Posted on 3 Comments

Big Siblings Blues: Mengatasi Sindrom Kakak Baru

Saya tidak akan pernah lupa, bagaimana reaksi Naira ketika saya melahirkan Nizar, anak kedua saya dan adik pertama bagi Naira. 

Saat itu Naira baru saja genap 3 tahun. Banyak orang bilang usia Naira sudah cukup untuk memiliki adik. Kami pikir ada benarnya juga, sepertinya Naira akan senang jika punya adik baru. Bukankah dengan itu rumah akan menjadi lebih ramai dan Naira jadi punya “someone to play with”? 

Hmm…saat itu, membayangkannya saja sudah membahagiakan 🙂

Seperti kebanyakan orang tua lain yang berencana menambah anak, kami berusaha untuk menyiapkan banyak hal. Disamping kesiapan kami sebagai orang tua, kami juga harus memperhatikan kondisi psikologis Naira untuk menyambut kedatangan adik barunya. 

Persiapan dimulai dengan banyak bercerita tentang adek bayi, karena Naira ini tipikal auditori maka untuk memberinya suatu pemahaman akan lebih mudah jika disampaikan dengan penuturan cerita. Lanjut dengan silaturahim ke rumah tetangga yang baru melahirkan. Harapannya ketika adeknya nanti sudah lahir, Naira tidak lagi kaget melihat adek bayi yang belum bisa melakukan banyak hal. Lalu tidak lupa kami juga melakukan pretend play (bermain peran) entah dengan media boneka-boneka Naira atau saya pura-pura menjadi kakak dan Naira jadi bayinya. Hehe..overall kami menikmati bersama proses persiapan menyambut adek bayi ini. Sekilas saya menangkap bahwa Naira sudah siap menjadi kakak. 

 Sampai waktu melahirkan adiknya tiba, Naira terlihat sangat gugup setelah saya bilang kalau sebentar lagi adiknya lahir. Saya pikir hal itu wajar, orang dewasa pun akan gugup jika menghadapi kondisi baru dalam kehidupannya. Saya dan ayahnya mencoba menenangkan Naira, mengalihkan fokusnya untuk bermain di playground dulu.

Qadarullah saat itu kami sedang merantau, baik orangtua dan mertua tidak ada yang bisa mendampingi proses persalinan saya. Praktis kami sempat kebingungan siapa yang bisa menjaga Naira saat persalinan berlangsung, karena Ayahnya juga ingin mendampingi saya di ruang persalinan. 

Tapi akhirnya ada seorang teman yang berbaik hati menawarkan diri menjaga Naira dan beruntungnya Naira pun mau dititipkan. 

Anehnya begitu dititipkan Naira tiba-tiba demam tinggi. Dalam hati ada perasaan khawatir Naira kenapa-kenapa, tapi pembukaan saya sudah lengkap. Saya pun hanya bisa berdoa, dan meyakinkan diri bahwa Naira akan baik-baik saja dengan Bu Rima dan Bu Hilda sementara saya fokus dengan proses persalinan yang ada di depan mata.

Jeda 20 menit kemudian tepat sebelum adzan magrib berkumandang, lahirlah adiknya Naira, disambut dengan demam Naira yang tiba-tiba turun. Alhamdulillah, lega sekali rasanya. Naira terlihat senang melihat adeknya sudah lahir. Namun menjelang malam hari, Naira mendadak tidak mau dekat-dekat dengan saya. Dia lebih memilih untuk bersama ayahnya. Sekitar jam 01.00 Naira yang biasanya jarang mengigau, tiba-tiba mengigau disusul tantrum yang sulit diredakan. 

Saat itu sebagai ibu, naluri saya merasa ada yang membuat Naira tidak nyaman. Dan baru saya sadar kalau demamnya, penolakannya untuk dekat dengan saya, dan mengigaunya di malam hari adalah gejala dari big Sibling blues atau sindrom yang dialami seorang anak saat menjadi kakak baru.

Ternyata bukan hanya seorang ibu yang mengalami sindrom setelah melahirkan. Tapi seorang anak juga bisa mengalami sindrom yang mempengaruhi psikologis mereka saat memiliki adik baru.

Apa itu Big Sibling Blues?

Big sibling blues adalah sebutan untuk kondisi dimana anak kaget, tidak siap, dan tertekan dengan kehadiran saudara baru di keluarganya. Anak berpikir jika kehadiran keluarga baru atau adik akan mengambil semua perhatian orangtua darinya. Anak akan berpikir orangtuanya tidak akan lagi menyayangi dan mencintainya.

Apa penyebab Big Sibling Blues?

Big sibling blues biasanya terjadi saat anak merasa tidak dipedulikan oleh orangtuanya, karena ayah dan ibunya sibuk mengurus sang adik yang baru lahir. Hal ini wajar, karena anak-anak belum mengerti konsep bersaudara, konsep bersaudara baru mereka pahami dari proses belajar. 

Bagaimana Reaksi Anak Ketika Mengalami Big Sibling Blues?

Separation Anxiety

Anak mengalami kecemasan berpisah dengan ibunya (separation anxiety) sehingga kehadiran adik membuatnya merasa tidak nyaman, terancam dan menakutkan yang menyebabkan anak lebih posesif terhdap ibunya.

Withdrawal (menarik diri)

Withdrawal yaitu anak menarik diri. Anak menunjukkan sikap murung, berubah menjadi pendiam dan lebih sensitif. Ia menjadi mudah menangis karena hal sepele.

Cemburu pada adik

Anak merasa cemburu kepada adiknya. Ia melihat adik sebagai penyebab hilangnya perhatian dan kasih sayang orangtua. kecemburuan itu bisa ditunjukkan secara terbuka bisa juga tidak.

Anger Instead

Anger instead (pengalihan kemarahan) selain menunjukkan kecemburuannya secara terbuka, sebagian anak menunjukkannya secara tersembunyi. Ia cenderung mengalihkan rasa cemburu yang tengah dirasakan.

Bentuk anger Instead yang biasa muncul :

  1. Sabotase bisa berupa menyembunyikan popok adik
  2. Sakit fisik bisa berupa badannya memang benar-benar sakit atau pura-pura sakit demi mendapatkan simpati.
  3. Monologuing (perilaku ngomel sendiri).
  4. Agresi pasif merupakan kemarahan yang tidak diekspresikan secara langsung kepada adik atau ibunya, contohnya ngambek atau tantrum.
  5. displacement anak; mengalihkan rasa cemburu atau kemarahan itu pada benda-benda.  Ia jadi senang membanting sendok, gelas maupun pintu.
  6. Regressive behaviour (perilaku regresif) yaitu kemunduran kemampuan, anak ingin diperlakukan kembali seperti bayi karena ia melihat bahwa bayi lebih disayangi.

Big Sibling blues apabila tidak ditangani dengan baik maka akan memicu tumbuhnya perilaku persaingan antar kakak dan adik di kemudian hari. Meskipun big sibling blues ini termasuk masa yang cukup sulit dilalui seorang anak, tapi inilah saatnya untuk memberikan pemahaman dan perhatian yang efektif tentang konsep bersaudara pada anak kita. 

Ada dua hal yang perlu kita perhatikan dalam mengatasi sindrom big sibling blues:

  1. Bagaimana kita menyikapi diri sendiri
  2. Bagaimana kita mengatasi perilaku anak

Bagaimana menyikapi diri sendiri saat menghadapi big sibling blues

  1. Tetap tenang,
    sadari bahwa being jealous is normal for all firstborns. Berapapun usia mereka. Coba bayangkan bagaimana rasanya jika perhatian seseorang yang sangat kita sayang tiba-tiba terbagi karena kehadiran orang baru? Sesak? Tidak nyaman? Sedih? Ingin marah? Kurang lebih seperti itulah yang tengah dirasakan sulung kita.
  2. Meminta bantuan pasangan
    untuk saling membantu dalam urusan pekerjaan domestik dan menjaga anak. Karena ada saatnya dimana kita akan kewalahan mengurusi berbagai amanah rumah tangga sekaligus memenuhi kebutuhan fisik dan psikis anak-anak. Jika tidak memungkinkan, jangan sungkan untuk meminta bantuan keluarga terdekat, atau mendatangkan ART agar perhatian kita bisa fokus pada anak-anak. Meminta bantuan bukan kelemahan kok, tapi bentuk ikhtiar kita agar tetap optimal dalam menjaga amanah dari Allah.
  3. Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan diri yaa bunda.
    Karena masa transisi ini adalah fase yang cukup sulit menurut saya dan suami. Selain asupan fisik, kita juga harus menjaga asupan mental kita. Jangan terlalu memperdulikan komentar orang lain yang tidak membantu, misalkan “Anak masih kecil gini kok tega sih udah dikasih adik lagi?”. Cukup kasih senyum aja, dan fokuskan energi untuk hal-hal yang jauh lebih penting.
  4. Banyak berdoa
    agar diberi kelapangan hati untuk bisa melalui tantangan ini dengan hati dan pikiran yang jernih.

8 Tips Menghadapi Anak dengan Sindrom Big Sibling Blues

Nah, itu dia 8 tips mengatasi sindrom kakak baru (big siblings blues) versi saya.

Saya yakin, setiap orangtua pasti memiliki pengalaman dan trik nya sendiri untuk mengatasi sindrom kakak baru. Yuk, bagikan pengalaman Anda di komentar tulisan berikut ini. Sedikit pengalaman Anda akan berarti untuk orangtua lainnya.

Sumber : Adhim, Mohammad Fauzil. 2013. Segenggam Iman untuk Anak. Yogyakarta. Pro-U Media.

Posted on 4 Comments

Tips Membangun Romantisme Ibu dan Buku

Pernah gak, suatu hari dengar ada seseorang yang bilang, “Kayanya kalau udah jadi ibu mah, apalagi punya bayi boro-boro bisa baca ya. Bisa tidur tenang aja udah sesuatu.”

