Posted on Leave a comment

Perang Permen: Pemanis Belajar di kelas

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa otak bekerja sangat baik saat berada dalam kondisi yang rileks namun tetap terjaga. Dalam kondisi ini,otak bekerja dalam gelombang Alfa.

Salah satu cara termudah untuk membuat otak berada dalam gelombang Alfa adalah dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan. Bagi seorang guru/pendidik terkadang tak mudah melakukan aktivitas yg menyenangkan bagi siswa didiknya.
Nah,berikut ini Sy bagikan salah satu permainan yang bisa digunakan untuk membangkitkan gairah anak anak untuk belajar. Permainan panen permen namanya.


——————–

Bahan yang digunakan sangat sederhana.
Yang kita butuhkan hanya 3 jenis permen sejumlah pemain,lalu membungkus 3 permen dengan jenis berbeda daalm 1 plastik kecil.


Cara bermainnya pun tidak rumit. Kira kira begini tahapannya:
1. Setiap siswa diberikan 1 paket permen (berisi 3 jenis berbeda: misalkan warna ya merah kuning dan biru)
2. Setiap siswa secara bergiliran diminta untuk memperkenalkan diri dan menyebutkan 3 hal: yang dibenci, yang disuka dan impiannya
3. Permen warna merah mewakili hal yang dibenci, permen biru mewakili hal yang disuka dan permen kuning mewakili impiannya.
4. Setelah seluruh siswa selesai berkenalan, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berburu permen. Caranya? Siswa harus mendatangi siswa lainnya lalu menebak apa hal yang dibenc, disuka atau impiannya. Jika jawabannya benar,maka siswa yg menebak tadi mendapatkan permen sesuai hasil tebakannya.
5. jika berhasil menebak hal yang dibenci maka ia mendapatkan permen merah. Jika berhasil menebak yg disuka ia mendapat permen biru dan seterusnya.
6. Berikan siswa waktu 3 menit untuk berburu dan memanen permennya.
7. Di akhir permainan,hitung jumlah perrmen yang berhasil dikumpulkan oleh setiap siswa. Siswa yang mendapatkan permen paling banyak adalah pemenangnya.

——————–

Mudah kan?
Silakan dipraktekkan bersama siswa Didik. Semoga bs menambah keceriaan dan kesiapan belajar mereka.

Posted on Leave a comment

Mengenalkan konsep angka pada batita 2 tahun

Akhir akhir ini Naira semakin akrab dengan angka. Meskipun baru bisa satu dua dan tiga.
.
Biar lebih akrab, kami coba lakukan aktivitas ini. Lumayan, Naira bs belajar angka satu dua tiga dan matahari sambil melatih kemampuan motorik kasarnya.

***

MELOMPAT MATAHARI
alat:
– kertas (banyaknya disesuaikan)
– area aktivitas (diutamakan yg ada paving blok atau pijakan)
– krayon/spidol/media lain
– klo ga mau ribet bikin gambar matahari bs langsung unduh printable nya di tautan ini: http://bit.ly/EF01MM

Cara bermain:
– sediakan kertas lalu beri hambar matahari
– atau print printable diatas
– letakkan kertas bergambar matahari di paving blok
– ajak anak melompat ke atas paving sambil berteriak ‘satu matahari’, ‘dua matahari’, ‘tiga matahari’ sesuai dengan jumlah matahari di kertas


***

Selamat bermain!

Posted on 1 Comment

Asyik Belajar Penjumlahan Dengan Kartu Domino

Apa yang terbayang pertama kali saat melihat kartu domino?
Ceki?
Judi?
Petugas siskamling?

Mungkin sebagian dari kita masih menganggap bahwa domino itu konotasinya negatif. Tapi tahukah kita bahwa ternyata dengan setumpuk kartu domino kita bisa membuat anak-anak ketagihan belajar matematika??

