalah salah satu bukti kasih sayang Allah untuk makhlukNya.

Aktivitas 2 : Menggambar bayangan

Tujuan dari aktivitas ini adalah untuk mengenalkan salah satu sifat matahari yaitu memancarkan sinar.

Bahan yang diperlukan :
  • Mainan anak (saya pakai hewan2 dan Lego)
  • kertas HVS dan spidol
  • Tempat yang terkena paparan cahaya matahari
  • meja untuk alas menggambar

 

Tahapan aktivitas :

  1. Ajak anak untuk bermain diluar rumah
  2. Letakkan meja di tempat yang terkena sinar matahari (saran : lakukan aktivitas di pagi hari)
  3. Simpan kertas HVS diatas meja, lalu letakkan mainan hewan diatas kertas dengan posisi berdiri.
  4. Saat bayangan muncul, jelaskan pada anak bahwa bayangan terjadi karena ada sinar matahari.
  5. Ajak anak untuk menggambar bayangan yang ada di kertas HVS.
  6. Warnai hasil menggambar sesuai kreativitas anak.

Aktivitas 3 : Menanam tumbuhan

Kali ini Naira belajar tentang salah satu manfaat sinar matahari yaitu membantu tanaman untuk tumbuh. Kalau mau lebih kompleks sih bisa sekalian mengenalkan proses fotosintesis. Tapi untuk usia Naira yang masih kurang dari 6 tahun, saya pikir belum perlu belajar fotosintesis.

Tujuan dari aktivitas ini adalah untuk memberitahu pada Naira bahwa Allah Al-Khaliq telah menciptakan matahari untuk membantu tanaman tumbuh besar lewat sinarnya. Selain itu Naira juga belajar mengamati bahwa untuk menjadi besar tanaman itu tidak sekaligus dan perlu melewati proses seperti mendapat sinar matahari dan disiram air. Sama seperti Naira dan adik-adik yang sekarang masih kecil, suatu saat Allah akan tumbuhkan Naira menjadi dewasa, badannya lebih tinggi dan lebih besar dari sekarang. Tapi untuk jadi tinggi Allah ingin Naira makan makanan yang bergizi supaya sehat, seperti tanaman yang perlu air dan sinar matahari untuk tumbuh. (Lha kok jadi nyambung kesini 😅)

Dari aktivitas ini Naira juga berlatih sabar dengan berusaha menyiram tanaman setiap pagi.

Bahan yang diperlukan :

-Kacang hijau
-Kapas
-2 wadah yang agak tinggi (bisa dengan Aqua gelas)
-air

Tahapan aktivitas :

1. Basahi beberapa kapas dengan air lalu masukkan ke wadah, kapas digunakan sebagai media tanam ya jadi gak perlu banyak-banyak.
2. Simpan 5-1 biji kacang di setiap wadah.
3. Simpan wadah yang berisi biji kacang hijau di tempat yang berbeda, satu di tempat yang terkena sinar matahari, satu lagi di tempat yang gelap.
4. Arahkan anak untuk menyiram tanaman setiap pagi.
5. Ajak anak untuk mengamati apa yang terjadi dengan biji kacang di wadah yang berbeda tempat. Adakah yang berbeda?
6. Diskusikan hasil pengamatan dengan anak. Ingat, penjelasan harus disesuaikan dengan usia anak yan bunda 😊

Aktivitas 4 : Membuat paper blooming sunflower

Ide ini sebetulnya spontan. Hehe. Tapi ternyata Naira terpesona banget pas lihat bunganya mekar di air. Tujuannya sih untuk melatih otot-otot tangan dengan menggunting dan melipat. Naira lumayan anteng pas diajak bikin ini. Boleh banget dicoba bareng anak-anak di rumah..

Bahan yang diperlukan :
  • Gambar bunga matahari / matahari
  • Gunting
  • Air
  • Wadah untuk menampung air
Tahapan aktivitas :
  1. Arahkan anak untuk menggunting gambar matahari yang sudah disediakan
  2. Lipat bagian sisi bunga ke arah tengah (cara melipat lihat di lampiran gambar)
  3. Lalu siapkan air dalam wadah
  4. Letakkan bunga yang sudah dilipat di air, dengan posisi lipatan bunga ada diatas.
  5. Maka akan terlihat bunga matahari yang sedang mekar.

Aktivitas 5 : Mencocokkan huruf besar dan kecil

Belakangan ini Naira lagi senang banget menulis. Tapi dia masih suka bingung menentukan mana huruf besar dan huruf kecil. Nah kemarin bunda coba bikin media sesuai tema untuk ajak Naira mengingat lagi huruf besar dan huruf kecil. Coba buat juga yuk..

Tahapan aktivitas :
  • Gambar matahari berbentuk bulat (ukuran bebas) , lalu tulis di sekeliling sisinya huruf-huruf besar
  • Gambar sinarnya secara terpisah, saya buat bentuk persegi panjang dengan ukuran lebar 1cm dan panjang 8cm (buat sebanyak jumlah huruf), lalu gunting
  • Tulis satu persatu huruf pada setiap ujung sinar matahari yang sudah digunting
  • Ajak anak untuk mencocokkan huruf besar dan huruf kecil dengan menempelkan sinar pada sisi bulat matahari.

Aktivitas 6 : Melatih kemampuan menjemur baju

Bagi kami kemampuan dasar sesederhana menjemur baju perlu dilatih pada anak. Selain untuk menambah keterampilan hidup, anak juga akan belajar tentang tanggung jawab terhadap diri sendiri. Sementara ini saya baru mengajak Naira untuk menjemur pakaiannya sendiri dulu. Kalau dia lagi berbaik hati biasanya minta ditambah sama baju adik-adiknya. Hehe…prinsipnya dalam melatih keterampilan ini harus pelan-pelan, jangan berekspektasi anak akan cepat bisa dalam waktu singkat. Idealnya kita melatih setiap keterampilan minimal satu bulan sampai anak bisa. Kalau ingin anak menjadi terbiasa melakukan keterampilan tersebut, tambah waktu latihannya sampai 3 bulan.

Share Pengalaman Ayah/Bunda yuk

Itulah 6 aktivitas yang kami lakukan untuk mengenalkan matahari kepada naira dan nizar. 

Ayah/Bunda punya punya pengalaman mengenalkan konsep matahari pada anak? tulis di komentar ya

Posted on Leave a comment

Ada Apa Aja di Temu Pendidik Nusantara?

“Hah? Emang guru masih perlu belajar??” 

Kalimat itu yang pertama kali kudengar dari seorang teman ketika aku bercerita tentang komunitas guru belajar, tentang aktivitasku sehari-hari menemani guru belajar.

Memang sekilas terdengarnya agak aneh bagi sebagian orang. Guru yang menjadi panutan anak-anak masih belajar? Padahal bukankah guru itu sudah menguasai semuanya? jadi kenapa perlu belajar lagi? 

Tapi sebenarnya jika kita memahami lebih dalam, justru karena guru itu menjadi panutan murid, maka guru harus belajar. Jika guru tak belajar bagaimana murid-muridnya bisa belajar dan meneladani sang guru? Dan….. ngomong-ngomong… bukankah hanya guru yang belajar yang layak mengajar?

Zaman terus berkembang, tantangan mendidik kian berubah. Sebagai pendidik, kita tak lagi dapat mendidik murid-murid kita dengan cara lama untuk menghadapi tantangan di masa kini.

 

Apa yang dihadapi anak-anak kita di masa depan akan sangat berbeda dengan tantangan yang dihadapi saat ini. Itulah alasannya, mengapa kita perlu menjadi guru yang terus belajar.
Pak Aye
pendidik

Beruntungnya, saat ini ada sebuah agenda yang patut dihadiri oleh setiap guru yang ingin belajar, membekali diri untuk mendidik murid-murid, anak-anak generasi penerus bangsa. Namanya temu Pendidik Nusantara. Sebuah pertemuan antara pendidik dari berbagai penjuru nusantara. Sebuah pesta belajar untuk seluruh guru di Indonesia.

Di Temu Pendidik Nusantara 2019, seribu guru dari berbagai penjuru akan bertemu, saling belajar, saling berkolaborasi, saling memberi inspirasi untuk membawa spirit perubahan pendidikan di nusantara. Ada 115 kelas yang terdiri dari kelas kemerdekaan, kelas kompetensi, kelas kolaborasi dan kelas karier.

