Posted on Leave a comment

6 Tahun Bersama


Ada yang pernah ngerasa bosan sama pekerjaan? Ngelakuin hal yang sama setiap hari, setiap pekan, setiap bulan. Selama bertahun-tahun?

Adakah yang pernah bosan bekerja di kantor dengan tim yang sama? dengan orang yang itu itu aja. Hampir setiap hari ketemu. Membahas hal-hal yang itu itu melulu. Dengan tantangan yang ga jauh berbeda dari waktu ke waktu.

Lalu gimana klo Pertanyaannya sedikit diubah: pernah ga sih bosan menjalani PERAN sebagai suami/istri? Eits, bukan bosan SAMA suami/istri lho ya… bosan dengan PERAN sebagai ayah/ibu. Bosan dengan rutinitas yang sama setiap harinya. Merasa pernikahan dan rumah tangga hampa, kering makna. Tak tahu arah, akan dibawa kemana keluarga ini? Apa yang ingin diraih bersama pasangan semasa hidup? Apa yang ingin dicapai bersama anak-anak kelak? Apa iya keluarga kita tak jauh berbeda dengan kucing yang sekedar ‘menikah’, punya anak, lalu mati?.Wajar ga sih?

Aku pun tak tahu itu wajar atau engga. Yang aku tau, dulu aku pernah ada di situasi yang mirip-mirip seperti itu. Semacam kurang bergairah dalam membangun aktivitas di keluarga. Digerogoti oleh rutinitas yang kering makna.

Beruntungnya, Allah karuniakan pasangan yang diberikan kesabaran, yang selalu mengingatkan tentang tujuan pernikahan. Yang dengan lembut membawa ingatan ke masa beberapa tahun silam..Dulu saat awal menikah, kami sempat merumuskan apa tujuan pernikahan. Kami sempat menyepakati, mengapa Dan untuk apa kami menikah. Kami bahkan menentukan nama untuk keluarga kami: Educa familia; keluarga yang senantiasa belajar, berkarya, bersama. Dengan harapan, nama dan visi pernikahan ini menjadi pengingat tentang tujuan yang selalu ingin kami capai. Setiap hari. Setiap waktu. 

Berbekal ini, kami juga menjadi semakin bergairah dalam merumuskan target tahunan yang ingin kami capai. Membuat agenda pekanan dan bulanan. Semua terangkum dengan satu kerangka tujuan yang sama.

Dari pengalaman mengarungi bahtera kehidupan yang belum seberapa ini aku jadi belajar. Bahwa jangankan perusaahan yang orientasi nya pada umumnya hanya profit. Keluarga yang memiliki orientasi akhirat, yang memiliki orientasi dampak terhadap lingkungan sudah semestinya memiliki tujuan. Dalam bentuk sesederhana apapun..Bahwa tanpa tujuan, menjalani peran apapun dalam keluarga akan terasa sangat membosankan. Minim tantangan, sedikit kesempatan untuk tumbuh bersama pasangan.

Karena bagaimanapun, bukan kelimpahan materi atau gengsi yang tinggi yang membuat perjalanan keluarga menjadi bermakna. Tapi tujuan hidup bersama keluarga yang akan membuat sebuah perjalanan menjadi penuh makna. 

Terima kasih, sayang @syanisa.92 sudah membersamai ku dan menjadi navigator sang nahkoda selama ini.Happy 6th anniversary, dear. I love you.

Posted on 1 Comment

Seru Belajar Pola dengan Permainan COCOKIN (free printable)

Apa aktivitas Anda bersama keluarga di liburan kali ini?
Sudah pernah mencoba mengisi waktu kebersamaan penuh makna bersama keluarga menggunakan permainan?

Coba deh, ajak keluarga Anda untuk bermain kartu COCOKIN. Sebuah permainan kartu sederhana yang dirancang khusus untuk meningkatkan interaksi antar pemain sekaligus melatih daya konsentrasi dan kemampuan membaca pola.

Bisa digunakan bermain anak usia 6 tahun ke atas.
Cara bermainnya pun mudah!
Khawatir bingung?
Ga perlu khawatir, udah ada buku panduannya kok. Klo masih bingung, langsung aja kirim DM via instagram di @ayesaja

Unduh printable nya dengan cara mengisi form di bawah ini ya.

<script type="text/javascript" src="https://app.getresponse.com/view_webform_v2.js?u=zdH4t&webforms_id=Srv2q"></script>

Selamat bermain dan membangun interaksi bermakna bersama keluarga.
Jabat erat
Kak Aye.

Posted on Leave a comment

Proyek #ByeByeGawai 2: Bermain Koin Memori

Beberapa hari sudah berlalu sejak aku dan @syanisa.nh menjalankan proyek #ByeByeGawai . Sebuah proyek keluarga yang kami maksudkan untuk mengalihkan aktivitas si kecil dari gawai (gadget). Kami khawatir, intensitas bersama gawai yang terlalu tinggi ga baik untuk tumbuh kembang mereka.

Aku coba cari inspirasi aktivitas yang cocok untuk anak usia 4-5 tahun, yang senada dengan tema belajar Naira bulan ini yakni bagian anggota tubuh. Kami ingin mengenalkan nama nama bagian tubuh pada Naira. Di saat yang bersamaan Naira lagi suka nabung. Jadi… Kami ingin menggabungkan tiga hal itu: sesuai anak 4-5 tahun, tentang anggota tubuh dan bisa memfasilitasi Naira belajar menabung.

Cari cari cari cari dari berbagai referensi, tapi ternyata belum Nemu juga. Ah, daripada pusing nyari ga ketemu ketemu, mendingan bikin sendiri. Ya ga?

Akhirnya berbekal kemampuan make Adobe illustrator seadanya, dengan bantuan om google akhirnya terciptalah permainan keping memori ini. 

Cara mainnya sederhana.
1. unduh dan cetak papan main di sini
2. kumpulkan 20 (atau 40) uang koin berbagai pecahan (tergantung jenis papan main yang digunakan)
3. Tutup setiap gambar dengan uang 1 koin. Pastikan keseluruhan gambar tertutup koin
4. berikan narasi ke anak. Sampaikan bahwa kita akan mengumpulkan uang, menabung. Anak bisa mengambil koin ini dan memasukkan ke celengan kalau dia berhasil membuka 2 koin dari gambar yang sama
5. berikutnya berikan kesempatan pada anak untuk membuka satu per satu gambar. Tapi pastikan koin tidak diambil jika 2 gambar yang dibuka tidak sama
6. biarkan ia mengingat ingat terlebih dahulu ada gambar apa dan posisinya dimana
7. jika anak berhasil membuka 2 koin dengan gambar yang sama secara berurutan berarti ia boleh menyimpan koin itu
8. Setelah ia berhasil membuka gambar yang sama kita bisa menjelaskan tentang makna gambar itu. 
9. anda boleh memilih, mau mengumpulkan dulu semua koin itu atau langsung memasukkan koin itu ke dalam tabungan ketika anak berhasil
(Aku dan Naira: kumpulin semua baru masukin celengan)

Bagaimana hasilnya?
Apakah Naira langsung meninggalkan gadget?
Hmm.. Aku belum bisa menyimpulkan bahwa kecenderungan Naira terhadap gawai udah hilang. Tapi yang bisa kupastikan adalah intensitas bermain gawai nya berkurang. Ada aktivitas alternatif yang bisa ia lakukan selain menonton video atau bermain gawai.

Harapan kami adanya aktivitas aktivitas fisik seperti ini membuat anak anak kami lebih memilih untuk bermain daripada memainkan gawai. Dan semoga dengan ini hubungan orangtua-anak bisa semakin dipupuk. Karena bagaimanapun bermain itu soal interaksi yang bermakna, bukan?

Posted on 4 Comments

Tips Membangun Romantisme Ibu dan Buku

Pernah gak, suatu hari dengar ada seseorang yang bilang, “Kayanya kalau udah jadi ibu mah, apalagi punya bayi boro-boro bisa baca ya. Bisa tidur tenang aja udah sesuatu.”

Sejujurnya saat bayik mungil ketiga lahir, hati saya pun sering bergumam hal yang sama. Ya Allah, kerjaan di rumah aja udah banyak begini, kapan atuh bacanya. Rasanya kangen gitu bisa baca buku di suatu tempat yang sejuk dan tenang, sambil menikmati teh hangat 😅

Sudah 2 bulan ini coba mencari cara gimana biar ‘romantisme’ dengan buku itu terbangun lagi. Dan akhirnya nemu pola yang paling tidak cocok sama kondisi saya sekarang. Caranya gimana?
Kurang lebih seperti ini..

📓 Memilih buku yang tepat

“Read a book because you are passionate about that subject (Jay Shetty)”

Kita tertarik dan bergairah untuk membaca buku tentang apa?
Tapi itu aja belum cukup menurut saya, semakin terbatas waktu untuk baca kita akan semakin pilih-pilih buku yang akan dibaca, bukan hanya sebatas ketertarikan tapi KEBUTUHAN. Parameternya sederhana, apakah dengan baca buku tersebut amalan kita akan jadi bertambah baik atau sebaliknya.

📓 Cari waktu harian untuk baca buku

Nah ini yang sering jadi problem buat ibu baru (baru punya anak 3 😅) macem saya. Sulit meluangkan waktu buat baca karena merasa banyak amanah yang harus dikerjakan. Belakangan ini saya coba memanfaatkan 3 pilihan waktu untuk baca,

📆 Sore, saat anak-anak lagi main mandiri.
📆 Malam, sesudah anak-anak tidur
📆 Shubuh, sebelum anak-anak bangun

Kadang bisa baca di 3 waktu itu sekaligus, kadang sore sama malam aja, gak jarang cuma baca di waktu malam juga. Kondisional aja 😊

📓 Buat target
Kebanyakan orang mungkin membuat target baca dengan ukuran berapa banyak halaman yang dibaca. Saya pernah mencoba cara seperti itu. Tapi ternyata kurang nyaman menjalaninya. Maka saya buat target berdasarkan durasi waktu baca. Maksimal setengah jam di masing-masing waktu. Salah satu tujuannya biar bisa nge-rem disaat keasyikan baca buku, padahal amanah lain menanti untuk diselesaikan.

📓 Menunda baca buku baru sebelum mengamalkan paling tidak 1 ilmu yang didapat dari buku dan membagikan inspirasi yang ditemukan dari buku ke orang terdekat.

Alhamdullilah, lewat cara diatas semakin hari saya menyadari satu hal, mungkin iya waktu baca saya sudah gak seluang dulu. Suka atau tidak suka fokus saya harus berubah, bukan lagi tentang kuantitas dan seberapa banyak waktu untuk baca, tapi bagaimana agar waktu baca yang sedikit itu bisa berkah. Berkah dalam arti menetapnya kebaikan yang didapat dari ilmu yang dibaca dengan cepat mengamalkannya, bertambah manfaat dengan membagikannya.

Posted on 1 Comment

Unduh Gratis : Printable “Bermain Bersama Hujan”

Anak kecanduan main HP? Ini alternatif solusinya.

Dulu pernah ada masa nya Naira (4.5th) dan Nizar (1.5th) kecanduan gawai (gadget). Dalam sehari mereka bisa berkali kali melihat video di HP atau main di HP.

Sebagai orangtua, kami merasa bingung gimana cara mengatasinya.

Kami berpikir, harus ada sesuatu yang lebih menarik dibandingkan gadget, yang bisa bikin perhatian mereka teralihkan.

Akhirnya kami coba searching berbagai media beraktivitas berupa printable (sesuatu yang bisa di print) dari internet. Awalnya sih oke-oke aja. Tapi sayangnya kebanyakan printable berbahasa Inggris. Jadi Naira agak kesulitan mencerna secara langsung.

Cari printable berbahasa Indonesia yang sesuai dengan yang kami butuhkan, susah.

Berangkat dari masalah itu akhirnya kami coba membuat sendiri printablenya sesuai dengan kebutuhan belajar Naira dan Nizar. Kami coba angkat satu tema yang dekat banget sama keseharian: hujan.

Alhamdulillah, setelah kami coba praktekkan ke anak sendiri, ternyata Naira antusias banget. Yaa… Aktivitas main HP nya jadi lebih bisa diredam dibandingkan sebelumnya.

Di dalamnya ada beragam aktivitas, mulai dari membaca kisah, ayat Al Qur’an, mengenalkan adab,, mengenal bentuk, tracing, mencacah, puzzle sederhana sampe Crafting.

Totalnya ada 27 halaman full colour.
Dan berhubung kami ingin media ini bisa dipakai banyak orang maka kami putuskan untuk menggratiskan media ini.

Klik di tautan ini untuk dapat unduhannya ya.

Selamat bermain bersama keluarga di akhir pekan 😊

Posted on Leave a comment

Mekanika Permainan 03: Pilih Dadu

Mengajarkan topik yang kompleks selalu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi bagi guru kimia sepertiku yang dituntut menyampaikan materi yang abstrak dan sulit dipahami dalam waktu yang relatif singkat.

Dalam suatu pertemuan aku harus memberikan pemahaman bahwa dalam suatu reaksi, tidak semua zat habis bereaksi. Ada zat yang jika ia habis maka reaksinya juga habis alias berhenti.

Kalau hanya sekedar dijelaskan seperti itu mungkin tidak semuanya paham dengan mudah. Kalau praktikum, aku khawatir waktunya  tidak memadai. Akhirnya agar lebih kongkrit aku coba buatkan permainan yang mengadopsi salah satu mekanik permainan lempar dan pilih dadu.

Aku menyebut permainan ini permainan eksplosif. Setiap dari mereka memiliki tugas membuat b*m TNT – trinitro toluena. TNT ini dibuat dengan cara mereaksikan toluena dan asam nitrat dengan kadar tertentu dengan bantuan asam sulfat.

Aku sudah siapkan tiga jenis kartu dan 2 jenis dadu: 1 jenis kartu toluena, 1 jenis kartu asam nitrat dan 1 jenis kartu TNT serta dadu berisi angka bergambar koin dan tabung asam sulfat. Setiap kartu terdiri dari 3 ukuran: ukuran 1 tabung, 1/2 tabung dan 1/4 tabung. Setiap kartu memiliki harga yang bervariasi. Dari 2 koin hingga 5 koin. Pun hal nya setiap dadu. Ada 5 dadu dengan variasi angka koin DNA tabung asam sulfat yang berbeda-beda.

Komponen permainan: Kartu asam nitrat (ki), kartu toluena (ka), dadu (tengah)

Cara Bermain:

  1. di awal permainan aku jelaskan pada mereka bahwa kita sedang darurat militer. Sebagai siswa SMA yang mahir kimia, mereka diminta bantuan membuat TNT. Sayangnya laboratorium rusak parah karena serangan lawan. Jadi mereka harus mengumpulkan koin untuk membeli bahan.
  2. berikutnya aku jelaskan pada mereka cara membuat TNT. Persamaan reaksinya dan rasio nya.
  3. dalam setiap giliran pemain boleh memilih untuk melakukan salah satu hal berikut ini: + Mengumpulkan koin dan asam.sulfat dengan cara melempar dadu+ membeli kartu reaktan+ Membuat senyawa TNT
  4. Secara bergiliran pemain diharuskan melempar 5 dadu. Dalam satu giliran pemain diperbolehkan melempar dadu sebanyak maksimal 3 kali. Pemain boleh memilih mana dadu yang disimpan dalam setiap lemparan.  Misalkan pemain A melempar dadu untuk yg pertama kali. Hasilnya adalah dadu 1 koin, 3 koin, 2 koin, 4 koin, dan 2 asam sulfat (gambar 4.1). Kemudian ia memilih menyimpan dadu 4 koin dan 2 asam sulfat (gambar 4.2). Sisa dadu lainnya boleh dilempar lagi. Di lemparan kedua ternyata kedua dadu menunjukkan 4 koin, 4 koin dan 2 asam sulfat (gambar 4.3). Ia boleh memilih mengambil semuanya atau salah satu atau tidak sama sekali. Misalkan ia memilih mengambil dadu 4 koin dan 2 asam sulfat (gambar 4.4). Sisanya 1 dadu dilempar lagi. Di lemparan ketiga ia mendapatkan 1 asam sulfat, 
  5. koin dan asam sulfat yang berhasil mereka peroleh dicatat di sebuah kembar terpisah. Misalkan dalam giliran tadi, pemain mendapatkan 8 koin dan 5 asam sulfat (darii 2 dadu 4 koin dan 3 dadu asam sulfat)
  6. koin yang berhasil dikumpulkan dapat digunakan untuk membeli zat – baik asam nitrat maupun toluena.
  7. asam sulfat yang didapatkan digunakan untuk mereaksikan asam nitrat dan toluena yang mereka miliki. Untuk 1x reaksi dibutuhkan 10 asam sulfat.
  8. berikan durasi waktu 15-20 menit. 
  9. Pemain yang berhasil membuat TNT terbanyak dalam durasi tersebut adalah pemenangnya

Setelah aku coba praktikkan, ternyata mereka antusias sekali. Strategi yang mereka terapkan pun beragam. Ada yang memilih mengumpulkan koin terlebih dahulu, ada yg fokus mendapatkan 10 asam sulfat baru berbelanja, ada juga yang ga peduli dapet berapa koin dan asam sulfat. Yang penting bisa membuat TNT duluan. Meskipun hasilnya sedikit. 

