Posted on Leave a comment

Memaknai Kehadiran Adik

👩 : Kak, kakak Nai seneng ga adiknya sudah dua?
👧 : Seneng banget bunda..
👩 : Oya? Coba bunda pengen tau kenapa Naira seneng punya adik lagi?
👧 : Iya, itu berarti Allah kasih banyak rezeki buat kakak.
👩 : MasyaAllah, berarti kalau Allah kasih rezeki yang banyak kita harus apa kak?
👧 : Banyak berdo’a, banyak bersyukur..iya kan bunda?

Saya hanya bisa tersenyum dan mengangguk menanggapi jawaban Naira. Speechless :’)

Cara Allah menguatkan dan mengingatkan itu seringkali tidak terduga. Salah satunya lewat celoteh gadis kecil kesayangan kami ini. Saya yakin, hati seorang anak itu bersih sesuai fitrahnya. Apa yang terucap dari lisannya bisa jadi sebuah ‘alarm’ yang ingin Allah sampaikan pada orang tuanya.

Disaat saya sempat merasa kondisi baru ini begitu menguras energi.
Nizar yang sering tantrum tengah malam karena proses menyapih yang belum tuntas dan Naufal yang masih belajar mengatur pola tidur.

Naira justru punya cara pandang yang berbeda dengan kehadiran adik-adiknya ini. Padahal saya sendiri tau betul bagaimana rasanya menjadi kakak pertama. Tidak mudah. Tapi Naira bilang adik-adik adalah rezeki dari Allah yang harus disyukuri :’)

Pantas selama ini Naira begitu ringan tangan membantu bunda menyiapkan keperluan adiknya. Berinisiatif menyuapi Nizar saat jam makan tiba sementara bunda harus menangani bayi dulu. Mengajak adiknya bermain bersama saat bunda harus menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Semuanya seperti tanpa beban karena Naira menyadari bahwa ia sedang belajar mengekspresikan rasa syukur pada Allah lewat kehadiran adik-adiknya. Barakallah nak…💕

Posted on Leave a comment

Dua Kunci Penting Sebelum Mengajarkan Al-Quran pada Anak

Tujuh tahun lalu, masih terekam jelas dalam ingatan masa dimana saya masih mengenyam bangku kuliah dan diamanahi untuk menjadi mentor tahsin bagi mahasiswa tingkat baru. Ada momen yang membuat saya menangis tergugu saat berhadapan dengan seorang gadis berusia 19 tahun yang sama sekali belum mengenal huruf hijaiyyah, padahal ia seorang muslimah sejak lahir.

Apa yang salah dengan gadis ini? Penampilannya terlihat dari kalangan berada dan garis wajahnya pun terlihat seperti seorang yang cerdas. Tapi mengapa di usia dewasanya ini, ia masih terbata mengeja alif-ba-ta? Bagaimana ia belajar memahami Al-Quran sementara membacanya pun tak mampu? Berbagai pertanyaan berkelebat dalam pikiran saya, salah satu yang paling mengusik adalah, apa yang telah orang tuanya lakukan selama ini sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang belum mengenal Al-Quran?

Jujur saat itu ada kecemasan dalam diri, ada rasa khawatir tentang masa depan saya ketika menjadi orangtua. Mampukah saya menjadi orangtua yang mengantarkan anak-anak saya men0jadi seseorang yang mencintai Al-Quran? Saya tentu tidak ingin serta merta menyalahkan kedua orangtua gadis tersebut. Tapi pengalaman ini mengingatkan saya akan satu hal bahwa adalah hak anak untuk diajarkan Al-Quran sejak kecil oleh kedua orangtuanya.

Maka dari itu saya semakin menyadari, saya harus belajar dan menyiapkan banyak bekal untuk menjawab kecemasan saya tersebut. Dan saya meyakini bahwa usia dini adalah pondasi utama untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan termasuk didalamnya menyemai kecintaan anak terhadap Al-Quran. Saya ingin sekali menjadi orang pertama yang mengenalkan Al-Quran dalam kehidupan anak-anak saya.