Kelas Kemerdekaan

Di kelas kemerdekaan, guru akan berbagi praktik baik pengajaran kepada guru lainnya dalam waktu 10 menit.Harapannya guru bisa memodifikasi praktik pengajaran di kelasnya masing-masing

Kelas Kompetensi

Di kelas kompetensi guru akan menumbuhkan kompetensi dalam bidang tertentu. Ada 40 kelas kompetensi dengan beragam topik yang bisa diikuti

Kelas Kolaborasi

Di kelas kolaborasi guru membuat sebuah inisiatif dan mengajak guru lainnya untuk turut berkolaborasi dalam program yang sedang dijalankan. Sudah siap untuk berkolabirasi untuk pendidikan di Indonesia?

Kelas Karier

Dengan belajar dari bagaimana guru mengembangkan kariernya kita bisa belajar dan mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan karier kita.

Mari Belajar Bersama!
Inilah sebagian kelas yang bisa diikuti

Itu cuma sebagian kelas yang ada. Masih ada 44 kelas kemerdekaan yang membahas lebih dari 160 praktik pengajaran, 42 kelas kompetensi, 25 kelas kolaborasi dan 4 kelas karier yang bisa diikuti.

Yuk intip semua kelas yang ada di Temu Pendidik Nusantara 2019. Klik tombol di bawah ini untuk mencari tahu.

Posted on 3 Comments

Big Siblings Blues: Mengatasi Sindrom Kakak Baru

Saya tidak akan pernah lupa, bagaimana reaksi Naira ketika saya melahirkan Nizar, anak kedua saya dan adik pertama bagi Naira. 

Saat itu Naira baru saja genap 3 tahun. Banyak orang bilang usia Naira sudah cukup untuk memiliki adik. Kami pikir ada benarnya juga, sepertinya Naira akan senang jika punya adik baru. Bukankah dengan itu rumah akan menjadi lebih ramai dan Naira jadi punya “someone to play with”? 

Hmm…saat itu, membayangkannya saja sudah membahagiakan 🙂

Seperti kebanyakan orang tua lain yang berencana menambah anak, kami berusaha untuk menyiapkan banyak hal. Disamping kesiapan kami sebagai orang tua, kami juga harus memperhatikan kondisi psikologis Naira untuk menyambut kedatangan adik barunya. 

Persiapan dimulai dengan banyak bercerita tentang adek bayi, karena Naira ini tipikal auditori maka untuk memberinya suatu pemahaman akan lebih mudah jika disampaikan dengan penuturan cerita. Lanjut dengan silaturahim ke rumah tetangga yang baru melahirkan. Harapannya ketika adeknya nanti sudah lahir, Naira tidak lagi kaget melihat adek bayi yang belum bisa melakukan banyak hal. Lalu tidak lupa kami juga melakukan pretend play (bermain peran) entah dengan media boneka-boneka Naira atau saya pura-pura menjadi kakak dan Naira jadi bayinya. Hehe..overall kami menikmati bersama proses persiapan menyambut adek bayi ini. Sekilas saya menangkap bahwa Naira sudah siap menjadi kakak. 

 Sampai waktu melahirkan adiknya tiba, Naira terlihat sangat gugup setelah saya bilang kalau sebentar lagi adiknya lahir. Saya pikir hal itu wajar, orang dewasa pun akan gugup jika menghadapi kondisi baru dalam kehidupannya. Saya dan ayahnya mencoba menenangkan Naira, mengalihkan fokusnya untuk bermain di playground dulu.

Qadarullah saat itu kami sedang merantau, baik orangtua dan mertua tidak ada yang bisa mendampingi proses persalinan saya. Praktis kami sempat kebingungan siapa yang bisa menjaga Naira saat persalinan berlangsung, karena Ayahnya juga ingin mendampingi saya di ruang persalinan. 

Tapi akhirnya ada seorang teman yang berbaik hati menawarkan diri menjaga Naira dan beruntungnya Naira pun mau dititipkan. 

Anehnya begitu dititipkan Naira tiba-tiba demam tinggi. Dalam hati ada perasaan khawatir Naira kenapa-kenapa, tapi pembukaan saya sudah lengkap. Saya pun hanya bisa berdoa, dan meyakinkan diri bahwa Naira akan baik-baik saja dengan Bu Rima dan Bu Hilda sementara saya fokus dengan proses persalinan yang ada di depan mata.

Jeda 20 menit kemudian tepat sebelum adzan magrib berkumandang, lahirlah adiknya Naira, disambut dengan demam Naira yang tiba-tiba turun. Alhamdulillah, lega sekali rasanya. Naira terlihat senang melihat adeknya sudah lahir. Namun menjelang malam hari, Naira mendadak tidak mau dekat-dekat dengan saya. Dia lebih memilih untuk bersama ayahnya. Sekitar jam 01.00 Naira yang biasanya jarang mengigau, tiba-tiba mengigau disusul tantrum yang sulit diredakan. 

Saat itu sebagai ibu, naluri saya merasa ada yang membuat Naira tidak nyaman. Dan baru saya sadar kalau demamnya, penolakannya untuk dekat dengan saya, dan mengigaunya di malam hari adalah gejala dari big Sibling blues atau sindrom yang dialami seorang anak saat menjadi kakak baru.

Ternyata bukan hanya seorang ibu yang mengalami sindrom setelah melahirkan. Tapi seorang anak juga bisa mengalami sindrom yang mempengaruhi psikologis mereka saat memiliki adik baru.

Apa itu Big Sibling Blues?

Big sibling blues adalah sebutan untuk kondisi dimana anak kaget, tidak siap, dan tertekan dengan kehadiran saudara baru di keluarganya. Anak berpikir jika kehadiran keluarga baru atau adik akan mengambil semua perhatian orangtua darinya. Anak akan berpikir orangtuanya tidak akan lagi menyayangi dan mencintainya.

Apa penyebab Big Sibling Blues?

Big sibling blues biasanya terjadi saat anak merasa tidak dipedulikan oleh orangtuanya, karena ayah dan ibunya sibuk mengurus sang adik yang baru lahir. Hal ini wajar, karena anak-anak belum mengerti konsep bersaudara, konsep bersaudara baru mereka pahami dari proses belajar. 

Bagaimana Reaksi Anak Ketika Mengalami Big Sibling Blues?

Separation Anxiety

Anak mengalami kecemasan berpisah dengan ibunya (separation anxiety) sehingga kehadiran adik membuatnya merasa tidak nyaman, terancam dan menakutkan yang menyebabkan anak lebih posesif terhdap ibunya.

Withdrawal (menarik diri)

Withdrawal yaitu anak menarik diri. Anak menunjukkan sikap murung, berubah menjadi pendiam dan lebih sensitif. Ia menjadi mudah menangis karena hal sepele.

Cemburu pada adik

Anak merasa cemburu kepada adiknya. Ia melihat adik sebagai penyebab hilangnya perhatian dan kasih sayang orangtua. kecemburuan itu bisa ditunjukkan secara terbuka bisa juga tidak.

Anger Instead

Anger instead (pengalihan kemarahan) selain menunjukkan kecemburuannya secara terbuka, sebagian anak menunjukkannya secara tersembunyi. Ia cenderung mengalihkan rasa cemburu yang tengah dirasakan.

Bentuk anger Instead yang biasa muncul :

  1. Sabotase bisa berupa menyembunyikan popok adik
  2. Sakit fisik bisa berupa badannya memang benar-benar sakit atau pura-pura sakit demi mendapatkan simpati.
  3. Monologuing (perilaku ngomel sendiri).
  4. Agresi pasif merupakan kemarahan yang tidak diekspresikan secara langsung kepada adik atau ibunya, contohnya ngambek atau tantrum.
  5. displacement anak; mengalihkan rasa cemburu atau kemarahan itu pada benda-benda.  Ia jadi senang membanting sendok, gelas maupun pintu.
  6. Regressive behaviour (perilaku regresif) yaitu kemunduran kemampuan, anak ingin diperlakukan kembali seperti bayi karena ia melihat bahwa bayi lebih disayangi.

Big Sibling blues apabila tidak ditangani dengan baik maka akan memicu tumbuhnya perilaku persaingan antar kakak dan adik di kemudian hari. Meskipun big sibling blues ini termasuk masa yang cukup sulit dilalui seorang anak, tapi inilah saatnya untuk memberikan pemahaman dan perhatian yang efektif tentang konsep bersaudara pada anak kita. 

