Posted on 1 Comment

Tadabur Kunci Qur’an Journaling

Tadabbur adalah proses paling penting dalam Qur’an Journaling, bisa dibilang inilah ‘ruh’ Qur’an Journaling.

Semakin dalam pemahaman kita terhadap suatu ayat, semakin sering kita menghubungkan apa yang kita pelajari dari Al-Quran dengan kehidupan dan pengalaman sehari-hari, maka semakin kita mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan dalam mengatasi setiap urusan kita.

Bisakah kita semua tadabbur? InsyaAllah, jawabannya BISA. Allah tidak menurunkan Al-Qur’an untuk orang tertentu saja, maka siapapun kita bisa mengambil pelajaran dari Al-Qur’an. Terlebih bagi ia yang dalam hatinya masih Allah titipkan iman. Lalu apa yang harus kita lakukan saat memulai tadabbur?

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?

Saat merenungi ayat ini, saya teringat, pernah suatu hari saya membaca satu ayat Al-Quran, dan entah kenapa rasanya hati sangat tersentuh dengan ayat itu. Lain waktu saya baca lagi ayat yang sama, tapi kenapa ko rasanya beda? Gak semenyentuh sebelumnya.

Ternyata yang membedakan adalah kondisi hati saya saat membaca ayat itu. ⁣
⁣⁣
Al-Qur’an adalah cahaya. Dalam interaksi dengan manusia, Al-Qur’an menyesuaikan diri dengan bagaimana manusia bersikap padanya. Jika manusia membuka hati maka Al-Qur’an akan melimpahkan cahayanya dengan mudah. Namun jika manusia menutup hati maka cahaya akan sangat sulit sekali masuk.⁣

Hal pertama yang harus dilakukan ketika memulai tadabbur adalah membuka hati. Memastikan hati kita berada di dalam kondisi siap untuk menerima setiap pelajaran sebagai bentuk kasih sayang Allah untuk kita yang disampaikan-Nya dalam Al-Qur’an.

Karena kunci dari tadabbur adalah berusaha mengoneksikan hati kita dengan Al-Qur’an.

Bagaimana cara tadabbur?

Ada beberapa cara yang bisa kita coba untuk melakukan tadabbur. InsyaAllah saya akan mengulas 2 cara sesuai urutan yang paling mudah.

Maknai ayat secara personal

Tadabbur sepenuhnya tentang refleksi kita terhadap suatu ayat untuk kita ambil pelajarannya dalam kehidupan. Maka, saat kita membaca ayat yang mendeskripsikan suatu hal, maka refleksikan pada diri. Bacalah penjelasan singkat tentang ayat. Lalu berusahalah untuk menghubungkan ayat yang dibaca dengan keadaan kita. Semakin kita berusaha memaknai pelajaran dari suatu ayat secara personal, semakin kita bisa merasa terhubung dengan Al-Quran.

Tanyakan minimal 3 hal ini saat kita sedang bertadabbur :

🌹 Apa yang kamu rasakan setelah membaca ayat ini?
🌹 Adakah ayat ini mengingatkanku pada suatu pengalaman dalam hidupku?
🌹 Apa yang akan kuperbaiki setelah membaca ayat ini?

Contoh, ketika sedang membaca ayat tentang ciri-ciri orang yang beriman, tanyakan pada diri kita, apakah kita sudah memiliki ciri-ciri yang disebutkan dalam ayat tersebut? Jika belum, apa yang harus aku lakukan untuk meraihnya?

Memaknai dengan mencari referensi

Ketika kita mulai terbiasa memaknai secara personal, biasanya hati kita akan terlatih menjadi lebih sensitif saat bertemu dengan suatu ayat. Ada keinginan untuk menambah level dalam memahami ayat tersebut dengan lebih utuh. Kita merasa perlu untuk mencari referensi agar pemahamanmu semakin mendalam.

Apa yang kita perlukan saat mencari referensi?