Pengen tau caranya? simak ya…

==================

Tujuan permainan: melatih kemampuan menjumlahkan (dan mengurangi).

alat: 1 set kartu domino. gunakan 2 set kartu untuk permainan yang lebih seru

Bahan: tidak ada

Jumlah pemain: antara 2-6 orang

Waktu bermain: 5-10 menit

Cara bermain:
1. Tentukan giliran urutan bermain
2. kocok dan tumpuk kartu domino di tengah-tengah pemain
3. Pada saat giliran pemain tiba, pemain harus membuka 1 kartu yang terletak di tumpukan paling atas. Pemain yang berhasil menyebutkan JUMLAH kedua titik pada domino tersebut dengan benar berhak memperoleh kartu tersebut. Misalkan muncul 6 titik dan 6 titik pada 1 kartu (seperti pada gambar 1). Pemain yang berhasil menyebutkan DUA BELAS terlebih dahulu berhak menyimpan kartu itu.
4. Lanjutkan giliran bermain hingga kartu di tumpukan habis.
5. Di akhir permainan, jumlah kartu yang disimpan oleh setiap pemain dihitung.
Pemain yang berhasil mengumpulkan kartu paling banyak adalah pemenangnya

Jika sudah lancar, Anda dapat memodifikasi permainan ini dengan cara menambah jumlah kartu yang dikeluarkan (setiap pemain bukan mengambil 1 kartu, tapi 2 atau 3 kartu secara sekaligus).


Selamat bermain dan belajar 😀
Feel free to like, tag and share

 

Posted on Leave a comment

SENSORY PLAY (1).dengan biji selasih

Tema: pekan pelangi

Tujuan: melatih indra peraba anak, mengenal warna, melatih kemampuan kordinasi tangan, menambah kosakata bahasa.

Bahan: air hangat, air dingin, biji selasih kering, pewarna makanan (saya menggunakan warna kuning, hijau dan biru).

Alat: baki/bak, toples bekas selai (kecil), sendok makan.

cara bermain:
1. rendam segenggam biji selasih dalam air hangat. Biarkan hingga mengembang. Jika sudah mengembang, masukkan ke dalam freezer agar lebih dingin dan tekstur larutan lebih kental.
2. Tuangkan biji selasih yang sudah mengembang ke dalam bak/baki
3. MInta anak untuk meneteskan beberapa warna (sesuka hati dia) ke dalam air rendaman selasih.
4. Ajak anak untuk mengaduk-aduk air rendaman biji selasih dengan tangannya hingga warna bercampur dengan baik
5. contohkan cara menyendok larutan biji selasih. Pindahkan sedikit demi sedikit biji selasih dari bak ke toples menggunakan sendok makan.
6. BIarkan anak-anak melakukan hingga seluruh biji selasih berhasil dipindahkan ke toples.
7. Have fun!

Posted on Leave a comment

Sensory Play (2) modal koran dan garam

Agenda naira pagi Ini: sensory play.
Melatih kemampuan motorik halusnya dengan bermain pasir warna.

Cara bikin nya simpel.
Bahan:
Garam 1 Bks utk 1 warna.
Pewarna makanan secukupnya.
Air

Alat:
Wadah.
Koran bekas

Cara membuat:
Ada 2 Cara,yg simple tp kurang Bagus,atau yg ribet tp garamnya Bagus.

Cara simple: aduk garam bersama beberapa tetes pewarna makanan. Campur hingga rata. Selesai.

Cara ribet: ambil 10 ml air. Tambahkan beberapa tetes pewarna makanan . tuang 1 bks garam hingga semua air diserap oleh garam. Jemur di terik matahari sampai garam benar brnar kering.

Klo pasir warna udah siap,gunakan bermain bersama BuaH hati.minta Ia pindahkan pasir warna Dari wadah besar ke wadah kecil.
Kalau anak mulai bosan,gunakan variasi Ini:
1. Letakkan wadah besar San kecil di tempat yg agak berjauhan. Agar anak bs leluasa bergerak
2. Minta anak pindahkan pasir dengan sendok,bukan dg tangan
3. Ajak anak untuk pindahkan pasir langsung dr wadah besar ke wadah kecil (tanpa digenggam dg tangan/sendok)

Selamat menciba

Posted on Leave a comment

Mendidik dengan hati, kunci sukses pendidik kini dan nanti

Riuh ramai suara anak anak seragam putih biru itu memenuhi ruangan auditorium salah satu sekolah ternama di Jakarta.
Hampir semua tampak sibuk dengan aktivitasnya. Mulai dari yang menjahili teman, tertawa cekikikan, main HP sampai ada yang jingkrak jingkrak entah karena alasan apa.

Tapi perlahan lahan suara itu meredam tatkala sesosok tubuh renta berdiri di hadapan mereka seraya membawa microphone. Ia hanya berdiri tegap sambil melihat satu per satu wajah anak anak tadi. Seolah seperti sihir, tanpa kata, tanpa isyarat apa apa tak kurang dari 3 menit auditorium mendadak sunyi.