Baca juga : 5 Aktivitas Seru “Mengenalkan Hijaiyyah pada Anak” (Part-1)

Perjalanan belajar mengantarkan saya untuk bertemu dengan salah satu buku karya Dr Sa’d Riyadh yang isinya begitu mengetuk hati saya, bahwa apapun yang ingin kita tanamkan pada anak akan selalu berpusat pada dua hal, yaitu :

🏠 Rumah Teladan

Dalam bukunya, Dr. Sa’d Riyadh menyampaikan bahwa rumah adalah taman pendidikan pertama dan utama, tempat anak bertumbuh dan berkembang. Jika rumah menjadi basic pendidikan yang baik maka akan menghasilkan anak yang shalih lagi bermanfaat.

Rumah teladan, adalah rumah yang dimana penghuninya mencintai dan mengamalkan Al-Quran dengan cara menerjemahkan kecintaan terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Sehingga anak-anak secara langsung melihat dan merasakan suasana rumah yang mendorong dan membentuk dirinya untuk mencintai Al-Quran.

Ada 4 tipe rumah dalam proses pendidikan Al-Quran di keluarga :

🏡 Rumah yang penghuninya tidak peduli terhadap Al-Quran dan hanya membacanya sesekali. Namun orang tua berusaha untuk memasukkan anak-anaknya ke taman pendidikan Al-Quran terbaik agar mau menghafal dan mempelajari Al-Quran. Mereka lupa bahwa bagaimanapun anak akan mencontoh lingkungan terdekatnya yaitu keluarga.

🏡 Rumah yang penghuninya mempraktekkan ajaran Islam secara sulit, kaku dan fanatik. Termasuk dalam mendidik Al-Quran pada anak-anaknya. Orang tua mengajarkan Al-Qur’an dengan cara yang tidak sesuai dengan pertumbuhan anak, karakteristik, kemampuan dan kecenderungan anak. Sehingga suasana rumah dalam mempelajari Al-Quran terkesan penuh ketegangan yang akan menghambat sampainya perasaan cinta Al-Quran ke dalam hati anak-anak.

🏡 Rumah yang penghuninya melupakan Al-Quran, sehingga Al-Quran pun melupakan mereka. Bahkan mereka membuat sesuatu yang menggantikan Al-Quran, berupa lagu dan musik. 😢

🏡 Rumah yang penghuninya mencintai Al-Quran. Mereka bukan hanya membaca dan mempelajari isinya, tapi juga menerjemahkan rasa cinta terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Mereka menghidupkan nilai-nilai kebaikan pada Al-Quran dalam keluarganya, seperti saling mencintai, tolong menolong dan saling berlomba beramal shalih.

Rumah kita, termasuk tipe yang mana ya? 😊

📌 Pendidik Teladan

Cara terbaik untuk membuat anak tumbuh melakukan amal shalih yang kita harapkan, termasuk didalamnya mencintai Al-Quran, adalah dengan menjadi sosok yang perbuatannya dapat diteladani. Oleh karena itu, jika seorang pendidik ingin menanamkan perasaan cinta kepada Al-Quran di hati anak-anaknya, makan terlebih dahulu ia harus berusaha agar perbuatannya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Jika orang tua mencintai Al-Quran maka anak-anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Al-Quran atas izin Allah.

Bagaimana menjadi pendidik teladan yang akan dicintai anak?

❤ Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan terus memperbaiki hubungan baik dengan Allah dan memperbanyak do’a terbaik untuk anak kita.

❤ Mampu berinteraksi dengan anak sesuai dengan tahap perkembangan dan psikologis anak.

❤ Membuat variasi metode dalam mendidik & mengarahkan anak untuk mempelajari Al-Quran.

❤ Memberi hukuman dengan cara tidak memberi atau membatasi kesenangannya dan jangan pernah merendahkan anak karena kesalahannya.

❤ Pahami kecenderungan dan potensi anak agar pendidik bisa menyesuaikan metode belajar yang diberikan.

❤ Berikan kepercayaan dan berinteraksilah pada anak dengan cara memposisikan diri sebagai pembimbing yang bisa memahami mereka.

❤ Tanamkan rasa percaya diri pada mereka agar mereka menjadi pribadi yang lurus, teguh dan tidak mudah menyerah saat mempelajari Al-Quran.

❤ Cari tahu hambatan-hambatan yang akan mengganggu proses mendidik anak, entah itu berasal dari diri kita sendiri atau faktor luar. Sehingga kita bisa meminimalisir hal buruk yang akan menghambat diri dan anak kita untuk mendekat pada Al-Qur’an.