🎯 Mengetahui tafsir dari ayat untuk memahami makna suatu ayat berdasarkan pemikiran para mufassir yang memiliki kualifikasi di bidang ilmu Al-Qur’an. Saat ini membaca tafsir mudah untuk dilakukan, kamu bisa mengunjungi situs www.ibnukatsironline.com untuk membaca tafsir dari Ibnu Katsir atau mengunjungi www.tafsirweb.com untuk membaca tafsir dari mufassir lainnya.

🎯 Mencari tahu asbabun nuzul atau sebab-sebab diturunkannya suatu ayat. Seringkali ada kisah yang mengiringi turunnya suatu ayat. Memahami suatu ayat dengan mengetahui asbabun nuzulnya akan memberi pengalaman yang berbeda saat kita merenunginya, karena kita mengetahui sejarah turunnya ayat tersebut. Salah satu buku yang bisa kita jadikan rujukan adah buku Asbabun Nuzul Imam As-Suyuthi.

🎯 Mencari makna kata dalam Qur’an. Salah satu mukjizat Al-Qur’an adalah dari segi bahasanya yang indah. Tidak ada satu pun kata dalam Qur’an yang diturunkan tanpa adanya tujuan, semua kata dalam Quran memiliki makna yang sangat mendalam. Ada beberapa ulama yang memiliki fokus mendalami struktur kata untuk menyelami mutiara Qur’an, contohnya Ustadz Nouman Ali Khan.

Beberapa langkah diatas, semoga bisa membantu teman-teman untuk memulai tadabur ya. InsyaAllah di tulisan selanjutnya saya akan mengulas teknik menulis hasil tadabur kita dalam jurnal. Barakallahu fiik 🙂

Posted on Leave a comment

Menentukan Topik Qur’an Journaling

Sebelum membaca tulisan ini, saya sarankan teman-teman untuk membaca terlebih dulu dua tulisan sebelumnya Me Time dengan Qur’an Journaling dan Persiapan Sebelum Qur’an Journaling yaa. InsyaAllah tulisan ini akan menyampaikan cara memilih topik untuk membuat QJ.

Kalau kita merasa bingung harus mulai dari ayat mana saat membuat Qur’an Journaling, kita bisa mencoba 5 cara dibawah ini.

  • Mulai dari ayat yang sudah kita hafal atau surah yang memiliki keutamaan seperti Al-Fatihah. Memahami ayat yang sudah dihafal akan sangat membantu kita untuk bisa mengamalkan keutamaan dari ayat yang ditadaburi sehingga  InsyaAllah dengan tafik dari Allah kita bisa lebih khusyu dalam shalat.

  • Mulai dari ayat favorit. Pasti kamu punya ayat favorit kan? Bisa jadi ayat ini adalah ayat yang paling menggugah hati atau kita jadikan pegangan hidup. Mulailah menulis QJ dari ayat tersebut, ayat yang memiliki keterikatan hati biasanya akan mendorong kita untuk memiliki keinginan yang kuat dalam merenungi sekaligus mengamalkannya.

  • Fokus dan berurutan. Untuk seseorang yang memiliki cara belajar lebih terstuktur memilih ayat dengan cara terfokus dapat membantumu untuk bisa memahami suatu ayat dengan lebih utuh. Misal kamu sedang ingin belajar surah Al-Mulk, maka setiap hari atau setiap pekan kamu mempelajari dan membuat QJ surah Al-Mulk secara berurutan dari ayat pertama hingga akhir, atau bisa juga memulai dari surah-surah pendek.

  • Random. Mungkin pernah saat membaca Al-Qur’an kita menemukan satu ayat yang menarik nih, rasanya gue banget dan pas dengan kondisi yang lagi dihadapi. Lalu hati kamu tergerak untuk mempelajarinya lebih dalam dan ingin merekam kenanganmu dengan ayat itu dalam Qur’an Jurnal.

  •  Tematik. misal akhir-akhir ini kamu merasa sering tidak bisa mengontrol emosi, terkesan mudah melampiaskan marah dan sulit mengendalikan diri. Kamu ingin berubah. Lalu kamu pun berusaha mencari ayat-ayat yang memiliki topik yang sama yaitu tentang kisah-kisah orang yang sabar dalam Al-Qur’an. Buatlah QJ sebagai upaya untuk menenangkan diri.