Sejujurnya saat bayik mungil ketiga lahir, hati saya pun sering bergumam hal yang sama. Ya Allah, kerjaan di rumah aja udah banyak begini, kapan atuh bacanya. Rasanya kangen gitu bisa baca buku di suatu tempat yang sejuk dan tenang, sambil menikmati teh hangat 😅

Sudah 2 bulan ini coba mencari cara gimana biar ‘romantisme’ dengan buku itu terbangun lagi. Dan akhirnya nemu pola yang paling tidak cocok sama kondisi saya sekarang. Caranya gimana?
Kurang lebih seperti ini..

📓 Memilih buku yang tepat

“Read a book because you are passionate about that subject (Jay Shetty)”

Kita tertarik dan bergairah untuk membaca buku tentang apa?
Tapi itu aja belum cukup menurut saya, semakin terbatas waktu untuk baca kita akan semakin pilih-pilih buku yang akan dibaca, bukan hanya sebatas ketertarikan tapi KEBUTUHAN. Parameternya sederhana, apakah dengan baca buku tersebut amalan kita akan jadi bertambah baik atau sebaliknya.

📓 Cari waktu harian untuk baca buku

Nah ini yang sering jadi problem buat ibu baru (baru punya anak 3 😅) macem saya. Sulit meluangkan waktu buat baca karena merasa banyak amanah yang harus dikerjakan. Belakangan ini saya coba memanfaatkan 3 pilihan waktu untuk baca,

📆 Sore, saat anak-anak lagi main mandiri.
📆 Malam, sesudah anak-anak tidur
📆 Shubuh, sebelum anak-anak bangun

Kadang bisa baca di 3 waktu itu sekaligus, kadang sore sama malam aja, gak jarang cuma baca di waktu malam juga. Kondisional aja 😊

📓 Buat target
Kebanyakan orang mungkin membuat target baca dengan ukuran berapa banyak halaman yang dibaca. Saya pernah mencoba cara seperti itu. Tapi ternyata kurang nyaman menjalaninya. Maka saya buat target berdasarkan durasi waktu baca. Maksimal setengah jam di masing-masing waktu. Salah satu tujuannya biar bisa nge-rem disaat keasyikan baca buku, padahal amanah lain menanti untuk diselesaikan.

📓 Menunda baca buku baru sebelum mengamalkan paling tidak 1 ilmu yang didapat dari buku dan membagikan inspirasi yang ditemukan dari buku ke orang terdekat.

Alhamdullilah, lewat cara diatas semakin hari saya menyadari satu hal, mungkin iya waktu baca saya sudah gak seluang dulu. Suka atau tidak suka fokus saya harus berubah, bukan lagi tentang kuantitas dan seberapa banyak waktu untuk baca, tapi bagaimana agar waktu baca yang sedikit itu bisa berkah. Berkah dalam arti menetapnya kebaikan yang didapat dari ilmu yang dibaca dengan cepat mengamalkannya, bertambah manfaat dengan membagikannya.

Posted on Leave a comment

Memaknai Kehadiran Adik

👩 : Kak, kakak Nai seneng ga adiknya sudah dua?
👧 : Seneng banget bunda..
👩 : Oya? Coba bunda pengen tau kenapa Naira seneng punya adik lagi?
👧 : Iya, itu berarti Allah kasih banyak rezeki buat kakak.
👩 : MasyaAllah, berarti kalau Allah kasih rezeki yang banyak kita harus apa kak?
👧 : Banyak berdo’a, banyak bersyukur..iya kan bunda?

Saya hanya bisa tersenyum dan mengangguk menanggapi jawaban Naira. Speechless :’)

Cara Allah menguatkan dan mengingatkan itu seringkali tidak terduga. Salah satunya lewat celoteh gadis kecil kesayangan kami ini. Saya yakin, hati seorang anak itu bersih sesuai fitrahnya. Apa yang terucap dari lisannya bisa jadi sebuah ‘alarm’ yang ingin Allah sampaikan pada orang tuanya.

Disaat saya sempat merasa kondisi baru ini begitu menguras energi.
Nizar yang sering tantrum tengah malam karena proses menyapih yang belum tuntas dan Naufal yang masih belajar mengatur pola tidur.

Naira justru punya cara pandang yang berbeda dengan kehadiran adik-adiknya ini. Padahal saya sendiri tau betul bagaimana rasanya menjadi kakak pertama. Tidak mudah. Tapi Naira bilang adik-adik adalah rezeki dari Allah yang harus disyukuri :’)

Pantas selama ini Naira begitu ringan tangan membantu bunda menyiapkan keperluan adiknya. Berinisiatif menyuapi Nizar saat jam makan tiba sementara bunda harus menangani bayi dulu. Mengajak adiknya bermain bersama saat bunda harus menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Semuanya seperti tanpa beban karena Naira menyadari bahwa ia sedang belajar mengekspresikan rasa syukur pada Allah lewat kehadiran adik-adiknya. Barakallah nak…💕

Posted on Leave a comment

Dua Kunci Penting Sebelum Mengajarkan Al-Quran pada Anak

Tujuh tahun lalu, masih terekam jelas dalam ingatan masa dimana saya masih mengenyam bangku kuliah dan diamanahi untuk menjadi mentor tahsin bagi mahasiswa tingkat baru. Ada momen yang membuat saya menangis tergugu saat berhadapan dengan seorang gadis berusia 19 tahun yang sama sekali belum mengenal huruf hijaiyyah, padahal ia seorang muslimah sejak lahir.

Apa yang salah dengan gadis ini? Penampilannya terlihat dari kalangan berada dan garis wajahnya pun terlihat seperti seorang yang cerdas. Tapi mengapa di usia dewasanya ini, ia masih terbata mengeja alif-ba-ta? Bagaimana ia belajar memahami Al-Quran sementara membacanya pun tak mampu? Berbagai pertanyaan berkelebat dalam pikiran saya, salah satu yang paling mengusik adalah, apa yang telah orang tuanya lakukan selama ini sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang belum mengenal Al-Quran?

Jujur saat itu ada kecemasan dalam diri, ada rasa khawatir tentang masa depan saya ketika menjadi orangtua. Mampukah saya menjadi orangtua yang mengantarkan anak-anak saya men0jadi seseorang yang mencintai Al-Quran? Saya tentu tidak ingin serta merta menyalahkan kedua orangtua gadis tersebut. Tapi pengalaman ini mengingatkan saya akan satu hal bahwa adalah hak anak untuk diajarkan Al-Quran sejak kecil oleh kedua orangtuanya.

Maka dari itu saya semakin menyadari, saya harus belajar dan menyiapkan banyak bekal untuk menjawab kecemasan saya tersebut. Dan saya meyakini bahwa usia dini adalah pondasi utama untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan termasuk didalamnya menyemai kecintaan anak terhadap Al-Quran. Saya ingin sekali menjadi orang pertama yang mengenalkan Al-Quran dalam kehidupan anak-anak saya.

Baca juga : 5 Aktivitas Seru “Mengenalkan Hijaiyyah pada Anak” (Part-1)

Perjalanan belajar mengantarkan saya untuk bertemu dengan salah satu buku karya Dr Sa’d Riyadh yang isinya begitu mengetuk hati saya, bahwa apapun yang ingin kita tanamkan pada anak akan selalu berpusat pada dua hal, yaitu :

🏠 Rumah Teladan

Dalam bukunya, Dr. Sa’d Riyadh menyampaikan bahwa rumah adalah taman pendidikan pertama dan utama, tempat anak bertumbuh dan berkembang. Jika rumah menjadi basic pendidikan yang baik maka akan menghasilkan anak yang shalih lagi bermanfaat.

Rumah teladan, adalah rumah yang dimana penghuninya mencintai dan mengamalkan Al-Quran dengan cara menerjemahkan kecintaan terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Sehingga anak-anak secara langsung melihat dan merasakan suasana rumah yang mendorong dan membentuk dirinya untuk mencintai Al-Quran.

Ada 4 tipe rumah dalam proses pendidikan Al-Quran di keluarga :

🏡 Rumah yang penghuninya tidak peduli terhadap Al-Quran dan hanya membacanya sesekali. Namun orang tua berusaha untuk memasukkan anak-anaknya ke taman pendidikan Al-Quran terbaik agar mau menghafal dan mempelajari Al-Quran. Mereka lupa bahwa bagaimanapun anak akan mencontoh lingkungan terdekatnya yaitu keluarga.

🏡 Rumah yang penghuninya mempraktekkan ajaran Islam secara sulit, kaku dan fanatik. Termasuk dalam mendidik Al-Quran pada anak-anaknya. Orang tua mengajarkan Al-Qur’an dengan cara yang tidak sesuai dengan pertumbuhan anak, karakteristik, kemampuan dan kecenderungan anak. Sehingga suasana rumah dalam mempelajari Al-Quran terkesan penuh ketegangan yang akan menghambat sampainya perasaan cinta Al-Quran ke dalam hati anak-anak.

🏡 Rumah yang penghuninya melupakan Al-Quran, sehingga Al-Quran pun melupakan mereka. Bahkan mereka membuat sesuatu yang menggantikan Al-Quran, berupa lagu dan musik. 😢

🏡 Rumah yang penghuninya mencintai Al-Quran. Mereka bukan hanya membaca dan mempelajari isinya, tapi juga menerjemahkan rasa cinta terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Mereka menghidupkan nilai-nilai kebaikan pada Al-Quran dalam keluarganya, seperti saling mencintai, tolong menolong dan saling berlomba beramal shalih.