❤ Tumbuhkan kesadaran pada anak bahwa kita mencintai mereka, dengan menunjukkannya melalui perbuatan dan perkataan. Sehingga anak akan merasa dirinya berharga dan dicintai oleh orang tuanya.

Sampai sini masih bisa bernafas, bun? Hehe.. Ternyata dari dua hal ini saja rasanya masih banyak sekali PR kami dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Quran di hati anak. Terlebih saat melihat diri sebagai orang tua yang masih sangat naik turun interaksinya dengan Al-Quran. Allah, semoga selalu diberi semangat untuk belajar 😢

Posted on 2 Comments

Jangan Lupakan Sejarah Orang Terdekatmu!

Suatu hari kami sekeluarga mengikuti kajian Ustadz Budi Ashari. Dalam kajiannya beliau memberikan tugas kepada kami untu
k mencari tahu hasab dari keluarga kami masing-masing. Apa itu hasab?
Saat akan menikah, ada banyak sekali pertimbangan yang menjadi sebab bagi seseorang untuk memilih calon pendampingnya. Bagi umat muslim tentunya pertimbangan-pertimbangan tersebut harus tetap berada dalam koridor yang disunnahkan Rasulullah. Salah satu diantaranya adalah memperhatikan nasab dari calon pendamping. Tapi ternyata bukan hanya nasab yang harus kita perhatikan, Ustadz Budi menyampaikan bahwa disamping Nasab ada Hasab keluarga yang juga perlu kita pertimbangkan. Lho apa bedanya Nasab dan Hasab? Nasab berkenaan tentang garis keturunan atau ikatan kekeluargaan seseorang. Sementara hasab lebih dari itu, selain garis keturunan kita juga harus menelisik lebih jauh tentang sejarah keluarga kita mulai dari apa potensi yang dimiliki ayah & ibu, nenek & kakek serta buyut kita? Adakah hal baik dari mereka yang bisa kita tiru, atau adakah hal buruk yang bisa kita ambil pelajarannya agar tidak terulang dalam keluarga kita?
Setelah mendapatkan kajian tentang hasab, maka kami pun mulai mencari tahu tentang kepribadian, keahlian, serta perjalanan berkeluarga kakek, nenek, buyut, dan  orang tua kami masing-masing. Sampai kami pun menemukan suatu hal unik, ternyata ada keahlian yang mirip dari Abi dan mama mertua, sama-sama suka menulis dan dua-duanya sudah membuat buku. MasyaAllah.. kami pun tersadar bahwa potensi berkarya melalui tulisan itu juga menular dalam diri kami, anak-anaknya. Sehingga kami pun menyimpulkan bahwa garis keturunan kami memiliki potensi kebaikan di ranah kepenulisan. Kira-kira seperti itulah contoh sederhana dari hasab keluarga.
Apa manfaatnya mengetahui hasab keluarga?
Menurut Ustadz Budi, dengan memahami hasab keluarga kita sebelumnya, kita akan lebih mudah dalam memetakan kekuatan potensi keluarga  kita sendiri. Lebih jauh lagi kita pun bisa menentukan hal apa yang dapat keluarga kita kontribusikan bersama untuk kepentingan umat.
Bagi kami sendiri perjalanan mencari tahu hasab keluarga ini menjadi sesuatu yang sangat menarik, karena dengannya kami bisa kenal lebih dekat keluarga besar kami. Dengan mengetahui sejarah keluarga, kami mendapat banyak inspirasi dari hal baik yang kami temukan pada mereka, pun saat menemukan hal buruk kami menjadi  tersemangati untuk  memperbaikinya agar tidak berlanjut pada keluarga kami. Banyak sekali ibrah yang bisa kami petik dari proses ini.
Mencari tahu hasab seperti melongok sejarah keluarga kami di masa lalu, menghubungkan titik-titik yang belum terjalin dengan rapi. Sejarah yang bisa kami jadikan cermin untuk melanjutkan kebaikan yang telah diestafetkan atau membenahi apa yang perlu diperbaiki. Dan saya yakin sejarah itulah juga yang akan memberikan gambaran pada  keluarga kami untuk menapaki masa depan. Jangan pernah lupakan sejarah dari orang tedekatmu.
Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT1
Posted on Leave a comment

Mendidik dengan hati, kunci sukses pendidik kini dan nanti

Riuh ramai suara anak anak seragam putih biru itu memenuhi ruangan auditorium salah satu sekolah ternama di Jakarta.
Hampir semua tampak sibuk dengan aktivitasnya. Mulai dari yang menjahili teman, tertawa cekikikan, main HP sampai ada yang jingkrak jingkrak entah karena alasan apa.