Di akhir permainan, aku coba refleksi bersama mereka dan mengarahkan pemikiran mereka ke konsep pereaksi pembatas. Jadi aku memanfaatkan permainan ini sebagi intro, alias pengenalan terhadap topik yang akan dibahas. 

Hasilnya?
Seperti biasa. Ada yang paham, ada yang tidak. Yang berbeda adalah, yang tidak paham jadi lebih aktif bertanya. Mereka tidak sekedar menerima materi apa adanya; ada keingintahuan yang kemudian dicurahkan melalui pertanyaan.

Yang berbeda adalah, mereka yang tidak paham jadi lebih aktif bertanya.

(Anggayudha)

Aku jadi belajar.
Bahwa menumbuhkan keingintahuan dan membuat siswa bertanya itu lebih penting dari sekedar memastikan materi tersampaikan. Karena ketika keingintahuan sudah dinyalakan, maka siswa telah memiliki kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Setuju?

Posted on Leave a comment

Bagaimana Gamifikasi Dapat Memotivasi Orang Lain Melakukan Hal-hal Luar Biasa

Setiap tahun, jumlah pasien anak-anak yang menderita penyakit kanker di Rumah Sakit Toronto meningkat. Sebagai rumah sakit yang terdepan dalam segi riset, pihak rumah sakit mencoba mencari penaganan yang tepat untuk anak-anak yang menderita kanker. Namun sayangnya untuk bisa melakukan hal itu, pihak rumah sakit perlu mendapatkan data awal dari setiap pasien anak-anak tentang tingkat rasa sakit yang dimiliki.

Awalnya mereka diminta untuk mengisi sebuah jurnal berisi bentuk rasa sakit yang mereka alami berikut tingkat rasa sakit yang mereka rasakan setiap hari. Namun sayangnya cara ini tidak membuahkan hasil. Hanya sedikit sekali anak yang mau mengisi jurnal itu dan mengumpulkannya pada saat proses terapi tiba. Akhirnya pihak rumah sakit mencoba mencari tahu lebih dalam tentang perilaku mereka dan membuat terobosan disana.

Pihak rumah sakit menemukan fakta bahwa agar mereka bersedia mengisi ‘jurnal rasa sakit’ pihak rumah sakit harus menghadirkan pengalaman yang menarik bagi anak-anak itu. Akhirnya dengan bekerjasama Cundari, sebuah agensi komunitas di Toronto, mereka menciptakan aplikasi iPhone bernama Pain Squad yang digunakan untuk mengumpulkan data rasa sakit yang dirasakan oleh penderita kanker berusia anak-anak.

Pada aplikasi itu, anak-anak berperan sebagai polisi satuan khusus yang memiliki misi menghancurkan rasa sakit. Setiap kali mereka melaporkan rasa sakit yang dirasakan, mereka akan mendapatkan poin. Dengan poin ini mereka bisa ‘naik level’ menjadi sersan bahkan hingga menjadi komandan. Di markas Pain Squad mereka bisa melihat lencana yang mereka sudah dapatkan dari aktivitas ‘melaporkan rasa sakit’. Saking seriusnya dengan program ini, pihak rumahsakit sampai-sampai membuat sebuah tayangan televisi yang menceritakan tentang superhero dari kalangan Pain Squad. 

Hasilnya?

Jumlah data yang dikumpulkan meningkat drastis dibandingkan metode lama: laporan jurnal rasa sakit dalam bentuk kertas dan pulpen. Pihak rumah sakit jadi memiliki data yang cukup untuk membuat rancangan pelayanan yang tepat bagi anak-anak penderita kanker di Toronto.


Cerita dari negeri kanada itu hanyalah salah satu contoh keberhasilan gamifikasi mengubah perilaku sekelompok orang di suatu area tertentu. Ada banyak kisah lainnya yang menjadi saksi betapa gamifikasi menjadi sesuatu yang menjanjikan perubahan besar di masa yang akan datang.


Gamifikasi tidak sekedar berbicara bagaimana membuat sesuatu lebih menyenangkan

(Brian Burke)


Gamifikasi tidak sekedar berbicara bagaimana membuat sesuatu lebih menyenangkan. Lebih jauh dari itu, gamifikasi menggugah emosi. Gamifikasi adalah tentang motivasi. Motivasi yang menggerakkan seseorang/sekelompok orang untuk mengubah perilakunya. 

Mengapa bisa demikian?
Karena gamifikasi menyentuh aspek emosi seseorang.

Karena gamifikasi mampu menyediakan ruang bagi setiap orang untuk memiliki 3 elemen penting yang perlu diberikan untuk menumbuhkan motivasi intriksik seseorang: otonomi, penguasaan dan tujuan. Begitu ketiga elemen ini dipupuk terus menerus maka motivasi intrinsik dalam diri seseorang akan tumbuh dengan semakin subur.


Lalu bagaimana caranya menerapkan gamifikasi untuk kepentingan kita?Dalam buku ini, Brian burke menjelaskan ada 7 tahapan yang harus ditempuh saat akan merancang sebuah sistem yang mengimplementasikan gamifikasi:

Tahap pertama: tentukan luaran dan metrik keberhasilanTanpa adanya tujuan dan luaran yang jelas maka proses merancang sistem gamifikasi akan mengalami banyak kendala.tidak hanya itu, metrik keberhasilan juga harus ditetapkan dengan jelas. Sehingga kita bisa mengukur dengan lebih presisi ketercapaian tujuan dengan sistem gamifikasi yang ada

Tahap kedua: Definisikan target audiensDalam menerapkan sistem gamifikasi, tentu yang akan kita libatkan adalah manusia.memahami tipikal manusia yang akan menggunakan sistem ini akan sangat membantu proses mendesain gamifikasi.Untuk memudahkan, kita bisa membuat diagram persona pelanggan untuk mendefinisikan dengan baik audiens kita.

Tahap ketiga: Definisikan tujuan pemainJika di tahap pertama kita mendefinisikan tujuan yang ingin kita capai, maka kita juga perlu mendefinisikan tujuan yang diinginkan oleh para pemain.yang akan kita lakukan bukanlah ingin memaksakan mereka mencapai tujuan yang kita inginkan. Melainkan membuat tujuan bersama.


Tahap keempat: Tentukan model interaksi pemainAda 4 aspek dalam menentukan model interaksi:

  • Kolaboratif – kompetitif
  • Intrinsik – ekstrinsik Banyak
  • pemain (multiplayer) – pemain tunggal (solitary)
  • Orientasi misi – permainan tanpa akhir (endless game)
  • emergent – scripted

Tahap kelima: definisikan area bermain dan rencanakan pengalaman pemainSetelah menentukan model interaksi, tahapan berikutnya adalah menentukan area bermain berikut rancangan pengalaman pemain dalam menerapkan sistem gamifikasi ini. Kita perlu membayangkan, “Apa yang akan dialami oleh pemain jika begini, jika begitu?”, dan seterusnya. Apapun area bermain yang digunakan, sistem ini harus mampu membuat pemain semakin tertarik untuk terus berinteraksi dengan sistem seiring berjalannya waktu.

Tahap keenam: definisikan sistem perekonomian dalam permainanDalam menerapkan gamifikasi perlu ada semacam ‘mata uang’ yang akan dimainkan oleh pemain. ‘Mata uang’ ini akan menjadi sesuatu yang dapat dikonversi menjadi hal-hal lain dan membuat sistem lebih menarik untuk dimainkanNantinya mata uang ini bisa berupa salah satu atau kombinasi dari hal berikut:  membangun self esteem/membangun kapital sosial, menyenangkan dan kebendaan

Tahap ketujuh: tahapan terpenting: uji coba permainan dan kembangkanMenciptakan sebuah sistem gamifikasi ibarat menciptakan produk. Kita tidak mungkin menciptakan produk yang tidak ingin digunakan oleh siapapun.oleh karena itu, setiap rancangan konsep sistem gamifikasi yang akan kita buat harus selalu diujicobakan pada target audiens. Semakin sering diuji coba, semakin banyak data yang bisa kita dapatkan dan semakin tajam sistem gamifikasi yang kita buat.


Dalam buku ini juga dibahas, beberapa kesalahan umum dalam mendesain suatu sistem gamifikasi.Seperti penetapan tujuan yang tidak jelas, sistem gamifikasi terlalu memaksakan pencapaian tujuan organisasi dan mengesampingkan tujuan peserta, solusi yang diberikan kurang tepat sasaran dan seterusnya.

Ada juga permasalahan lain seperti kurang tepat dalam menentukan ‘sistem ekonomi‘ dalam gamifikasi, atau terlalu dini menyimpulkan tujuan yang ingin dicapai. Kesalahan-kesalahan ini seringkali berulang khususnya bagi para desainer pemula. memang merancang sebuah sistem gamifikasi penuh dengan tantangan. Dibutuhkan waktu, sumber daya dan kesabaran dalam merancang sistem gamifikasi.

Semakin terbiasa merancang sistem gamifikasi, nantinya kita akan semakin terasah untuk melakukan setiap tahapan dengan benar. Kuncinya ada di praktik. Dengan menghadapi banyak studi kasus kita akan semakin mudah memahami pola sistem gamifikasi yang berdampak. 

Namun demikian, meskipun gamifikasi digadang-gadang sebagai salah satu solusi masa depan untuk berbagai permasalahan, kenyataannya tidak semua permasalahan dapat diselesaikan dengan gamifikasi. Ada begitu banyak kondisi yang menyebabkan gamfikasi kurang relevan dengan permasalahan yang ada. Kita perlu ingat bahwa gamifikasi bukanlah obat segala jenis penyakit tingkah laku. Ada banyak solusi alternatif lainnya yang juga perlu kita pertimbangkan dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Hanya saja, jika kita mampu menguasai metode ini dan menerapkannya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang relevan, maka kita dapat memperoleh hasil yang tidak akan pernah kita sangka sebelumnya. Jadi, mari mencoba!

PS: Ada yang mau mencoba menerapkan gamifikasi untuk menyelesaikan permasalahannya bersama saya?


Posted on Leave a comment

Merancang Model Pembelajaran Berbasis Permainan

Akhir pekan lalu saya berkesempatan untuk ikut belajar bersama teman-teman guru dari berbagai penjuru di Indonesia tentang menerapkan pembelajaran berbasis permainan.
“Emangnya bisa?”
Nah itu dia!
Dalam sesi toko bekerja (baca: workshop) saat festival belajar main tersebut kami belajar dari mas @eko nugroho, praktisi game designer dan game researcher untuk merancang sebuah sesi pembelajaran berbasiskan permainan.

Ada 5 tahapan yang perlu kita perhatikan saat akan merancang pembelajaran berbasis permainan:

  1. Planning (perencanaan)
  2. Briefing (pengarahan)
  3. Playing (bermain)
  4. De-brief (refleksi)
  5. Evaluasi

Tahapan 1 dan 5 adalah tahapan yang dilakukan oleh guru/pendidik/fasilitator di luar sesi permainan. Sedangkan tahapan 2,3 dan 4 dilakukan saat proses pembelajaran berlangsung.Kita bahas satu per satu ya:

Kita bahas satu per satu ya:

1. Planning (perencanaan)

Pada tahapan ini pendidik/guru/fasilitator belajar harus merencanakan beberapa hal utama.

Kita perlu memahami kondisi peserta yang akan belajar bersama kita. kita perlu mencari tahu profil mereka, kemampuan mereka, Kita juga perlu mendefinisikan tujuan pembelajaran dengan jelas.
Berikutnya kita perlu menentukan model permainan apa yang akan kita gunakan. Lalu menyesuaikan (adjust) model permainan tersebut agar sekiranya dapat memenuhi tujuan pembelajaran.

Ada 3 hal yang perlu kita perhatikan dalam menyesuaikan model permainan: Narasi/konten permainan, Tujuan permainan dan cara bermain.

Lalu sebelum eksekusi proses pembelajaran kita perlu menyiapkan beberapa hal teknis seperti berapa banyak mainan yang dibutuhkan, bagaimana setting tempat dan seterusnya.
Proses planning ini harus dilakukan setidak-tidaknya H-1 sebelum pembelajaran berlangsung
 

2. Briefing (pengarahan)

Permainan membutuhkan narasi/cerita pengantar agar peserta memiliki ikatan yang kuat dengan permainan.

Sebelum proses bermain dimulai, kita perlu memberikan narasi/cerita mengenai permainan kepada peserta. Misalkan, saat akan memainkan sebuah permainan ular tangga yang telah diadopsi untuk pembelajaran matematika dasar, kita bisa bercerita seperti ini:

Anak-anak. Beberapa waktu lalu Raja membuat sebuah sayembara. Barangsiapa menemukan pustaka kerajaan yang tersimpan di tebing terjalili maka ia akan dinobatkan menjadi panglima kerajaan.

Nah, sebagai seorang pemuda yang gagah berani, kalian akan berlomba-lomba mendapatkan pustaka kerajaan itu. Pustaka kerajaan itu ada di atas tebing nun jauh disana. Kita perlu melakukan perjalanan yang mahaberat. Kita akan berlomba-lomba mendapatkan harta karun itu. Jika menemukan tangga, segeralah naiki tangga itu. Tapi berhati-hatilah.

Saat bertemu ular kamu harus melompat kebawah agar kamu tidak terkena gigitannya yang berbahaya.

Ingat. Narasi ini harus dibawakan dengan sepenuh hati agar peserta semakin menjiwai permainan dan menikmati permainan.

Pada saat tahap briefing Anda juga perlu memberikan penjelasan yang lebih lengkap mengenai cara bermain dan kondisi permainan. Pastikan setiap peserta memahami dengan baik cara bermainnya. Jika perlu, Anda bisa mempraktikkan permainan sembari memberikan penjelasan.

3. Playing (bermain)

Saat waktu bermain tiba, sebagai fasilitator kita memiliki kewajiban untuk mendampingi peserta. Jangan sampai Anda membiarkan para pemain bermain sendiri tanpa Anda dampingi. Tanpa proses pendampingan yang tepat, proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif.

Lalu sebagai guru/fasilitator apa yang harus kita lakukan selama permainan berlangsung? Ada 3 hal yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan proses pembelajaran:
 
  • Observasi: amati proses permainan yang sedang terjadi di setiap kelompok/pemain
  • Intervensi: sebagai fasilitator kita perlu ikut campur dalam permainan jika dikhawatirkan permainan tidak berjalan dnegan baik. Misalkan ada peserta yang belum paham, kita bisa dekati dan berikan penjelasan lebih rinci. Jika ada proses bermain yang tidak sesuai prosedur kita bisa dekati dan ajak diskusi. Atau jika ada peserta yang ricuh satu sama lain kita bisa hadir untuk melerai dan mencari solusinya. Dan seterusnya
  • Intercept/cegat: lakukan hal-hal yang sekiranya bisa meningkatkan efektifitas pembelajaran. Misalkan ktia bisa hentikan permainan jika ternyata ada kelompok yang sudah selesai bermain. Kita bisa segera masuk ke tahapan de-brief. Dan seterusnya.

4. De-brief (refleksi)

Tahapan ini boleh jadi merupakan tahapan terpenting dalam proses pembelajaran berbasis permainan. Karena semua proses pembelajaran dari permainan akan direfleksikan pada tahapan ini.

Sebagai fasilitator Anda bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang memicu proses refleksi. Seperti misalnya:
  • Tadi siapa yang berhasil memenangkan permainan?
  • Bagian mana yang menurut kalian paling sulit dari permainan ini?
  • Apa yang seandainya terjadi ya kalau ternyata ada satu pemain yang tidak korporatif dalam tim?
  • Menurut kalian, apa dampak dari terlalu banyak mengambil uang dalam permainan ini?
  • Jika seandainya tidak ada pemain yang empati, kira-kira apa yang akan terjadi?