Rumah kita, termasuk tipe yang mana ya? 😊

📌 Pendidik Teladan

Cara terbaik untuk membuat anak tumbuh melakukan amal shalih yang kita harapkan, termasuk didalamnya mencintai Al-Quran, adalah dengan menjadi sosok yang perbuatannya dapat diteladani. Oleh karena itu, jika seorang pendidik ingin menanamkan perasaan cinta kepada Al-Quran di hati anak-anaknya, makan terlebih dahulu ia harus berusaha agar perbuatannya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Jika orang tua mencintai Al-Quran maka anak-anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Al-Quran atas izin Allah.

Bagaimana menjadi pendidik teladan yang akan dicintai anak?

❤ Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan terus memperbaiki hubungan baik dengan Allah dan memperbanyak do’a terbaik untuk anak kita.

❤ Mampu berinteraksi dengan anak sesuai dengan tahap perkembangan dan psikologis anak.

❤ Membuat variasi metode dalam mendidik & mengarahkan anak untuk mempelajari Al-Quran.

❤ Memberi hukuman dengan cara tidak memberi atau membatasi kesenangannya dan jangan pernah merendahkan anak karena kesalahannya.

❤ Pahami kecenderungan dan potensi anak agar pendidik bisa menyesuaikan metode belajar yang diberikan.

❤ Berikan kepercayaan dan berinteraksilah pada anak dengan cara memposisikan diri sebagai pembimbing yang bisa memahami mereka.

❤ Tanamkan rasa percaya diri pada mereka agar mereka menjadi pribadi yang lurus, teguh dan tidak mudah menyerah saat mempelajari Al-Quran.

❤ Cari tahu hambatan-hambatan yang akan mengganggu proses mendidik anak, entah itu berasal dari diri kita sendiri atau faktor luar. Sehingga kita bisa meminimalisir hal buruk yang akan menghambat diri dan anak kita untuk mendekat pada Al-Qur’an.

❤ Tumbuhkan kesadaran pada anak bahwa kita mencintai mereka, dengan menunjukkannya melalui perbuatan dan perkataan. Sehingga anak akan merasa dirinya berharga dan dicintai oleh orang tuanya.

Sampai sini masih bisa bernafas, bun? Hehe.. Ternyata dari dua hal ini saja rasanya masih banyak sekali PR kami dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Quran di hati anak. Terlebih saat melihat diri sebagai orang tua yang masih sangat naik turun interaksinya dengan Al-Quran. Allah, semoga selalu diberi semangat untuk belajar 😢

Posted on Leave a comment

Saat Anak Merasa Kecewa

Di usia Naira yang beranjak 5 tahun, kebutuhannya untuk bermain berwama teman semakin tinggi. Jika dilihat dalam tahap perkembangannya kebutuhan ini muncul untuk melatih sisi emosi dan kemandirian anak.  Semakin sering bermain bersama, otomatis banyak stimulus yang datang mempengaruhi perkembangan emosinya.

Sebagai orang tua kami pun berusaha memfasilitasi kebutuhan ini. Berhubung baru dua bulan kami menetap kembali di Bandung dan belum begitu mengenal situasi sekitar rumah, kami pun membuat kesepakatan bersama Naira. Intinya, Naira boleh mengundang teman-temannya untuk main di rumah bersama. Jika Naira ingin main diluar rumah pun boleh, tapi masih terbatas di beberapa area yang mudah kami pantau.

Oya, sebelum pindah ke Bandung kami tinggal di komplek pondok pesantren. Disana suasananya cukup kondusif. Beberapa anak yang bermain bersama Naira terbilang kooperatif, bahasanya santun dan mudah diarahkan. Jarang sekali muncul konflik yang berarti dalam pertemanan mereka. Berbeda dengan disini. Kami tinggal di sekitar pemukiman warga, sehingga teman-teman sebaya Naira pun sangat beragam sikapnya. Mulai dari yang baik dan santun, suka membawa mainan Naira tanpa izin, pipis sembarangan di halaman rumah sampai yang berbicara kasar pun ada. Maka wajar jika konflik yang muncul menjadi lebih kompleks.

Seperti hari ini, selepas bermain bersama temannya tiba-tiba Naira menghampiri saya dengan wajah ditekuk sedih. Tampaknya Naira ingin menyampaikan sesuatu yang penting.

“Eh ada kakak Naira. Udah selesai kak mainnya?” tanya saya.

“Udah bunda.” Jawabnya singkat.

“Kenapa, Nak? Kelihatannya lagi sedih. Ada yang mau Naira ceritain sama bunda?” pungkas saya penasaran.

“Iya bunda, tadi teh ada teman kakak yang injak-injak telor plastik kaka, sambil ketawa-ketawa lagi! Terus telor  plastiknya jadi rusak. Huhuhu..” terang Naira sambil terisak.

“Ya Allah, pasti sedih ya kak lihat telornya jadi penyok gitu?” saya mencoba berempati. Mungkin jika ada di posisi Naira saya pun akan merasakan hal yang sama, melihat barang kesayangan rusak oleh orang lain tentu sangat menyedihkan.

“Kaka sedih jadi gak bisa masak-masakan lagi, bunda.” tangisnya makin kencang.

“Ya sudah, sekarang kakak coba tenang dulu ya. Bunda tau pasti sedih rasanya. Boleh gak kalau bunda pinjam dulu telor penyok nya?” saya berusaha menenangkan tangis Naira dengan merangkul pundaknya. Lalu menawarkan alternatif untuk mensiasati agar mainannya bisa utuh kembali.

“Kak, kira-kira telornya masih bisa kita perbaiki gak ya?” ujar saya.

“Tadi udah kakak coba tapi gak bisa bagus lagi.” ucapnya terlihat sangat kecewa.

“Coba kita perbaiki sama-sama ya, siapa tahu bentuknya bisa bagus lagi.”

Naira mengangguk tanda setuju. Saya pun mencoba memperbaiki telor itu dengan melibatkan Naira untuk membantu membawakan alat-alat yang diperlukan. Dan voila, kurang dari sepuluh menit telornya sudah tidak penyok. Naira girang bukan kepalang. Ia pun langsung meraih wajan dan kompor mainannya untuk masak-masakan. Dengan senyum manisnya ia berkata,

“Alhamdulillah ya bunda ternyata masih bisa diperbaiki.”

Dari kejadian ini, ada banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik. Sebenarnya tidak mudah bagi saya untuk bisa setenang itu menghadapi kekecewaan Naira. Saat sedang ‘tidak waras’ mungkin saja saya berujar, “Aduh, gitu aja kok nangis sih, Nak. Kan bisa beli lagi yang baru!”

Tapi jika jalan pintas seperti itu diambil, maka tidak akan ada perubahan apa-apa pada diri Naira. Saya berharap Naira bisa belajar untuk berdamai dengan rasa kecewa dan fokus pada solusi tanpa terus meratapi keadaan apalagi menyalahkan orang lain. Saya sadar, itu semua bisa tercapai hanya jika saya bisa berempati dan memberikan respon yang positif saat berkomunikasi dengannya. Jadi kuncinya ada pada saya. Ini reminder banget untuk diri saya sendiri.

Alhamdulillah hari ini saya belajar untuk melakukan salah satu poin dari komunikasi produktif dengan anak, yaitu menunjukkan empati dan fokus pada solusi. Semoga lisan bunda yang penuh kekurangan ini selalu dibimbing Allah untuk berkata yang baik dan benar di hadapan anak-anak 😇

Posted on Leave a comment

Atasi Emosi Negatif Anak dengan 5 Langkah Ini !

Kurang lebih sebulan ini, tiga grup parenting yang saya ikuti kompak membahas tentang pengelolaan emosi ibu dan anak. Materinya banyak, setiap narasumber punya tips yang beragam. Satu narasumber menyebutkan perlunya time out saat anak mulai mengeluarkan emosi negatifnya. Narasumber lain menyampaikan bahwa ternyata teknik time out itu sudah tidak relevan, karena seringkali menimbulkan efek hukuman dibanding pembelajaran. Maka munculah metode baru yaitu time in.  Bingung? Iya, saya bingung mau mengaplikasikan ilmu yang mana. Banjir informasi membuat saya harus lebih bijak dalam menyeleksi setiap ilmu yang datang.

Sampai suatu hari Allah validasi ilmu-ilmu yang saya terima di kulwap itu dengan Nizar yang tantrum setiap kali saya mau shalat dan Naira yang uring-uringan setiap ingin BAK (padahal sebelumnya lantjar jaya). Saya sadar, mungkin ini cara Allah agar ilmu yang saya dapat tidak sia-sia, jadi langsung diberi situasi sebegitu rupa supaya ilmunya lebih cepat diamalkan.

Pada dasarnya kondisi seperti ini sangat wajar dialami oleh balita. Di usia balita, anak sedang belajar mengenal perasaan yang dialaminya. Selain itu, kemampuan balita untuk mengekspresikan perasaan dalam bahasa verbal yang masih sangat terbatas, biasanya menjadi pemicu stres dalam diri mereka.  Karena ada keinginan yang tidak tersampaikan dengan baik, akhirnya mereka hanya bisa menangis untuk mengungkapkannya.

Sayangnya orang tua masih sering merespon kurang baik dan tidak menunjukkan rasa empati terhadap emosi negatif anak.  Kita cenderung menjawab emosi anak dengan luapan kekesalan yang terkadang terjadi dengan spontan. Sebagai orang dewasa idealnya kita bisa memilih respon yang tepat dalam menghadapi situasi itu. Saya pun merasakan memang tidak mudah tetap bersikap tenang saat anak sedang tantrum. Tapi bukan berarti tidak bisa diusahakan. Prinsipnya, setiap kali orang tua mengalami tekanan emosi karena anak,  cobalah renungkan sejenak apakah respon yang kita berikan sudah sesuai dengan kebutuhan anak atau hanya mengikuti hawa nafsu kita?