Tapi perlahan lahan suara itu meredam tatkala sesosok tubuh renta berdiri di hadapan mereka seraya membawa microphone. Ia hanya berdiri tegap sambil melihat satu per satu wajah anak anak tadi. Seolah seperti sihir, tanpa kata, tanpa isyarat apa apa tak kurang dari 3 menit auditorium mendadak sunyi.

“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.”.
Sapa sang Kakek.
” Waalaykumsalam warahmatullah wabarakatuh. ”
Suara anak anak itu menggemuruh di ruangan.

Lalu sang Kakek membuka obrolan pagi itu dengan sebuah cerita. Cerita tentang masa lalu nya yg penuh dengan perjuangan. Cerita masa remaja nya yang telah ia gunakan untuk menjelajahi dunia dengan satu misi utama: belajar.

Sang Kakek bertutur, di usia 14 tahun ia sudah mengunjungi 2 negara di luar Indonesia. Saat usianya genap 17 tahun tak kurang dari 10 negara di dunia telah ia kunjungi. Ia bukan orang yg kaya raya. Kenyataannya semua itu dilakukan dengan dukungan penuh dari negara.

Ia lanjutan cerita tentang secuil episode kehidupan nya. Cerita tentang bagaimana ia bisa meraih kesuksesan Dan menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di Mata dunia.

Dalam cerita itu tampak sang kakek begitu larut dalam sejarah kehidupan nya. Ada nasehat nasehat bijak yg tersirat. Ada hikmah yang sangat mendalam.

Anak Anak yang tadinya begitu ‘liar’ tampak mulai merunduk lesu. Wajah mereka mulai terlipat. beberapa bola mata sudah berkaca kaca. Bahkan Sesekali kudengar isak tangis yang tak tertahan.

Saya merasakan sosok ini begitu tulus dalam bertutur. Untaian kalimatnya boleh jadi biasa saja, tapi vibrasi hatinya terdengar dengan jelas mengiringi kata Demi kata. Kejernihan hati nya dalam menasehati Anak Anak ini begitu mudah dirasakan.

Ah,.. Benar juga. Pantas saja sang kakek begitu menggetarkan hati. Sebab ia melakukan ini semua karena ketulusan hati. Guru saya pernah bertutur ,bahwa bagaimanapun hati tetap akan menyentuh hati.

***

Terkagum dengan sosok ini,akhirnya saya mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang beliau.
Belakangan saya baru tahu,
sang kakek adalah duta Indonesia untuk UNESCO. Kini usianya sudah 78 tahun. Beliau pernah 13 Kali keluar masuk penjara karena menjadi aktivis Dan menentang beberapa kebijakan rezim pemerintah yang zalim. Puluhan tahun beliau habiskan dengan mendidik, menjadi guru. Mulai dari guru bagi Anak Anak hingga guru bagi para guru (dosen). Namanya menjadi kian dikenal karena berhasil menyulap Sekolah biasa bernama Labschool menjadi salah satu Sekolah terbaik di Indonesia.

Beliau adalah Prof. Dr. Arief Rachman. Guru besar di UNJ. Dan saya bersyukur berkesempatan belajar langsung dari beliau melalui forum ini.

Semoga kita bs meneladani beliau yg mendidik Dan berkirpah dengan hati.
Karena hati akan selalu menyentuh hati.
Posted on Leave a comment

Mendidik dengan cinta melalui satu kata sederhana: PERCAYA

Boleh jadi akhir pekan kemarin adalah salah satu akhir pekan yang paling mengesankan bagi saya. Saya diminta untuk menelaah (me-review) modul pelatihan guru dari kemendikbud. Melalui kesempatan yg hadir tanpa disengaja ini, sy bertemu dan tergabung dalam satu tim bersama bu Itje Chodijah. Beliau adalah sosok guru bahasa inggris yg (pada mulanya) nampak biasa biasa saja.

Pendapat saya itu sirna seketika saat saya, mas bukik dan bu Itje Chodijah berada di satu meja makan. Beliau banyak berkomentar tentang tata kelola pendidikan makro di Indonesia. Usut punya Usut ternyata beliau telah berkiprah sebagai guru bahasa inggris selama lebih dari 20 tahun yang lalu! Mulai dari mengajar anak anak di kota hingga ke pelosok pelosok desa di batas tepi negara Indonesia sudah pernah dilakoni oleh nya.