Ada dua hal yang perlu kita perhatikan dalam mengatasi sindrom big sibling blues:

  1. Bagaimana kita menyikapi diri sendiri
  2. Bagaimana kita mengatasi perilaku anak

Bagaimana menyikapi diri sendiri saat menghadapi big sibling blues

  1. Tetap tenang,
    sadari bahwa being jealous is normal for all firstborns. Berapapun usia mereka. Coba bayangkan bagaimana rasanya jika perhatian seseorang yang sangat kita sayang tiba-tiba terbagi karena kehadiran orang baru? Sesak? Tidak nyaman? Sedih? Ingin marah? Kurang lebih seperti itulah yang tengah dirasakan sulung kita.
  2. Meminta bantuan pasangan
    untuk saling membantu dalam urusan pekerjaan domestik dan menjaga anak. Karena ada saatnya dimana kita akan kewalahan mengurusi berbagai amanah rumah tangga sekaligus memenuhi kebutuhan fisik dan psikis anak-anak. Jika tidak memungkinkan, jangan sungkan untuk meminta bantuan keluarga terdekat, atau mendatangkan ART agar perhatian kita bisa fokus pada anak-anak. Meminta bantuan bukan kelemahan kok, tapi bentuk ikhtiar kita agar tetap optimal dalam menjaga amanah dari Allah.
  3. Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan diri yaa bunda.
    Karena masa transisi ini adalah fase yang cukup sulit menurut saya dan suami. Selain asupan fisik, kita juga harus menjaga asupan mental kita. Jangan terlalu memperdulikan komentar orang lain yang tidak membantu, misalkan “Anak masih kecil gini kok tega sih udah dikasih adik lagi?”. Cukup kasih senyum aja, dan fokuskan energi untuk hal-hal yang jauh lebih penting.
  4. Banyak berdoa
    agar diberi kelapangan hati untuk bisa melalui tantangan ini dengan hati dan pikiran yang jernih.

8 Tips Menghadapi Anak dengan Sindrom Big Sibling Blues

  • Sampaikan apa adanya

    Sampaikan apa adanya tentang kondisi ketika adik baru lahir nanti. Meskipun memiliki adik baru itu menyenangkan, tapi orangtua juga harus menyampaikan kalau ada saatnya ayah bunda harus mengurus adek bayi ketika sedang main dengan kakak dan kakak belajar bersabar menunggu

  • Menyiapkan hadiah untuk kakak.

    Saat adik bayi lahir, biasanya banyak kerabat yang menjenguk dan tidak jarang memberi bingkisan. Ada baiknya bunda menyiapkan juga beberapa hadiah juga untuk kakak. Isinya bisa apa saja yang disukai kakak entah itu makanan, mainan atau buku. Sebelum adiknya lahir saya dan ayahnya menyiapkan kado kurang lebih sepuluh bungkus tanpa sepengetahuan Naira. Setiap kali ada tamu datang dan membawa bingkisan, saya atau ayah Naira selalu menitipkan satu hadiah yang telah kami siapkan untuk Naira. Kami meminta tolong pada tamu itu untuk memberikannya pada Naira bersamaan dengan bingkisan untuk adiknya. Reaksi Naira? Happy, Alhamdulillah..

  • Dahulukan kebutuhan kakak sebelum kebutuhan adik.

    Jangan sampai karena terlalu sibuk mengurusi adiknya bunda jadi lupa untuk memenuhi keperluan kakaknya. Misalkan sebelum memandikan adiknya saya selalu berusaha memastikan Naira sudah rapih dan sudah makan. Dengan cara ini paling tidak anak merasa orangtuanya masih memperhatikannya dengan baik meskipun ada adik bayi di rumah.

  • Penuhi tangki cinta anak pertama kita

    Disadari atau tidak setelah memiliki adik, interaksi fisik antara orangtua dan anak pertama akan berkurang. Usahakan untuk memperbanyak pelukan, menggenggam tangan, atau sentuhan cinta lainnya. Agar ia merasa bahwa ia akan baik-baik saja dengan adanya adik baru, karena kasih sayang orangtua untuknya tidak berkurang.

  • Ajaklah ia bicara.

    Beri kesempatan pada anak untuk mengungkapkan isi hatinya baik yang mengenakkan untuk didengar atau tidak. Jika ia sudah mengungkapkan semuanya, barulah kita mengisinya. Kita berikan pengertian kepadanya dan membuat ia bisa memahami sekaligus merasa dirinya diterima, diperhatikan, dan tidak disisihkan. Komunikasi yang hangat dan terbuka dan dilakukan dengan kesediaan ibu untuk mendengar isi hati anak, InsyaAllah akan cepat meredakan rasa cemburu dan kemarahan anak.

  • Libatkan kakak dalam merawat adik

    Contoh sederhana ajak kakak untuk membantu menyiapkan baju untuk adik, membantu mengayun bouncer saat adik menangis. Intinya ajak si sulung untuk melakukan aktivitas bersama adiknya agar bondong antara kakak dan adik semakin terbangun.

  • Berikan apresiasi yang tulus

    Ketika sang kakak turut terlibat dalam membantu adiknya, atau membantu kita dalam memenuhi kebutuhan adik, berikan apresiasi yang tulus. Bahkan sesederhana saat kakak melakukan hal baik untuk adik. Seperti mengambilkan popok untuk adik misalnya

  • Tahan diri untuk membandingkan setiap perbedaan antara adik dan kakak.

    Terkadang secara tidak sadar kita sebagai orangtua membandingkan antara sang kakak dengan sang adik. Ketika adik mampu lebih baik dari kakak, kita tidak sadar memuji adik di depan kakak. Terkadang hal-hal seperti ini yang membuat sindrom big sibling blue semakin tampak dalam diri sang kakak. Saya dan suami sering mengingatkan ketika salah seorang diantara kami tidak sadar/tidak sengaja membandingkan kakak dengan adik.

Nah, itu dia 8 tips mengatasi sindrom kakak baru (big siblings blues) versi saya.

Saya yakin, setiap orangtua pasti memiliki pengalaman dan trik nya sendiri untuk mengatasi sindrom kakak baru. Yuk, bagikan pengalaman Anda di komentar tulisan berikut ini. Sedikit pengalaman Anda akan berarti untuk orangtua lainnya.

Sumber : Adhim, Mohammad Fauzil. 2013. Segenggam Iman untuk Anak. Yogyakarta. Pro-U Media.

Posted on Leave a comment

Edutrip #2: Belajar Bermain Peran di Joy n Fun BEC

Sebagai keluarga yang sedang belajar mengadopsi pola Home Schooling kami seringkali menemukan tantangan dalam memilih aktivitas belajar untuk anak-anak kami: Naira (5 th), Nizar (2 th), Naufal (10 bulan). Mengapa? Karena kami perlu menghadirkan pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang mereka masing-masing. Jika bisa dilakukan di tempat dan waktu yang bersamaan tentu akan sangat memudahkan.
.
Oleh karena itu, muncullah ide untuk melakukan #EduTrip: program belajar yang dikemas dalam bentuk ‘jalan-jalan’ atau ‘piknik’ atau apapun lah namanya. Yang sekiranya bisa membuat anak-anak senang dan ayah bundanya tenang :p
.
Di #edutrip kali ini, kami memutuskan untuk berkunjung ke salah satu tempat bermain anak (play ground) Joy n Fun yang bertempat di gedung Bandung Electronic Center, JL purnawarman lantai 4 sisi gedung sebelah selatan.
.
  •  
.
Arena bermain ini boleh dibilang cukup lengkap. Ada beragam aktivitas yang bisa dilakukan oleh anak-anak, seperti: 
  1. Bermain sepeda
  2. Bermain balok busa
  3. Bermain balok Lego raksasa
  4. Mandi bola
  5. Trampolin
  6. Beragam komidi putar
  7. Papan pin
  8. Dinding kain
  9. Bermain pasir kinetik
  10. Kolam pasir laut
  11. Wall climbing
  12. Permainan halang rintang dan
  13. Bermain peran beragam profesi
 
Dan semua permainan yang ada di sana mengusung konsep open play, dimana anak bisa bermain tanpa dibatasi peraturan tertentu. Mereka bisa mengeksplorasi setiap permainan sekehendak mereka, sesuai imajinasi mereka. 
.
Diantara semua permainan itu, ada satu permainan yang sangat kami suka dari Joy n Fun: permainan peran. Ada 7 kios mini yang merepresentasikan 7 peran profesi yang berbeda-beda: pasar (pedagang), klinik (dokter), pemadam kebakaran, kantor polisi (polisi/polwan), arena tembak (Tentara), food truck (koki) dan kedai makanan (koki).