Jadi, sebaiknya orang tua harus bagaimana menyikapinya? Setiap anak memiliki tempramen yang berbeda, maka sangat mungkin jika penanganannya pun akan berbeda. Ada yang berhasil dengan satu metode, ada pula yang harus memutar otak mencari cara lain demi meredakan emosi anak. Termasuk saya, meskipun ada banyak tips pengelolaan emosi, tetap saja pada prakteknya tidak semua bisa dilakukan karena alasan diatas. Nah, beberapa langkah ini mungkin bisa membantu ayah dan bunda melalui masa sulit menghadapi tantrum anak.Agar mudah diingat saya beri singkatan S-A-B-A-R.

– SADARI bahwa emosi negatif itu wajar dirasakan oleh anak. Cari penyebab mengapa tantrum bisa terjadi. Jika sudah dalam kondisi sadar, bisa jadi kita lebih mudah dan tenang menghadapi tangisan anak yang meluap-luap.

– ATUR posisi yang tepat dan nyaman bagi kita untuk mengatasi emosi negatif anak. Saat berdiri biasanya saya sulit sekali meredam rasa kesal, maka duduk sering menjadi pilihan. Selain bisa mengurangi emosi negatif, duduk membuat posisi diri kita sejajar dengan anak dan memudahkan kita untuk berempati terhadap kondisi anak.

–  BANTU anak untuk mengetahui dan memberi nama atas perasaan yang tengah dialaminya. Apakah itu sedih, marah, takut atau perasaan lainnya.

– AJAK anak untuk menenangkan diri dan menyelesaikan emosi negatifnya. Jika sudah tenang, ajari anak untuk mengutarakan keinginannya dengan cara yang baik. Contoh kasus Naira yang tantrum ketika ingin BAK. Setelah ditelusuri penyebabnya ternyata Naira stres karena takut jika harus BAK di toilet sendiri. Maka saya berusaha menenangkan dulu tantrumnya, menyampaikan kalau bunda ada di dekat Naira dan InsyaAllah Naira aman sekalipun bunda tidak ikut masuk toilet.

– REFLEKSI, jika suasana sudah kondusif dan anak sudah bisa diajak berbicara, cobalah untuk mulai berdiskusi kira-kira cara ia menyampaikan keinginan sudah benar atau belum. Beri ruang pada anak untuk merefleksikan perbuatannya tersebut. Jika belum benar, maka bicarakan bersama apa yang seharusnya dilakukan kedepannya. Oya, jangan lupa untuk meminta maaf pada anak jika ada respon kita yang kurang baik saat menghadapi anak yang sedang tantrum dan berusahalah untuk memperbaikinya.

Semoga 5 cara diatas bisa sedikit memberi solusi ya.  😊

 

Posted on 1 Comment

Menyapih atau NWP?

Saat mengetahui ada janin titipan Allah di usia Nizar yang belum menginjak 1 tahun, rasanya campur aduk, MasyaAllah. Tidak dapat dipungkiri ada rasa cemas kehilangan momen mengASIhi Nizar hingga usianya genap 2 tahun. Berbagai keraguan berkelebat dalam hati, saya khawatir tidak mampu melewati masa ini dengan baik. Namun perasaan tersebut langsung saya lawan dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan memberikan amanah melampaui batas kemampuan kita.

Pengalaman memberi ASI adalah sesuatu yang penuh kenangan bagi saya. Bukan karena ikut-ikutan trend jaman sekarang, terlebih karena menyusui adalah perintah Allah. ASI adalah rezeki yang dititipkan pada seorang ibu, sebagai tanda cinta dari Allah untuk setiap anak. Dan jika diniatkan untuk meraih ridha Allah, proses menyusui anak akan menjadi ibadah yang tak ternilai pahalanya.

Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang sedang menyusui bayinya,

“Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata’ala.”

Sejak itu saya mulai mencari dari beberapa literatur tentang bagaimana islam mengatasi kondisi ini. Dimana seorang ibu hamil saat anaknya belum usai disapih. Karena saya pun tidak ingin mengambil keputusan yang gegabah atau terburu-buru menyapih tanpa dasar ilmu.

Alhamdulillah, akhirnya menemukan rujukan dari buku Hanya Untukmu Anakku (terjemahan dari kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud) karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Beliau mengawalinya dengan anjuran untuk menyusui anak selama 2 tahun yang tertulis dalam Alquran.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)Ayat ini mengandung beberapa hukum :
1. Masa menyusui yang sempurna adalah dua tahun. Hal ini menjadi hak seorang anak jika dia membutuhkannya dan belum bisa lepas darinya. Penyebutan حولين (dua tahun) yang diperkuat dengan كاملين (penuh atau sempurna keduanya) bertujuan agar lafazh حولين tidak dipahami satu tahun atau lebih dari dua tahun.

2. Apabila kedua orang tua ingin menyapih anaknya sebelum masa itu dengan kerelaan keduanya dan setelah musyawarah, maka dibolehkan untuk menyapih selama tidak berdampak buruk pada anak.

3. Jika seorang bapak menginginkan anaknya disusui oleh wanita lain selain ibunya, maka hal itu boleh dilakukan sekalipun ibunya menolak. Kecuali jika hal tersebut akan mendatangkan keburukan bagi ibu atau anaknya, maka hal itu tidak diperkenankan. Dan ibunya pun boleh melanjutkan menyusuinya hingga jangka dua tahun atau lebih.

(Hanya Untukmu Anakku, halaman 436)

Dari penjelasan diatas saya menarik kesimpulan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang memungkinkan seorang ibu untuk menyapih anak lebih awal dari yang dianjurkan oleh Alquran. Pada bahasan berikutnya beliau pun membahas salah satu kondisi yang mungkin terjadi yaitu ibu hamil saat masih menyusui anaknya.

Menurut penuturan beliau ada beberapa pilihan yang harus diambil ketika ibu mengalami hal tersebut. Dua hal yang sangat beliau anjurkan adalah segera menyapih anak sekalipun belum mencapai usia 2 tahun atau mencarikan ibu susuan. Mengapa demikian? Karena seiring bertambahnya usia kehamilan, produksi ASI jumlahnya akan berkurang akibat homon estrogen yang semakin meningkat. Secara tidak langsung hal tersebut akan berpengaruh pada asupan gizi sang anak. Namun ungkap beliau, tidak juga ada larangan untuk meneruskan memberi ASI jika memang tidak ada efek buruk pada anak dan ibu setelahnya. Dua anjuran diatas disarankan atas dasar kehati-hatian. Wallahua’alam.

Saya sempat galau akan menyapih atau NWP (Nursing While Pregnant). Setelah menimbang, akhirnya saya pun mencoba untuk meneruskan mengASIhi Nizar. Karena selama ini tidak ada reaksi yang saya rasa akan membahayakan janin, seperti kontraksi saat menyusui atau lemas berlebihan setelah menyusui anak. Saya tidak ingin langsung menghentikan pemberian ASI pada Nizar, karena khawatir akan menciderai psikisnya.

Meskipun begitu saya berniat untuk menyapih Nizar lebih awal secara bertahap dan senatural mungkin, tanpa paksaan. Sehingga begitu adiknya lahir, Nizar sudah siap dengan kondisi barunya. Qadarullah, mungkin ini sudah menjadi sunnatullah. Di usia kehamilan menginjak 6 bulan, semakin jarang saya merasakan LDR (Let Down Reflex) atau asi mengalir deras saat menyusui. Sehingga Nizar pun mengurangi kebiasaan meminta ASI dengan sendirinya. MasyaAllah.

Hingga sekarang Nizar masih meminta ASI sewaktu-waktu dan saya pun masih memberikannya. Saya yakin Allah sudah mengaruniakan pada diri seorang anak kemampuan untuk mengenali kapan ia siap untuk menyapih dirinya sendiri. Biidznillah…

Posted on 1 Comment

Adab Sebelum Ilmu

Pernahkah kita merasa, betapa seringnya  mendapat ilmu tentang sesuatu tapi rasanya sulit sekali hati tergerak untuk mengamalkannya. Dalam dunia parenting misalnya, entah sudah berapa kali kita mendengar bahwa memarahi anak akan memberi dampak yang buruk pada psikis mereka. Berulangkali pula kita dengar hadits Rasulullah tentang keutamaan menahan amarah, namun kita masih saja sulit menahan diri untuk tidak mengomel disaat tingkah laku anak begitu menguji. Kita sibuk mencari ilmu kesana kemari tapi sedikit sekali yang membekas dalam  amalan dan hati.
Rasanya ada sesuatu yang keliru dari cara kita mencari ilmu 😢

Satu bulan yang lalu saya memutuskan untuk mengikuti dua kuliah online yaitu Halaqah Silsilah Islamiyah (HSI) yang dibimbing oleh Ustadz Abdullah Roy dan Kuliah Bunda Sayang dari Institut Ibu Profesional (IIP). Menariknya dua kelas ini diawali dengan materi yang sama, tentang adab sebelum ilmu. Lalu tiba-tiba saya merasa sedih, mengingat perjalanan menuntut ilmu selama ini ternyata masih jauh sekali dari adab yang seharusnya. Jangan-jangan selama ini saya hanya fokus menimbun ilmu tanpa peduli dengan adabnya. Padahal ulama terdahulu sangat tinggi perhatiannya terhadap adab ini. Seperti yang yang telah dikatakan Ibnul Mubarok,

“Kami mempelajari masalah adab  selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Adab qobla ‘ilmu. Tiga puluh tahun tentu bukan waktu yang singkat, butuh kesungguhan dan kesabaran dalam mempelajarinya. Semakin saya belajar tentang adab semakin saya mengerti kenapa para ulama menginvestasikan begitu banyak waktunya untuk mempelajari adab sebelum ilmu kepada gurunya. Karena adab lah yang akan menjadi kunci terbukanya hamparan ilmu yang dimiliki sang guru. Lebih dari itu, adab menjadi jaminan barakah atau tidaknya suatu ilmu bagi seseorang.