Malam itu, sambil menikmati hidangan di meja makan, beliau berkisah tentang pengalamannya memberikan pelatihan bagi guru-guru yang ada di daerah pedalaman kalimantan. Pelatihan diadakan dalam kurun waktu 3×2 pekan dengan jeda 4 pekan setiap tahapannya.

Selama pelatihan itu, beliau memengaruhi pemikiran para guru dan pemangku kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan di daerah setempat. Selama melatih beliau memegang satu prinsip:
“Mendidik itu harus dengan cinta. Dan kepercayaan adalah salah satu komponen terpenting dalam mencinta.”

Singkat cerita, berbekal kepercayaan yang beliau tanamkan kepada guru-guru di daerah tersebut, beberapa orang anak didik berhasil mewakili provinsi kalimantan barat untuk mengikuti final salah satu ajang kompetisi paling bergengsi di Jakarta. Padahal anak-anak ini tak memiliki akses pendidikan sebaik mereka yang berada di kota-kota besar.

Maka – kata beliau – disinilah kunci dalam mendidik: percaya.
Berikan kepercayaan kepada siapapun yang akan kita didik nantinya.
Bantu peserta didik untuk memercayai dirinya sendiri bahwa ia mampu melakukannya.

Jangan pernah anggap siswa didik kita tak mampu.
Jika memang benar demikian, coba cek ke dalam diri sendiri terlebih dahulu: jangan-jangan sebagai pendidik kita yang tak mampu sampaikan dengan baik dan benar?
Jangan-jangan kita yang tak cukup sabar?



Ah, benar adanya…
Mendidik itu bukan sekedar memindahkan isi kepala.
Lebih dalam lagi, mendidik itu memunculkan kesadaran dalam jiwa.

Tanpa cinta, tanpa ketulusan hati, apa yang akan kita munculkan dalam benak mereka?
Dan semuanya dimulai dengan satu kata penuh makna: percaya

Posted on Leave a comment

Rumah Impian, Dibangun dengan Keberkahan

rumah impian dibangun dengan keberkahan

Kami sering memanfaatkan saat-saat dalam perjalanan untuk menceritakan banyak hal, berbagi ide, atau sekadar berbicara hal ringan seputar keluarga kecil kami.

Suatu hari dalam perjalanan menuju rumah, kami melewati kawasan rumah elit yang desain rumahnya sangat bagus… tak ayal perbincangan kami pun menyinggung tentang rumah impian yang ingin kami bangun bersama. Obrolan pun mengalir..Desain-Rumah-Kayu-Minimalis-Modern

Kakang dengan penuh semangat menggambarkan suasana rumah yang memiliki area khusus untuk berbagi ilmu dengan warga sekitar. Saya tak kalah semangat menyampaikan tentang hunian yang ramah anak dan menjadi tempat paling nyaman bagi keluarga untuk belajar dan bertumbuh bersama. Merancang impian memang menyenangkan karena yang terbayang saat itu adalah kondisi ideal dari sesuatu yang kita harapkan, pada kenyataanya akan banyak sekali tantangan yang harus kita jalani sebelum mencapai harapan tersebut bukan?

Saat sedang seru-serunya berdiskusi, saya pun bertanya pada suami , “Bagaimana cara kita mendapatkan rumah idaman itu?” Jika diukur dengan keadaan saat ini memiliki rumah dalam waktu dekat masih menjadi sesuatu yang mustahil bagi kami, tapi siapa tahu..saya selalu meyakini akan ada campur tangan Allah yang mengiringi setiap ikhtiar kami.

“Neng, dari semua impian yang kita diskusikan tadi, ada satu hal yang harus selalu kita utamakan ya, keberkahan dari Allah. Dan kakang yakin bahwa keberkahan itu akan kita dapat salah satunya dengan berusaha melakukan cara yang benar untuk mendapatkan sesuatu. Kita harus saling menguatkan ya neng..Kakang gak mau terlibat riba saat membangun rumah kita nanti. “

“Tapi Kakang, temen ada lho yang pinjam uangnya dari bank syariah buat beli rumah, boleh ko katanya kalau dari bank syariah lebih sedikit madharatnya dibanding pinjam ke bank konvensional.” *polos 😀

“Oh gitu…Neng yang kuat aja ya doanya…mudah-mudahan Allah kasih rezeki yang cukup buat beli rumah tanpa harus meminjam ke bank.”