Alhamdulillah, kita sudah belajar beberapa persiapan sebelum memulai QJ. InsyaAllah di tulisan selanjutnya saya akan menyampaikan step by step tadabbur Qur’an. 

Akan lebih baik jika teman-teman mencoba dulu setiap tahapan yang sudah dipelajari sebelum melanjutkan ke tulisan selanjutnya. Barakallahu fiik. Selamat mencoba 🙂

Posted on Leave a comment

Persiapan Sebelum Qur’an Journaling

Sebelum membaca tulisan ini ada baiknya teman-teman membaca dulu tulisan sebelumnya supaya pembahasannya utuh.

Baca Juga : Me Time dengan Qur’an Journaling .

Oke, setelah mengenal apa itu Qur’an Journaling dan manfaatnya, InsyaAllah di tulisan ini saya akan mengulas tentang ..

Apa aja sih yang harus kita lakukan sebelum memulai Qur’an Journaling?

Setting Niat

Hal paling mendasar yang harus kita lakukan sebelum memulai sesuatu adalah mengenali alasan (niat) dan menetapkan tujuan dari suatu tindakan.

Tanyakan terus pada diri kita,

🌹 Kenapa saya harus melakukan ini?
🌹 Apa manfaatnya untuk kehidupan dunia dan akhiratku?
🌹 Ingin menjadi apa diriku setelah melakukan tadabbur dan Qur’an Journaling?

Misalnya, memulai Qur’an Journaling karena ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an, bisa memahami maksud dari diturunkannya suatu ayat, sehingga saya bisa lebih khusyu dalam shalat. Atau, ingin membersihkan hati dengan belajar Al-Qur’an, karena tidak ada sebaik-baik obat bagi hati selain merenungi Al-Qur’an.

Berusahalah untuk selalu jujur dalam berniat, karena niat yang lurus akan menjaga semangatmu saat berusaha mendekati Al-Qur’an. Niat juga yang akan memudahkan kita dalam mengambil pelajaran dari Al-Qur’an. Sesederhana apapun niatmu, pastikan didalamnya ada keinginan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan.

Siapkan Adab Terbaik

Ketika menulis QJ artinya kita juga sedang berinteraksi dengan ayat Qur’an. Kita mempelajari kalamullah yang mulia. Untuk itu, kita perlu menyiapkan adab terbaik saat melakukan Qur’an journaling. Usahakan berwudhu dan berdoa dulu sebelum memulai QJ.

Menulis QJ layaknya kita sedang menuntut ilmu, maka kita harus berusaha menghiasi diri dengan akhlak yang baik dalam prosesnya. Dengan memperhatikan adab, semoga Allah berkenan memberi kemudahan pada kita untuk bisa memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya.

Referensi dan Alat Tulis

Sebelum kita latihan membuat QJ ada baiknya kita sama-sama tanamkan dulu mindset bahwa tujuan dari QJ ini adalah merekam perjalanan belajar Al-Quran kita dengan tulisan tangan.

Lebih jauh lagi, dengan QJ kita berusaha mengikat ilmu, rasa dan interaksi kita dengan Al-Qur’an dalam sebuah catatan agar bisa membantu kita lebih dekat dengan kalamullah dan memudahkan dalam mengamalkannya, agar Allah ridha sama kita.

Tujuan dari membuat QJ bukan tentang kreatif, menarik, atau bagus tidaknya hasil QJ kita. QJ bisa dibuat dalam catatan yang sangat simple sekalipun.

Jadi meskipun kita hanya memiliki modal sebuah buku dan pena tanpa pernak-pernik lainnya, selagi Allah berikan nikmat untuk bisa menulis maka syukurilah nikmat itu dengan menuliskan hasil tadabburmu dalam catatan. 

Selanjutnya kita juga memerlukan referensi untuk sumber tadabur kita. Karena untuk memahami dan merefleksikan Al-Qur’an kita pun harus mencari pembahasan dari ulama terkait maksud ayat. Kita bisa merujuk dari tafsir, kajian para ustadz, dan bacaan buku yang mendukung.