Dalam kajiannya, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan setidaknya ada 3 keutamaan bagi orang yang mempelajari ilmu dengan adabnya.

1. Orang yang menjaga adab dan kepada Allah saat menuntut ilmu akan Allah percepat pemahamannya terhadap ilmu.
Yusuf bin Al Husain berkata,

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

2. Orang yang menuntut ilmu dengan adabnya akan mudah mengamalkan ilmu yang diterimanya.

3. Orang yang menuntut ilmu dengan adabnya akan Allah mudahkan ia dalam mengamalkan ilmu disertai adab dari ilmu yang tengah diamalkannya. Misalkan seseorang belajar tentang shalat tahajud kepada seorang ulama dengan memperhatikan adab saat belajar, maka Allah berikan ia kemudahan untuk mengamalkan shalat tahajud plus adab dari shalat tahajud itu sendiri.

Lalu apa saja adab yang harus kita perhatikan sebelum menuntut ilmu? Ada beberapa hal yang harus menjadi fokus kita, diantaranya :

🌸 Membersihkan tempat ilmu yaitu hati. Apabila hati bersih maka ilmu akan berkenan masuk. Semakin bersih hati, semakin mudah menerima ilmu.
🌸 Mengikhlaskan NIAT dalam mencari ilmu. Contohnya mencari ilmu untuk :
⏺Mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain.
⏺Menghidupkan dan menjaga ilmu supaya tidak punah.
⏺Mengamalkan ilmu.
🌸 Mengumpulkan TEKAD untuk mempelajarinya, senantiasa memohon PERTOLONGAN ALLAH dan tidak merasa lemah.
🌸 Tawadhu dan tidak merasa paling tahu.
🌸 Memusatkan semangat untuk mempelajari Alquran dan Hadits.
🌸 Menempuh jalan yang benar dalam menuntut ilmu.
🌸 Bersegera dalam mendapatkan ilmu.
🌸 Pelan-pelan dalam menuntut ilmu dengan memulai dari buku-buku yang ringkas.
🌸 Memilih teman yang shalih dalm perjalanan menuntut ilmu.
🌸 Berusaha keras dalam menghafal, mengulang dan bertanya kepada guru apabila ada yang tidak dipahami.
🌸 Menghormati ahli ilmu atau guru, termasuk meluruskan dengan cara yang baik dan benar jika melihat kesalahan dalam diri sang guru.
🌸 Menghormati majelis ilmu dan sumber ilmu.

Saya sangat berterima kasih kepada para guru yang sudah begitu banyak mengingatkan betapa pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Semoga ilmu yang sudah dibagi membekas dalam hati dan amalan sehingga mengundang pahala yang terus mengalir untuk beliau semua. Dan semoga Allah membimbing langkah kita untuk memperbaiki setiap kekurangan dalam menuntut ilmu.

“Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.” (Syaikh Al-Ushoimi)

Sumber :
– Ringkasan materi “Adab Menuntut Ilmu IIP”
– Ringkasan materi HSI “Pengagungan terhadap Ilmu’
https://muslim.or.id/21107-pelajarilah-dahulu-adab-dan-akhlak.html

Posted on Leave a comment

Kenangan Bersama para Permata Alquran 💕

Malam itu, di penghujung halaqah quran, seorang santri ragu-ragu maju ke hadapan saya. Wajahnya tertunduk malu, lirih ia menyampaikan kalau hafalannya belum lancar.

Saya pun memintanya untuk mencoba dulu. Baru baris kedua hafalannya mulai tersendat, susah payah ia coba mengingat tapi hasilnya masih sama. Akhirnya ia pun tergugu, air matanya tumpah di depan saya. Saya hanya bisa mengusap pundaknya dan berusaha memahami kondisinya.

Saya tahu, betapa menghafal alquran bukanlah sesuatu yang mudah ditengah aktivitas pondok yang padat dan sedikit waktu istirahat.

” Coba tenangkan hatinya dulu, ibu tunggu kalau masih mau setor hafalannya.” ucap saya. Tapi ia menolak dan memilih untuk melanjutkan usahanya.

MasyaAllah. Ia pun mengulang hafalannya lagi dengan sisa isak tangis yg masih terdengar. Alhamdulillah…hasilnya lebih baik dari sebelumnya dan 2 halaman pun selesai ia setorkan.

Selepas setoran ternyata ia masih menangis, pelan ia bilang..

“Ibu, kalau ada pelajaran yang saya lupa, saya masih bisa tenang untuk belajar lagi. Tapi kalau saya lupa sama hafalan quran, rasanya sedih bu, bawaannya ingin nangis terus.”

Ahh..saya jadi ingat, setiap kali saya menyimak hafalannya, di sudut halaman quran miliknya selalu ada note kecil bertuliskan “Murajaah, Dzikrullah”. Mungkin saat ia mulai lupa dengan hafalannya, saat itu juga ia merasa bahwa hari itu sedikit sekali baginya mengingat Allah.

Nak..ibu kagum, sungguh.. :’)

Pada kesempatan lain selepas ujian tahfidz seorang gadis kecil lagi-lagi menangis. Dengan raut wajah yang bingung campur sedih ia pun bercerita pada saya.

“Ibu, Nisa bingung. Nisa sudah berusaha itikaf di masjid sambil terus muraja’ah. Nisa kurangi jam tidur untuk persiapan ujian tahfidz. Tapi apa hasilnya bu? Nisa tetap lupa banyak ayat saat setoran. Aneh bu, padahal teman Nisa yang lain meskipun kelihatan banyak main tapi setorannya lancar. Nisa kurang usaha apa bu?” tangisnya semakin meledak.

“Nisa, tau gak ada banyak cara Allah untuk mendekatkan kita dengan alquran? Salah satunya lewat ujian tahfidz ini. Nisa, lupa itu bukan suatu kesalahan, tapi itu tanda dari Allah supaya kamu lebih sering mengulang hafalanmu, supaya nisa lebih dekat dengan alquran. Nisa tau kan pahala membaca quran? Setiap hurufnya ada sepuluh kebaikan. Bayangkan kalau misalkan dalam sehari nisa murajaah 1 halaman dan ada 200 huruf yang Nisa baca. Lalu Nisa lupa dan nisa ulangi lagi muraja’ah halaman itu sampai 5 kali. Ada berapa banyak pahala yang Nisa kumpulkan? Banyaaaak sekali nis. Itu baru hitungannya manusia. Belum lagi pahala dari itikaf nisa dan waktu tambahan untuk murajaah. Allah pasti lipat gandakan pahalanya. Nisa, kamu sudah berusaha keras. Ibu ingin Nisa jaga terus semangat untuk itikaf dan muraja’ah sampai gak ada waktu yang terlewat sia-sia. Karena semakin sungguh-sungguh Nisa memperjuangkan itu, InsyaAllah semakin mudah pertolongan Allah datang. Ibu yakin Nisa bisa. “ jawab saya panjang lebar.

Tangisnya pun mulai mereda. Wajahnya terlihat lebih tenang.

Ah, menjadi guru itu bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang saya bagi pada murid saya. Tapi tentang bagaimana cara Allah menegur dan mengingatkan saya dengan lembut melalui mereka. Apa kabar saya yang masih menjadikan hal-hal remeh sebagai alasan untuk melalaikan qur’an 😭
Saya guru, saya tidak lebih mulia dari mereka. Tapi mereka, santri-santri saya, selalu memberi saya pelajaran yang sangat berharga dengan cara mereka yang mulia..Barakallahu fiikum, kesayangan ibu, para permata Al-Quran ❤

Dua tahun menemani para permata alquran untuk mengingat ayat-ayat Allah adalah kenangan yang akan terus terekam dalam ingatan saya. Dari mereka saya memaknai arti kesungguhan untuk selalu mendekatkan diri dengan alquran.

Meski hari ini raga sudah tidak lagi bisa membersamai, tapi kenangan-kenangan bersama kalian akan selalu menjadi penawar disaat rindu itu datang.

Posted on Leave a comment

Menata Niat Menggapai Barakah Pernikahan

Jika suatu hari datang melamar kepadamu 3 lelaki yang..
1. Shalih, paras tampan, belum berpenghasilan.
2. Belum shalih, paras sangat tampan, sudah mapan.
3. Sedang belajar menjadi seorang yang shalih, paras biasa, penghasilan belum tetap.
Kira-kira lelaki mana yang akan dipilih?
Shalihat, tidak ada jawaban yang benar ataupun salah tentunya, tapi disadari atau tidak pilihan kita akan sangat dipengaruhi oleh satu hal yang akan menjadi sandaran kita saat mengarungi bahtera pernikahan di kemudian hari bersamanya. Apakah itu?
Menikah dalam Islam bukan hanya menyatukan jalinan cinta dua insan, tetapi lebih dari itu, karena dengan menikah maka menjadi sempurnalah setengah agama kita. Menikah menurut sebagian ulama menjadi ibadah terpanjang dalam kehidupan umat muslim jika diawali dengan niat yang benar. Oleh sebab itu sangat penting bagi kita untuk mempersiapkannya dengan baik.

Tentu kita tidak ingin ibadah terpanjang kita menjadi sia-sia, menjadi tak berpahala karena niat yang keliru. Lalu apa itu niat? Niat adalah amalan hati (amaliyah qolbiyah), ia menjadi pondasi dalam melakukan amalan dan menjadi syarat diterimanya suatu amalan.Niat bukanlah semata apa yang kita ucapkan, tapi ia menjadi alasan yang menggerakkan kita untuk melakukan suatu amalan.