Dan sebagainya.

Sebagai pendidik kita perlu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan reflektif ini saat proses perencanaan.Kita juga bisa menjadikan fenomena menarik yang kita temui saat proses bermain berlangsung sebagai bahan refleksi. Misalkan ada pemain yang bertengkar saat bermain, kita bisa jadikan ini bahan refleksi. Atau misalkan ada pemain yang ternyata pasif saat bermain, ini juga bisa kita jadikan bahan refleksi.

Disinilah peran utama kita sebagai fasilitator dalam menerapkan pembelajaran berbasis permainan.


Semakin piawai kita menjadi fasilitator, semakin efektif proses pembelajaran yang dijalankan.

5. Evaluasi

Pada tahapan terakhir ini, sebagai fasilitator kita perlu membuka diri selebar-lebarnya untuk mendapatkan umpan balik dari proses pembelajaran berbasis permainan.

Kita perlu melihat dengan bijaksana mana proses-proses yang sekiranya bisa diperbaiki untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Mungkin narasinya kurang menarik, atau mungkin konten permainannya terlalu teoritis, atau mungkin cara bermainnya terlalu rumit, atau bisa jadi konteks pembelajaran dan permainan tidak sejalan, atau hal-hal lainnya.

Hasil refleksi dapat menjadi acuan utama dalam melakukan evaluasi. Anda juga bisa melakukan wawancara personal/komunal dengan peserta di luar sesi bermain.


Semakin banyak umpan balik yang Anda dapatkan, semakin besar peluang Anda untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis permainan.


Tidak jauh berbeda dengan proses riset, kelima proses ini perlu kita lakukan terus menerus untuk membuat rancangan pembelajaran berbasis permainan yang lebih baik.

Jadi jangan pernah lelah untuk terus menerus memperbaiki model yang dikembangkan demi meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dan jangan lupa, apapun model permainan yang dikembangkan, yang menjadi fokus kita adalah bagaimana caranya agar pembelajaran dapat lebih optimal, bukan pada seberapa seru permainannya. Sebab namanya juga pembelajaran berbasis permainan, belajar menggunakan pendekatan permainan. Belajar datang terlebih dahulu sebelum bermain.

Selamat mempraktikkan. Selamat mengeksplorasi dan memanfaatkan sisi positif permainan untuk pembelajaran. Silakan sebarkan konsep ini sebagai salah satu alternatif metode pengajaran.
Salam gembira penuh makna!
 
PS: ada yang ingin mencoba menerapkan konsep ini dan belajar bersama-sama membuat model pembelajaran berbasis permainan?
Silakan tinggalkan komentar “MAU” di postingan ini ya.
Posted on Leave a comment

Resume Buku Start With Why – Memulai Dengan ‘Mengapa’

Buku ini ditulis oleh Simon Sinek, seorang etnografer handal yang sangat peduli dengan kepemimpinan yang menginspirasi.
 
Buku ini Ditulis atas kegelisahan sekaligus keingintahuan penulis atas satu pertanyaan, “Mengapa hanya ada sedikit sekali perusahaan/organisasi yang terus berkembang dan bertahan untuk puluhan, bahkan ratusan tahun. Sementara sebagian sisanya hanya mampu bertahan jauh lebih singkat.”
“Apa yang membuat para pemimpin besar dunia mampu menciptakan perubahan-perubahan besar dalam peradaban?”
Dan pertanyaan sejenisnya.
 
Buku ini menceritakan pola itu, sebuah keberhasilan yang dicapai ternyata bermula dari satu motif sederhana: mereka mengetahui secara persis MENGAPA mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Dan mereka mengajak, menginspirasi orang lain untuk duduk, berdiri, berlari bahkan berjuang hingga mati bersamanya.
 
Ada 6 poin bahasan yang disajikan dalam buku ini: mengapa manipulasi berbeda dengan menginspirasi, konsep lingkaran emas, kepemimpinan, orang-orang yang senantiasa percaya, alasan yang besar. Klik untuk melihat setiap bahasan
Simon percaya bahwa kepemimpinan yang sejati lekat dengan kemampuan untuk menginspirasi orang lain dengan sebuah tujuan yang jelas, tanpa embel-embel keuntungan ataupun insentif. Orang-orang ini mampu memimpin karena mereka benar-benar menginspirasi para pengikut mereka tanpa adanya manipulasi.
 
 
 
Dalam buku ini, SImon menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi dengan dua cara: menginspirasi atau memanipulasi.
 
Hari ini kita sangat familiar dengan manipulasi. Penjualan, promosi, periklanan, pemasaran, mereka semua adalah bentuk dari manipulasi yang sering kita temui. Teknik ini memang mampu menghasilkan penjualan jangka pendek namun bukan pembelian jangka panjang, apalagi meningkatkan loyalitas pelanggan.
 
“Kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan orang lain untuk mengikutinya bukan hanya untuk sesekali saja, melainkan untuk bertahun-tahun lamanya. Dalam bisnis, kepemimpinan berarti membuat pelanggan terus mendukung perusahaan meskipun perusahaan sedang terjatuh.” (Simon SInek)
 
Tujuan dari sebuah kepemimpinan dalam bisnis adalah menginspirasi para pelanggan yang loyal. Para pelanggan loyal ini bersedia membayar lebih mahal untuk tetap dapat berbisnis dengan kita. 
 
Memang, melakukan manipulasi untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek adalah pilihan yang mudah. Tapi sayangnya hal itu tidak membuat bisnis kita tetap berkesinambungan. Menginspirasi para pelanggan memang membutuhkan upaya yang lebih menantang, tapi hal itu bisa memberikan keuntungan jangka panjang untuk bisnis kita.a
Menurut Simon sinek, ada pola yang sama persis terjadi pada organisasi serta para pemimpin yang membuat perubahan besar di dunia dan pola ini sama sekali tidak ditemukan pada orang/organisasi lain.
 
Setiap orang normal mengetahui dengan persis APA yang sedang ia kerjakan. Tanpa terkecuali. Namun hanya sebagian diantara mereka yang mengetahui BAGAIMANA cara melakukannya. Dan sayangnya lagi, hanya sangat sedikit diantara Orang-orang itu yang memahami MENGAPA mereka melakukannya.
konsep lingkaran emas


 
 
Penulis menyebut pola ini adalah lingkaran emas. Sebuah konsep yang boleh jadi paling sederhana dari banyak konsep yang ada. Jika diilustrasikan Dalam bentuk diagram, konsep ini digambarkan sebagai 3 lingkaran dengan ukuran berbeda: lingkaran terluar adalah APA, lingkaran tengah adalah BAGAIMANA dan lingkaran terdalam adalah MENGAPA.
 
.
Para pemimpin, para penggerak di dunia dan organisasi-organisasi terbaik memahami dengan baik ketiga hal ini. Mereka tidak sekedar mengetahui APA yang mereka lakukan -misi dan visi mereka, BAGAIMANA mereka mencapainya dan yang terpenting: MENGAPA mereka melakulannya.
.
Kebanyakan orang/organisasi mengkomunikasikan dari luar ke dalam. Sementara para pemimpin/penggerak perubahan mengkomunikasikan nya dari dalam ke luar. Mereka menjelaskan terlebih dahulu keyakinan mereka (berkaitan dengan MENGAPA) mereka melakukan hal itu, lalu BAGAIMANA mereka mencapai itu dan APA yang mereka tawarkan.
.
Penulis memberikan contoh, Apple – salah satu perusahaan raksasa yang bergerak dalam bidang teknologi. PAda umumnya perusahaan menjual produk dengan cara menjelaskan produknya seperti ini, lalu inilah yang kamu lakukan dan beginilah kami melakukanya. Namun Apple melakukan kebalikannya. 
 
Dalam melakukan semua hal, kami berupaya untuk menentang status quo dan berpikir berbeda (menjelaskan MENGAPA). Kami melakukannya dengan cara menciptakan prduk yang didesain dengan sangat indah dan sangat mudah digunakan (menjelaskan BAGAIMANA). Dan kami baru saja menciptakan sebuah komputer yang hebat. Apakah Anda ingin membelinya? (Menjelaskan APA yang ditawarkan).
 
“Sebenarnya, konsep ini bukanlah konsep yang baru,”, Simon menjelaskan, “Ini adalah biologi.” Konsep lingkaran emas sangat berkaitan erat dengan struktur otak. Aspek ‘APA’ berkaitan dengan sebuah area pada neokorteks yang memiliki fungsi berpikir secara rasional. Aspek ‘BAGAIMANA’ sangat erat kaitannya dengan otak limbik, bagian otak yang memunculkan emosi dan tempat mengambil keputusan. Otak limbik tidak memiliki kendali atas bahasa. 
 
Jika kita ‘menyentuh’ otak limbik lawan bicara dengan MENGAPA dan BAGAIMANA maka kita dapat membuat lawan bicara kita segera menyentuh emosinya dan membuatnya mengambil keputusan. Berikutnya bagian logis (neokorteks) yang akan merasionalkan keputusan yang sudah dibuat. Itulah alasan mengapa penting sekali mengkomunikasikan sesuatu dengan pola MENGAPA – BAGAIMANA dan APA.
 
Simon menemukan fakta bahwa manusia akan tertarik pada manusia lain yang memiliki keyakinan dan nilai yang serupa. Kita akan cenderung tertarik pada mereka, menjalin relasi dan membangun kepercayaan berdasarkan keyakinan dan nilai-nilai tersebut. Sebagai seorang pemimpin, jika ingin menginspirasi dan mendapatkan pengikut, ia harus dipercaya.
 
Kembali pada konsep biologi, kepercayaan bukan dibangun berdasarkan rasionalitas atau logika. kepercayaan dibangun berdasarkan emosi. 
 
“You have to earn trust by communicating and demonstrating that you share the same values and beliefs. You have to talk about your WHY and prove it with WHAT you do. Again, a WHY is just a belief, HOWs are the actions we take to realise that belief, and WHATs are the results of those actions. When all three are in balance, trust is built and value is perceived.”
 
“Anda harus mendapatkan kepercayaan dengan berkomunikasi dan menunjukkan bahwa Anda memiliki nilai dan keyakinan yang sama. Anda harus menyampaikan ke-MENGAPA-an Anda dan membuktikannya dengan APA yang Anda lakukan. Lagi-lagi, MENGAPA hanyalah sebuah keyakinan, BAGAIMANA adalah langkah aksi untuk mewujudkan keyakinan itu dan APA adalah hasil dari aksi-aksi tersebut. Saat ketiganya seimbang, kepercayaan akan terbangun dan nilai akan diperoleh.” (simon Sinek)
 
Saat merekrut anggota tim, yang perlu Anda lakukan adalah mencari orang dengan keyakinan dan value yang mirip/sejalan. Keahlian adalah yang kedua. 
“Perusahaan-perusahaan hebat tidak merekrut orang-orang terlatih dan memotivasi mereka. Mereka merekrut orang ysang sudah termotivasi lalu menginspirasi mereka.” (Simon Sinek)
 
Simon menjelaskan organisasi yang hebat memiliki kesatuan budaya dan kepemilikan yang kuat. Dua hal ini yang akan melindungi orang-orang di dalamnya. Mereka akan saling bahu membahu satu sama lain. Tidak ada kekhawatiran akan ketidak-percayaan.
 
Sebagai pemimpin kita akan meraih kesuksesan dalam kepemimpinan (baik secara individu ataupun bisnis) ketika kita telah meraih 15-18% dari total pasar/jumlah masyarakat. Dalam hukum sebaran (law of diffusion), sebagian besar orang baru berani mengikuti/membeli hal baru ketika orang lain sudah mengikuti/menggunakannya. Simon menyebutkan, sebagai pemimpin kita tidak harus menginspirasi seluruh manusia di dunia. Kita perlu meraih sejumlah orang saja, dan sisanya akan segera mengikuti.
Konsep lingkaran emas yang diusung oleh Simon Sinek sebenarnya adalah representasi dari struktur kerucut dalam organisasi. 
 
Sebuah organisasi tidak dapat dibangun oleh satu jenis orang tertentu saja. Perlu ada kombinasi dari ketiga tipe orang di dalamnya. Simon mencontohkan perusahaan Apple yang diprakarsai oleh Steve Jobs dan Steve Wozniak. Steve jobs hadir dengan visinya yang kuat dan kental. Sedangkan Steve wozniak hadir dengan kemampuannya dalam mewujudkan visi besar yang dibawa oleh Steve Jobs. Pemimpin ada di puncak kerucut, orang yang memastikan perusahaan/organisasi memiliki aspek ke-MENGAPA-an. Orang-orang dengan tipe BAGAIMANA (HOW) berada di bawah para pemimpin. Memastikan setiap visi dan keyakinan yang dimiliki oleh perusahaan dapat terwujud. 
 
Tanpa komunikasi yang jelas mengenai keyakinan dan nilai yang dianut oleh perusahaan, perusahaan/organisasi akan mengalami kesulitan dalam mencapai konsumennya seperti yang mereka harapkan. Divisi pemasaran dan branding memegang peranan kunci dalam mengkampanyekan keyakinan dan nilai-nilai yang dianut perusahaan/organisasi. Mereka harus menginspirasi para calon pelanggan, alih-alih hanya menyampaikan pesan pada calon pelanggan. ketika calon pelanggan terinspirasi, ia akan membeli/menerima penawaran yang kita lakukan dan berubah menjadi pelanggan. Selama kita menginspirasi mereka, mereka akan memberikan kepercayaannya kepada kita dan mereka akan berubah menjadi pelanggan setia, pelanggan loyal hingga fans kita.
 
 
Dalam buku ini Simon menceritakan pengalamannya mengikuti acara GOT: Gathering Of Titans. Sebuah acara dimana para entrepreneur tersukses di Amerika berkumpul. Fakta menariknya adalah 80% diantaranya telah mencapai tujuan finansialnya. Namun 80% nya tidak merasa telah sukses. Seiring bertumbuhnya perusahaan mereka, mereka merasa kehilangan motif dan ke-mengapa-an mereka. Keyakinan dan motif yang mereka bangun di awal perusahaan berdiri kini menjadi bias dan terkadang mereka cenderung merasa kehilangan arah.
 
Untuk para pemimpin hebat, lingkaran emas yang ia miliki haruslah selalu seimbang. Mereka mengejar motif, ke-mengapa-an. Mereka selalu berusaha mencari cara BAGAIMANA melakukannya dan APA yang mereka lakukan adalah atas bukti nyata keyakinan yang mereka anut. (Simon Sinek)
 
Saat perusahaan fokus pada aspek BAGAIMANA dan APA, mereka kehilangan motif, kehilangan aspek ke-MENGAPA-an. Perusahaan akan cenderung melakukan semua inovasi dan performa-performa terbaik hanya untuk mencapai tujuan jangka pendek, bukan mencapai sesuatu yang mereka yakini. Dorongan untuk melakukan lebih akan sirna.
 
 
 
”The WHY does not come from looking ahead at what you want to achieve and figuring out an appropriate strategy to get there. It is not born out of any market research. It does not come from extensive interviews with customers or even employees. It comes from looking in the completely opposite direction from where you are now. Finding WHY is a process of discovery, not invention.”
 
Motif tidak datang dari pemikiran tentang apa yang ingin diraih dan bagaimana strategi paling tepat untuk meraihnya. Motif tidak lahir dari riset pasar. Ia juga tidak datang dari interview dengan pelanggan ataupun karyawan. Motif besar didapatkan dari melihat segala sesuatu dari arah yang benar-benar berbeda. Menemukan motif, ke-MENGAPA-an adalah proses pencarian, bukan penemuan. (Simon Sinek).

KESIMPULAN

Setiap orang/organisasi mengetahui secara persis APA yang ia lakukan. Sedikit diantaranya mengerti BAGAIMANA cara melakukannya dengan benar. Namun hanya sedikit sekali yang mengetahui MOTIF, MENGAPA ia melakukan itu semua. Sebagai manusia kita memiliki keinginan untuk membagikan keyakinan dan nilai-nilai yang kita anut. Tapi sayangnya tidak semua orang memiliki MOTIF yang kuat dalam dirinya.

Untuk menginspirasi orang lain, kita perlu memulainya dengan satu pertanyaan sederhana: MENGAPA? Temukan motif yang kuat dalam diri kita, temukan BAGAIMANA cara mewujudkan visi, keyakinan dan nilai-nilai yang kita anut. Sehingga kita mendapatkan APA yang kita inginkan.