Jleb, jawaban suami membuat saya tercenung…teringat obrolan bersama teman yang tengah mempersiapkan suatu hal untuk membeli rumah beberapa hari lalu.

“ Kalau bukan melalui KPR, kapan kita bisa punya rumah nis? “

“Coba bayangin nis, kalau misalkan dalam sebulan kita Cuma bisa nabung 500.000, harus nunggu berapa puluh tahun lagi buat bisa beli rumah dengan cash?”

Pertanyaan itu sempat terlintas juga dalam benak saya, tapi setiap kali tanya itu terlontar, suami cepat cepat mengingatkan saya, “Kita teh sering lupa ya, ada Allah yang akan selalu menjamin kehidupan & memenuhi kebutuhan kita. Hati-hati neng, khawatir dengan berpikiran seperti itu tanpa sadar kita malah mengerdilkan kekuasaan Allah.”    Ah iyaa…matematikanya manusia itu memang terbataRumah-Idaman-Rumah-Impian-01s, padahal apa yang terlihat sulit dicapai akan terlaksana jika Allah berkehendak.

Sejak awal menikah, bukan sekali dua kali suami panjang lebar membahas tentang riba. Awalnya hanya berbagi tentang pengalaman beliau selama mengikuti training pengusaha tanpa riba, kemudian bercerita tentang bagaimana beliau dan team di perusahaannya berjuang keras agar tak sedikitpun terlibat hutang pada bank, hingga ia pun menyampaikan agar kami sama-sama berusaha menghindari riba dalam rumah tangga kami.

Saya patut bersyukur karena diingatkan langsung oleh suami mengenai bahaya riba’ ini. Kami sering membayangkan bagaimana jadinya kalau kami terlambat mengetahui ini dan terlanjur mengambil keputusan untuk mendapatkan rumah dengan jalan yang dilarang Allah? Sementara dalam rumah itu kami memiliki impian membangun generasi yang shalih & shalihah, sementara kami pun sepenuh harap meminta keberkahan dari do’a-do’a yang terlantun dalam rumah tersebut. Padahal kami tahu bahwa setiap do’a dan keberkahan terhalang oleh sesuatu yang haram yang melekat dalam diri kami.

Sejak saat itu, saya mulai mengubah sudut pandang saya tentang rumah impian. Bukan soal cepat atau lambat, bagus atau indah fisiknya… Namun tentang bagaimana agar rumah yang kami huni bisa selalu diliputi keberkahan dan dapat mengantarkan kami sekeluarga berkumpul kembali di syurga. Semoga…

Posted on Leave a comment

“Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?”

Ada satu pertanyaan menarik saat dosen menanggapi diskusi kami tentang manusia dan pemujaan. Saya lupa kronologisnya gimana, tapi tiba-tiba beliau bertanya kurang lebih seperti ini..

“Pernah terpikir gak kalau ternyata menuntut-ilmusholat kita ini beda dengan sholat yang Rasulullah lakukan? Iya beda, kita sudah terpaut terlalu jauh dengan zaman Rasulullah, sangat mungkin jika saat ini banyak praktek ibadah yang melenceng dari yang seharusnya.”Hmm, ya..saya sependapat dengan beliau. Bahkan dalam hati saya sering bertanya, “Apakah shalat saya sudah benar? Ya Allah…apakah Engkau menerima shalat saya selama ini? 😥

Pertanyaan itu terus mengusik saya hampir setiap waktu. Sampai suatu hari saya membaca nasihat bijak Nek Kiba dalam novel Amelia karya Tere Liye, meskipun ini fiksi tapi banyak ibrah yang bisa kita maknai didalamnya 🙂

Malam ini sepertinya Nek Kiba tidak akan bercerita tentang kisah Nabi atau para sahabat. Nek Kiba meluruskan kakinya. Meletakkan batang rotan. Bercakap santai tentang hal lain.

“Anak-anak, dalam agama kita, penting sekali melakukan sesuatu dengan ilmu. “ suara Nek Kiba terdengar lantang, mengisi langit-langit ruangan, memulai nasihatnya.