Oke, InsyaAllah di tulisan selanjutnya saya akan mengulas cara memilih ayat untuk tadabur melalui qur’an jornaling. Mohon maaf nulisnya nyicil banget  😀 Feel free kalau ada yang belum jelas dan ingin ditanyakan ya.

Posted on Leave a comment

Me Time dengan Qur’an Journaling

Al-Qur’an sepenuhnya adalah ilmu yang didalamnya terkandung banyak hikmah, Allah turunkan Al-Qur’an untuk menemani dan menjadi petunjuk bagi kita dalam menjalani kehidupan.

Jika hati kita saat ini sedang mencari cara agar dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an secara mendalam, bagaimana agar bisa terhubung kembali dengan Al-Qur’an, bagaimana agar bacaan Qur’anmu tidak sebatas di lisan tapi juga punya impact dalam kehidupan, mungkin inilah saatnya bagi kita untuk mengenal Qur’an Journaling.

APA ITU QUR’AN JOURNALING?

Sebagian dari kita mungkin tidak asing lagi dengan aktivitas journaling. Bahkan bisa jadi sudah terbiasa melakukannya. Berbeda dengan catatan biasa yang sifatnya hanya mencatat informasi-informasi penting saja, journaling punya tujuan yang lebih spesifik. Termasuk Qur’an Journaling.

Sederhananya, Quran Journaling adalah aktivitas mencatat berbagai momen yang kita rasakan saat membaca Qur’an dengan memaknai dan memahami ayatnya, merefleksikannya dalam kehidupan kita, mengambil hikmah dari tadabbur yang dilakukan, kemudian mengikat semuanya dalam jurnal pribadi kita. Tujuannya, untuk mendorong kita agar memikirkan dan merenungkan ayat-ayat Allah dan menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan.

Dalam Qur’an Journaling kita bukan hanya sekedar mencatat informasi baru tapi kita juga akan dilatih untuk lebih reflektif, sehingga bukan hanya tangan kita yang aktif tapi hati kita juga terkoneksi dengan ayat Qur’an yang sedang kita refleksikan.

KENAPA HARUS QUR’AN JOURNALING?

  • Saat menafsirkan surah Al-Alaq ayat 4 :

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.”

As-Sa’di menyampaikan bahwa pena adalah penjaga ilmu yang telah Allah karuniakan untuk menjadi modal kita dalam belajar. Allah mengawali Islam dengan seruan dan ajakan untuk membaca dan menulis, karena di dalamnya terkandung manfaat yang sangat besar. Kalau Allah sudah sampaikan bahwa ada manfaat besar dibalik pena yang digoreskan untuk melestarikan ilmu, masihkah kita ragu untuk memulainya?

  • Rasulullah menganjurkan kita untuk mengabadikan ilmu yang kita dapat dengan menulis.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ

“Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434)

Yang dimaksud dengan qayyidul ‘ilma adalah perintah untuk menguatkan dan mengikat agar tidak sampai lepas (dengan menuliskannya). Kekuatan ingatan manusia itu terbatas, jika ilmu hanya didengar maka perlahan ilmu itu akan semakin pudar. Banyak penelitian yang menyampaikan manfaat dari menulis dengan tangan. Menulis bisa melatih fokus dan membantu ingatan menjadi lebih kokoh. Jika semua kelebihan dalam menulis ini kita manfaatkan untuk Al-Qur’an, maka InsyaAllah perlahan Allah beri kemudahan untuk kita bisa mempelajarinya.

QUR’AN JOURNALING SEBAGAI MEDIA SELF HEALING

Ada beberapa momen dalam kehidupan dimana saya merasa sangat kalut saat menghadapi berbagai ujian baik di dalam rumah maupun di luar.

Contoh kecil ketika saya merasa overload dengan amanah rumah tangga, seringkali saya menenangkan diri dan memberi jeda dengan melakukan Qur’an Journaling. Saya coba cari ayat yang topiknya sesuai dengan suasana hati dengan harapan Al-Qur’an bisa menjadi obat yang menenangkan. Saya resapi dan gali hikmah dari ayat tersebut. Lalu saya tuliskan semua yang tengah dirasakan dan hasil refleksi saya dalam Qur’an Journaling.