Simon menjelaskan bagaimana menemukan MOTIF, aspek ke-MENGAPA-an kita di buku berikutnya: FINDING YOUR WHY.

Posted on Leave a comment

Memaknai Kehadiran Adik

👩 : Kak, kakak Nai seneng ga adiknya sudah dua?
👧 : Seneng banget bunda..
👩 : Oya? Coba bunda pengen tau kenapa Naira seneng punya adik lagi?
👧 : Iya, itu berarti Allah kasih banyak rezeki buat kakak.
👩 : MasyaAllah, berarti kalau Allah kasih rezeki yang banyak kita harus apa kak?
👧 : Banyak berdo’a, banyak bersyukur..iya kan bunda?

Saya hanya bisa tersenyum dan mengangguk menanggapi jawaban Naira. Speechless :’)

Cara Allah menguatkan dan mengingatkan itu seringkali tidak terduga. Salah satunya lewat celoteh gadis kecil kesayangan kami ini. Saya yakin, hati seorang anak itu bersih sesuai fitrahnya. Apa yang terucap dari lisannya bisa jadi sebuah ‘alarm’ yang ingin Allah sampaikan pada orang tuanya.

Disaat saya sempat merasa kondisi baru ini begitu menguras energi.
Nizar yang sering tantrum tengah malam karena proses menyapih yang belum tuntas dan Naufal yang masih belajar mengatur pola tidur.

Naira justru punya cara pandang yang berbeda dengan kehadiran adik-adiknya ini. Padahal saya sendiri tau betul bagaimana rasanya menjadi kakak pertama. Tidak mudah. Tapi Naira bilang adik-adik adalah rezeki dari Allah yang harus disyukuri :’)

Pantas selama ini Naira begitu ringan tangan membantu bunda menyiapkan keperluan adiknya. Berinisiatif menyuapi Nizar saat jam makan tiba sementara bunda harus menangani bayi dulu. Mengajak adiknya bermain bersama saat bunda harus menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Semuanya seperti tanpa beban karena Naira menyadari bahwa ia sedang belajar mengekspresikan rasa syukur pada Allah lewat kehadiran adik-adiknya. Barakallah nak…💕

Posted on Leave a comment

Fanpage Baru Educa Familia

Kami percaya bahwa hal-hal baik harus disebarluaskan demi memunculkan kebaikan-kebaikan lainnya.

Maka dari itu mulai tahun 2019 nanti kami akan mengembangkan beberapa platfotm dalam menyebarluaskan konten-konten seputar dunia pendidikan dan pengasuhan melalui beragam kanal. Salah satunya adalah fanpage facebook.

Untuk mengefektifkan proses pengelolaan serta memaksimalkan daya jangkau distribusi informasi, kami akan me-rebrand fanpage Science Factory yang dulu kami kelola menjadi fanpage Educa Familia.

Silakan mengunjungi fanpage baru kami di tautan berikut ini

science factory rebrand to educa familia
Posted on Leave a comment

Dua Kunci Penting Sebelum Mengajarkan Al-Quran pada Anak

Tujuh tahun lalu, masih terekam jelas dalam ingatan masa dimana saya masih mengenyam bangku kuliah dan diamanahi untuk menjadi mentor tahsin bagi mahasiswa tingkat baru. Ada momen yang membuat saya menangis tergugu saat berhadapan dengan seorang gadis berusia 19 tahun yang sama sekali belum mengenal huruf hijaiyyah, padahal ia seorang muslimah sejak lahir.

Apa yang salah dengan gadis ini? Penampilannya terlihat dari kalangan berada dan garis wajahnya pun terlihat seperti seorang yang cerdas. Tapi mengapa di usia dewasanya ini, ia masih terbata mengeja alif-ba-ta? Bagaimana ia belajar memahami Al-Quran sementara membacanya pun tak mampu? Berbagai pertanyaan berkelebat dalam pikiran saya, salah satu yang paling mengusik adalah, apa yang telah orang tuanya lakukan selama ini sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang belum mengenal Al-Quran?

Jujur saat itu ada kecemasan dalam diri, ada rasa khawatir tentang masa depan saya ketika menjadi orangtua. Mampukah saya menjadi orangtua yang mengantarkan anak-anak saya men0jadi seseorang yang mencintai Al-Quran? Saya tentu tidak ingin serta merta menyalahkan kedua orangtua gadis tersebut. Tapi pengalaman ini mengingatkan saya akan satu hal bahwa adalah hak anak untuk diajarkan Al-Quran sejak kecil oleh kedua orangtuanya.

Maka dari itu saya semakin menyadari, saya harus belajar dan menyiapkan banyak bekal untuk menjawab kecemasan saya tersebut. Dan saya meyakini bahwa usia dini adalah pondasi utama untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan termasuk didalamnya menyemai kecintaan anak terhadap Al-Quran. Saya ingin sekali menjadi orang pertama yang mengenalkan Al-Quran dalam kehidupan anak-anak saya.

Baca juga : 5 Aktivitas Seru “Mengenalkan Hijaiyyah pada Anak” (Part-1)

Perjalanan belajar mengantarkan saya untuk bertemu dengan salah satu buku karya Dr Sa’d Riyadh yang isinya begitu mengetuk hati saya, bahwa apapun yang ingin kita tanamkan pada anak akan selalu berpusat pada dua hal, yaitu :

🏠 Rumah Teladan

Dalam bukunya, Dr. Sa’d Riyadh menyampaikan bahwa rumah adalah taman pendidikan pertama dan utama, tempat anak bertumbuh dan berkembang. Jika rumah menjadi basic pendidikan yang baik maka akan menghasilkan anak yang shalih lagi bermanfaat.

Rumah teladan, adalah rumah yang dimana penghuninya mencintai dan mengamalkan Al-Quran dengan cara menerjemahkan kecintaan terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Sehingga anak-anak secara langsung melihat dan merasakan suasana rumah yang mendorong dan membentuk dirinya untuk mencintai Al-Quran.

Ada 4 tipe rumah dalam proses pendidikan Al-Quran di keluarga :

🏡 Rumah yang penghuninya tidak peduli terhadap Al-Quran dan hanya membacanya sesekali. Namun orang tua berusaha untuk memasukkan anak-anaknya ke taman pendidikan Al-Quran terbaik agar mau menghafal dan mempelajari Al-Quran. Mereka lupa bahwa bagaimanapun anak akan mencontoh lingkungan terdekatnya yaitu keluarga.

🏡 Rumah yang penghuninya mempraktekkan ajaran Islam secara sulit, kaku dan fanatik. Termasuk dalam mendidik Al-Quran pada anak-anaknya. Orang tua mengajarkan Al-Qur’an dengan cara yang tidak sesuai dengan pertumbuhan anak, karakteristik, kemampuan dan kecenderungan anak. Sehingga suasana rumah dalam mempelajari Al-Quran terkesan penuh ketegangan yang akan menghambat sampainya perasaan cinta Al-Quran ke dalam hati anak-anak.

🏡 Rumah yang penghuninya melupakan Al-Quran, sehingga Al-Quran pun melupakan mereka. Bahkan mereka membuat sesuatu yang menggantikan Al-Quran, berupa lagu dan musik. 😢

🏡 Rumah yang penghuninya mencintai Al-Quran. Mereka bukan hanya membaca dan mempelajari isinya, tapi juga menerjemahkan rasa cinta terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Mereka menghidupkan nilai-nilai kebaikan pada Al-Quran dalam keluarganya, seperti saling mencintai, tolong menolong dan saling berlomba beramal shalih.

Rumah kita, termasuk tipe yang mana ya? 😊

📌 Pendidik Teladan

Cara terbaik untuk membuat anak tumbuh melakukan amal shalih yang kita harapkan, termasuk didalamnya mencintai Al-Quran, adalah dengan menjadi sosok yang perbuatannya dapat diteladani. Oleh karena itu, jika seorang pendidik ingin menanamkan perasaan cinta kepada Al-Quran di hati anak-anaknya, makan terlebih dahulu ia harus berusaha agar perbuatannya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Jika orang tua mencintai Al-Quran maka anak-anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Al-Quran atas izin Allah.

Bagaimana menjadi pendidik teladan yang akan dicintai anak?

❤ Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan terus memperbaiki hubungan baik dengan Allah dan memperbanyak do’a terbaik untuk anak kita.

❤ Mampu berinteraksi dengan anak sesuai dengan tahap perkembangan dan psikologis anak.

❤ Membuat variasi metode dalam mendidik & mengarahkan anak untuk mempelajari Al-Quran.

❤ Memberi hukuman dengan cara tidak memberi atau membatasi kesenangannya dan jangan pernah merendahkan anak karena kesalahannya.

❤ Pahami kecenderungan dan potensi anak agar pendidik bisa menyesuaikan metode belajar yang diberikan.

❤ Berikan kepercayaan dan berinteraksilah pada anak dengan cara memposisikan diri sebagai pembimbing yang bisa memahami mereka.

❤ Tanamkan rasa percaya diri pada mereka agar mereka menjadi pribadi yang lurus, teguh dan tidak mudah menyerah saat mempelajari Al-Quran.

❤ Cari tahu hambatan-hambatan yang akan mengganggu proses mendidik anak, entah itu berasal dari diri kita sendiri atau faktor luar. Sehingga kita bisa meminimalisir hal buruk yang akan menghambat diri dan anak kita untuk mendekat pada Al-Qur’an.

❤ Tumbuhkan kesadaran pada anak bahwa kita mencintai mereka, dengan menunjukkannya melalui perbuatan dan perkataan. Sehingga anak akan merasa dirinya berharga dan dicintai oleh orang tuanya.

Sampai sini masih bisa bernafas, bun? Hehe.. Ternyata dari dua hal ini saja rasanya masih banyak sekali PR kami dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Quran di hati anak. Terlebih saat melihat diri sebagai orang tua yang masih sangat naik turun interaksinya dengan Al-Quran. Allah, semoga selalu diberi semangat untuk belajar 😢

Posted on Leave a comment

Permen Ekspresi Buat Refleksi Makin Berarti

Sebagai guru, dengan umpan balik kita bisa mengetahui bagian mana yang sudah dimengerti oleh siswa, bagian mana yang belum dipahami, bagian mana yang paling disuka, bagian mana yang paling membosankan, mengasyikkan dan seterusnya. Semuanya diperoleh melalui ativitas sederhana sarat makna: refleksi.
Namun sayangnya, terkadang saat aktivitas refleksi, tidak semua siswa mau sumbang suara. Beberapa diantara mereka cenderung diam dan tidak mengungkapkan apa-apa. Inilah yang saya alami di kelas yang saya ampu saat ini. Ada sekitar 2 siswa yang sangat pasif saat belajar. Mereka cenderung bungkam saat ditanya, cenderung memilih untuk berdiam diri saat diajak berdiskusi. Bagi saya hal ini bisa jadi petaka. Karena saya jadi tidak bisa menilai apa yang mereka rasakan, saya juga tidak bisa mengukur apakah metode pembelajaran yang saya bawakan cukup efektif untuknya.
Terinspirasi dari seorang teman yang sangat suka makan manisan kacang berbalut coklat bermerek CHA-CHA, saya terpikir untuk memanfaatkan butiran lezat itu ke ruang refleksi. Saya ambil botol kaca bekas minuman bervitamin C, saya keringkan, lalu saya isi botol itu dengan dua bungkus CHA-CHA. Lalu saya bawa ke kelas.
Saat akhir sesi belajar, saya minta mereka secara bergiliran mengambil SATU BUAH PERMEN secara acak dan melarang mereka memakannya sebelum ada instruksi dari saya. Setelah seluruh siswa mendapatkan permennya masing-masing, saya tampilkan di proyektor tulisan ini:
Kemudian saya arahkan mereka untuk mengangkat tinggi-tinggi permennya masing-masing dan menyebutkan secara ringkas jawaban atas pertanyaan yang tertera di layar sesuai warna permen yang mereka dapatkan secara bergiliran. Siswa baru boleh memakan permennya jika semua siswa sudah mengutarakan perasaannya masing-masing.
Alhamdulillah, siswa yang biasanya diam sekarang cenderung mau berbicara. Meskipun cara penyampaiannya masih seperti berbicara dengan tembok. Tapi tidak mengapa. Yang penting mereka sudah berani mengutarakan pendapat mereka. Dan yang lebih penting, saya mendapatkan umpan balik dari siswa terkait proses pembelajaran yang baru saja saya lakukan.
Setelah semua bahagia karena mendapatkan permen, pertemuan tersebut saya tutup dengan menyampaikan resume materi berikut hal-hal penting yang sudah kami pelajari selama 90 menit kebelakang.
Dengan begini, semua nyaman, semua senang.
#SemuaMuridSemuaGuru #praktikBaik #refleksiBelajar #KGB #GuruMerdekaBelajar
Posted on Leave a comment

Memanfaatkan Dadu Untuk Membuat Pembelajaran Jadi Lebih Menyenangkan

Seiring dengan berjalannya waktu, dadu semakin populer digunakan untuk beberapa permainan. Sebagai pendidik, bagaimana cara kita memanfaatkan dadu? Berikut ini adalah beberapa mekanika permainan (game mechanics) yang bisa kita adopsi untuk membuat pembelajaran di ruang kelas semakin berkesan dan bermakna.
 

Lempar dadu untuk melakukan sesuatu

Pada permainan ini, kita bisa menambahkan beberapa simbol pada dadu yang berkaitan dengan aktivitas. 
Misalkan kita beri simbol Berlari di sisi A, berjalan di sisi B, merangkak di sisi C, melompat di sisi D dan seterusnya. Lalu kita minta siswa melakukan hal tertentu sesuai dengan dadu yang ditampilkan.
Aktivitas ini bisa dilakukan untuk mengenalkan aktivitas tertentu kepada siswa usia rendah (balita). Atau bisa juga untuk aktivitas lainnya. Contohnya membagi tugas kelompok, tantangan kelompok dan seterusnya.
Dalam beberapa boardgame, dadu seringkali digunakan untuk melakukan suatu aksi dalam permainan.
 
 

lempar dadu untuk mengumpulkan sesuatu

Jenis mekanika permainan seperti ini sangat sering digunakan dalam kebanyakan boardgame. Pemain diminta melemparkan dadu untuk mengumpulkan poin, harta karun, angka dan lain sebagainya. Sangat cocok dikombinasikan dengan tipe mekanik pertama
 
 

Lempar beberapa jenis dadu untuk kombinasi aksi

Misalkan kita menggunakan 3 buah dadu: 2 dadu berisi jumlah, 1 dadu berisi aksi. Pemain melemparkan secara sekaligus ketiga dadu. Jika yang muncul adalah angka 2, 1 dan lompat maka pemain diharuskan melompat sebanyak 3 kali (2+1). Atau misalkan ada 3 buah dadu: 2 dadu berisi jumlah, 1 dadu berisi jenis koin yang dikumpulkan. Pemain melemparkan 3 dadu tersebut dan dadu menunjukkan angka 6, 1 serta koin emas. Maka pemain mendapatkan 7 koin emas.
 
————————————
 
Itu adalah 3 contoh penggunaan dadu sebagai mekanik permainan. Sebenarnya masih ada cukup banyak mekanika permainan lainnya yang menggunakan dadu. Salah satu yang paling powerful adalah mekanik permainan dadu Yahtzee. Seperti apa mekanik permainannya? Simak di postingan selanjutnya ya.
 
Omong-omong, bagi yang mau menggunakan dadu sebagai media permainan, bisa unduh template nya di tombol berikut ini ya. Tinggal dicetak, lalu dimodifikasi sesuai kebutuhan. Ada dadu 6 sisi, 8 sisi dan 12 sisi.
 
 
 
 
 
 
Posted on Leave a comment

7 Model Permainan yang Mudah Diadopsi Untuk Pembelajaran

Saat belajar bersama rekan-rekan guru dari seluruh Indonesia di TPN 2018 lalu, saya mendapatkan begitu banyak pertanyaan, “Pak, gimana cara termudah membuat boardgame untuk pembelajaran?”. Cara termudah? Sepertinya untuk kasus apapun cara termudah adalah dengan ATM: Amati Tiru Modifikasi. 

Jadi jika kita ingin mencoba menerapkan gamifikasi dalam pembelajaran, kita bisa coba perhatikan permainan-permainan yang ada, lalu kita coba modifikasi sedikit. Sesuaikan dengan konten dan konteks pembelajaran.