“Seseorang yang mengerjakan amal tapi dia tidak tahu tujuannya, tidak paham ilmunya, maka itu ibarat anak kecil yang disuruh mendirikan rumah. Tak tegak tiangnya. Tak kokoh dindingnya. Jangan tanya daun pintu, jendela, dan atapnya, sia-sia belaka.Semua orang dituntut untuk belajar, mempelajari apapun yang diperintahkan agama ini. Termasuk mempelajari ilmu yang tidak segera diamalkan. Naik haji misalnya, meskipun tak satu pun penduduk di kampong ini yang mampu naik haji, jangan tanya kapan akan berangkat, termimpikan pun tidak, tetap saja mempelajari ilmu naik haji jelas penting.”

“Lantas, apa itu yang disebut ilmu? Mudah saja. Ilmu adalah yang mendasari sebuah perbuatan ,dalil. Ilmu adalah yang menjelaskan secara benar kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Baik yang ditulis diatas kertas maupun yang disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Baik yang dikuasai oleh satu dua orang tertentu, apalagi yang diketahui banyak orang.:

Kami menatap wajah tua Nek Kiba yang terlihat semangat menjelaskan.

“Dalam kitab suci, jelas perintah soal ilmu ini. Ketika seseorang tidak mengetahui sebuah urusan, tidak paham, tidak mengerti maka bergegaslah bertanya pada orang yang tahu ilmunya. Jangan malas, jangan keras kepala, jangan bebal, apalagi hingga sok tahu mengerjakan sesuai pemahaman diri sendiri. Itu bisa jadi kekeliruan besar. Apa susahnya bertanya? Bukankah jika kita tidak tah ujalan, bertanya pada yang tahu mencegah kita tersesat. Jika kita tidak mengerti menghadapi binatang buas, bertanya mencegah kita diterkam. Bertanyalah, kalaupun kita sudah tahu, itu akan membuat kita lebih yakin lagi.

“Maka semua orang harus, menuntut ilmu adalah perintah agama. Kenapa kita shalat? Kenapa kita puasa? Semua orang harus tahu ilmunya. Tidak pantas seseorang saat ditanya kenapa ia shalat? Dia menjawabnya ikut-ikutan. Padahal dia sudah shalat beribu-ribu kali. Hanya ikut. Karena menirun semata. Iya Pukat, ada apa? Kau hendak bertanya?”

Kami menoleh ke arah Kak Pukat. Aku menghembuskan napas pelan. Aduh, kenapa pula Kak Pukat harus memotong kalimat Nek Kiba dengan mengacungkan jari?

“ Tetapi, nek, bukankah kami memang disuruh ikut saja orang tua saat sholat dan puasa? Mencontoh saja. “ Kak Pukat bertanya serius.

“Karena kalian masih anak-anak.” Nek Kiba menjawab takzim. “Maka kalian boleh mencontoh. Tapi dengan bertambahnya usia kalian, hukum menuntut ilmu itu jatuhpada kalian. Tidak ada alasan lagi. Beruntunglah yang sejak kecil sudah rajin membaca buku, sudah gemar mendengar nasihat-nasihat dari orang berilmu, maka dia mengerti lebih awal penjelasannya. Semoga itu akan terbawa hingga dewasa. Paham?”

(Novel AMELIA halaman 321-323, Tere Liye)

Kutipan Nasihat Nek Kiba diatas mengingatkan saya tentang pentingnya ilmu sebelum amal, dengannya bertambahlah iman kita dan hilanglah keraguan kita dalam menjalankan suatu perbuatan. Kita tidak pernah melihat langsung bagaimana Rasulullah mendirikan shalat ataupun amalan lainnya, tapi kita patut bersyukur karena para shahabat dan ulama telah banyak mewariskan ilmu yang akan memandu kita untuk mengamalkan apa yang telah Rasulullah teladankan.

Sekarang saya sudah menjadi orang tua, mungkin kelak akan tiba masanya Naira bertanya, “Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?” Menjawab pertanyaan anak dengan ilmu dan keimanan yang kokoh menjadi PR terbesar bagi saya dan suami. Karena jawaban itu bukan hanya terkait benar atau salah, tapi menjadi sebab diterima atau tidaknya amalan Naira disisi Allah kelak.. Apa yang harus kami usahakan sudah jelas yaitu giat membekali diri dengan ilmu dan meningkatkan kualitas amalan dengan ilmu yang dimiliki  semata meraih ridhaNya. Semoga Allah bimbing selalu…