Setiap kios dilengkapi dengan perlengkapan yang menunjang atau berkaitan dengan profesinya. Seperti misalnya klinik. Dengan beragam perlengkapan seperti stetoskop, senter, termometer, bahkan hingga jas dokter. Jadilah akhirnya Naira berperan menjadi dokter dengan semua perlengkapan itu. Pasiennya? Ya siapa lagi klo bukan adek nya 

Beda sama Aa, yang sedari awal udah anteng sama semua bahan belanjaan dan makanannya. Mulai dari memilih bahan, dibawa ke dapur sampe bikin masakannya. Semuanya dijalani sepenuh hati. Kami pun jadi curiga, jangan jangan kelak dia jadi chef handal? Baguslah. Jadi bapak ibunya bisa makan enak tanpa repot pergi ke mana-mana. 
.
Yang jelas, anak-anak betah banget main di sini. Mereka dapat dengan bebas berpindah dari satu tempat bermain ke tempat lainnya dan mengeksplorasi semua yang ada di sana sepuasnya. Serasa ga ada bosen-bosennya. Jadi wajar aja klo kami tiba di sana sekitar ba’da dzuhur (sekitar jam 1) dan baru keluar dari arena bermain saat menjelang maghrib (sekitar pukul 6). 
.
Ketika bermain di Fun n Play sebenarnya bukan cuma mereka yang diuntungkan, kami sebagai orangtua kami juga diuntungkan. Karena selama anak-anak bermain kami dapat menikmati quality time berdua tanpa harus cemas. Safety di tempat ini sangat diperhatikan. Tidak ada sudut-sudut benda yang runcing, besi-besi arena bermain dilengkapi busa pengaman, matt/alas tempat bermain yang terbuat dari karet tebal, dan tidak ada mainan yang ukurannya kecil sehingga tidak perlu khawatir ada resiko tertelan oleh balita. 
.
Oh iya, satu hal yang saya juga suka dari wahana bermain ini, kebersihannya terjaga. Ada petugas yang selalu membersihkan arena bermain ini secara berkala. Bahkan secara rutin dibersihkan menggunakan desinfektan untuk mengurangi resiko anak terkontaminasi bakteri.

Overall kami memberikan rating 9/10 untuk wahana bermain ini. Benefit nya jauh lebih banyak dibandingkan kerugiannya. Meskipun kita harus merogoh kocek Rp60.000 per anak untuk bermain sepuasnya (di weekday), tapi rasanya semua itu worth-it (sepadan) dengan pengalaman bermain yang didapatkan.

Melalui wahana bermain ini banyak stimulasi yang bisa anak peroleh. Mulai dari kemampuan sensori, kemampuan motorik halus maupun kasar, kemampuan observasi, kemampuan sosial, empati, kemandirian, aktualisasi diri (melalui bermain peran) semuanya bisa dilatih di Joy n Fun. Eits, tapi ini bukan promosi ya. Kami ga dibayar kok untuk ini. Hanya review dari bapak-bapak dan emak-emak pemburu tempat belajar anak. 

Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di #EduTrip berikutnya.
Informasi selengkapnya tentang review dan wahana bisa dilihat (di video) di bawah ini ya.
Nama tempat: Joy n Fun
Lokasi: Lantai 3 BEC, gedung bagian selatan (dekat food court, sebelah Toys Kingdom). https://goo.gl/maps/CPcjdhe4JzbujGpc6 
Harga tiket masuk: 
  • Weekday: Rp40.000 (1 jam/anak), Rp 60.000 (sepuasnya/anak)
  • Weekend (sabtu/minggu): Rp 60.000 (1 jam/anak), Rp 80.000 (sepuasnya/anak)
Plus Minus
Posted on Leave a comment

Science Play Day Educa Familia #1

Ada rencana beraktivitas apa bersama keluarga di akhir pekan ini?
Gimana klo ikut beraktivitas bersama keluarga Educa Familia di Science Play Day #1?

Di Science Play day pertama ini, kita akan belajar tentang bagaimana cara kerja roket, kendaraan yang dapat membawa manusia ke luar angkasa!
Kita akan bermain roket balon, roket tiup dan roket luncur.

Yuk catet waktu dan tanggal nya!

Hari/tgl: Sabtu, 5 Oktober 2019
Waktu: 09.00 s/d 11.00
Lokasi: Perpustakaan The Green City View, Jl. Jatihandap KM 02, Kec. Mandalawangi, Kota Bandung (Klik di sini untuk mengetahui lokasi di google map)

Tiket : Rp 10.000/anak

Fasilitas:

  • Setiap anak akan mendapatkan permainan roket untuk dibawa pulang.
  • Air minum (silakan bawa tumblr sendiri)
  • Snack
  • Baca buku gratis di ruang baca Green City View

Yuk! Daftar sekarang juga dan amankan tempatnya.
Hanya untuk 15 anak saja. Klik di sini atau secara manual ketik http://bit.ly/DaftarPlayDayEducaFamilia di browser Anda.

Sampai jumpa di play day!
Mari Belajar, Berkarya, Bersama-sama.

Salam Educa!

Posted on Leave a comment

Rumah Karet dan Jembatan Lego

Tujuan aktivitas:

– Melatih kemampuan problem solving
– Melatih kekuatan otot tangan
– Menambah rentang konsentrasi anak

Tahapan aktivitas:

Aktivitas 1, Rumah

  • Arahkan anak untuk membuat Pola rumah dengan menusukkan push pin para corkboard
  • Beri anak beberapa ikat rambut atau karet warna warni
  • Latih anak untuk mengaitkan karet antar push pin yang sudah dipola berbentuk rumah

Aktivitas 2, Membuat jembatan

  • Siapkan satu lembar kertas kosong, lalu gambar aliran sungai sepanjang kertas
  • Ceritakan pada anak bahwa ada hewan-hewan Yang Akan melewati sungai tersebut. Tapi mereka kesulitan untuk menyeberang Karena tidal ada jembatan. Bisakah Kita Bantu buatkan jembatan?
  • Dampingi anak untuk mengukur lebar sungai
  • Bangun sebuah jembatan dari Lego
  • Beri kesempatan pada anak untuk mendesain jembatan nya sendiri
  • Apresiasi basil karya anak
Posted on Leave a comment

Peta Rumahku

Belakangan ini naira sering sekali bermain di luar rumah. Kadang-kadang naira meminta izin untuk pergi ke rumah temannya yang berjarak 3 rumah dari rumah kami. Karena kami ada kekhawatiran naira tersesat, maka kami coba berinisiatif mengajak naira membuat peta rumah.

Yaa… paling tidak nantinya naira juga bisa tau ada siapa saja di sekitar rumahnya. Berikut detil aktivitasnya.

Tujuan aktivitas:
– Melatih kemampuan menggambar
– Mengulang tentang arah kanan dan kiri
– Mengenal arah utara, selatan, barat, timur
– Mengingat alamat rumah Educa Familia

Bahan
– Kertas gambar uk A3
– pensil/spidol
– Penghapus
– Penggaris
– Krayon

Tahapan aktivitas:
– Diskusikan dengan anak tentang denah rumah kita
– Ajak anak untuk mengingat jalan menuju rumah
– Tanyakan pada anak, ada berapa belokan jalan menuju rumah dari gerbang komplek? Ke arah mana saja?
– Sampaikan pada anak bahwa selain arah kanan dan kiri, kita juga akan mengenal arah utara, selatan, barat, timur
– Beritahu anak alamat lengkap rumah kita, lalu ajak anak untuk mengingatnya.

Posted on Leave a comment

6 Tahun Bersama


Ada yang pernah ngerasa bosan sama pekerjaan? Ngelakuin hal yang sama setiap hari, setiap pekan, setiap bulan. Selama bertahun-tahun?

Adakah yang pernah bosan bekerja di kantor dengan tim yang sama? dengan orang yang itu itu aja. Hampir setiap hari ketemu. Membahas hal-hal yang itu itu melulu. Dengan tantangan yang ga jauh berbeda dari waktu ke waktu.

Lalu gimana klo Pertanyaannya sedikit diubah: pernah ga sih bosan menjalani PERAN sebagai suami/istri? Eits, bukan bosan SAMA suami/istri lho ya… bosan dengan PERAN sebagai ayah/ibu. Bosan dengan rutinitas yang sama setiap harinya. Merasa pernikahan dan rumah tangga hampa, kering makna. Tak tahu arah, akan dibawa kemana keluarga ini? Apa yang ingin diraih bersama pasangan semasa hidup? Apa yang ingin dicapai bersama anak-anak kelak? Apa iya keluarga kita tak jauh berbeda dengan kucing yang sekedar ‘menikah’, punya anak, lalu mati?.Wajar ga sih?

Aku pun tak tahu itu wajar atau engga. Yang aku tau, dulu aku pernah ada di situasi yang mirip-mirip seperti itu. Semacam kurang bergairah dalam membangun aktivitas di keluarga. Digerogoti oleh rutinitas yang kering makna.