Nah berikut ini adalah 7 model permainan yang mudah diadopsi untuk pembelajaran di kelas (menurut saya): 

Siapa yang tidak mengenal permainan ini? 
Permainan yang mulanya diciptakan dari ketidaksengajaan ini sangatlah mendunia dan menjangkau berbagai usia di berbagai kalangan. Dari permainan analog hingga bentuk digital tersedia. Konsepnya mudah dimengerti dan pastinya mudah dimainkan.


Beberapa elemen penting yang bisa diadopsi dari monopoli:
1. Konsep papan: melingkar, peserta harus menjalankan bidak nya di atas petak-petak yang dibuat melingkar. Ada hal yang bisa dilakukan di setiap petak
2. Konsep kartu aksi: peserta diharuskan melakukan suatu aksi ketika mengambil kartu tersebut
3. Konsep jual-beli: peserta mencari sesuatu (mata uang) untuk kemudian digunakan melakukan aksi lainnya (membeli rumah/hotel, membayar sewa, denda dan lain sebagainya)
4. Goal akhir: menjadi yang paling kaya atau paling lama bertahan dalam permainan
5. Randomizer berupa dadu: tidak bisa ditebak langkah yang akan dijalankan

 

Ada salah seorang rekan saya, bu Amelia yang telah mengadopsi konsep monopoly untuk pengajaran Akuntansi. Berkat karyanya, beliau dinobatkan sebagai salah satu guru berprestasi tingkat nasional. 

(Yang pengen tau bentuk adopsi lainnya bisa cek di instastory saya berikut ini ya, klik di sini)

Permainan ini sangatlah populer bagi anak-anak di era 1990-an. Konsep permainannya sederhana. Setiap pemain harus berusaha mencapai kotak finish dengan melewati beberapa hambatan berupa ular. Jika terkena ular ia harus turun ke petak yang ada di bawah. Jika berhenti di tangga ia bisa naik ke petak di atasnya.

Berikut ini beberapa elemen yang bisa kita adopsi dari ular tangga:

  1. Winning state: mencapai garis finish
  2. Randomizer: kocokan dadu yang membuat perjalanan tidak menentu
  3. Twisting oleh ular/tangga. Pemain yang lebih di atas belum tentu menang karena bisa terkena ular dan jatuh jauh ke bawah. Yang di bawah pun belum tentu kalah karena bisa naik tangga melejit ke atas

Coba deh ulik sedikit dan sesuaikan dengan konteks pembelajaran di mata pelajaran rekan-rekan guru sekalian. Pasti semakin seru

Permainan klasik ini selalu menarik untuk dicoba. Bahkan hingga sekarang permainan puzzle masih menjadi permainan favorit bagi sebagian kalangan.

Berikut ini beberapa elemen permainan yang dapat kita adopsi dari puzzle:

  1. Winning state: dipicu oleh keingintahuan pemain akan gambar yang muncul setelah puzzle tersusun dengan lengkap
  2. Komponen permainan: potongan-potongan puzzle yang bisa disusun dan terkoneksi satu sama lain
  3. Tantangan: mengasah logika untuk menghubungkan puzzle dengan cara-cara tertentu

Rekan-rekan guru bisa memodifikasi di salah satu komponen permainannya atau seluruhnya. Yang jelas jangan meremehkan konsep puzzle yang tampak sederhana ini.

Bagi yang pengen tahu bagaimana implementasinya bisa cek di tulisan saya tentang memanfaatkan puzzle untuk quiz di sini dan untuk pembelajaran di sini

Siapa yang tak pernah bermain kartu? Hampir semua orang pernah memainkannya. Atau paling tidak mengetahuinya.

Kartu adalah salah satu jenis permainan yang sangat mudah diadopsi. Cara membuatnya relatif lebih mudah, banyak konten yang bisa dimasukkan dalam kartu dan bisa dimainkan dalam mekanika permainan apapun. 

Berikut ini beberapa elemen permainan dalam kartu yang bisa dimodifikasi:

  1. Bentuk kartu: Kartu tidak harus selalu berbentuk persegi panjang. Bisa dibuat persegi, heksagon, belah ketupat atau bentuk apapun yang Anda inginkan
  2. Cara memainkan kartu: sebagian besar permainan kartu hanya memainkan dengan cara buka dan tutup. Anda bisa memodifikasi dengan cara menggabungkan kartu, memasangkan kartu dan lain sebagainya.
  3. Konten Kartu: Anda bisa memodifikasi konten yang ditampilkan pada kartu. Bisa hanya satu sisi atau dua sisi. 

Berikut ini adalah beberapa contoh/model penggunaan kartu dalam permainan: 

Entah sejak kapan model permainan dadu ini dikembangkan. Yang jelas dadu adalah salah satu bentuk permainan yang entah kenapa selalu seru dimainkan.

Dalam game mechanic, dadu merupakan salah satu model randomizer (sebuah alat yang membuat sesuatu menjadi tidak menentu) yang efektif.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat Anda modifikasi dalam permainan dadu:

  1. Jumlah sisi dadu: dadu tidak harus selalu segi enam (kubus). Anda bisa membuat dadu 4 sisi, 7 sisi, 8 sisi, 10 sisi atau bahkan 12 sisi. 
  2. Konten dadu: dadu tidak harus selalu berisi titik-titik atau angka. KOnten pada setiap sisi dadu bisa dimodifikasi sesuka hati
  3. Jumlah dadu yang dilempar dalam satu waktu. Biasanya kita hanya melempar 1 atau 2 dadu dalam suatu permainan yang lazim. Tapi tahukah Anda beberapa board game yang terkenal menggunakan lebih dari 2 dadu untuk bermain. 

Anda bisa juga memodifikasi semua elemen tersebut dalam suatu permainan.

Ada yang pernah memainkan permainan ini?

 

Pemain harus memilih 2 petak yang tertutup. Apabila kedua gambar tidak sama maka kita harus tutup lagi kotak yang terbuka dan membuka lagi kotak lainnya. 

Terasa familiar?

Permainan ini memang sangat efektif untuk melatih memori pemain.

Beberapa elemen yang dapat dimodifikasi dalam permainan ini:

  1. Banyaknya kotak/kartu yang perlu dibuka: semakin banyak semakin menantang untuk dilakukan
  2. Konten kotak/kartu: tidak harus selalu gambar. bisa juga berupa kata-kata, atau dua hal yang saling terkait satu sama lain
  3. Cara bermain: tidak harus selalu 2 kartu yang sama yang dibuka. Misalkan pemain harus membuka 3 kartu yang berkaitan secara sekaligus

Mudah kan?

Ini dia salah satu permainan paling populer sepanjang masa: TTS Teka Teki Sulit. Hehe. Saking populernya, sampai-sampai ada sebuah percetakan yang mencetak ratusan ribu eksemplar buku TTS berisi gambar wanita-wanita cantik (entah apa motifnya).

Permainan ini bisa dimodifikasi untuk mengubah cara membawakan quiz di kelas.

Beberapa elemen yang bisa kita modifikasi dari permainan TTS:

  1. Konten Teka-teki: Anda tidak harus menggunakan kata-kata dalam TTS. Anda bisa saja memodifikasinya menjadi angka-angka (untuk pembelajaran matematika). 
    Seperti contohnya permainan Math Quest berikut ini
  2. Penambahan Poin untuk setiap jawaban benar: Pada TTS tidak ada sistem poin. Anda bisa menambahkan poin untuk setiap jawaban yang benar

Mau mencoba membuat TTS sendiri? Ada ide yang bagus ini dari rekan saya, Pak Nuno. Selengkapnya bisa cek di sini. 

 

Nah itu dia 7 jenis permainan yang mudah diadopsi untuk pembelajaran di kelas. Sekarang yang perlu Anda lakukan adalah mencoba melakukan eksplorasi permainan-permainan tersebut, lalu lakukan eksperimen dengan memodifikasi cara bermainnya. 

Kalau Anda masih bingung bagaimana merancang permainan untuk pembelajaran, coba baca tulisan saya tentang cara mudah membuat boardgame di tautan berikut ini. Klik di sini untuk membaca.

By the way, ada usulan model permainan lain yang mudah dimodifikasi untuk pembelajaran? Sebutkan di kolom komentar ya.

Posted on Leave a comment

Berikan Siswa Otonomi untuk Memanusiakan Hubungan dan Optimalkan Pembelajaran

Dalam bukunya, Drive, Daniel Pink menunjukkan fakta yang membuktikan bahwa pemberian otonomi bisa meningkatkan produktivitas. Di Atlassian – sebuah perusahaan IT asal australia – memberikan otonomi pada tim engineer untuk bebas mengerjakan proyek apapun, dengan siapapun dengan cara apapun di 20% waktu kerja mereka membuat produktivitas mereka meningkat.

Sebagai pendidik, apa yang bisa kita pelajari?

Kita perlu memberikan otonomi pada siswa kita dalam masa pembelajaran mereka. Berikan kesempatan pada siswa untuk memilih. Memilih apa? Bisa jadi apa saja yang sekiranya bisa mereka pilih. Contohnya: memberikan mereka pilihan mau belajar materi yang mana terlebih dahulu – tentunya pilihan materi ini sudah kita rancang sebelumnya, sebisa mungkin bukan topik pembelajaran yang sistem pre-requisite (harus dipahami sebelum memahami materi lainnya). Contoh lainnya, memberikan pilihan mau mengerjakan proyek yang mana, mau bekerja bersama kelompok yang mana, atau sesederhana: mau belajar di kelas atau di luar?
Sebagai gambaran yang lebih kongkrit, di pertemuan lalu saya mencoba menerapkan pemberian otonomi pada siswa saat memfasilitasi proses pembelajaran pembentukan ikatan ionik pada siswa. Berikut ini tahapan pembelajaran yang saya terapkan:
  1. demo memecahkan gula batu dan garam batu
  2. eksplorasi penyebab rapuhnya garam batu
  3. Penjelasan konsep ikatan ionik dengan menganalogikan pria dan wanita yang akan menikah
  4. pengenalan rumus kali silang
  5. konsep hasil ikatan ionik yang menghasilkan senyawa netral
  6. Pengenalan ion tunggal dan poli ion
  7. latihan membentuk senyawa ionik menggunakan puzzle ionik
  8. refleksi belajar
Mengingat tidak semua tahapan belajar perlu diterapkan konsep otonomi, maka saya mencoba menerapkan otonomi di tahapan nomor 7 saja.
Di tahapan ini saya letakkan semua potongan puzzle di meja. Setiap potongan merepresentasikan satu ion, baik itu ion tunggal maupun poli ion. Lalu saya berikan kesempatan pada setiap siswa untuk memilih sendiri kation dan anionnya. Setiap kali (menurut mereka) berhasil membuat suatu senyawa ionik, mereka tuliskan rumus senyawanya di papan tulis. Saya berikan tantangan kepada mereka: berapa banyak kelas ini mampu membuat senyawa ionik dalam kurun waktu 1×5 menit
Setelah waktu habis, saatnya refleksi dan mencari tau mana senyawa ionik yang benar dan mana senyawa ionik yang tidak eksis (tidak ada). Dari proses ini mereka bisa mengetahui bagaimana semestinya membentuk suatu senyawa ionik dari ion-ionnya serta sebaliknya bagaimana menguraikan senyawa ionik menjadi ion-ionnya.
Jika saya bandingkan dengan metode belajar yang dulu, yang monoton dan sekedar memberikan latihan soal di papantulis, cara ini jauh lebih memanusiakan hubungan. Melalui aktivitas ini saya merasakan siswa lebih antusias dalam belajar. Antusiasme itu terlihat dengan jelas saat mereka mencoba menggabung-gabungkan puzzle ion lalu menuliskan senyawa ionik di papan tulis. Semua ini karena satu hal: karena mereka diberikan pilihan, karena mereka memiliki otonomi, dan otonomi ini lah yang membuat mereka lebih berdaya.
Saya yakin konsep memberikan otonomi, memberikan pilihan pada siswa dapat memanusiakan hubungan. Dan semua proses ini dapat lebih mengoptimalkan pembelajaran. Sesederhana apapun bentuk pilihan yang diberikan.
Posted on Leave a comment

Buat Perencanaan Dengan Pola Pikir yang Benar

Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, fresh-grad, pekerja profesional, pebisnis, pedagang, ibu rumah tangga atau profesi apapun seringkali kita dihadapkan dengan satu masalah: perencanaan. Perencanaan terhadap setiap hal. Mulai dari urusan kantor atau bisnis yang bernilai milyaran rupiah hingga urusan perencanaan aktivitas liburan bersama keluarga.

Seringkali saat membuat perencanaan kita melakukannya menggunakan mindset (pola pikir) yang kurang tepat. Akibatnya banyak hal yang tidak kita inginkan terjadi. Mulai dari perencanaan yang berubah-ubah, target yang tidak pernah tercapai, konsistensi yang rendah dan lain sebagainya.

Beberapa bulan terakhir saya terlibat dalam sebuah proyek digital education untuk sebuah software studio dan mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga berkaitan dengan perencanaan ini. Salah satunya adalah memiliki mindset yang benar dalam merencanakan suatu hal.

Pertama: Tentukan Tujuan dengan Jelas

Banyak diantara kita ketika akan membuat perencanaan tidak menetapkan tujuan dengan cukup jelas. Misalkan, saat seorang mahasiswa tingkat akhir ditanya apa rencana yang akan dilakukan setelah lulus, tidak sedikit diantara mereka yang menjawab, “Bekerja, kang.” atau “Lanjut kuliah, mas” atau sejenisnya. Lalu mereka kebingungan setelah ditanya lagi, “Kerja dimana? di perusahaan bidang apa? Lanjut kuliah dimana? jurusan apa?”, dan seterusnya.

Tentu dalam merencanakan akan jauh lebih baik ketika kita bisa mendefinisikan dengan jelas apa yang jadi tujuan kita. Misalnya, “Saya akan mengambil gelas MA di bidang Educational Leadership di Institute of Education, University College London di tahun 2021.” Penetapan tujuan yang jelas ini membuat perencanaan kita jadi jauh lebih mudah.

Semakin jelas apa yang akan kita tuju, semakin mudah kita membuat perencanaan. Sebagai tips, pastikan dalam menentukan tujuan penuhi elemen-elemen berikut ini

  1. Apa yang ingin dicapai
  2. Dimana hal itu bisa dicapai
  3. Kapan kira-kira hal itu (direncanakan akan) dicapai

Kedua: Tahu sumber daya yang kita punya

Ada yang pernah membuat target lalu pada akhirnya target itu hanya menjadi retorika belaka? Alias apa yang kita targetkan itu hanya menjadi impian. Ya… impian yang tidak pernah terwujud. Mengapa? Sangat mungkin karena target kita ketinggian. Kenapa ketinggian? bisa jadi karena kita tidak tahu kondisi kita saat ini.

Ibaratnya begini. Ada seseorang yang ingin pergi ke temannya. Katakanlah rumah temannya ini ada di pusat pemukiman yang super padat. Ia menelpon temannya,

“Bro, rumahmu dimana?”
“Ini bro, ada di kavling 47 no 21A.”
“Lah dimana itu?”
“Gini deh, agak susah nyarinya. Sekarang kamu ada dimana? Ntar aku pandu lewat telepon.”
“Ga tau men, ini aku ada di mana. POkoknya ada banyak banget rumah disini.”
“Lah, rumah yang gimana?”
“Ga tau ya rumah aja. Ini ada yang pagernya pink. Ada tukang martabaknya.”
“Duh dimana pula itu?”
“Ga tau bro… Jadi gimana cara ke rumahmu?”
“Ya kamu nya ada dimana? aku ga bisa ngarahin kalo ga jelas kamu ada dimana.”
dan kisah itu berlanjut sampai besok subuh. Berakhir dengan gagalnya kunjungan itu.

Kebayang kan gimana kita bisa membuat perencanaan yang tepat kalau kita sendiri ga tau kita ada dimana. Gimana bisa tau cara terbaik mencapai tujuan kalau kita sendiri ga tau sumber daya yang kita punya apa aja.

Jadi penting sekali menentukan apa saja sumber daya yang kita miliki. Sebab dengan itu kita bisa membuat perencanaan dengan lebih bijak, tidak muluk-muluk, tapi juga tidak pesimistis.