Qur’an Journaling benar-benar membantu pikiran yang awalnya penuh dan kalut menjadi lebih tenang dan lega. Karena proses menulis dengan tangan membuat otak memproses sesuatu dengan lebih rileks. Saat pikiran rileks maka perasaan dan tindakan akan berjalan dengan lebih baik. Emosi negatif yang terasa perlahan terurai berubah menjadi emosi yang positif atas pertolongan Allah.

Dan yang lebih penting dari semua itu, saya semakin meyakini janji Allah bahwa Al-Qur’an adalah syifaa yang bisa menyembuhkan hati dan raga kita. Maka ketika kita sedih, ketika hati kita tengah mencari semangat, dekatilah Al-Qur’an. Saat kita mencari solusi dari setiap permasalahan kita, kembalilah pada Al-Qur’an. Catatlah setiap insight yang kita temukan dengan Qur’an Journaling agar hasil tadabbur kita semakin terikat kuat dalam ingatan dan hati. 

Lalu bagaimana cara memulai Qur’an Journaling? InsyaAllah di tulisan selanjutnya kita akan belajar cara membuat Quran Journaling dengan cara yang mudah 😊

Posted on Leave a comment

Dua Kunci Penting Sebelum Mengajarkan Al-Quran pada Anak

Tujuh tahun lalu, masih terekam jelas dalam ingatan masa dimana saya masih mengenyam bangku kuliah dan diamanahi untuk menjadi mentor tahsin bagi mahasiswa tingkat baru. Ada momen yang membuat saya menangis tergugu saat berhadapan dengan seorang gadis berusia 19 tahun yang sama sekali belum mengenal huruf hijaiyyah, padahal ia seorang muslimah sejak lahir.

Apa yang salah dengan gadis ini? Penampilannya terlihat dari kalangan berada dan garis wajahnya pun terlihat seperti seorang yang cerdas. Tapi mengapa di usia dewasanya ini, ia masih terbata mengeja alif-ba-ta? Bagaimana ia belajar memahami Al-Quran sementara membacanya pun tak mampu? Berbagai pertanyaan berkelebat dalam pikiran saya, salah satu yang paling mengusik adalah, apa yang telah orang tuanya lakukan selama ini sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang belum mengenal Al-Quran?

Jujur saat itu ada kecemasan dalam diri, ada rasa khawatir tentang masa depan saya ketika menjadi orangtua. Mampukah saya menjadi orangtua yang mengantarkan anak-anak saya men0jadi seseorang yang mencintai Al-Quran? Saya tentu tidak ingin serta merta menyalahkan kedua orangtua gadis tersebut. Tapi pengalaman ini mengingatkan saya akan satu hal bahwa adalah hak anak untuk diajarkan Al-Quran sejak kecil oleh kedua orangtuanya.

Maka dari itu saya semakin menyadari, saya harus belajar dan menyiapkan banyak bekal untuk menjawab kecemasan saya tersebut. Dan saya meyakini bahwa usia dini adalah pondasi utama untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan termasuk didalamnya menyemai kecintaan anak terhadap Al-Quran. Saya ingin sekali menjadi orang pertama yang mengenalkan Al-Quran dalam kehidupan anak-anak saya.

Baca juga : 5 Aktivitas Seru “Mengenalkan Hijaiyyah pada Anak” (Part-1)

Perjalanan belajar mengantarkan saya untuk bertemu dengan salah satu buku karya Dr Sa’d Riyadh yang isinya begitu mengetuk hati saya, bahwa apapun yang ingin kita tanamkan pada anak akan selalu berpusat pada dua hal, yaitu :

🏠 Rumah Teladan

Dalam bukunya, Dr. Sa’d Riyadh menyampaikan bahwa rumah adalah taman pendidikan pertama dan utama, tempat anak bertumbuh dan berkembang. Jika rumah menjadi basic pendidikan yang baik maka akan menghasilkan anak yang shalih lagi bermanfaat.