Beruntungnya, Allah karuniakan pasangan yang diberikan kesabaran, yang selalu mengingatkan tentang tujuan pernikahan. Yang dengan lembut membawa ingatan ke masa beberapa tahun silam..Dulu saat awal menikah, kami sempat merumuskan apa tujuan pernikahan. Kami sempat menyepakati, mengapa Dan untuk apa kami menikah. Kami bahkan menentukan nama untuk keluarga kami: Educa familia; keluarga yang senantiasa belajar, berkarya, bersama. Dengan harapan, nama dan visi pernikahan ini menjadi pengingat tentang tujuan yang selalu ingin kami capai. Setiap hari. Setiap waktu. 

Berbekal ini, kami juga menjadi semakin bergairah dalam merumuskan target tahunan yang ingin kami capai. Membuat agenda pekanan dan bulanan. Semua terangkum dengan satu kerangka tujuan yang sama.

Dari pengalaman mengarungi bahtera kehidupan yang belum seberapa ini aku jadi belajar. Bahwa jangankan perusaahan yang orientasi nya pada umumnya hanya profit. Keluarga yang memiliki orientasi akhirat, yang memiliki orientasi dampak terhadap lingkungan sudah semestinya memiliki tujuan. Dalam bentuk sesederhana apapun..Bahwa tanpa tujuan, menjalani peran apapun dalam keluarga akan terasa sangat membosankan. Minim tantangan, sedikit kesempatan untuk tumbuh bersama pasangan.

Karena bagaimanapun, bukan kelimpahan materi atau gengsi yang tinggi yang membuat perjalanan keluarga menjadi bermakna. Tapi tujuan hidup bersama keluarga yang akan membuat sebuah perjalanan menjadi penuh makna. 

Terima kasih, sayang @syanisa.92 sudah membersamai ku dan menjadi navigator sang nahkoda selama ini.Happy 6th anniversary, dear. I love you.

Posted on 1 Comment

Seru Belajar Pola dengan Permainan COCOKIN (free printable)

Apa aktivitas Anda bersama keluarga di liburan kali ini?
Sudah pernah mencoba mengisi waktu kebersamaan penuh makna bersama keluarga menggunakan permainan?

Coba deh, ajak keluarga Anda untuk bermain kartu COCOKIN. Sebuah permainan kartu sederhana yang dirancang khusus untuk meningkatkan interaksi antar pemain sekaligus melatih daya konsentrasi dan kemampuan membaca pola.

Bisa digunakan bermain anak usia 6 tahun ke atas.
Cara bermainnya pun mudah!
Khawatir bingung?
Ga perlu khawatir, udah ada buku panduannya kok. Klo masih bingung, langsung aja kirim DM via instagram di @ayesaja

Unduh printable nya dengan cara mengisi form di bawah ini ya.

<script type="text/javascript" src="https://app.getresponse.com/view_webform_v2.js?u=zdH4t&webforms_id=Srv2q"></script>

Selamat bermain dan membangun interaksi bermakna bersama keluarga.
Jabat erat
Kak Aye.

Posted on Leave a comment

Proyek #ByeByeGawai 2: Bermain Koin Memori

Beberapa hari sudah berlalu sejak aku dan @syanisa.nh menjalankan proyek #ByeByeGawai . Sebuah proyek keluarga yang kami maksudkan untuk mengalihkan aktivitas si kecil dari gawai (gadget). Kami khawatir, intensitas bersama gawai yang terlalu tinggi ga baik untuk tumbuh kembang mereka.

Aku coba cari inspirasi aktivitas yang cocok untuk anak usia 4-5 tahun, yang senada dengan tema belajar Naira bulan ini yakni bagian anggota tubuh. Kami ingin mengenalkan nama nama bagian tubuh pada Naira. Di saat yang bersamaan Naira lagi suka nabung. Jadi… Kami ingin menggabungkan tiga hal itu: sesuai anak 4-5 tahun, tentang anggota tubuh dan bisa memfasilitasi Naira belajar menabung.

Cari cari cari cari dari berbagai referensi, tapi ternyata belum Nemu juga. Ah, daripada pusing nyari ga ketemu ketemu, mendingan bikin sendiri. Ya ga?

Akhirnya berbekal kemampuan make Adobe illustrator seadanya, dengan bantuan om google akhirnya terciptalah permainan keping memori ini. 

Cara mainnya sederhana.
1. unduh dan cetak papan main di sini
2. kumpulkan 20 (atau 40) uang koin berbagai pecahan (tergantung jenis papan main yang digunakan)
3. Tutup setiap gambar dengan uang 1 koin. Pastikan keseluruhan gambar tertutup koin
4. berikan narasi ke anak. Sampaikan bahwa kita akan mengumpulkan uang, menabung. Anak bisa mengambil koin ini dan memasukkan ke celengan kalau dia berhasil membuka 2 koin dari gambar yang sama
5. berikutnya berikan kesempatan pada anak untuk membuka satu per satu gambar. Tapi pastikan koin tidak diambil jika 2 gambar yang dibuka tidak sama
6. biarkan ia mengingat ingat terlebih dahulu ada gambar apa dan posisinya dimana
7. jika anak berhasil membuka 2 koin dengan gambar yang sama secara berurutan berarti ia boleh menyimpan koin itu
8. Setelah ia berhasil membuka gambar yang sama kita bisa menjelaskan tentang makna gambar itu. 
9. anda boleh memilih, mau mengumpulkan dulu semua koin itu atau langsung memasukkan koin itu ke dalam tabungan ketika anak berhasil
(Aku dan Naira: kumpulin semua baru masukin celengan)

Bagaimana hasilnya?
Apakah Naira langsung meninggalkan gadget?
Hmm.. Aku belum bisa menyimpulkan bahwa kecenderungan Naira terhadap gawai udah hilang. Tapi yang bisa kupastikan adalah intensitas bermain gawai nya berkurang. Ada aktivitas alternatif yang bisa ia lakukan selain menonton video atau bermain gawai.

Harapan kami adanya aktivitas aktivitas fisik seperti ini membuat anak anak kami lebih memilih untuk bermain daripada memainkan gawai. Dan semoga dengan ini hubungan orangtua-anak bisa semakin dipupuk. Karena bagaimanapun bermain itu soal interaksi yang bermakna, bukan?

Posted on 4 Comments

Tips Membangun Romantisme Ibu dan Buku

Pernah gak, suatu hari dengar ada seseorang yang bilang, “Kayanya kalau udah jadi ibu mah, apalagi punya bayi boro-boro bisa baca ya. Bisa tidur tenang aja udah sesuatu.”

Sejujurnya saat bayik mungil ketiga lahir, hati saya pun sering bergumam hal yang sama. Ya Allah, kerjaan di rumah aja udah banyak begini, kapan atuh bacanya. Rasanya kangen gitu bisa baca buku di suatu tempat yang sejuk dan tenang, sambil menikmati teh hangat 😅

Sudah 2 bulan ini coba mencari cara gimana biar ‘romantisme’ dengan buku itu terbangun lagi. Dan akhirnya nemu pola yang paling tidak cocok sama kondisi saya sekarang. Caranya gimana?
Kurang lebih seperti ini..

📓 Memilih buku yang tepat

“Read a book because you are passionate about that subject (Jay Shetty)”

Kita tertarik dan bergairah untuk membaca buku tentang apa?
Tapi itu aja belum cukup menurut saya, semakin terbatas waktu untuk baca kita akan semakin pilih-pilih buku yang akan dibaca, bukan hanya sebatas ketertarikan tapi KEBUTUHAN. Parameternya sederhana, apakah dengan baca buku tersebut amalan kita akan jadi bertambah baik atau sebaliknya.

📓 Cari waktu harian untuk baca buku

Nah ini yang sering jadi problem buat ibu baru (baru punya anak 3 😅) macem saya. Sulit meluangkan waktu buat baca karena merasa banyak amanah yang harus dikerjakan. Belakangan ini saya coba memanfaatkan 3 pilihan waktu untuk baca,

📆 Sore, saat anak-anak lagi main mandiri.
📆 Malam, sesudah anak-anak tidur
📆 Shubuh, sebelum anak-anak bangun

Kadang bisa baca di 3 waktu itu sekaligus, kadang sore sama malam aja, gak jarang cuma baca di waktu malam juga. Kondisional aja 😊

📓 Buat target
Kebanyakan orang mungkin membuat target baca dengan ukuran berapa banyak halaman yang dibaca. Saya pernah mencoba cara seperti itu. Tapi ternyata kurang nyaman menjalaninya. Maka saya buat target berdasarkan durasi waktu baca. Maksimal setengah jam di masing-masing waktu. Salah satu tujuannya biar bisa nge-rem disaat keasyikan baca buku, padahal amanah lain menanti untuk diselesaikan.