“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.”.
Sapa sang Kakek.
” Waalaykumsalam warahmatullah wabarakatuh. ”
Suara anak anak itu menggemuruh di ruangan.

Lalu sang Kakek membuka obrolan pagi itu dengan sebuah cerita. Cerita tentang masa lalu nya yg penuh dengan perjuangan. Cerita masa remaja nya yang telah ia gunakan untuk menjelajahi dunia dengan satu misi utama: belajar.

Sang Kakek bertutur, di usia 14 tahun ia sudah mengunjungi 2 negara di luar Indonesia. Saat usianya genap 17 tahun tak kurang dari 10 negara di dunia telah ia kunjungi. Ia bukan orang yg kaya raya. Kenyataannya semua itu dilakukan dengan dukungan penuh dari negara.

Ia lanjutan cerita tentang secuil episode kehidupan nya. Cerita tentang bagaimana ia bisa meraih kesuksesan Dan menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di Mata dunia.

Dalam cerita itu tampak sang kakek begitu larut dalam sejarah kehidupan nya. Ada nasehat nasehat bijak yg tersirat. Ada hikmah yang sangat mendalam.

Anak Anak yang tadinya begitu ‘liar’ tampak mulai merunduk lesu. Wajah mereka mulai terlipat. beberapa bola mata sudah berkaca kaca. Bahkan Sesekali kudengar isak tangis yang tak tertahan.

Saya merasakan sosok ini begitu tulus dalam bertutur. Untaian kalimatnya boleh jadi biasa saja, tapi vibrasi hatinya terdengar dengan jelas mengiringi kata Demi kata. Kejernihan hati nya dalam menasehati Anak Anak ini begitu mudah dirasakan.

Ah,.. Benar juga. Pantas saja sang kakek begitu menggetarkan hati. Sebab ia melakukan ini semua karena ketulusan hati. Guru saya pernah bertutur ,bahwa bagaimanapun hati tetap akan menyentuh hati.

***

Terkagum dengan sosok ini,akhirnya saya mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang beliau.
Belakangan saya baru tahu,
sang kakek adalah duta Indonesia untuk UNESCO. Kini usianya sudah 78 tahun. Beliau pernah 13 Kali keluar masuk penjara karena menjadi aktivis Dan menentang beberapa kebijakan rezim pemerintah yang zalim. Puluhan tahun beliau habiskan dengan mendidik, menjadi guru. Mulai dari guru bagi Anak Anak hingga guru bagi para guru (dosen). Namanya menjadi kian dikenal karena berhasil menyulap Sekolah biasa bernama Labschool menjadi salah satu Sekolah terbaik di Indonesia.

Beliau adalah Prof. Dr. Arief Rachman. Guru besar di UNJ. Dan saya bersyukur berkesempatan belajar langsung dari beliau melalui forum ini.

Semoga kita bs meneladani beliau yg mendidik Dan berkirpah dengan hati.
Karena hati akan selalu menyentuh hati.
Posted on Leave a comment

Mendidik dengan cinta melalui satu kata sederhana: PERCAYA

Boleh jadi akhir pekan kemarin adalah salah satu akhir pekan yang paling mengesankan bagi saya. Saya diminta untuk menelaah (me-review) modul pelatihan guru dari kemendikbud. Melalui kesempatan yg hadir tanpa disengaja ini, sy bertemu dan tergabung dalam satu tim bersama bu Itje Chodijah. Beliau adalah sosok guru bahasa inggris yg (pada mulanya) nampak biasa biasa saja.

Pendapat saya itu sirna seketika saat saya, mas bukik dan bu Itje Chodijah berada di satu meja makan. Beliau banyak berkomentar tentang tata kelola pendidikan makro di Indonesia. Usut punya Usut ternyata beliau telah berkiprah sebagai guru bahasa inggris selama lebih dari 20 tahun yang lalu! Mulai dari mengajar anak anak di kota hingga ke pelosok pelosok desa di batas tepi negara Indonesia sudah pernah dilakoni oleh nya.

Malam itu, sambil menikmati hidangan di meja makan, beliau berkisah tentang pengalamannya memberikan pelatihan bagi guru-guru yang ada di daerah pedalaman kalimantan. Pelatihan diadakan dalam kurun waktu 3×2 pekan dengan jeda 4 pekan setiap tahapannya.