 

Ketiga: Tahu bagaimana caranya

Kamu tau gimana caranya bikin telor dadar?
Pasti tahu lah, yes.
Tinggal ambil 2 butir telur, lalu pecahkan telurnya, masukkan telur ke mangkuk, tambahkan 1 sdt garam, lalu kocok-kocok menggunakan garpu. Tuangkan 100 mL minyak goreng ke teflon, hidupkan kompor dengan api kecil lalu jika minyak sudah panas tuangkan telur ke dalam teflon. Tunggu hingga telur berwarna coklat keemasan. Angka telur, tiriskan dan jadilah telur dadar.

Sekarang, gimana caranya bikin telor dadar kalo kita ga punya kompor? Tapi kita punya oven.
Bisa? Tentu saja. CAranya? mirip seperti tadi, cuma bedanya kita ga perlu hidupkan kompor. Cukup masukkan telur ke mangkuk tahan oven, hidupkan oven lalu tunggu hingga berwarna coklat keemasan.

Terakhir. Gimana caranya membuat telor dadar jika ternyata kita ga punya kompor, ga punya oven? Kita cuma punya telur, plastik, aluminium foil dan saat ini kita sedang berada di pinggir jalan beraspal yang sangat panas. Nahlo! Caranya ya sederhana saja. Buat aluminium foil seperti wadah berbentuk kotak, ceplok telurnya, lalu kocok-kocok menggunakan plastik lalu masukkan ke kertas aluminium foil. Kemudian letakkan kertas aluminium foil itu di atas aspal. Bisa? bisa saja.

Bisa lihat polanya?

Bahwa menentukan cara melakukan suatu hal selalu berkaitan dengan tujuan yang akan kita capai dan kondisi saat ini (sumber daya yang kita punya). Dalam membuat perencanaan, informasi tentang tujuan yang spesifik dan sumber daya yang ktia punya sangat berkaitan. Semakin banyak kita memiliki informasi tersebut, semakin mudah kita membuat perencanaan.

Lalu bagaimana jika tidak cukup punya informasi? Ya harus dicari. Sambil menentukan cara mencapai tujuannya.

 

Keempat: tahu apa yang kita evaluasi

Seandainya kita tidak mendefinisikan secara jelas telur dadar seperti apa yang ingin kita buat, apakah kita bisa menentukan bahwa kita telah berhasil membuat telur dadar yang kita inginkan?

Kalau kita tidak menentukan bahwa telur yang baik adalah telur yang: enak rasanya (tidak hambar), matang sempurna (tidak ada yang cair) dan berwarna keemasan, bagaimana kita bisa tahu bahwa kita sudah berhasil membuat telur dadar?

Ketiga cara yang kita lakukan bisa jadi memberikan hasil yang berbeda. Tanpa mengetahui parameter-parameter yang jelas tentang telur yang kita inginkan adalah telur yang seperti apa, sulit rasanya menentukan apakah kita berhasil atau tidak.

Bayangkan… membuat telur dadar yang sederhana saja perlu perencanaan yang tepat dan matang. Apalagi merencanakan kehidupan kita? Tentunya jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan.

 

Contoh Kasus

Untuk membuat perencanaan yang baik kita perlu melakukannya dengan pola pikir yang tepat:

  1. tentukan tujuan
  2. Pahami kondisi saat ini
  3. Pikirkan bagaimana caranya
  4. tentukan parameter-parameter ketercapaian tujuan

Proses ini tidak hanya dilakukan sekali. Namun harus dilakukan berkali-kali dan diulangi terus menerus.

Misalkan:

Punya target untuk menjadi seorang milyarder di usia ke 25. Lalu saat sudah menginjak usia 25 tahun, boro-boro jadi miliarder. 10 juta rupiah saja tak punya. Kita lupa dengan kondisi kita saat ini.

Mengapa hanya menjadi retorika/impian belaka? Kemungkinan besar penyebabnya ada 2:

  1. Targetnya terlalu tinggi, tidak mungkin dicapai dengan sumber daya yang kita punya
  2. Cara mencapainya mustahil bisa kita lakukan dengan sumber daya yang ada

Misalkan. Kita punya target jadi miliarder di usia 25 tahun. Tapi kita lupa, bahwa saat ini kita berusia 24 tahun dengan penghasilan per bulan hanya Rp 2.000.000 dan berprofesi sebagai kasir di alifmart dengan tabungan di rekening hanya Rp 1 juta dan tidak memiliki bisnis. Katakan kita cuma punya waktu 10 bulan untuk bisa menghasilkan uang Rp 1 Miliar. Itu artinya kita harus mendapatkan Rp100 juta per bulan.

Apakah itu mungkin didapatkan jika kita hanya bekerja dengan gaji Rp 2 juta per bulan? Tidak mungkin.
Lalu bagaimana cara mendapatkan Rp 100 juta per bulan?
Bisnis. Oke. Kalau memang begitu, bisnis apa yang bisa menghasilkan 100 juta per bulan? Bisa berdagang, mengimpor barang sejumlah 100.000 unit lalu kita jual lagi dengan keuntungan minimal per unit nya Rp 1.000.

Lalu kemudian pertanyaan selanjutnya, “Untuk mengimpor 100.000 unit berapa modal yang kita butuhkan? uangnya darimana? apakah kita punya uang sebanyak itu?” Jika jawabannya tidak memungkinkan untuk melakukan itu maka how to nya harus kita ubah.

Terus kalau how to nya ga nemu-nemu gimana? Ya berarti kemungkinan terbesarnya adalah target kita yang terlalu tinggi. Kita harus sesuaikan targetnya menjadi lebih rendah. Atau kita bisa perpanjang waktunya, tujuannya jangan jadi miliarder di usia 25 tahun, tapi di usia misalkan 30 tahun, atau 35 tahun. Tergantung rencana mana yang paling mungkin dilakukan.

Nah proses ini diulang terus menerus hingga kita mantap dengan rencana yang akan kita jalankan.

Penutup

Jadi, jika kita ingin membuat perencanaan yang lebih matang, ikuti prosesnya, jalani dengan pola pikir yang benar. memang tentu tidak mudah membuat perencanaan yang baik. Tapi yakinilah bahwa jika kita telah merencanakan dengan baik itu artinya kita sudah melakukan setengah pekerjaan dengan benar. Sisanya tinggal bagaimana kita mengeksekusi rencana itu menjadi aksi yang nyata.

Masih ingat dengan pepatah,

“Jika kita gagal merencanakan itu artinya kita sedang merencanakan kegagalan.”

Jadi apakah kamu mau merencanakan kegagalan?

Posted on 2 Comments

OTOPET: Strategi Membuat Siswa Termotivasi Belajar Tanpa Sogokan Tanpa Ancaman

Selama membaca tulisan ini mungkin Anda penasaran sebenarnya bagaimana caranya menumbuhkan motivasi poros ketiga, motivasi intrinsik dalam diri manusia?
Dalam bukunya yang berjudul, Drive: the surprising truth about what motivate us, Daniel Pink menyebutkan bahwa untuk menumbuhkan motivasi intrinsik kita harus memasukkan tiga elemen ini dalam aktivitas belajar bersama siswa: Otonomi, penguasaan dan tujuan. Saya menyingkatnya menjadi OTOPET

Otonomi.

Tahukah Anda bahwa perusahaan teknologi dan informasi Google mengizinkan para insinyurnya menggunakan 20% dari waktu kerja mereka untuk mengerjakan proyek pribadi mereka. Mereka berhak memilih proyek yang mereka suka, mereka boleh memilih dengan siapa mereka bisa mengerjakan proyek itu dan mereka bebas menentukan cara menyelesaikan proyek tersebut. Hasilnya? Sebagian dari proyek itu menjadi aplikasi yang berhasil dalam sejarah google. Seperti gmail, orkut, gogle news dan lain sebagainya.
Adanya otonomi ini akan memengaruhi sikap dan performa setiap orang, tidak terkecuali anak didik kita. Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk memilih membuat motivasi intrinsik mereka bertumbuh. Mereka akan merasa menjadi manusia seutuhnya yang lebih dihargai. Alih-alih hanya menjadi diktator yang mengharuskan mereka melakukan A, B, C dan seterusnya, kenapa tidak kita berikan saja kesempatan pada mereka untuk membuat pilihan mereka sendiri?
Ada 3 hal yang bisa kita berikan kesempatan pada siswa untuk memilih:
  1. Memilih apa yang akan mereka kerjakan (task)
  2. Memilih kapan mereka melakukannya (time)
  3. Memilih bersama siapa mereka melakukannya (team)
Contoh penerapannya? banyak sekali. Kita bisa memberikan kesempatan pada siswa untuk memilih sendiri paket soal quiz/ujiannya. Di awal pembelajaran sebelum kita mulai membawakan materi pelajaran kita bisa berikan kesempatan pada mereka untuk memilih: mau belajar topik yang mana dulu, nak? Atau kita bisa saja buatkan materi pembelajaran dalam bentuk lembaran poster lalu menempelkannya di beberapa area sekolah. Kita persilakan mereka untuk memilih mau mempelajari materi yang mana. Kita juga bisa berikan kesempatan pada mereka untuk menentukan sendiri kapan mereka mengerjakan tugasnya. Atau berikan kesempatan mereka untuk memilih bersama siapa mereka mengerjakan tugas atau aktivitas atau proyeknya. Intinya berikan kesempatan pada siswa untuk memilih.

Penguasaan

Pernah mendengar istilah reaktor nuklir? Ya, sebuah perangkat yang dapat memanfaatkan energi nuklir sebagai sumber energi. Biasanya perangkat ini dibuat oleh para pakar dan ilmuan-ilmuwan senior. Tapi percaya atau tidak, di Inggris ada seorang anak berusia 13 tahun yang berhasil menciptakan sendiri reaktor nuklirnya. Ya, namanya adalah Jamie Edwards. Ia membuat reaktor fusi nuklir di sekolahnya dengan cara yang sederhana. Saat ia mengemukakan gagasannya kepada gurunya, ia tidak digubris. Akhirnya ia mencoba mengajukan kepada kepala sekolah dan kepala sekolah mencoba memfasilitasinya. Berbekal izin dari kepala sekolahnya jamie berkunjung ke beberapa profesor di perguruan tinggi untuk belajar. Namun ternyata keinginannya disepelekan. Tidak putus asa, jamie mencoba mencari literatur dan mempelajari sendiri prinsip-prinsip dasar reaksi fusi. Ia bertanya ke para ahli yang peduli dengan gagasannya. Hingga akhirnya di tahun 2008 silam ia berhasil menciptakan mini reaktor fusinya sendiri dengan menghabiskan anggaran 2.600 poundsterling saja.
Hasil gambar untuk Jamie Edwards youngest scientist
Bisa terbayang bagaimana seorang anak usia SMP menciptakan reaktor fusinya sendiri?
Keinginan dalam diri jamie mendorong ia untuk mencari tau, belajar, mencoba berkali-kali tanpa peduli gagal atau berhasil. Yang ia tahu hanyalah ia ingin mencapai tujuannya. Ia mencoba melakukan dari hal yang sederhana. Sekali ia bisa menguasainya ia akan berusaha dengan sendirinya naik level ke jenjang yang lebih tinggi. Dan semua ia lakukan tanpa adanya sogokan apalagi ancaman.
Memberikan kesempatan pada siswa untuk bisa menguasai suatu hal adalah salah satu faktor pendorong dalam diri yang sangat kuat. Jika kita ingin siswa kita termotivasi, berikan kesempatan pada mereka untuk menguasai hal-hal tertentu. Biarkan mereka mencoba, yakinkan pada diri mereka bahwa mereka bisa, tunjukkan jalan seperlunya. Berikan kesempatan pada mereka untuk gagal. Dan yang tak kalah penting, apresiasi setiap langkah yang mereka lakukan, percayalah bahwa mereka mampu mencapainya.
Sebagai pendidik kita perlu memberikan ruang bagi murid-murid kita untuk menguasai hal-hal yang penting bagi mereka. Salah, gagal, keliru itu tidak mengapa. Karena dari kesalahan itulah mereka belajar. Dari kegagalan itu mereka mengerti mana yang harus diperbaiki agar mereka menjadi berhasil.

Tujuan.

Pernah merasa belajar sesuatu tapi mendadak lesu karena merasa tidak penting mempelajari hal itu?
Bayangkan Anda ditugaskan oleh Kepala sekolah atau manajer atau atasan Anda untuk mengikuti seminar/workshop. Tapi kenyataannya Anda sama sekali tidak tertarik dengan materi yang dibawakan dalam seminar/workshop itu. Kira-kira apa yang terjadi? Mengantuk? Bosan? Pengen seminarnya cepat selesai? Semua itu bisa terjadi karena Anda merasa tidak menemukan tujuan Anda belajar dalam seminar/workshop tersebut.
Coba kita berkaca pada murid-murid kita. Kira-kira apakah mereka merasa menemukan tujuannya mempelajari sesuatu saat belajar di ruang kelas bersama Anda?
Apakah sebagai pendidik kita sudah menghadirkan makna dalam pembelajaran bersama murid-murid kita?
Hasil gambar untuk teacher thinking
Tanpa tujuan, tanpa makna, setiap proses pembelajaran akan terasa kering dan hampa. Tidak hanya bagi murid, bagi kita sebagai pendidik pun demikian. Ketika kita mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban sebagai seorang guru, ketika kita masuk ke kelas hanya karena takut tidak mendapatkan gaji/honor di akhir bulan, ketika itu pula kita kehilangan makna dlam mendidik. Hal itu pula yang akan membuat semangat mendidik kita kian kendur.
Oleh karena itu penting bagi kita menghadirkan makna pembelajaran dalam diri murid-murid kita. Ajak mereka untuk memahami konsep AMBAK: Apa Manfaatnya Bagiku. Sebelum mengajar kita perlu membayangkan diri kita sebagai siswa, kemudian bertanya, “Jika aku mempelajari materi ini bersama pak/bu XXXX (Anda), apa manfaatnya bagiku?”, “Memangnya kalau belajar materi ini aku bisa apa?”, “Apa gunanya belajar materi ini?”, “Apa yang terjadi kalau aku tidak mempelajari hal ini?” dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya.
Saya yakin, dengan menanyakan hal-hal itu kita bisa menyisipkan pesan-pesan bermakna kepada murid-murid kita selama kita menjalankan peran kita sebagai pendidik di sekolah. Hadirkan makna, kuatkan tujuan pembelajaran, maka kita dan mereka akan merasa menjadi manusia seutuhnya.
Kesimpulan: apa yang bisa saya lakukan untuk menumbuhkan motivasi intriksik siswa?
Gunakan konsep otopet: otonomi, penguasaan, tujuan.
Berikan ruang bagi siswa untuk memiliki otonominya sendiri dalam belajar. Berikan mereka kesempatan untuk:
  1. Memilih topik mana yang akan dipelajari terlebih dahulu
  2. Memilih waktu mengerjakan tugas/proyek mereka sendiri
  3. Memilih proyek mereka sendiri
  4. Memilih anggota tim mereka sendiri
  5. Memilih tempat belajar
  6. Memilih tempat mengerjakan soal quiz
  7. dan lain sebagainya
Intinya berikan otonomi sehingga siswa memliki keleluasaan memilih apa yang mereka lakukan, kapan mereka melakukan hal itu dan bersama siapa mereka melakukan hal itu.
Penguasaan: berikan siswa ruang untuk mencari tahu, mempelajari, mencoba, melatih diri hingga mereka menguasai suatu hal.
Misalkan, Anda bisa melakukan hal-hal berikut ini:
  1. Saat mereka sudah tertarik terhadap suatu materi/topik pembelajaran, berikan tugas padanya untuk mempelajari hal itu dan melaporkan hasil pembelajarannya kepada kita/teman-temannya
  2. Berikan tantangan untuk melakukan suatu hal yang ia minati. Misalkan ia berminat dengan mencipta lagu, maka berikan kesempatan dan kepercayaan padanya untuk membuat lagu dan nyanyikan bersama teman-temannya
  3. Apresiasi setiap tahapan pembelajaran yang dijalani oleh murid, hindari merendahkan atau mencemooh hasil upaya mereka
  4. Berikan ruang pada siswa untuk melakukan kekeliruan dan gagal dan ajak mereka merefleksikan kegagalan itu
  5. Kuatkan siswa untuk menguasai suatu hal
  6. dan lain sebagainya
Tujuan: hadirkan makna pembelajaran di setiap kesempatan kita belajar bersama siswa.
Kita bisa melakukannya dengan cara:
  1. mengajak murid memikirkan mengapa kita mempelajari hal ini
  2. Memunculkan pertanyaan dalam diri siswa tentang apa yang akan kita pelajari
  3. Refleksi bersama murid di akhir pelajaran, mencari tau apa makna pembelajaran tersebut
  4. Mengajak mereka mengamati suatu fenomena untuk memahami makna dibalik fenomena itu
  5. dan lain sebaganya