Rumah teladan, adalah rumah yang dimana penghuninya mencintai dan mengamalkan Al-Quran dengan cara menerjemahkan kecintaan terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Sehingga anak-anak secara langsung melihat dan merasakan suasana rumah yang mendorong dan membentuk dirinya untuk mencintai Al-Quran.

Ada 4 tipe rumah dalam proses pendidikan Al-Quran di keluarga :

🏡 Rumah yang penghuninya tidak peduli terhadap Al-Quran dan hanya membacanya sesekali. Namun orang tua berusaha untuk memasukkan anak-anaknya ke taman pendidikan Al-Quran terbaik agar mau menghafal dan mempelajari Al-Quran. Mereka lupa bahwa bagaimanapun anak akan mencontoh lingkungan terdekatnya yaitu keluarga.

🏡 Rumah yang penghuninya mempraktekkan ajaran Islam secara sulit, kaku dan fanatik. Termasuk dalam mendidik Al-Quran pada anak-anaknya. Orang tua mengajarkan Al-Qur’an dengan cara yang tidak sesuai dengan pertumbuhan anak, karakteristik, kemampuan dan kecenderungan anak. Sehingga suasana rumah dalam mempelajari Al-Quran terkesan penuh ketegangan yang akan menghambat sampainya perasaan cinta Al-Quran ke dalam hati anak-anak.

🏡 Rumah yang penghuninya melupakan Al-Quran, sehingga Al-Quran pun melupakan mereka. Bahkan mereka membuat sesuatu yang menggantikan Al-Quran, berupa lagu dan musik. 😢

🏡 Rumah yang penghuninya mencintai Al-Quran. Mereka bukan hanya membaca dan mempelajari isinya, tapi juga menerjemahkan rasa cinta terhadap Al-Quran dalam perilakunya. Mereka menghidupkan nilai-nilai kebaikan pada Al-Quran dalam keluarganya, seperti saling mencintai, tolong menolong dan saling berlomba beramal shalih.

Rumah kita, termasuk tipe yang mana ya? 😊

📌 Pendidik Teladan

Cara terbaik untuk membuat anak tumbuh melakukan amal shalih yang kita harapkan, termasuk didalamnya mencintai Al-Quran, adalah dengan menjadi sosok yang perbuatannya dapat diteladani. Oleh karena itu, jika seorang pendidik ingin menanamkan perasaan cinta kepada Al-Quran di hati anak-anaknya, makan terlebih dahulu ia harus berusaha agar perbuatannya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Jika orang tua mencintai Al-Quran maka anak-anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Al-Quran atas izin Allah.

Bagaimana menjadi pendidik teladan yang akan dicintai anak?

❤ Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan terus memperbaiki hubungan baik dengan Allah dan memperbanyak do’a terbaik untuk anak kita.

❤ Mampu berinteraksi dengan anak sesuai dengan tahap perkembangan dan psikologis anak.

❤ Membuat variasi metode dalam mendidik & mengarahkan anak untuk mempelajari Al-Quran.

❤ Memberi hukuman dengan cara tidak memberi atau membatasi kesenangannya dan jangan pernah merendahkan anak karena kesalahannya.

❤ Pahami kecenderungan dan potensi anak agar pendidik bisa menyesuaikan metode belajar yang diberikan.

❤ Berikan kepercayaan dan berinteraksilah pada anak dengan cara memposisikan diri sebagai pembimbing yang bisa memahami mereka.

❤ Tanamkan rasa percaya diri pada mereka agar mereka menjadi pribadi yang lurus, teguh dan tidak mudah menyerah saat mempelajari Al-Quran.

❤ Cari tahu hambatan-hambatan yang akan mengganggu proses mendidik anak, entah itu berasal dari diri kita sendiri atau faktor luar. Sehingga kita bisa meminimalisir hal buruk yang akan menghambat diri dan anak kita untuk mendekat pada Al-Qur’an.

❤ Tumbuhkan kesadaran pada anak bahwa kita mencintai mereka, dengan menunjukkannya melalui perbuatan dan perkataan. Sehingga anak akan merasa dirinya berharga dan dicintai oleh orang tuanya.