Selama pelatihan itu, beliau memengaruhi pemikiran para guru dan pemangku kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan di daerah setempat. Selama melatih beliau memegang satu prinsip:
“Mendidik itu harus dengan cinta. Dan kepercayaan adalah salah satu komponen terpenting dalam mencinta.”

Singkat cerita, berbekal kepercayaan yang beliau tanamkan kepada guru-guru di daerah tersebut, beberapa orang anak didik berhasil mewakili provinsi kalimantan barat untuk mengikuti final salah satu ajang kompetisi paling bergengsi di Jakarta. Padahal anak-anak ini tak memiliki akses pendidikan sebaik mereka yang berada di kota-kota besar.

Maka – kata beliau – disinilah kunci dalam mendidik: percaya.
Berikan kepercayaan kepada siapapun yang akan kita didik nantinya.
Bantu peserta didik untuk memercayai dirinya sendiri bahwa ia mampu melakukannya.

Jangan pernah anggap siswa didik kita tak mampu.
Jika memang benar demikian, coba cek ke dalam diri sendiri terlebih dahulu: jangan-jangan sebagai pendidik kita yang tak mampu sampaikan dengan baik dan benar?
Jangan-jangan kita yang tak cukup sabar?



Ah, benar adanya…
Mendidik itu bukan sekedar memindahkan isi kepala.
Lebih dalam lagi, mendidik itu memunculkan kesadaran dalam jiwa.

Tanpa cinta, tanpa ketulusan hati, apa yang akan kita munculkan dalam benak mereka?
Dan semuanya dimulai dengan satu kata penuh makna: percaya

Posted on 1 Comment

10 permainan matematika sederhana untuk ceriakan belajar anak Anda

Matematika seringkali menjadi momok bagi banyak anak-anak, khususnya yang baru saja belajar matematika secara formal. Pada tahun 2015 lalu saya dan tim Science Factory membuat sebuah buku elektronik berisi 10 permainan matematika sederhana dari barang-barang yang ada di sekitar kita. Buku ini berisi 10 jenis permainan yang bisa Anda gunakan untuk menambah keceriaan saat belajar matematika bersama siswa/buah hati Anda.

Silakan klik di sini untuk mengunduh buku elektronik tersebut.
Semoga ada manfaatnya untuk pembelajaran si kecil ya.

 

Posted on Leave a comment

Menyampaikan pesan bermakna melalui permainan puzzle sederhana

“We don’t stop playing because we grow old; we grow old because we stop playing.” (George Bernard Shaw)

Kita berhenti bermain bukan karena kita tua; kita menjadi tua karena berhenti bermain.

Tak jarang saat mengajar di kelas saya menemukan kondisi siswa yang mengantuk, acuh, tidak fokus dan cenderung resisten terhadap apa yang kita instruksikan. Seringkali kondisinya dilematis: jika dibiarkan, tentu mereka tidak dapat belajar dengan optimal karena tidak mendapatkan materi pelajaran, namun jika terus menerus kita tegur dan ingatkan lama kelamaan kita akan terpancing untuk esmosi dan mereka juga makin tak peduli.

Sebagai solusi, saya coba terapkan konsep gamifikasi yang belum lama ini digadang-gadang sebagai salah satu metode yang efektif dalam meningkatkan efektifitas belajar. Konsepnya sederhana saja: memadukan nilai-nilai permainan dalam komponen pengajaran dan pembelajaran di kelas.

Berhubung dulu saya suka bermain puzzle, jadilah terpikir ide untuk memadukan antara latihan soal kimia dengan puzzle sederhana.

Konsep dasarnya sederhana.
Saya buat sebuah puzzle berisi pesan bermakna menggunakan Corel draw. Lalu saya potong menjadi 53 keping yang kemudian dilaminasi. Di setiap keping tercantum nomor dari 1-53. 

Setelah itu saya siapkan 53 latihan soal, dibuat dalam bentuk potongan-potongan kecil lalu dilaminasi.

Saat di kelas, saya minta siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Lalu saya berikan kesempatan pada setiap siswa untuk mengambil potongan soal masing-masing 2 soal.

Siswa mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle dengan cara menjawab soal tersebut. Jika mereka selesai menjawab soal mereka harus ke depan (ke meja saya) lalu menyebutkan jawaban mereka. Jika benar, saya berikan mereka keping puzzle sesuai nomor nya. Jika salah saya minta hitung ulang.