Sebagai muslim, kita mengetahui bahwa setiap niat yang terbersit dalam hati harus dalam kerangka ibadah dan meraih keridhaan Allah. Begitupun dengan menikah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang mengawini seorang perempuan karena parasnya, maka Allah akan menambahkan kehinaan padanya (suaminya), barang siapa yang menikahi perempuan karena hartanya, maka Allah akan menambah kemiskinan padanya. Barangsiapa yang mengawini perempuan karena tahtanya, maka Allah akan menambah kerendahan padanya. Dan barangsiapa yang mengawini orang dengan maksud hendak menjaga pandangan mata, menjaga kemaluan, atau menyambung hubungan keluarga, maka Allah akan memberkahi ia pada istrinya dan memberkahi istri padanya.” (HR. Al-Thabrani)

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari hadits diatas? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menentukan niat menikah, karena ia menjadi penyebab barakah atau tidaknya kehidupan pernikahan yang akan kita jalani. Maka niat menikah harus bersandar pada ketaatan kita kepada Allah,

🌷 Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul
🌷 Menjaga Pandangan dan kemaluan dari hal yang diharamkan.
🌷 Melahirkan generasi muslim pengemban risalah islam
🌷 Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan keluarga).

Paras yang tampan, harta yang melimpah dan tahta tidaklah abadi, semua akan mengundang rasa kecewa jika tidak diniatkan karena Allah. Bahkan saat memilih karena keshalihan pun, kita harus mau berusaha menelisik hati apakah niat nya sudah karena Allah atau ada terbersit perasaan ingin dipuji karena memiliki pasangan yang shalih.

Terkadang kita sulit mendeteksi apakah niat kita sudah lurus karena Allah atau belum. Tapi saat niat kita sudah lurus, coba maknai… akan Allah karuniakan dalam hati kita :

🌹 Jiwa yang tenang saat melakukan amalan
🌹Tidak terpengaruh penilaian orang lain
🌹 Tidak kecewa jika Allah menghendaki suatu hal selain dari yang kita inginkan

Adakalanya niat awal kita sudah lurus, namun berubah sesaat setelah akad terucap. Shalihat, syaithan itu gerah jika ada orang yang beramal baik, maka ia akan terus mencari celah untuk menggugurkan amal baiknya, godaan akan terus dilancarakan agar kita melenceng dari apa yang dikehendaki Allah, niat kita dibuat goyah.

Maka sangat penting bagi kita untuk menjaga niat tetap lurus karena Allah baik saat memutuskan memilih calon pendamping, saat berproses, dan setelah menikah pun kita harus selalu berusaha untuk terus memperbaiki niat kita. Bagaimana caranya? Hati kita, Allah yang genggam, maka sebaik-baik upaya adalah dengan memohon pertolongan Allah agar ditetapkan hati kita untuk menjadikan pernikahan sebagai sarana ibadah meraih ridha-Nya.

Adapun pertolongan Allah dapat kita jemput melalui beberapa Amaliyah, seperti :

💕 Rajin membaca dan mengkaji Al-Qur’an dengan tujuan untuk mendapatkan petunjuk dari Allah. Kita tahu bahwa salah satu nama Al-Quran adalah Asy-Syifa, dalam bahasa arab Syifa diartikan sbg obat yang paling ampuh untuk membersihkan hati kita dari berbagai penyakit, hati yang bersih InsyaAllah akan melahirkan niat yang lurus karena Allah.

💕 Memperbanyak qiyamullail dan shaum untuk menjaga diri kita dari perbuatan sia-sia yang bisa menyebabkanl niat kita luntur.

💕 Yang paling penting adalah dengan tekun berDOA, kita manusia adalah makhluk yang lemah mintalah pertolongan dan kekuatan darinya untuk teguh menjaga niat karena-NYA.

Sejatinya memperbaiki niat adalah pembelajaran kita seumur hidup, ia akan selalu diuji seiring perjalanan hidup kita. Jangan sampai bahtera pernikahan kita kelak menjadi salah arah karena niat yang salah. Jadikan ia lillah, berharaplah agar pernikahan kita selalu diliputi barakah. Berusahalah sekuat upaya untuk mendekat pada Allah, mintalah padaNya agar selalu membimbing pernikahan kita hingga bermuara di Jannah-Nya. Agar jika suatu saat ada masalah berat menyapa, maka Allah kuatkan diri dan pasangan kita untuk melaluinya dengan penuh keimanan.

Selamat menata hati,
Selamat mempersiapkan diri,
Membangun cinta yang

tinggi,

Menggapai ridha Illahi.

*Beberapa waktu lalu saya diminta untuk mengisi kulwap tentang niat menikah. Cara Allah mengingatkan saya, supaya saya mau merenungi dan meresapi lagi tentang niat yang harus senantiasa diperbaiki menjelang 5 tahun pernikahan kami. Karena saya percaya, apa yang ditulis dan dibagi itu sejujurnya adalah media refleksi untuk diri sendiri.. 😊

Posted on 4 Comments

Mengenalkan Allah Pada Anakku

“Pada usia dibawah 7 tahun dimana seluruh indera sedang berkembang pesat, keingintahuan anak sedang sangat tinggi, maka masa ini adalah masa terbaik untuk menanamkan TAUHID dalam jiwa anak.”

(Malik bin Marwan)

Sejak dikaruniai seorang anak, saya dan suami sepakat. Bahwa pendidikan pertama dan utama bagi anak-anak kami adalah aqidah, bagaimana ia mengenal Rabb-Nya. Maka selagi mengandung anak pertama, saya dan suami pun berusaha mengisi ruhiyah dengan mengikuti kajian, membaca buku, menambah kualitas ibadah, dll.

Tujuannya untuk ‘berisi sebelum mengisi”. Karena tidak mungkin berharap memiliki anak yang mencintai Allah, sementara orang tuanya sendiri tidak bersungguh-sungguh untuk mencintai Allah. Meski pada kenyataannya, sampai sekarang pun kami masih harus terus belajar dan akhirnya belajar bersama anak untuk memperkuat aqidah. Tapi tidak apa-apa, justru ini akan menjadi perjalanan belajar yg menyenangkan untuk kami, InsyaAllah.

Menyemai kecintaan pada Allah untuk anak balita tentu punya tantangan tersendiri, tapi bukan berarti sulit juga. InsyaAllah ada beberapa cara yang ingin kami bagi, semoga bekenan..
Continue reading Mengenalkan Allah Pada Anakku

Posted on Leave a comment

4 Tahapan Menanamkan Iman Pada Anak

Suatu hari di kelas Perbandingan Agama, seorang teman bertanya…

“Pak, apa yang mengharuskan kami mempelajari mata kuliah ini, sementara kami tahu bahwa Islam adalah agama yang sempurna?”

Suasana mendadak hening, beberapa kepala mengangguk sepakat dengan pertanyaan yang diajukan.

Beliau nampak termenung & menghela nafas…

“Karena kelak anda akan memiliki anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka akan menanyakan banyak hal, termasuk tentang agama kita. Anda harus tahu, pertanyaan anak-anak itu seringkali melampaui apa yang kita bayangkan..”

Saya tertegun mendengar jawaban beliau yang diluar dugaan. Pikiran langsung melayang pada Naira. Sudah sesiap apa diri ini menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu kelak? Sudah seserius apa saya membekali diri dengan ilmu agama? Mampukah saya menumbuhkan benih iman yg sudah Allah karuniakan dalam jiwanya, seiring pertumbuhannya?

Lalu dengan mantap beliau menyampaikan..

Continue Reading

Posted on Leave a comment

Untukmu, Cermin diri Ayah & Bunda

Anakku…

Banyak orang bilang, buah tak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin tak keliru jika ayah & bunda mengartikan kelak ketaatanmu kepada Allah, kecintaanmu kepada Rasulullaah, komitmenmu terhadap  Islam, kedekatanmu dengan Al-Qur’an tak akan jauh berbeda dari apa yang tertanam dalam diri ayah & bunda sejak saat ini. Baik, setengah-setengah ataukah buruk? Tentu bunda inginkan yang terbaik untukmu, nak…

Ananda, penentram jiwa bunda..

Seorang ibu adalah madrasah pertama untuk anaknya, yang apabila ia mempersiapkannya dengan baik maka akan terlahirlah generasi-generasi yang hebat buah dari pendidikannya. Lalu bunda tersadar, semua persiapan itu tidaklah instan, semua persiapan itu tidak bisa tercapai tiba-tiba. Perlu proses  panjang yang akhirnya membuat bunda banyak belajar dan memahami makna keutamaan sebuah “madrasah”. Ibarat menanam benih yang baik, agar ia tumbuh subur dan dapat memberi manfaat kelak kepada banyak orang, maka bunda harus mengetahui kapan saat terbaik untuk menyiramnya, pupuk apa saja yang akan menopang tumbuh kembangnya, bagaimana ilmu untuk merawatnya. Bunda harus telaten dan sabar untuk itu. Tak elok rasanya jika bunda inginkan yang terbaik untukmu, tapi bunda sendiri enggan berjuang memantaskan diri di hadapan Allah.

Semakin bertambah usiamu nak..
Kau ajarkan ayah & bunda untuk tak lelah belajar dan memperbaiki diri. Kami pun semakin memahami bahwa dalam ikhtiar mendidikmu kunci utama yang harus selalu kami tekadkan adalah tak henti menumbuhkan kesabaran. Terimakasih nak… 🙂

Ayah & Bunda bingkis doa terindah untukmu nak,

“Rabbii hablii minash shaalihiin.”