📓 Menunda baca buku baru sebelum mengamalkan paling tidak 1 ilmu yang didapat dari buku dan membagikan inspirasi yang ditemukan dari buku ke orang terdekat.

Alhamdullilah, lewat cara diatas semakin hari saya menyadari satu hal, mungkin iya waktu baca saya sudah gak seluang dulu. Suka atau tidak suka fokus saya harus berubah, bukan lagi tentang kuantitas dan seberapa banyak waktu untuk baca, tapi bagaimana agar waktu baca yang sedikit itu bisa berkah. Berkah dalam arti menetapnya kebaikan yang didapat dari ilmu yang dibaca dengan cepat mengamalkannya, bertambah manfaat dengan membagikannya.

Posted on 1 Comment

Unduh Gratis : Printable “Bermain Bersama Hujan”

Anak kecanduan main HP? Ini alternatif solusinya.

Dulu pernah ada masa nya Naira (4.5th) dan Nizar (1.5th) kecanduan gawai (gadget). Dalam sehari mereka bisa berkali kali melihat video di HP atau main di HP.

Sebagai orangtua, kami merasa bingung gimana cara mengatasinya.

Kami berpikir, harus ada sesuatu yang lebih menarik dibandingkan gadget, yang bisa bikin perhatian mereka teralihkan.

Akhirnya kami coba searching berbagai media beraktivitas berupa printable (sesuatu yang bisa di print) dari internet. Awalnya sih oke-oke aja. Tapi sayangnya kebanyakan printable berbahasa Inggris. Jadi Naira agak kesulitan mencerna secara langsung.

Cari printable berbahasa Indonesia yang sesuai dengan yang kami butuhkan, susah.

Berangkat dari masalah itu akhirnya kami coba membuat sendiri printablenya sesuai dengan kebutuhan belajar Naira dan Nizar. Kami coba angkat satu tema yang dekat banget sama keseharian: hujan.

Alhamdulillah, setelah kami coba praktekkan ke anak sendiri, ternyata Naira antusias banget. Yaa… Aktivitas main HP nya jadi lebih bisa diredam dibandingkan sebelumnya.

Di dalamnya ada beragam aktivitas, mulai dari membaca kisah, ayat Al Qur’an, mengenalkan adab,, mengenal bentuk, tracing, mencacah, puzzle sederhana sampe Crafting.

Totalnya ada 27 halaman full colour.
Dan berhubung kami ingin media ini bisa dipakai banyak orang maka kami putuskan untuk menggratiskan media ini.

Klik di tautan ini untuk dapat unduhannya ya.

Selamat bermain bersama keluarga di akhir pekan 😊

Posted on Leave a comment

Mekanika Permainan 03: Pilih Dadu

Mengajarkan topik yang kompleks selalu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi bagi guru kimia sepertiku yang dituntut menyampaikan materi yang abstrak dan sulit dipahami dalam waktu yang relatif singkat.

Dalam suatu pertemuan aku harus memberikan pemahaman bahwa dalam suatu reaksi, tidak semua zat habis bereaksi. Ada zat yang jika ia habis maka reaksinya juga habis alias berhenti.

Kalau hanya sekedar dijelaskan seperti itu mungkin tidak semuanya paham dengan mudah. Kalau praktikum, aku khawatir waktunya  tidak memadai. Akhirnya agar lebih kongkrit aku coba buatkan permainan yang mengadopsi salah satu mekanik permainan lempar dan pilih dadu.

Aku menyebut permainan ini permainan eksplosif. Setiap dari mereka memiliki tugas membuat b*m TNT – trinitro toluena. TNT ini dibuat dengan cara mereaksikan toluena dan asam nitrat dengan kadar tertentu dengan bantuan asam sulfat.

Aku sudah siapkan tiga jenis kartu dan 2 jenis dadu: 1 jenis kartu toluena, 1 jenis kartu asam nitrat dan 1 jenis kartu TNT serta dadu berisi angka bergambar koin dan tabung asam sulfat. Setiap kartu terdiri dari 3 ukuran: ukuran 1 tabung, 1/2 tabung dan 1/4 tabung. Setiap kartu memiliki harga yang bervariasi. Dari 2 koin hingga 5 koin. Pun hal nya setiap dadu. Ada 5 dadu dengan variasi angka koin DNA tabung asam sulfat yang berbeda-beda.

Komponen permainan: Kartu asam nitrat (ki), kartu toluena (ka), dadu (tengah)

Cara Bermain:

  1. di awal permainan aku jelaskan pada mereka bahwa kita sedang darurat militer. Sebagai siswa SMA yang mahir kimia, mereka diminta bantuan membuat TNT. Sayangnya laboratorium rusak parah karena serangan lawan. Jadi mereka harus mengumpulkan koin untuk membeli bahan.
  2. berikutnya aku jelaskan pada mereka cara membuat TNT. Persamaan reaksinya dan rasio nya.
  3. dalam setiap giliran pemain boleh memilih untuk melakukan salah satu hal berikut ini: + Mengumpulkan koin dan asam.sulfat dengan cara melempar dadu+ membeli kartu reaktan+ Membuat senyawa TNT
  4. Secara bergiliran pemain diharuskan melempar 5 dadu. Dalam satu giliran pemain diperbolehkan melempar dadu sebanyak maksimal 3 kali. Pemain boleh memilih mana dadu yang disimpan dalam setiap lemparan.  Misalkan pemain A melempar dadu untuk yg pertama kali. Hasilnya adalah dadu 1 koin, 3 koin, 2 koin, 4 koin, dan 2 asam sulfat (gambar 4.1). Kemudian ia memilih menyimpan dadu 4 koin dan 2 asam sulfat (gambar 4.2). Sisa dadu lainnya boleh dilempar lagi. Di lemparan kedua ternyata kedua dadu menunjukkan 4 koin, 4 koin dan 2 asam sulfat (gambar 4.3). Ia boleh memilih mengambil semuanya atau salah satu atau tidak sama sekali. Misalkan ia memilih mengambil dadu 4 koin dan 2 asam sulfat (gambar 4.4). Sisanya 1 dadu dilempar lagi. Di lemparan ketiga ia mendapatkan 1 asam sulfat, 
  5. koin dan asam sulfat yang berhasil mereka peroleh dicatat di sebuah kembar terpisah. Misalkan dalam giliran tadi, pemain mendapatkan 8 koin dan 5 asam sulfat (darii 2 dadu 4 koin dan 3 dadu asam sulfat)
  6. koin yang berhasil dikumpulkan dapat digunakan untuk membeli zat – baik asam nitrat maupun toluena.
  7. asam sulfat yang didapatkan digunakan untuk mereaksikan asam nitrat dan toluena yang mereka miliki. Untuk 1x reaksi dibutuhkan 10 asam sulfat.
  8. berikan durasi waktu 15-20 menit. 
  9. Pemain yang berhasil membuat TNT terbanyak dalam durasi tersebut adalah pemenangnya

Setelah aku coba praktikkan, ternyata mereka antusias sekali. Strategi yang mereka terapkan pun beragam. Ada yang memilih mengumpulkan koin terlebih dahulu, ada yg fokus mendapatkan 10 asam sulfat baru berbelanja, ada juga yang ga peduli dapet berapa koin dan asam sulfat. Yang penting bisa membuat TNT duluan. Meskipun hasilnya sedikit. 

Di akhir permainan, aku coba refleksi bersama mereka dan mengarahkan pemikiran mereka ke konsep pereaksi pembatas. Jadi aku memanfaatkan permainan ini sebagi intro, alias pengenalan terhadap topik yang akan dibahas. 

Hasilnya?
Seperti biasa. Ada yang paham, ada yang tidak. Yang berbeda adalah, yang tidak paham jadi lebih aktif bertanya. Mereka tidak sekedar menerima materi apa adanya; ada keingintahuan yang kemudian dicurahkan melalui pertanyaan.

Yang berbeda adalah, mereka yang tidak paham jadi lebih aktif bertanya.

(Anggayudha)

Aku jadi belajar.
Bahwa menumbuhkan keingintahuan dan membuat siswa bertanya itu lebih penting dari sekedar memastikan materi tersampaikan. Karena ketika keingintahuan sudah dinyalakan, maka siswa telah memiliki kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Setuju?

Posted on Leave a comment

Bagaimana Gamifikasi Dapat Memotivasi Orang Lain Melakukan Hal-hal Luar Biasa

Setiap tahun, jumlah pasien anak-anak yang menderita penyakit kanker di Rumah Sakit Toronto meningkat. Sebagai rumah sakit yang terdepan dalam segi riset, pihak rumah sakit mencoba mencari penaganan yang tepat untuk anak-anak yang menderita kanker. Namun sayangnya untuk bisa melakukan hal itu, pihak rumah sakit perlu mendapatkan data awal dari setiap pasien anak-anak tentang tingkat rasa sakit yang dimiliki.