Pemenang dari permainan ini adalah kelompok yang paling banyak mengumpulkan puzzle dan atau yang paling cepat mengumpulkan semua ‘jatah’ puzzle yg mereka miliki.

Jika sudah selesai, maka tugas berikutnya adalah menyusun puzzle hingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Di akhir sesi, mereka akan mendapati pesan bermakna yang ingin saya sampaikan.

Contoh pesan bermakna yang saya sampaikan kepada siswa

Voila!
Tujuan pembelajaran terpenuhi dengan cara yang menyenangkan hati. Siswa bisa latihan mengerjakan soal, mereka senang dan pesan bermakna pun telah tersampaikan.

Ibarat pepatah mah,..
Sambil menyelam minum kopi, ditemani sepotong roti.
Biar belajar menyenangkan hati, mari terus bereksplorasi.

Mau nyoba menggunakan teknik ini?

Silakan unduh format puzzle dan format soal nya di tautan berikut ini ya:

format puzzle

format soal quiz

Posted on Leave a comment

Rumah Impian, Dibangun dengan Keberkahan

rumah impian dibangun dengan keberkahan

Kami sering memanfaatkan saat-saat dalam perjalanan untuk menceritakan banyak hal, berbagi ide, atau sekadar berbicara hal ringan seputar keluarga kecil kami.

Suatu hari dalam perjalanan menuju rumah, kami melewati kawasan rumah elit yang desain rumahnya sangat bagus… tak ayal perbincangan kami pun menyinggung tentang rumah impian yang ingin kami bangun bersama. Obrolan pun mengalir..Desain-Rumah-Kayu-Minimalis-Modern

Kakang dengan penuh semangat menggambarkan suasana rumah yang memiliki area khusus untuk berbagi ilmu dengan warga sekitar. Saya tak kalah semangat menyampaikan tentang hunian yang ramah anak dan menjadi tempat paling nyaman bagi keluarga untuk belajar dan bertumbuh bersama. Merancang impian memang menyenangkan karena yang terbayang saat itu adalah kondisi ideal dari sesuatu yang kita harapkan, pada kenyataanya akan banyak sekali tantangan yang harus kita jalani sebelum mencapai harapan tersebut bukan?

Saat sedang seru-serunya berdiskusi, saya pun bertanya pada suami , “Bagaimana cara kita mendapatkan rumah idaman itu?” Jika diukur dengan keadaan saat ini memiliki rumah dalam waktu dekat masih menjadi sesuatu yang mustahil bagi kami, tapi siapa tahu..saya selalu meyakini akan ada campur tangan Allah yang mengiringi setiap ikhtiar kami.

“Neng, dari semua impian yang kita diskusikan tadi, ada satu hal yang harus selalu kita utamakan ya, keberkahan dari Allah. Dan kakang yakin bahwa keberkahan itu akan kita dapat salah satunya dengan berusaha melakukan cara yang benar untuk mendapatkan sesuatu. Kita harus saling menguatkan ya neng..Kakang gak mau terlibat riba saat membangun rumah kita nanti. “

“Tapi Kakang, temen ada lho yang pinjam uangnya dari bank syariah buat beli rumah, boleh ko katanya kalau dari bank syariah lebih sedikit madharatnya dibanding pinjam ke bank konvensional.” *polos 😀

“Oh gitu…Neng yang kuat aja ya doanya…mudah-mudahan Allah kasih rezeki yang cukup buat beli rumah tanpa harus meminjam ke bank.”

Jleb, jawaban suami membuat saya tercenung…teringat obrolan bersama teman yang tengah mempersiapkan suatu hal untuk membeli rumah beberapa hari lalu.

“ Kalau bukan melalui KPR, kapan kita bisa punya rumah nis? “

“Coba bayangin nis, kalau misalkan dalam sebulan kita Cuma bisa nabung 500.000, harus nunggu berapa puluh tahun lagi buat bisa beli rumah dengan cash?”

Pertanyaan itu sempat terlintas juga dalam benak saya, tapi setiap kali tanya itu terlontar, suami cepat cepat mengingatkan saya, “Kita teh sering lupa ya, ada Allah yang akan selalu menjamin kehidupan & memenuhi kebutuhan kita. Hati-hati neng, khawatir dengan berpikiran seperti itu tanpa sadar kita malah mengerdilkan kekuasaan Allah.”    Ah iyaa…matematikanya manusia itu memang terbataRumah-Idaman-Rumah-Impian-01s, padahal apa yang terlihat sulit dicapai akan terlaksana jika Allah berkehendak.