Sampai sini masih bisa bernafas, bun? Hehe.. Ternyata dari dua hal ini saja rasanya masih banyak sekali PR kami dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Quran di hati anak. Terlebih saat melihat diri sebagai orang tua yang masih sangat naik turun interaksinya dengan Al-Quran. Allah, semoga selalu diberi semangat untuk belajar 😢

Posted on Leave a comment

Jurnal Syukur Naira

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Nikmat apa yang paling pertama kita rasakan saat diri diliputi rasa syukur? Saya yakin, banyak sekali cara Allah menambah nikmat untuk setiap hambanya. Tapi, ada satu hal yang selalu mengiringi setiap syukur yang terungkap. Ya..nikmat ketika Allah karuniakan hati yang tenang, dan kondisi hati yang tenang ini akan saaangat mempengaruhi sikap kita dalam menjalani kehidupan. MasyaAllah…

Rasa syukur yang terus bertumbuh tidak serta merta tersemai dalam diri seseorang. Maka menanamkan syukur menjadi salah satu hal yang sangat mendasar dalam mendampingi perkembangan jiwa anak. Hati tenang yang dipenuhi rasa syukur akan mengantarkan seorang anak untuk memiliki konsep diri yang baik seiring proses tumbuh kembangnya. Mengapa? Karena syukur mengajarkan anak untuk selalu menjaga prasangka baiknya atas setiap kejadian yang Allah takdirkan pada dirinya, sehingga ia mampu menerima dirinya secara positif.

Bagaimana menanamkan rasa syukur untuk anak usia balita? Tentu akan ada tantangannya tersendiri..tapi setidaknya kita bisa melatihnya bersyukur melalui hal-hal sederhana yang paling dekat dengan dirinya 😇

Ramadhan lalu bunda & Naira membuat jurnal syukur untuk proyek #PesantrenRamadhan_Kids . Sebelumnya bunda menyediakan banyak potongan gambar dari majalah-majalah anak yang sudah rusak kondisinya, lalu Naira diberi kesempatan untuk memilih gambar mana saja yang Naira suka untuk ditempel di jurnal syukur. Di sela-sela membuat jurnal syukur bunda ajak ngobrol Naira,

B : “Kakak, pohonnya bagus ya, siapa kak yang ciptakan pohon?”

N : “Allah, bunda..”

B : “Betuuul..kak, kalau kakak Allah kasih nikmat atau suatu kebaikan kita harus bilang apa sama Allah kak?”

N : “Alhamdulillah, thank you Allah..”

B : “Alhamdulillah…alhamdulillah itu ucapan syukur kak, semakin banyak kita bersyukur, semakin sayang Allah sama kita..kalau Allah sudah sayang, semua yang Naira butuhkan nanti Allah berikan, InsyaAllah..”

N : “Kalau Naira bilang alhamdulillah, Allah kasih eskrim ga buat Naira?” 😂

B : “Hehe, InsyaAllah ya, nak..”

Isi jurnal syukur Naira

Salah satu anugerah yang harus kita berikan kepada anak, ungkap Ustadz @fauzhiladhim, adalah membangkitkan kecenderungan hati anak untuk senantiasa bersyukur. Kita Dorong mereka untuk merasakan setiap kesempatan sebagai karunia Allah ta’ala sehingga ungkapan hamdalah selalu punya makna yang mendalam pada kehidupan anak. Kita perdengarkan di telinga mereka nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dengan sering menyebut-nyebut nikmat-Nya di hadapan mereka, sebagaimana Allah ta’ala perintahkan…

“Dan terhadap nikmat dari Rabb-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.”

Ah.., ini pe-er besar untuk ayah bunda sebelum mendidik anak-anak, melatih diri menjadi hamba yang penuh syukur dalam memaknai kehidupan. Semoga Allah mampukan jadi teladan 😇

Setelah bikin jurnal syukur Naira, bunda jadi terinspirasi bikin jurnal syukur untuk diri sendiri. Ada yang mau ikutan? *nyaritemenbiarsemangat 😍