Awalnya mereka diminta untuk mengisi sebuah jurnal berisi bentuk rasa sakit yang mereka alami berikut tingkat rasa sakit yang mereka rasakan setiap hari. Namun sayangnya cara ini tidak membuahkan hasil. Hanya sedikit sekali anak yang mau mengisi jurnal itu dan mengumpulkannya pada saat proses terapi tiba. Akhirnya pihak rumah sakit mencoba mencari tahu lebih dalam tentang perilaku mereka dan membuat terobosan disana.

Pihak rumah sakit menemukan fakta bahwa agar mereka bersedia mengisi ‘jurnal rasa sakit’ pihak rumah sakit harus menghadirkan pengalaman yang menarik bagi anak-anak itu. Akhirnya dengan bekerjasama Cundari, sebuah agensi komunitas di Toronto, mereka menciptakan aplikasi iPhone bernama Pain Squad yang digunakan untuk mengumpulkan data rasa sakit yang dirasakan oleh penderita kanker berusia anak-anak.

Pada aplikasi itu, anak-anak berperan sebagai polisi satuan khusus yang memiliki misi menghancurkan rasa sakit. Setiap kali mereka melaporkan rasa sakit yang dirasakan, mereka akan mendapatkan poin. Dengan poin ini mereka bisa ‘naik level’ menjadi sersan bahkan hingga menjadi komandan. Di markas Pain Squad mereka bisa melihat lencana yang mereka sudah dapatkan dari aktivitas ‘melaporkan rasa sakit’. Saking seriusnya dengan program ini, pihak rumahsakit sampai-sampai membuat sebuah tayangan televisi yang menceritakan tentang superhero dari kalangan Pain Squad. 

Hasilnya?

Jumlah data yang dikumpulkan meningkat drastis dibandingkan metode lama: laporan jurnal rasa sakit dalam bentuk kertas dan pulpen. Pihak rumah sakit jadi memiliki data yang cukup untuk membuat rancangan pelayanan yang tepat bagi anak-anak penderita kanker di Toronto.


Cerita dari negeri kanada itu hanyalah salah satu contoh keberhasilan gamifikasi mengubah perilaku sekelompok orang di suatu area tertentu. Ada banyak kisah lainnya yang menjadi saksi betapa gamifikasi menjadi sesuatu yang menjanjikan perubahan besar di masa yang akan datang.


Gamifikasi tidak sekedar berbicara bagaimana membuat sesuatu lebih menyenangkan

(Brian Burke)


Gamifikasi tidak sekedar berbicara bagaimana membuat sesuatu lebih menyenangkan. Lebih jauh dari itu, gamifikasi menggugah emosi. Gamifikasi adalah tentang motivasi. Motivasi yang menggerakkan seseorang/sekelompok orang untuk mengubah perilakunya. 

Mengapa bisa demikian?
Karena gamifikasi menyentuh aspek emosi seseorang.

Karena gamifikasi mampu menyediakan ruang bagi setiap orang untuk memiliki 3 elemen penting yang perlu diberikan untuk menumbuhkan motivasi intriksik seseorang: otonomi, penguasaan dan tujuan. Begitu ketiga elemen ini dipupuk terus menerus maka motivasi intrinsik dalam diri seseorang akan tumbuh dengan semakin subur.


Lalu bagaimana caranya menerapkan gamifikasi untuk kepentingan kita?Dalam buku ini, Brian burke menjelaskan ada 7 tahapan yang harus ditempuh saat akan merancang sebuah sistem yang mengimplementasikan gamifikasi:

Tahap pertama: tentukan luaran dan metrik keberhasilanTanpa adanya tujuan dan luaran yang jelas maka proses merancang sistem gamifikasi akan mengalami banyak kendala.tidak hanya itu, metrik keberhasilan juga harus ditetapkan dengan jelas. Sehingga kita bisa mengukur dengan lebih presisi ketercapaian tujuan dengan sistem gamifikasi yang ada

Tahap kedua: Definisikan target audiensDalam menerapkan sistem gamifikasi, tentu yang akan kita libatkan adalah manusia.memahami tipikal manusia yang akan menggunakan sistem ini akan sangat membantu proses mendesain gamifikasi.Untuk memudahkan, kita bisa membuat diagram persona pelanggan untuk mendefinisikan dengan baik audiens kita.

Tahap ketiga: Definisikan tujuan pemainJika di tahap pertama kita mendefinisikan tujuan yang ingin kita capai, maka kita juga perlu mendefinisikan tujuan yang diinginkan oleh para pemain.yang akan kita lakukan bukanlah ingin memaksakan mereka mencapai tujuan yang kita inginkan. Melainkan membuat tujuan bersama.


Tahap keempat: Tentukan model interaksi pemainAda 4 aspek dalam menentukan model interaksi:

  • Kolaboratif – kompetitif
  • Intrinsik – ekstrinsik Banyak
  • pemain (multiplayer) – pemain tunggal (solitary)
  • Orientasi misi – permainan tanpa akhir (endless game)
  • emergent – scripted

Tahap kelima: definisikan area bermain dan rencanakan pengalaman pemainSetelah menentukan model interaksi, tahapan berikutnya adalah menentukan area bermain berikut rancangan pengalaman pemain dalam menerapkan sistem gamifikasi ini. Kita perlu membayangkan, “Apa yang akan dialami oleh pemain jika begini, jika begitu?”, dan seterusnya. Apapun area bermain yang digunakan, sistem ini harus mampu membuat pemain semakin tertarik untuk terus berinteraksi dengan sistem seiring berjalannya waktu.

Tahap keenam: definisikan sistem perekonomian dalam permainanDalam menerapkan gamifikasi perlu ada semacam ‘mata uang’ yang akan dimainkan oleh pemain. ‘Mata uang’ ini akan menjadi sesuatu yang dapat dikonversi menjadi hal-hal lain dan membuat sistem lebih menarik untuk dimainkanNantinya mata uang ini bisa berupa salah satu atau kombinasi dari hal berikut:  membangun self esteem/membangun kapital sosial, menyenangkan dan kebendaan

Tahap ketujuh: tahapan terpenting: uji coba permainan dan kembangkanMenciptakan sebuah sistem gamifikasi ibarat menciptakan produk. Kita tidak mungkin menciptakan produk yang tidak ingin digunakan oleh siapapun.oleh karena itu, setiap rancangan konsep sistem gamifikasi yang akan kita buat harus selalu diujicobakan pada target audiens. Semakin sering diuji coba, semakin banyak data yang bisa kita dapatkan dan semakin tajam sistem gamifikasi yang kita buat.


Dalam buku ini juga dibahas, beberapa kesalahan umum dalam mendesain suatu sistem gamifikasi.Seperti penetapan tujuan yang tidak jelas, sistem gamifikasi terlalu memaksakan pencapaian tujuan organisasi dan mengesampingkan tujuan peserta, solusi yang diberikan kurang tepat sasaran dan seterusnya.

Ada juga permasalahan lain seperti kurang tepat dalam menentukan ‘sistem ekonomi‘ dalam gamifikasi, atau terlalu dini menyimpulkan tujuan yang ingin dicapai. Kesalahan-kesalahan ini seringkali berulang khususnya bagi para desainer pemula. memang merancang sebuah sistem gamifikasi penuh dengan tantangan. Dibutuhkan waktu, sumber daya dan kesabaran dalam merancang sistem gamifikasi.

Semakin terbiasa merancang sistem gamifikasi, nantinya kita akan semakin terasah untuk melakukan setiap tahapan dengan benar. Kuncinya ada di praktik. Dengan menghadapi banyak studi kasus kita akan semakin mudah memahami pola sistem gamifikasi yang berdampak. 

Namun demikian, meskipun gamifikasi digadang-gadang sebagai salah satu solusi masa depan untuk berbagai permasalahan, kenyataannya tidak semua permasalahan dapat diselesaikan dengan gamifikasi. Ada begitu banyak kondisi yang menyebabkan gamfikasi kurang relevan dengan permasalahan yang ada. Kita perlu ingat bahwa gamifikasi bukanlah obat segala jenis penyakit tingkah laku. Ada banyak solusi alternatif lainnya yang juga perlu kita pertimbangkan dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Hanya saja, jika kita mampu menguasai metode ini dan menerapkannya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang relevan, maka kita dapat memperoleh hasil yang tidak akan pernah kita sangka sebelumnya. Jadi, mari mencoba!