Sejak awal menikah, bukan sekali dua kali suami panjang lebar membahas tentang riba. Awalnya hanya berbagi tentang pengalaman beliau selama mengikuti training pengusaha tanpa riba, kemudian bercerita tentang bagaimana beliau dan team di perusahaannya berjuang keras agar tak sedikitpun terlibat hutang pada bank, hingga ia pun menyampaikan agar kami sama-sama berusaha menghindari riba dalam rumah tangga kami.

Saya patut bersyukur karena diingatkan langsung oleh suami mengenai bahaya riba’ ini. Kami sering membayangkan bagaimana jadinya kalau kami terlambat mengetahui ini dan terlanjur mengambil keputusan untuk mendapatkan rumah dengan jalan yang dilarang Allah? Sementara dalam rumah itu kami memiliki impian membangun generasi yang shalih & shalihah, sementara kami pun sepenuh harap meminta keberkahan dari do’a-do’a yang terlantun dalam rumah tersebut. Padahal kami tahu bahwa setiap do’a dan keberkahan terhalang oleh sesuatu yang haram yang melekat dalam diri kami.

Sejak saat itu, saya mulai mengubah sudut pandang saya tentang rumah impian. Bukan soal cepat atau lambat, bagus atau indah fisiknya… Namun tentang bagaimana agar rumah yang kami huni bisa selalu diliputi keberkahan dan dapat mengantarkan kami sekeluarga berkumpul kembali di syurga. Semoga…

Posted on Leave a comment

“Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?”

Ada satu pertanyaan menarik saat dosen menanggapi diskusi kami tentang manusia dan pemujaan. Saya lupa kronologisnya gimana, tapi tiba-tiba beliau bertanya kurang lebih seperti ini..

“Pernah terpikir gak kalau ternyata menuntut-ilmusholat kita ini beda dengan sholat yang Rasulullah lakukan? Iya beda, kita sudah terpaut terlalu jauh dengan zaman Rasulullah, sangat mungkin jika saat ini banyak praktek ibadah yang melenceng dari yang seharusnya.”Hmm, ya..saya sependapat dengan beliau. Bahkan dalam hati saya sering bertanya, “Apakah shalat saya sudah benar? Ya Allah…apakah Engkau menerima shalat saya selama ini? 😥

Pertanyaan itu terus mengusik saya hampir setiap waktu. Sampai suatu hari saya membaca nasihat bijak Nek Kiba dalam novel Amelia karya Tere Liye, meskipun ini fiksi tapi banyak ibrah yang bisa kita maknai didalamnya 🙂

Malam ini sepertinya Nek Kiba tidak akan bercerita tentang kisah Nabi atau para sahabat. Nek Kiba meluruskan kakinya. Meletakkan batang rotan. Bercakap santai tentang hal lain.

“Anak-anak, dalam agama kita, penting sekali melakukan sesuatu dengan ilmu. “ suara Nek Kiba terdengar lantang, mengisi langit-langit ruangan, memulai nasihatnya.

“Seseorang yang mengerjakan amal tapi dia tidak tahu tujuannya, tidak paham ilmunya, maka itu ibarat anak kecil yang disuruh mendirikan rumah. Tak tegak tiangnya. Tak kokoh dindingnya. Jangan tanya daun pintu, jendela, dan atapnya, sia-sia belaka.Semua orang dituntut untuk belajar, mempelajari apapun yang diperintahkan agama ini. Termasuk mempelajari ilmu yang tidak segera diamalkan. Naik haji misalnya, meskipun tak satu pun penduduk di kampong ini yang mampu naik haji, jangan tanya kapan akan berangkat, termimpikan pun tidak, tetap saja mempelajari ilmu naik haji jelas penting.”

“Lantas, apa itu yang disebut ilmu? Mudah saja. Ilmu adalah yang mendasari sebuah perbuatan ,dalil. Ilmu adalah yang menjelaskan secara benar kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Baik yang ditulis diatas kertas maupun yang disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Baik yang dikuasai oleh satu dua orang tertentu, apalagi yang diketahui banyak orang.:

Kami menatap wajah tua Nek Kiba yang terlihat semangat menjelaskan.