Penutup

Zaman telah berganti, kini mendidik murid zaman now tidak bisa menggunakan cara zaman old. Mengutip kata baginda nabi,  bahwa kita harus mendidik anak sesuai zamannya. Kini era mendidik dengan kekerasan, dengan ancaman dan sogokan sudah berakhir. Murid-murid kita sudah tidak mempan dengan itu semua. Sebagai pendidik yang kekinian dan yang peduli dengan masa depan mereka kita harus mendobrak diri, berusaha semampunya untuk mendidik mereka dengan cara mereka.
Menumbuhkan motivasi intrinsik adalah cara mereka termotivasi untuk belajar secara mandiri. Maka mari hadirkan OTOPET dalam setiap pembelajaran kita bersama mereka dan jadikan diri kita semua manusia seutuhnya. Memang tidak mudah, tapi yakinilah bahwa semua jerih payah yang kita lakukan kelak akan terbayar lunas dengan keberhasilan mereka di masa yang akan datang.
Anggayudha (@ayesaja)
Pendidik, KGB Bandung.
Posted on 5 Comments

Belajar Menentukan Letak Unsur Pada Sistem Periodik Unsur dengan Permainan Kartu Unsur

Salah satu tantangan yang saya hadapi dalam mengajar siswa kelas 12 yang akan mengikuti ujian akhir nasional adalah kesulitan siswa memahami konsep dan keterkaitan antar konsep. Apalagi jika sudah dikaitkan dengan soal. Jangankan menjawab soal, memahami soalnya pun susahnya setengah hidup.
Belum lagi jika ditambah perspektif buruk sebagian besar siswa tentang kimia. Yang katanya soal susah lah, gurunya ngebosenin lah, dan segala macam hal buruk lainnya. Oh iya. Ditambah satu lagi bonus jackpot tantangan bagi guru kimia kelas 12 seperti saya: materinya yang harus diajarkan banyak, sementara waktunya sedikit.
Ah lengkaplah sudah….
Untuk mengatasi seluruh masalah itu, saya coba dekati pengajaran kali ini dengan sedikit gamifikasi. Elemen gamifikasi yang saya gunakan juga simpel: avatar. Maksudnya?
Maksudnya saya coba asosiasikan elemen (unsur) dengan satu gambar yang kira-kira bisa mereprentasikan unsur itu (lihat gambar). Saya buatkan 1 unsur = 1 kartu berisi avatar unsur tersebut. Untuk cara bermainnya saya juga cuma menggunakan 1 konsep saja: matching alias mencocokkan.
Kira-kira begini tahapan aktivitasnya:
  1. Siswa diajak untuk memahami konsep bilangan kuantum mengunakan analogi hotel berbintang
  2. Siswa diberikan penjelasan terlebih dahulu tentang cara menentukan konfigurasi elektron menggunakan metode susu sapi sedap.
  3. Siswa diajak untuk memahami keterkaitan antara jumlah kulit dengan periode dan jumlah elektron terluar dengan golongan
  4. Susun kartu unsur di suatu meja (baiknya unsur dengan nomor atom lebih dari 10). Berikan kesempatan pada setiap siswa untuk mengambil 3 unsur
  5. Mintalah mereka untuk menentukan konfigurasi elektron setiap unsur yang mereka pilih
  6. Mintalah mereka untuk menebak letak unsur tersebut pada SPU
  7. Jika sudah mendapatkan tebakannya, mereka dapat mencocokkan lokasi unsur mereka dengan SPU yang ada
  8. Lanjutkan dengan refleksi
Mudah sekali bukan?
Memang kesan bermainnya tidak terlalu kental. Tapi dengan adanya penggunaan media belajar ini diharapkan siswa jadi lebih mudah memahami konsep yang diajarkan.
Menariknya lagi, 3 materi langsung diselesaikan hanya dalam 1 jam pelajaran saja. Dan saya bersyukur ternyata semua siswa mampu menentukan letak unsur pada SPU dengan tepat. Dari 15 unsur yang diletakkan hanya ada 1 unsur yang diletakkan tidak pada tempatnya.
NB: bagi yang ingin punya kartu-kartunya bisa japri alamat emailnya ya.
Saya akan kirimkan pranala unduh nya melalui email.
Posted on Leave a comment

Saat Anak Merasa Kecewa

Di usia Naira yang beranjak 5 tahun, kebutuhannya untuk bermain berwama teman semakin tinggi. Jika dilihat dalam tahap perkembangannya kebutuhan ini muncul untuk melatih sisi emosi dan kemandirian anak.  Semakin sering bermain bersama, otomatis banyak stimulus yang datang mempengaruhi perkembangan emosinya.

Sebagai orang tua kami pun berusaha memfasilitasi kebutuhan ini. Berhubung baru dua bulan kami menetap kembali di Bandung dan belum begitu mengenal situasi sekitar rumah, kami pun membuat kesepakatan bersama Naira. Intinya, Naira boleh mengundang teman-temannya untuk main di rumah bersama. Jika Naira ingin main diluar rumah pun boleh, tapi masih terbatas di beberapa area yang mudah kami pantau.

Oya, sebelum pindah ke Bandung kami tinggal di komplek pondok pesantren. Disana suasananya cukup kondusif. Beberapa anak yang bermain bersama Naira terbilang kooperatif, bahasanya santun dan mudah diarahkan. Jarang sekali muncul konflik yang berarti dalam pertemanan mereka. Berbeda dengan disini. Kami tinggal di sekitar pemukiman warga, sehingga teman-teman sebaya Naira pun sangat beragam sikapnya. Mulai dari yang baik dan santun, suka membawa mainan Naira tanpa izin, pipis sembarangan di halaman rumah sampai yang berbicara kasar pun ada. Maka wajar jika konflik yang muncul menjadi lebih kompleks.

Seperti hari ini, selepas bermain bersama temannya tiba-tiba Naira menghampiri saya dengan wajah ditekuk sedih. Tampaknya Naira ingin menyampaikan sesuatu yang penting.

“Eh ada kakak Naira. Udah selesai kak mainnya?” tanya saya.

“Udah bunda.” Jawabnya singkat.

“Kenapa, Nak? Kelihatannya lagi sedih. Ada yang mau Naira ceritain sama bunda?” pungkas saya penasaran.

“Iya bunda, tadi teh ada teman kakak yang injak-injak telor plastik kaka, sambil ketawa-ketawa lagi! Terus telor  plastiknya jadi rusak. Huhuhu..” terang Naira sambil terisak.

“Ya Allah, pasti sedih ya kak lihat telornya jadi penyok gitu?” saya mencoba berempati. Mungkin jika ada di posisi Naira saya pun akan merasakan hal yang sama, melihat barang kesayangan rusak oleh orang lain tentu sangat menyedihkan.

“Kaka sedih jadi gak bisa masak-masakan lagi, bunda.” tangisnya makin kencang.

“Ya sudah, sekarang kakak coba tenang dulu ya. Bunda tau pasti sedih rasanya. Boleh gak kalau bunda pinjam dulu telor penyok nya?” saya berusaha menenangkan tangis Naira dengan merangkul pundaknya. Lalu menawarkan alternatif untuk mensiasati agar mainannya bisa utuh kembali.

“Kak, kira-kira telornya masih bisa kita perbaiki gak ya?” ujar saya.

“Tadi udah kakak coba tapi gak bisa bagus lagi.” ucapnya terlihat sangat kecewa.

“Coba kita perbaiki sama-sama ya, siapa tahu bentuknya bisa bagus lagi.”

Naira mengangguk tanda setuju. Saya pun mencoba memperbaiki telor itu dengan melibatkan Naira untuk membantu membawakan alat-alat yang diperlukan. Dan voila, kurang dari sepuluh menit telornya sudah tidak penyok. Naira girang bukan kepalang. Ia pun langsung meraih wajan dan kompor mainannya untuk masak-masakan. Dengan senyum manisnya ia berkata,

“Alhamdulillah ya bunda ternyata masih bisa diperbaiki.”

Dari kejadian ini, ada banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik. Sebenarnya tidak mudah bagi saya untuk bisa setenang itu menghadapi kekecewaan Naira. Saat sedang ‘tidak waras’ mungkin saja saya berujar, “Aduh, gitu aja kok nangis sih, Nak. Kan bisa beli lagi yang baru!”

Tapi jika jalan pintas seperti itu diambil, maka tidak akan ada perubahan apa-apa pada diri Naira. Saya berharap Naira bisa belajar untuk berdamai dengan rasa kecewa dan fokus pada solusi tanpa terus meratapi keadaan apalagi menyalahkan orang lain. Saya sadar, itu semua bisa tercapai hanya jika saya bisa berempati dan memberikan respon yang positif saat berkomunikasi dengannya. Jadi kuncinya ada pada saya. Ini reminder banget untuk diri saya sendiri.

Alhamdulillah hari ini saya belajar untuk melakukan salah satu poin dari komunikasi produktif dengan anak, yaitu menunjukkan empati dan fokus pada solusi. Semoga lisan bunda yang penuh kekurangan ini selalu dibimbing Allah untuk berkata yang baik dan benar di hadapan anak-anak 😇

Posted on Leave a comment

Atasi Emosi Negatif Anak dengan 5 Langkah Ini !

Kurang lebih sebulan ini, tiga grup parenting yang saya ikuti kompak membahas tentang pengelolaan emosi ibu dan anak. Materinya banyak, setiap narasumber punya tips yang beragam. Satu narasumber menyebutkan perlunya time out saat anak mulai mengeluarkan emosi negatifnya. Narasumber lain menyampaikan bahwa ternyata teknik time out itu sudah tidak relevan, karena seringkali menimbulkan efek hukuman dibanding pembelajaran. Maka munculah metode baru yaitu time in.  Bingung? Iya, saya bingung mau mengaplikasikan ilmu yang mana. Banjir informasi membuat saya harus lebih bijak dalam menyeleksi setiap ilmu yang datang.

Sampai suatu hari Allah validasi ilmu-ilmu yang saya terima di kulwap itu dengan Nizar yang tantrum setiap kali saya mau shalat dan Naira yang uring-uringan setiap ingin BAK (padahal sebelumnya lantjar jaya). Saya sadar, mungkin ini cara Allah agar ilmu yang saya dapat tidak sia-sia, jadi langsung diberi situasi sebegitu rupa supaya ilmunya lebih cepat diamalkan.

Pada dasarnya kondisi seperti ini sangat wajar dialami oleh balita. Di usia balita, anak sedang belajar mengenal perasaan yang dialaminya. Selain itu, kemampuan balita untuk mengekspresikan perasaan dalam bahasa verbal yang masih sangat terbatas, biasanya menjadi pemicu stres dalam diri mereka.  Karena ada keinginan yang tidak tersampaikan dengan baik, akhirnya mereka hanya bisa menangis untuk mengungkapkannya.

Sayangnya orang tua masih sering merespon kurang baik dan tidak menunjukkan rasa empati terhadap emosi negatif anak.  Kita cenderung menjawab emosi anak dengan luapan kekesalan yang terkadang terjadi dengan spontan. Sebagai orang dewasa idealnya kita bisa memilih respon yang tepat dalam menghadapi situasi itu. Saya pun merasakan memang tidak mudah tetap bersikap tenang saat anak sedang tantrum. Tapi bukan berarti tidak bisa diusahakan. Prinsipnya, setiap kali orang tua mengalami tekanan emosi karena anak,  cobalah renungkan sejenak apakah respon yang kita berikan sudah sesuai dengan kebutuhan anak atau hanya mengikuti hawa nafsu kita?

Jadi, sebaiknya orang tua harus bagaimana menyikapinya? Setiap anak memiliki tempramen yang berbeda, maka sangat mungkin jika penanganannya pun akan berbeda. Ada yang berhasil dengan satu metode, ada pula yang harus memutar otak mencari cara lain demi meredakan emosi anak. Termasuk saya, meskipun ada banyak tips pengelolaan emosi, tetap saja pada prakteknya tidak semua bisa dilakukan karena alasan diatas. Nah, beberapa langkah ini mungkin bisa membantu ayah dan bunda melalui masa sulit menghadapi tantrum anak.Agar mudah diingat saya beri singkatan S-A-B-A-R.

– SADARI bahwa emosi negatif itu wajar dirasakan oleh anak. Cari penyebab mengapa tantrum bisa terjadi. Jika sudah dalam kondisi sadar, bisa jadi kita lebih mudah dan tenang menghadapi tangisan anak yang meluap-luap.

– ATUR posisi yang tepat dan nyaman bagi kita untuk mengatasi emosi negatif anak. Saat berdiri biasanya saya sulit sekali meredam rasa kesal, maka duduk sering menjadi pilihan. Selain bisa mengurangi emosi negatif, duduk membuat posisi diri kita sejajar dengan anak dan memudahkan kita untuk berempati terhadap kondisi anak.

–  BANTU anak untuk mengetahui dan memberi nama atas perasaan yang tengah dialaminya. Apakah itu sedih, marah, takut atau perasaan lainnya.

– AJAK anak untuk menenangkan diri dan menyelesaikan emosi negatifnya. Jika sudah tenang, ajari anak untuk mengutarakan keinginannya dengan cara yang baik. Contoh kasus Naira yang tantrum ketika ingin BAK. Setelah ditelusuri penyebabnya ternyata Naira stres karena takut jika harus BAK di toilet sendiri. Maka saya berusaha menenangkan dulu tantrumnya, menyampaikan kalau bunda ada di dekat Naira dan InsyaAllah Naira aman sekalipun bunda tidak ikut masuk toilet.

– REFLEKSI, jika suasana sudah kondusif dan anak sudah bisa diajak berbicara, cobalah untuk mulai berdiskusi kira-kira cara ia menyampaikan keinginan sudah benar atau belum. Beri ruang pada anak untuk merefleksikan perbuatannya tersebut. Jika belum benar, maka bicarakan bersama apa yang seharusnya dilakukan kedepannya. Oya, jangan lupa untuk meminta maaf pada anak jika ada respon kita yang kurang baik saat menghadapi anak yang sedang tantrum dan berusahalah untuk memperbaikinya.

Semoga 5 cara diatas bisa sedikit memberi solusi ya.  😊

 

Posted on 1 Comment

Menyapih atau NWP?

Saat mengetahui ada janin titipan Allah di usia Nizar yang belum menginjak 1 tahun, rasanya campur aduk, MasyaAllah. Tidak dapat dipungkiri ada rasa cemas kehilangan momen mengASIhi Nizar hingga usianya genap 2 tahun. Berbagai keraguan berkelebat dalam hati, saya khawatir tidak mampu melewati masa ini dengan baik. Namun perasaan tersebut langsung saya lawan dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan memberikan amanah melampaui batas kemampuan kita.

Pengalaman memberi ASI adalah sesuatu yang penuh kenangan bagi saya. Bukan karena ikut-ikutan trend jaman sekarang, terlebih karena menyusui adalah perintah Allah. ASI adalah rezeki yang dititipkan pada seorang ibu, sebagai tanda cinta dari Allah untuk setiap anak. Dan jika diniatkan untuk meraih ridha Allah, proses menyusui anak akan menjadi ibadah yang tak ternilai pahalanya.

Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang sedang menyusui bayinya,

“Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata’ala.”

Sejak itu saya mulai mencari dari beberapa literatur tentang bagaimana islam mengatasi kondisi ini. Dimana seorang ibu hamil saat anaknya belum usai disapih. Karena saya pun tidak ingin mengambil keputusan yang gegabah atau terburu-buru menyapih tanpa dasar ilmu.

Alhamdulillah, akhirnya menemukan rujukan dari buku Hanya Untukmu Anakku (terjemahan dari kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud) karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Beliau mengawalinya dengan anjuran untuk menyusui anak selama 2 tahun yang tertulis dalam Alquran.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)Ayat ini mengandung beberapa hukum :
1. Masa menyusui yang sempurna adalah dua tahun. Hal ini menjadi hak seorang anak jika dia membutuhkannya dan belum bisa lepas darinya. Penyebutan حولين (dua tahun) yang diperkuat dengan كاملين (penuh atau sempurna keduanya) bertujuan agar lafazh حولين tidak dipahami satu tahun atau lebih dari dua tahun.

2. Apabila kedua orang tua ingin menyapih anaknya sebelum masa itu dengan kerelaan keduanya dan setelah musyawarah, maka dibolehkan untuk menyapih selama tidak berdampak buruk pada anak.