PS: Ada yang mau mencoba menerapkan gamifikasi untuk menyelesaikan permasalahannya bersama saya?


Posted on Leave a comment

Merancang Model Pembelajaran Berbasis Permainan

Akhir pekan lalu saya berkesempatan untuk ikut belajar bersama teman-teman guru dari berbagai penjuru di Indonesia tentang menerapkan pembelajaran berbasis permainan.
“Emangnya bisa?”
Nah itu dia!
Dalam sesi toko bekerja (baca: workshop) saat festival belajar main tersebut kami belajar dari mas @eko nugroho, praktisi game designer dan game researcher untuk merancang sebuah sesi pembelajaran berbasiskan permainan.

Ada 5 tahapan yang perlu kita perhatikan saat akan merancang pembelajaran berbasis permainan:

  1. Planning (perencanaan)
  2. Briefing (pengarahan)
  3. Playing (bermain)
  4. De-brief (refleksi)
  5. Evaluasi

Tahapan 1 dan 5 adalah tahapan yang dilakukan oleh guru/pendidik/fasilitator di luar sesi permainan. Sedangkan tahapan 2,3 dan 4 dilakukan saat proses pembelajaran berlangsung.Kita bahas satu per satu ya:

Kita bahas satu per satu ya:

1. Planning (perencanaan)

Pada tahapan ini pendidik/guru/fasilitator belajar harus merencanakan beberapa hal utama.

Kita perlu memahami kondisi peserta yang akan belajar bersama kita. kita perlu mencari tahu profil mereka, kemampuan mereka, Kita juga perlu mendefinisikan tujuan pembelajaran dengan jelas.
Berikutnya kita perlu menentukan model permainan apa yang akan kita gunakan. Lalu menyesuaikan (adjust) model permainan tersebut agar sekiranya dapat memenuhi tujuan pembelajaran.

Ada 3 hal yang perlu kita perhatikan dalam menyesuaikan model permainan: Narasi/konten permainan, Tujuan permainan dan cara bermain.

Lalu sebelum eksekusi proses pembelajaran kita perlu menyiapkan beberapa hal teknis seperti berapa banyak mainan yang dibutuhkan, bagaimana setting tempat dan seterusnya.
Proses planning ini harus dilakukan setidak-tidaknya H-1 sebelum pembelajaran berlangsung
 

2. Briefing (pengarahan)

Permainan membutuhkan narasi/cerita pengantar agar peserta memiliki ikatan yang kuat dengan permainan.

Sebelum proses bermain dimulai, kita perlu memberikan narasi/cerita mengenai permainan kepada peserta. Misalkan, saat akan memainkan sebuah permainan ular tangga yang telah diadopsi untuk pembelajaran matematika dasar, kita bisa bercerita seperti ini:

Anak-anak. Beberapa waktu lalu Raja membuat sebuah sayembara. Barangsiapa menemukan pustaka kerajaan yang tersimpan di tebing terjalili maka ia akan dinobatkan menjadi panglima kerajaan.

Nah, sebagai seorang pemuda yang gagah berani, kalian akan berlomba-lomba mendapatkan pustaka kerajaan itu. Pustaka kerajaan itu ada di atas tebing nun jauh disana. Kita perlu melakukan perjalanan yang mahaberat. Kita akan berlomba-lomba mendapatkan harta karun itu. Jika menemukan tangga, segeralah naiki tangga itu. Tapi berhati-hatilah.

Saat bertemu ular kamu harus melompat kebawah agar kamu tidak terkena gigitannya yang berbahaya.

Ingat. Narasi ini harus dibawakan dengan sepenuh hati agar peserta semakin menjiwai permainan dan menikmati permainan.

Pada saat tahap briefing Anda juga perlu memberikan penjelasan yang lebih lengkap mengenai cara bermain dan kondisi permainan. Pastikan setiap peserta memahami dengan baik cara bermainnya. Jika perlu, Anda bisa mempraktikkan permainan sembari memberikan penjelasan.

3. Playing (bermain)

Saat waktu bermain tiba, sebagai fasilitator kita memiliki kewajiban untuk mendampingi peserta. Jangan sampai Anda membiarkan para pemain bermain sendiri tanpa Anda dampingi. Tanpa proses pendampingan yang tepat, proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif.

Lalu sebagai guru/fasilitator apa yang harus kita lakukan selama permainan berlangsung? Ada 3 hal yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan proses pembelajaran:
 
  • Observasi: amati proses permainan yang sedang terjadi di setiap kelompok/pemain
  • Intervensi: sebagai fasilitator kita perlu ikut campur dalam permainan jika dikhawatirkan permainan tidak berjalan dnegan baik. Misalkan ada peserta yang belum paham, kita bisa dekati dan berikan penjelasan lebih rinci. Jika ada proses bermain yang tidak sesuai prosedur kita bisa dekati dan ajak diskusi. Atau jika ada peserta yang ricuh satu sama lain kita bisa hadir untuk melerai dan mencari solusinya. Dan seterusnya
  • Intercept/cegat: lakukan hal-hal yang sekiranya bisa meningkatkan efektifitas pembelajaran. Misalkan ktia bisa hentikan permainan jika ternyata ada kelompok yang sudah selesai bermain. Kita bisa segera masuk ke tahapan de-brief. Dan seterusnya.

4. De-brief (refleksi)

Tahapan ini boleh jadi merupakan tahapan terpenting dalam proses pembelajaran berbasis permainan. Karena semua proses pembelajaran dari permainan akan direfleksikan pada tahapan ini.

Sebagai fasilitator Anda bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang memicu proses refleksi. Seperti misalnya:
  • Tadi siapa yang berhasil memenangkan permainan?
  • Bagian mana yang menurut kalian paling sulit dari permainan ini?
  • Apa yang seandainya terjadi ya kalau ternyata ada satu pemain yang tidak korporatif dalam tim?
  • Menurut kalian, apa dampak dari terlalu banyak mengambil uang dalam permainan ini?
  • Jika seandainya tidak ada pemain yang empati, kira-kira apa yang akan terjadi?

Dan sebagainya.

Sebagai pendidik kita perlu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan reflektif ini saat proses perencanaan.Kita juga bisa menjadikan fenomena menarik yang kita temui saat proses bermain berlangsung sebagai bahan refleksi. Misalkan ada pemain yang bertengkar saat bermain, kita bisa jadikan ini bahan refleksi. Atau misalkan ada pemain yang ternyata pasif saat bermain, ini juga bisa kita jadikan bahan refleksi.

Disinilah peran utama kita sebagai fasilitator dalam menerapkan pembelajaran berbasis permainan.


Semakin piawai kita menjadi fasilitator, semakin efektif proses pembelajaran yang dijalankan.

5. Evaluasi

Pada tahapan terakhir ini, sebagai fasilitator kita perlu membuka diri selebar-lebarnya untuk mendapatkan umpan balik dari proses pembelajaran berbasis permainan.

Kita perlu melihat dengan bijaksana mana proses-proses yang sekiranya bisa diperbaiki untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Mungkin narasinya kurang menarik, atau mungkin konten permainannya terlalu teoritis, atau mungkin cara bermainnya terlalu rumit, atau bisa jadi konteks pembelajaran dan permainan tidak sejalan, atau hal-hal lainnya.

Hasil refleksi dapat menjadi acuan utama dalam melakukan evaluasi. Anda juga bisa melakukan wawancara personal/komunal dengan peserta di luar sesi bermain.


Semakin banyak umpan balik yang Anda dapatkan, semakin besar peluang Anda untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis permainan.


Tidak jauh berbeda dengan proses riset, kelima proses ini perlu kita lakukan terus menerus untuk membuat rancangan pembelajaran berbasis permainan yang lebih baik.

Jadi jangan pernah lelah untuk terus menerus memperbaiki model yang dikembangkan demi meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dan jangan lupa, apapun model permainan yang dikembangkan, yang menjadi fokus kita adalah bagaimana caranya agar pembelajaran dapat lebih optimal, bukan pada seberapa seru permainannya. Sebab namanya juga pembelajaran berbasis permainan, belajar menggunakan pendekatan permainan. Belajar datang terlebih dahulu sebelum bermain.

Selamat mempraktikkan. Selamat mengeksplorasi dan memanfaatkan sisi positif permainan untuk pembelajaran. Silakan sebarkan konsep ini sebagai salah satu alternatif metode pengajaran.
Salam gembira penuh makna!
 
PS: ada yang ingin mencoba menerapkan konsep ini dan belajar bersama-sama membuat model pembelajaran berbasis permainan?
Silakan tinggalkan komentar “MAU” di postingan ini ya.