Shalih, shalihah, kelak jadilah permata hati kami yang mencinta & dicintai Allah…

Posted on Leave a comment

Menuju Jannah Bersama Ayah

Kami percaya bahwa menjalani rumah tangga itu tidak sama seperti menggoreng pisang. Bisa jadi kita tidak perlu belajar secara serius dan kontinyu cara menggoreng pisang. Berbeda dengan berumah tangga. Tantangan yang kita hadapi kian hari kian kompleks, tanpa ilmu rasanya mustahil semua bisa dilalui dengan mulus. Tanpa persiapan yang matang, naif rasanya jika kita ingin rumah tangga kita menjadi jalan ke surga.

Sebagai bentuk pembelajaran, pekan lalu kami menonton tayangan ulang sahabat kami, yabi canun di kanal facebook miliknya. Seperti biasa kami mencoba membuat catatan atas materi-materi yang kami pahami berdasarkan pemaparan kang canun. 

Materinya bagus sekali. Menggugah kesadaran saya selaku kepala keluarga untuk menjadi imam yang sepatutnya bagi keluarga kecil kami. Pikir saya, materi sebagus ini sudah semestinya dinikmati pula oleh para ayah lainnya. Tapi, tidak semua ayah memiliki waktu yang cukup untuk menyimak webinar selama 1 jam. Oleh karena itu saya coba buatkan sebuah infografis sederhana berisi materi yang disampaikan oleh kang canun. Dengan harapan para ayah tetap belajar sesuatu dalam waktu yang relatif lebih singkat.

Berikut ini adalah infografis berisi catatan kami saat mengikuti webinar bersama kang canun tanggal 7 november lalu. Bagi yang ingin menyimak webinarnya silakan bisa klik di sini.

 

Unduh infografis

Posted on 2 Comments

Jangan Lupakan Sejarah Orang Terdekatmu!

Suatu hari kami sekeluarga mengikuti kajian Ustadz Budi Ashari. Dalam kajiannya beliau memberikan tugas kepada kami untu
k mencari tahu hasab dari keluarga kami masing-masing. Apa itu hasab?
Saat akan menikah, ada banyak sekali pertimbangan yang menjadi sebab bagi seseorang untuk memilih calon pendampingnya. Bagi umat muslim tentunya pertimbangan-pertimbangan tersebut harus tetap berada dalam koridor yang disunnahkan Rasulullah. Salah satu diantaranya adalah memperhatikan nasab dari calon pendamping. Tapi ternyata bukan hanya nasab yang harus kita perhatikan, Ustadz Budi menyampaikan bahwa disamping Nasab ada Hasab keluarga yang juga perlu kita pertimbangkan. Lho apa bedanya Nasab dan Hasab? Nasab berkenaan tentang garis keturunan atau ikatan kekeluargaan seseorang. Sementara hasab lebih dari itu, selain garis keturunan kita juga harus menelisik lebih jauh tentang sejarah keluarga kita mulai dari apa potensi yang dimiliki ayah & ibu, nenek & kakek serta buyut kita? Adakah hal baik dari mereka yang bisa kita tiru, atau adakah hal buruk yang bisa kita ambil pelajarannya agar tidak terulang dalam keluarga kita?
Setelah mendapatkan kajian tentang hasab, maka kami pun mulai mencari tahu tentang kepribadian, keahlian, serta perjalanan berkeluarga kakek, nenek, buyut, dan  orang tua kami masing-masing. Sampai kami pun menemukan suatu hal unik, ternyata ada keahlian yang mirip dari Abi dan mama mertua, sama-sama suka menulis dan dua-duanya sudah membuat buku. MasyaAllah.. kami pun tersadar bahwa potensi berkarya melalui tulisan itu juga menular dalam diri kami, anak-anaknya. Sehingga kami pun menyimpulkan bahwa garis keturunan kami memiliki potensi kebaikan di ranah kepenulisan. Kira-kira seperti itulah contoh sederhana dari hasab keluarga.
Apa manfaatnya mengetahui hasab keluarga?
Menurut Ustadz Budi, dengan memahami hasab keluarga kita sebelumnya, kita akan lebih mudah dalam memetakan kekuatan potensi keluarga  kita sendiri. Lebih jauh lagi kita pun bisa menentukan hal apa yang dapat keluarga kita kontribusikan bersama untuk kepentingan umat.
Bagi kami sendiri perjalanan mencari tahu hasab keluarga ini menjadi sesuatu yang sangat menarik, karena dengannya kami bisa kenal lebih dekat keluarga besar kami. Dengan mengetahui sejarah keluarga, kami mendapat banyak inspirasi dari hal baik yang kami temukan pada mereka, pun saat menemukan hal buruk kami menjadi  tersemangati untuk  memperbaikinya agar tidak berlanjut pada keluarga kami. Banyak sekali ibrah yang bisa kami petik dari proses ini.
Mencari tahu hasab seperti melongok sejarah keluarga kami di masa lalu, menghubungkan titik-titik yang belum terjalin dengan rapi. Sejarah yang bisa kami jadikan cermin untuk melanjutkan kebaikan yang telah diestafetkan atau membenahi apa yang perlu diperbaiki. Dan saya yakin sejarah itulah juga yang akan memberikan gambaran pada  keluarga kami untuk menapaki masa depan. Jangan pernah lupakan sejarah dari orang tedekatmu.
Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT1
Posted on Leave a comment

Mendidik dengan hati, kunci sukses pendidik kini dan nanti

Riuh ramai suara anak anak seragam putih biru itu memenuhi ruangan auditorium salah satu sekolah ternama di Jakarta.
Hampir semua tampak sibuk dengan aktivitasnya. Mulai dari yang menjahili teman, tertawa cekikikan, main HP sampai ada yang jingkrak jingkrak entah karena alasan apa.

Tapi perlahan lahan suara itu meredam tatkala sesosok tubuh renta berdiri di hadapan mereka seraya membawa microphone. Ia hanya berdiri tegap sambil melihat satu per satu wajah anak anak tadi. Seolah seperti sihir, tanpa kata, tanpa isyarat apa apa tak kurang dari 3 menit auditorium mendadak sunyi.

“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.”.
Sapa sang Kakek.
” Waalaykumsalam warahmatullah wabarakatuh. ”
Suara anak anak itu menggemuruh di ruangan.

Lalu sang Kakek membuka obrolan pagi itu dengan sebuah cerita. Cerita tentang masa lalu nya yg penuh dengan perjuangan. Cerita masa remaja nya yang telah ia gunakan untuk menjelajahi dunia dengan satu misi utama: belajar.

Sang Kakek bertutur, di usia 14 tahun ia sudah mengunjungi 2 negara di luar Indonesia. Saat usianya genap 17 tahun tak kurang dari 10 negara di dunia telah ia kunjungi. Ia bukan orang yg kaya raya. Kenyataannya semua itu dilakukan dengan dukungan penuh dari negara.

Ia lanjutan cerita tentang secuil episode kehidupan nya. Cerita tentang bagaimana ia bisa meraih kesuksesan Dan menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di Mata dunia.

Dalam cerita itu tampak sang kakek begitu larut dalam sejarah kehidupan nya. Ada nasehat nasehat bijak yg tersirat. Ada hikmah yang sangat mendalam.

Anak Anak yang tadinya begitu ‘liar’ tampak mulai merunduk lesu. Wajah mereka mulai terlipat. beberapa bola mata sudah berkaca kaca. Bahkan Sesekali kudengar isak tangis yang tak tertahan.

Saya merasakan sosok ini begitu tulus dalam bertutur. Untaian kalimatnya boleh jadi biasa saja, tapi vibrasi hatinya terdengar dengan jelas mengiringi kata Demi kata. Kejernihan hati nya dalam menasehati Anak Anak ini begitu mudah dirasakan.

Ah,.. Benar juga. Pantas saja sang kakek begitu menggetarkan hati. Sebab ia melakukan ini semua karena ketulusan hati. Guru saya pernah bertutur ,bahwa bagaimanapun hati tetap akan menyentuh hati.

***

Terkagum dengan sosok ini,akhirnya saya mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang beliau.
Belakangan saya baru tahu,
sang kakek adalah duta Indonesia untuk UNESCO. Kini usianya sudah 78 tahun. Beliau pernah 13 Kali keluar masuk penjara karena menjadi aktivis Dan menentang beberapa kebijakan rezim pemerintah yang zalim. Puluhan tahun beliau habiskan dengan mendidik, menjadi guru. Mulai dari guru bagi Anak Anak hingga guru bagi para guru (dosen). Namanya menjadi kian dikenal karena berhasil menyulap Sekolah biasa bernama Labschool menjadi salah satu Sekolah terbaik di Indonesia.

Beliau adalah Prof. Dr. Arief Rachman. Guru besar di UNJ. Dan saya bersyukur berkesempatan belajar langsung dari beliau melalui forum ini.

Semoga kita bs meneladani beliau yg mendidik Dan berkirpah dengan hati.
Karena hati akan selalu menyentuh hati.
Posted on Leave a comment

Rumah Impian, Dibangun dengan Keberkahan

rumah impian dibangun dengan keberkahan

Kami sering memanfaatkan saat-saat dalam perjalanan untuk menceritakan banyak hal, berbagi ide, atau sekadar berbicara hal ringan seputar keluarga kecil kami.

Suatu hari dalam perjalanan menuju rumah, kami melewati kawasan rumah elit yang desain rumahnya sangat bagus… tak ayal perbincangan kami pun menyinggung tentang rumah impian yang ingin kami bangun bersama. Obrolan pun mengalir..Desain-Rumah-Kayu-Minimalis-Modern

Kakang dengan penuh semangat menggambarkan suasana rumah yang memiliki area khusus untuk berbagi ilmu dengan warga sekitar. Saya tak kalah semangat menyampaikan tentang hunian yang ramah anak dan menjadi tempat paling nyaman bagi keluarga untuk belajar dan bertumbuh bersama. Merancang impian memang menyenangkan karena yang terbayang saat itu adalah kondisi ideal dari sesuatu yang kita harapkan, pada kenyataanya akan banyak sekali tantangan yang harus kita jalani sebelum mencapai harapan tersebut bukan?