3. Jika seorang bapak menginginkan anaknya disusui oleh wanita lain selain ibunya, maka hal itu boleh dilakukan sekalipun ibunya menolak. Kecuali jika hal tersebut akan mendatangkan keburukan bagi ibu atau anaknya, maka hal itu tidak diperkenankan. Dan ibunya pun boleh melanjutkan menyusuinya hingga jangka dua tahun atau lebih.

(Hanya Untukmu Anakku, halaman 436)

Dari penjelasan diatas saya menarik kesimpulan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang memungkinkan seorang ibu untuk menyapih anak lebih awal dari yang dianjurkan oleh Alquran. Pada bahasan berikutnya beliau pun membahas salah satu kondisi yang mungkin terjadi yaitu ibu hamil saat masih menyusui anaknya.

Menurut penuturan beliau ada beberapa pilihan yang harus diambil ketika ibu mengalami hal tersebut. Dua hal yang sangat beliau anjurkan adalah segera menyapih anak sekalipun belum mencapai usia 2 tahun atau mencarikan ibu susuan. Mengapa demikian? Karena seiring bertambahnya usia kehamilan, produksi ASI jumlahnya akan berkurang akibat homon estrogen yang semakin meningkat. Secara tidak langsung hal tersebut akan berpengaruh pada asupan gizi sang anak. Namun ungkap beliau, tidak juga ada larangan untuk meneruskan memberi ASI jika memang tidak ada efek buruk pada anak dan ibu setelahnya. Dua anjuran diatas disarankan atas dasar kehati-hatian. Wallahua’alam.

Saya sempat galau akan menyapih atau NWP (Nursing While Pregnant). Setelah menimbang, akhirnya saya pun mencoba untuk meneruskan mengASIhi Nizar. Karena selama ini tidak ada reaksi yang saya rasa akan membahayakan janin, seperti kontraksi saat menyusui atau lemas berlebihan setelah menyusui anak. Saya tidak ingin langsung menghentikan pemberian ASI pada Nizar, karena khawatir akan menciderai psikisnya.

Meskipun begitu saya berniat untuk menyapih Nizar lebih awal secara bertahap dan senatural mungkin, tanpa paksaan. Sehingga begitu adiknya lahir, Nizar sudah siap dengan kondisi barunya. Qadarullah, mungkin ini sudah menjadi sunnatullah. Di usia kehamilan menginjak 6 bulan, semakin jarang saya merasakan LDR (Let Down Reflex) atau asi mengalir deras saat menyusui. Sehingga Nizar pun mengurangi kebiasaan meminta ASI dengan sendirinya. MasyaAllah.

Hingga sekarang Nizar masih meminta ASI sewaktu-waktu dan saya pun masih memberikannya. Saya yakin Allah sudah mengaruniakan pada diri seorang anak kemampuan untuk mengenali kapan ia siap untuk menyapih dirinya sendiri. Biidznillah…

Posted on 1 Comment

Adab Sebelum Ilmu

Pernahkah kita merasa, betapa seringnya  mendapat ilmu tentang sesuatu tapi rasanya sulit sekali hati tergerak untuk mengamalkannya. Dalam dunia parenting misalnya, entah sudah berapa kali kita mendengar bahwa memarahi anak akan memberi dampak yang buruk pada psikis mereka. Berulangkali pula kita dengar hadits Rasulullah tentang keutamaan menahan amarah, namun kita masih saja sulit menahan diri untuk tidak mengomel disaat tingkah laku anak begitu menguji. Kita sibuk mencari ilmu kesana kemari tapi sedikit sekali yang membekas dalam  amalan dan hati.
Rasanya ada sesuatu yang keliru dari cara kita mencari ilmu 😢

Satu bulan yang lalu saya memutuskan untuk mengikuti dua kuliah online yaitu Halaqah Silsilah Islamiyah (HSI) yang dibimbing oleh Ustadz Abdullah Roy dan Kuliah Bunda Sayang dari Institut Ibu Profesional (IIP). Menariknya dua kelas ini diawali dengan materi yang sama, tentang adab sebelum ilmu. Lalu tiba-tiba saya merasa sedih, mengingat perjalanan menuntut ilmu selama ini ternyata masih jauh sekali dari adab yang seharusnya. Jangan-jangan selama ini saya hanya fokus menimbun ilmu tanpa peduli dengan adabnya. Padahal ulama terdahulu sangat tinggi perhatiannya terhadap adab ini. Seperti yang yang telah dikatakan Ibnul Mubarok,

“Kami mempelajari masalah adab  selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Adab qobla ‘ilmu. Tiga puluh tahun tentu bukan waktu yang singkat, butuh kesungguhan dan kesabaran dalam mempelajarinya. Semakin saya belajar tentang adab semakin saya mengerti kenapa para ulama menginvestasikan begitu banyak waktunya untuk mempelajari adab sebelum ilmu kepada gurunya. Karena adab lah yang akan menjadi kunci terbukanya hamparan ilmu yang dimiliki sang guru. Lebih dari itu, adab menjadi jaminan barakah atau tidaknya suatu ilmu bagi seseorang.

Dalam kajiannya, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan setidaknya ada 3 keutamaan bagi orang yang mempelajari ilmu dengan adabnya.

1. Orang yang menjaga adab dan kepada Allah saat menuntut ilmu akan Allah percepat pemahamannya terhadap ilmu.
Yusuf bin Al Husain berkata,

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

2. Orang yang menuntut ilmu dengan adabnya akan mudah mengamalkan ilmu yang diterimanya.

3. Orang yang menuntut ilmu dengan adabnya akan Allah mudahkan ia dalam mengamalkan ilmu disertai adab dari ilmu yang tengah diamalkannya. Misalkan seseorang belajar tentang shalat tahajud kepada seorang ulama dengan memperhatikan adab saat belajar, maka Allah berikan ia kemudahan untuk mengamalkan shalat tahajud plus adab dari shalat tahajud itu sendiri.

Lalu apa saja adab yang harus kita perhatikan sebelum menuntut ilmu? Ada beberapa hal yang harus menjadi fokus kita, diantaranya :

🌸 Membersihkan tempat ilmu yaitu hati. Apabila hati bersih maka ilmu akan berkenan masuk. Semakin bersih hati, semakin mudah menerima ilmu.
🌸 Mengikhlaskan NIAT dalam mencari ilmu. Contohnya mencari ilmu untuk :
⏺Mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain.
⏺Menghidupkan dan menjaga ilmu supaya tidak punah.
⏺Mengamalkan ilmu.
🌸 Mengumpulkan TEKAD untuk mempelajarinya, senantiasa memohon PERTOLONGAN ALLAH dan tidak merasa lemah.
🌸 Tawadhu dan tidak merasa paling tahu.
🌸 Memusatkan semangat untuk mempelajari Alquran dan Hadits.
🌸 Menempuh jalan yang benar dalam menuntut ilmu.
🌸 Bersegera dalam mendapatkan ilmu.
🌸 Pelan-pelan dalam menuntut ilmu dengan memulai dari buku-buku yang ringkas.
🌸 Memilih teman yang shalih dalm perjalanan menuntut ilmu.
🌸 Berusaha keras dalam menghafal, mengulang dan bertanya kepada guru apabila ada yang tidak dipahami.
🌸 Menghormati ahli ilmu atau guru, termasuk meluruskan dengan cara yang baik dan benar jika melihat kesalahan dalam diri sang guru.
🌸 Menghormati majelis ilmu dan sumber ilmu.

Saya sangat berterima kasih kepada para guru yang sudah begitu banyak mengingatkan betapa pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Semoga ilmu yang sudah dibagi membekas dalam hati dan amalan sehingga mengundang pahala yang terus mengalir untuk beliau semua. Dan semoga Allah membimbing langkah kita untuk memperbaiki setiap kekurangan dalam menuntut ilmu.

“Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.” (Syaikh Al-Ushoimi)

Sumber :
– Ringkasan materi “Adab Menuntut Ilmu IIP”
– Ringkasan materi HSI “Pengagungan terhadap Ilmu’
https://muslim.or.id/21107-pelajarilah-dahulu-adab-dan-akhlak.html

Posted on Leave a comment

Kenangan Bersama para Permata Alquran 💕

Malam itu, di penghujung halaqah quran, seorang santri ragu-ragu maju ke hadapan saya. Wajahnya tertunduk malu, lirih ia menyampaikan kalau hafalannya belum lancar.

Saya pun memintanya untuk mencoba dulu. Baru baris kedua hafalannya mulai tersendat, susah payah ia coba mengingat tapi hasilnya masih sama. Akhirnya ia pun tergugu, air matanya tumpah di depan saya. Saya hanya bisa mengusap pundaknya dan berusaha memahami kondisinya.

Saya tahu, betapa menghafal alquran bukanlah sesuatu yang mudah ditengah aktivitas pondok yang padat dan sedikit waktu istirahat.

” Coba tenangkan hatinya dulu, ibu tunggu kalau masih mau setor hafalannya.” ucap saya. Tapi ia menolak dan memilih untuk melanjutkan usahanya.

MasyaAllah. Ia pun mengulang hafalannya lagi dengan sisa isak tangis yg masih terdengar. Alhamdulillah…hasilnya lebih baik dari sebelumnya dan 2 halaman pun selesai ia setorkan.

Selepas setoran ternyata ia masih menangis, pelan ia bilang..

“Ibu, kalau ada pelajaran yang saya lupa, saya masih bisa tenang untuk belajar lagi. Tapi kalau saya lupa sama hafalan quran, rasanya sedih bu, bawaannya ingin nangis terus.”

Ahh..saya jadi ingat, setiap kali saya menyimak hafalannya, di sudut halaman quran miliknya selalu ada note kecil bertuliskan “Murajaah, Dzikrullah”. Mungkin saat ia mulai lupa dengan hafalannya, saat itu juga ia merasa bahwa hari itu sedikit sekali baginya mengingat Allah.

Nak..ibu kagum, sungguh.. :’)

Pada kesempatan lain selepas ujian tahfidz seorang gadis kecil lagi-lagi menangis. Dengan raut wajah yang bingung campur sedih ia pun bercerita pada saya.

“Ibu, Nisa bingung. Nisa sudah berusaha itikaf di masjid sambil terus muraja’ah. Nisa kurangi jam tidur untuk persiapan ujian tahfidz. Tapi apa hasilnya bu? Nisa tetap lupa banyak ayat saat setoran. Aneh bu, padahal teman Nisa yang lain meskipun kelihatan banyak main tapi setorannya lancar. Nisa kurang usaha apa bu?” tangisnya semakin meledak.

“Nisa, tau gak ada banyak cara Allah untuk mendekatkan kita dengan alquran? Salah satunya lewat ujian tahfidz ini. Nisa, lupa itu bukan suatu kesalahan, tapi itu tanda dari Allah supaya kamu lebih sering mengulang hafalanmu, supaya nisa lebih dekat dengan alquran. Nisa tau kan pahala membaca quran? Setiap hurufnya ada sepuluh kebaikan. Bayangkan kalau misalkan dalam sehari nisa murajaah 1 halaman dan ada 200 huruf yang Nisa baca. Lalu Nisa lupa dan nisa ulangi lagi muraja’ah halaman itu sampai 5 kali. Ada berapa banyak pahala yang Nisa kumpulkan? Banyaaaak sekali nis. Itu baru hitungannya manusia. Belum lagi pahala dari itikaf nisa dan waktu tambahan untuk murajaah. Allah pasti lipat gandakan pahalanya. Nisa, kamu sudah berusaha keras. Ibu ingin Nisa jaga terus semangat untuk itikaf dan muraja’ah sampai gak ada waktu yang terlewat sia-sia. Karena semakin sungguh-sungguh Nisa memperjuangkan itu, InsyaAllah semakin mudah pertolongan Allah datang. Ibu yakin Nisa bisa. “ jawab saya panjang lebar.

Tangisnya pun mulai mereda. Wajahnya terlihat lebih tenang.

Ah, menjadi guru itu bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang saya bagi pada murid saya. Tapi tentang bagaimana cara Allah menegur dan mengingatkan saya dengan lembut melalui mereka. Apa kabar saya yang masih menjadikan hal-hal remeh sebagai alasan untuk melalaikan qur’an 😭
Saya guru, saya tidak lebih mulia dari mereka. Tapi mereka, santri-santri saya, selalu memberi saya pelajaran yang sangat berharga dengan cara mereka yang mulia..Barakallahu fiikum, kesayangan ibu, para permata Al-Quran ❤

Dua tahun menemani para permata alquran untuk mengingat ayat-ayat Allah adalah kenangan yang akan terus terekam dalam ingatan saya. Dari mereka saya memaknai arti kesungguhan untuk selalu mendekatkan diri dengan alquran.

Meski hari ini raga sudah tidak lagi bisa membersamai, tapi kenangan-kenangan bersama kalian akan selalu menjadi penawar disaat rindu itu datang.

Posted on Leave a comment

Jurnal Syukur Naira

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Nikmat apa yang paling pertama kita rasakan saat diri diliputi rasa syukur? Saya yakin, banyak sekali cara Allah menambah nikmat untuk setiap hambanya. Tapi, ada satu hal yang selalu mengiringi setiap syukur yang terungkap. Ya..nikmat ketika Allah karuniakan hati yang tenang, dan kondisi hati yang tenang ini akan saaangat mempengaruhi sikap kita dalam menjalani kehidupan. MasyaAllah…

Rasa syukur yang terus bertumbuh tidak serta merta tersemai dalam diri seseorang. Maka menanamkan syukur menjadi salah satu hal yang sangat mendasar dalam mendampingi perkembangan jiwa anak. Hati tenang yang dipenuhi rasa syukur akan mengantarkan seorang anak untuk memiliki konsep diri yang baik seiring proses tumbuh kembangnya. Mengapa? Karena syukur mengajarkan anak untuk selalu menjaga prasangka baiknya atas setiap kejadian yang Allah takdirkan pada dirinya, sehingga ia mampu menerima dirinya secara positif.

Bagaimana menanamkan rasa syukur untuk anak usia balita? Tentu akan ada tantangannya tersendiri..tapi setidaknya kita bisa melatihnya bersyukur melalui hal-hal sederhana yang paling dekat dengan dirinya 😇

Ramadhan lalu bunda & Naira membuat jurnal syukur untuk proyek #PesantrenRamadhan_Kids . Sebelumnya bunda menyediakan banyak potongan gambar dari majalah-majalah anak yang sudah rusak kondisinya, lalu Naira diberi kesempatan untuk memilih gambar mana saja yang Naira suka untuk ditempel di jurnal syukur. Di sela-sela membuat jurnal syukur bunda ajak ngobrol Naira,

B : “Kakak, pohonnya bagus ya, siapa kak yang ciptakan pohon?”

N : “Allah, bunda..”

B : “Betuuul..kak, kalau kakak Allah kasih nikmat atau suatu kebaikan kita harus bilang apa sama Allah kak?”

N : “Alhamdulillah, thank you Allah..”

B : “Alhamdulillah…alhamdulillah itu ucapan syukur kak, semakin banyak kita bersyukur, semakin sayang Allah sama kita..kalau Allah sudah sayang, semua yang Naira butuhkan nanti Allah berikan, InsyaAllah..”

N : “Kalau Naira bilang alhamdulillah, Allah kasih eskrim ga buat Naira?” 😂

B : “Hehe, InsyaAllah ya, nak..”

Isi jurnal syukur Naira

Salah satu anugerah yang harus kita berikan kepada anak, ungkap Ustadz @fauzhiladhim, adalah membangkitkan kecenderungan hati anak untuk senantiasa bersyukur. Kita Dorong mereka untuk merasakan setiap kesempatan sebagai karunia Allah ta’ala sehingga ungkapan hamdalah selalu punya makna yang mendalam pada kehidupan anak. Kita perdengarkan di telinga mereka nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dengan sering menyebut-nyebut nikmat-Nya di hadapan mereka, sebagaimana Allah ta’ala perintahkan…

“Dan terhadap nikmat dari Rabb-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.”

Ah.., ini pe-er besar untuk ayah bunda sebelum mendidik anak-anak, melatih diri menjadi hamba yang penuh syukur dalam memaknai kehidupan. Semoga Allah mampukan jadi teladan 😇

Setelah bikin jurnal syukur Naira, bunda jadi terinspirasi bikin jurnal syukur untuk diri sendiri. Ada yang mau ikutan? *nyaritemenbiarsemangat 😍