“Dalam kitab suci, jelas perintah soal ilmu ini. Ketika seseorang tidak mengetahui sebuah urusan, tidak paham, tidak mengerti maka bergegaslah bertanya pada orang yang tahu ilmunya. Jangan malas, jangan keras kepala, jangan bebal, apalagi hingga sok tahu mengerjakan sesuai pemahaman diri sendiri. Itu bisa jadi kekeliruan besar. Apa susahnya bertanya? Bukankah jika kita tidak tah ujalan, bertanya pada yang tahu mencegah kita tersesat. Jika kita tidak mengerti menghadapi binatang buas, bertanya mencegah kita diterkam. Bertanyalah, kalaupun kita sudah tahu, itu akan membuat kita lebih yakin lagi.

“Maka semua orang harus, menuntut ilmu adalah perintah agama. Kenapa kita shalat? Kenapa kita puasa? Semua orang harus tahu ilmunya. Tidak pantas seseorang saat ditanya kenapa ia shalat? Dia menjawabnya ikut-ikutan. Padahal dia sudah shalat beribu-ribu kali. Hanya ikut. Karena menirun semata. Iya Pukat, ada apa? Kau hendak bertanya?”

Kami menoleh ke arah Kak Pukat. Aku menghembuskan napas pelan. Aduh, kenapa pula Kak Pukat harus memotong kalimat Nek Kiba dengan mengacungkan jari?

“ Tetapi, nek, bukankah kami memang disuruh ikut saja orang tua saat sholat dan puasa? Mencontoh saja. “ Kak Pukat bertanya serius.

“Karena kalian masih anak-anak.” Nek Kiba menjawab takzim. “Maka kalian boleh mencontoh. Tapi dengan bertambahnya usia kalian, hukum menuntut ilmu itu jatuhpada kalian. Tidak ada alasan lagi. Beruntunglah yang sejak kecil sudah rajin membaca buku, sudah gemar mendengar nasihat-nasihat dari orang berilmu, maka dia mengerti lebih awal penjelasannya. Semoga itu akan terbawa hingga dewasa. Paham?”

(Novel AMELIA halaman 321-323, Tere Liye)

Kutipan Nasihat Nek Kiba diatas mengingatkan saya tentang pentingnya ilmu sebelum amal, dengannya bertambahlah iman kita dan hilanglah keraguan kita dalam menjalankan suatu perbuatan. Kita tidak pernah melihat langsung bagaimana Rasulullah mendirikan shalat ataupun amalan lainnya, tapi kita patut bersyukur karena para shahabat dan ulama telah banyak mewariskan ilmu yang akan memandu kita untuk mengamalkan apa yang telah Rasulullah teladankan.

Sekarang saya sudah menjadi orang tua, mungkin kelak akan tiba masanya Naira bertanya, “Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?” Menjawab pertanyaan anak dengan ilmu dan keimanan yang kokoh menjadi PR terbesar bagi saya dan suami. Karena jawaban itu bukan hanya terkait benar atau salah, tapi menjadi sebab diterima atau tidaknya amalan Naira disisi Allah kelak.. Apa yang harus kami usahakan sudah jelas yaitu giat membekali diri dengan ilmu dan meningkatkan kualitas amalan dengan ilmu yang dimiliki  semata meraih ridhaNya. Semoga Allah bimbing selalu…

Posted on Leave a comment

Educa familia: belajar, berkarya, bersama

Selayaknya para keluarga lainnya yang hidup dengan sebuah visi, maka sama hal nya dengan kami. Sejak sebelum menikah, kami telah bersepakat bahwa nantinya kami akan membangun rumah tangga yang berupaya yang terbaik untuk menjadi jalan manfaat bagi semesta.

Kami memilih nama yang sederhana: educa familia – keluarga pendidik. Dengan harapan kami bisa terus mendidik diri sendiri, meningkatkan kualitas diri kami sehingga kami berharap kelak Allah ridhai kami sebagai keluarga ahli surga.

Tentu tidak mudah menjadi seorang pendidik. Agar layak disebut keluarga pendidik, maka kami perlu menjadi pribadi yang terdidik. Kami memilih untuk menempuh langkah mendidik keluarga kami dengan 3 cara: belajar, berkarya, bersama. Belajar berkarya, belajar bersama, berkarya bersama.

Adanya situs ini tidak lain dan tidak bukan semata-mata sebagai bagian dari ketiga proses tersebut. Kami berharap apa yang kami bagikan dapat menjadi manfaat bagi semesta.