Saat sedang seru-serunya berdiskusi, saya pun bertanya pada suami , “Bagaimana cara kita mendapatkan rumah idaman itu?” Jika diukur dengan keadaan saat ini memiliki rumah dalam waktu dekat masih menjadi sesuatu yang mustahil bagi kami, tapi siapa tahu..saya selalu meyakini akan ada campur tangan Allah yang mengiringi setiap ikhtiar kami.

“Neng, dari semua impian yang kita diskusikan tadi, ada satu hal yang harus selalu kita utamakan ya, keberkahan dari Allah. Dan kakang yakin bahwa keberkahan itu akan kita dapat salah satunya dengan berusaha melakukan cara yang benar untuk mendapatkan sesuatu. Kita harus saling menguatkan ya neng..Kakang gak mau terlibat riba saat membangun rumah kita nanti. “

“Tapi Kakang, temen ada lho yang pinjam uangnya dari bank syariah buat beli rumah, boleh ko katanya kalau dari bank syariah lebih sedikit madharatnya dibanding pinjam ke bank konvensional.” *polos 😀

“Oh gitu…Neng yang kuat aja ya doanya…mudah-mudahan Allah kasih rezeki yang cukup buat beli rumah tanpa harus meminjam ke bank.”

Jleb, jawaban suami membuat saya tercenung…teringat obrolan bersama teman yang tengah mempersiapkan suatu hal untuk membeli rumah beberapa hari lalu.

“ Kalau bukan melalui KPR, kapan kita bisa punya rumah nis? “

“Coba bayangin nis, kalau misalkan dalam sebulan kita Cuma bisa nabung 500.000, harus nunggu berapa puluh tahun lagi buat bisa beli rumah dengan cash?”

Pertanyaan itu sempat terlintas juga dalam benak saya, tapi setiap kali tanya itu terlontar, suami cepat cepat mengingatkan saya, “Kita teh sering lupa ya, ada Allah yang akan selalu menjamin kehidupan & memenuhi kebutuhan kita. Hati-hati neng, khawatir dengan berpikiran seperti itu tanpa sadar kita malah mengerdilkan kekuasaan Allah.”    Ah iyaa…matematikanya manusia itu memang terbataRumah-Idaman-Rumah-Impian-01s, padahal apa yang terlihat sulit dicapai akan terlaksana jika Allah berkehendak.

Sejak awal menikah, bukan sekali dua kali suami panjang lebar membahas tentang riba. Awalnya hanya berbagi tentang pengalaman beliau selama mengikuti training pengusaha tanpa riba, kemudian bercerita tentang bagaimana beliau dan team di perusahaannya berjuang keras agar tak sedikitpun terlibat hutang pada bank, hingga ia pun menyampaikan agar kami sama-sama berusaha menghindari riba dalam rumah tangga kami.

Saya patut bersyukur karena diingatkan langsung oleh suami mengenai bahaya riba’ ini. Kami sering membayangkan bagaimana jadinya kalau kami terlambat mengetahui ini dan terlanjur mengambil keputusan untuk mendapatkan rumah dengan jalan yang dilarang Allah? Sementara dalam rumah itu kami memiliki impian membangun generasi yang shalih & shalihah, sementara kami pun sepenuh harap meminta keberkahan dari do’a-do’a yang terlantun dalam rumah tersebut. Padahal kami tahu bahwa setiap do’a dan keberkahan terhalang oleh sesuatu yang haram yang melekat dalam diri kami.

Sejak saat itu, saya mulai mengubah sudut pandang saya tentang rumah impian. Bukan soal cepat atau lambat, bagus atau indah fisiknya… Namun tentang bagaimana agar rumah yang kami huni bisa selalu diliputi keberkahan dan dapat mengantarkan kami sekeluarga berkumpul kembali di syurga. Semoga…

Posted on Leave a comment

“Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?”

Ada satu pertanyaan menarik saat dosen menanggapi diskusi kami tentang manusia dan pemujaan. Saya lupa kronologisnya gimana, tapi tiba-tiba beliau bertanya kurang lebih seperti ini..

“Pernah terpikir gak kalau ternyata menuntut-ilmusholat kita ini beda dengan sholat yang Rasulullah lakukan? Iya beda, kita sudah terpaut terlalu jauh dengan zaman Rasulullah, sangat mungkin jika saat ini banyak praktek ibadah yang melenceng dari yang seharusnya.”Hmm, ya..saya sependapat dengan beliau. Bahkan dalam hati saya sering bertanya, “Apakah shalat saya sudah benar? Ya Allah…apakah Engkau menerima shalat saya selama ini? 😥

Pertanyaan itu terus mengusik saya hampir setiap waktu. Sampai suatu hari saya membaca nasihat bijak Nek Kiba dalam novel Amelia karya Tere Liye, meskipun ini fiksi tapi banyak ibrah yang bisa kita maknai didalamnya 🙂

Malam ini sepertinya Nek Kiba tidak akan bercerita tentang kisah Nabi atau para sahabat. Nek Kiba meluruskan kakinya. Meletakkan batang rotan. Bercakap santai tentang hal lain.

“Anak-anak, dalam agama kita, penting sekali melakukan sesuatu dengan ilmu. “ suara Nek Kiba terdengar lantang, mengisi langit-langit ruangan, memulai nasihatnya.

“Seseorang yang mengerjakan amal tapi dia tidak tahu tujuannya, tidak paham ilmunya, maka itu ibarat anak kecil yang disuruh mendirikan rumah. Tak tegak tiangnya. Tak kokoh dindingnya. Jangan tanya daun pintu, jendela, dan atapnya, sia-sia belaka.Semua orang dituntut untuk belajar, mempelajari apapun yang diperintahkan agama ini. Termasuk mempelajari ilmu yang tidak segera diamalkan. Naik haji misalnya, meskipun tak satu pun penduduk di kampong ini yang mampu naik haji, jangan tanya kapan akan berangkat, termimpikan pun tidak, tetap saja mempelajari ilmu naik haji jelas penting.”

“Lantas, apa itu yang disebut ilmu? Mudah saja. Ilmu adalah yang mendasari sebuah perbuatan ,dalil. Ilmu adalah yang menjelaskan secara benar kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Baik yang ditulis diatas kertas maupun yang disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Baik yang dikuasai oleh satu dua orang tertentu, apalagi yang diketahui banyak orang.:

Kami menatap wajah tua Nek Kiba yang terlihat semangat menjelaskan.

“Dalam kitab suci, jelas perintah soal ilmu ini. Ketika seseorang tidak mengetahui sebuah urusan, tidak paham, tidak mengerti maka bergegaslah bertanya pada orang yang tahu ilmunya. Jangan malas, jangan keras kepala, jangan bebal, apalagi hingga sok tahu mengerjakan sesuai pemahaman diri sendiri. Itu bisa jadi kekeliruan besar. Apa susahnya bertanya? Bukankah jika kita tidak tah ujalan, bertanya pada yang tahu mencegah kita tersesat. Jika kita tidak mengerti menghadapi binatang buas, bertanya mencegah kita diterkam. Bertanyalah, kalaupun kita sudah tahu, itu akan membuat kita lebih yakin lagi.

“Maka semua orang harus, menuntut ilmu adalah perintah agama. Kenapa kita shalat? Kenapa kita puasa? Semua orang harus tahu ilmunya. Tidak pantas seseorang saat ditanya kenapa ia shalat? Dia menjawabnya ikut-ikutan. Padahal dia sudah shalat beribu-ribu kali. Hanya ikut. Karena menirun semata. Iya Pukat, ada apa? Kau hendak bertanya?”

Kami menoleh ke arah Kak Pukat. Aku menghembuskan napas pelan. Aduh, kenapa pula Kak Pukat harus memotong kalimat Nek Kiba dengan mengacungkan jari?

“ Tetapi, nek, bukankah kami memang disuruh ikut saja orang tua saat sholat dan puasa? Mencontoh saja. “ Kak Pukat bertanya serius.

“Karena kalian masih anak-anak.” Nek Kiba menjawab takzim. “Maka kalian boleh mencontoh. Tapi dengan bertambahnya usia kalian, hukum menuntut ilmu itu jatuhpada kalian. Tidak ada alasan lagi. Beruntunglah yang sejak kecil sudah rajin membaca buku, sudah gemar mendengar nasihat-nasihat dari orang berilmu, maka dia mengerti lebih awal penjelasannya. Semoga itu akan terbawa hingga dewasa. Paham?”

(Novel AMELIA halaman 321-323, Tere Liye)

Kutipan Nasihat Nek Kiba diatas mengingatkan saya tentang pentingnya ilmu sebelum amal, dengannya bertambahlah iman kita dan hilanglah keraguan kita dalam menjalankan suatu perbuatan. Kita tidak pernah melihat langsung bagaimana Rasulullah mendirikan shalat ataupun amalan lainnya, tapi kita patut bersyukur karena para shahabat dan ulama telah banyak mewariskan ilmu yang akan memandu kita untuk mengamalkan apa yang telah Rasulullah teladankan.

Sekarang saya sudah menjadi orang tua, mungkin kelak akan tiba masanya Naira bertanya, “Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?” Menjawab pertanyaan anak dengan ilmu dan keimanan yang kokoh menjadi PR terbesar bagi saya dan suami. Karena jawaban itu bukan hanya terkait benar atau salah, tapi menjadi sebab diterima atau tidaknya amalan Naira disisi Allah kelak.. Apa yang harus kami usahakan sudah jelas yaitu giat membekali diri dengan ilmu dan meningkatkan kualitas amalan dengan ilmu yang dimiliki  semata meraih ridhaNya. Semoga Allah bimbing selalu…