Posted on Leave a comment

Hati-hati! Jangan ta’aruf Kalau Belum Menyiapkan Pertanyaan Pamungkas ini

Belakangan ini ramai para pemuda-i yang melakukan proses ta’aruf sebagai bentuk ikhtiar mendapatkan pasangan hidup yang diidam-idamkan. Sebagai pelaku proses ta’aruf, teman-temanku (terlebih yang akan menikah) sering bertanya-tanya kepadaku tentang hal-hal penting yang akan perlu dilakukan saat melakukan ta’aruf. Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah,

Gimana caranya kita bisa tau kalo dia emang 'tepat' buat jadi pendamping hidup kita?

Wajar sih. Namanya juga kita ga pengen salah pilih pasangan kan? Menikah itu kan diusahakan seumur hidup sekali. Jadi memang kita perlu mastiin kalo dia emang pasangan yang paling tepat untuk menemani hidup kita. Aku garis bawahi paling tepat ya, bukan paling pas. Karena namanya pasangan ga mungkin ada yang 100% pas. Bagi yang udah nikah pasti ngerti, namanya pasangan pasti ada aja ‘ga pas’ nya.

Nah balik lagi ke pertanyaan tadi: jadi gimana cara nyari tau kalo emang doi itu tepat menjadi teman hidup kita? Setiap orang pasti punya caranya masing-masing untuk mengenal calon pendamping hidupnya. Apapun caranya, yang jelas ga ada satu cara yang pasti ampuh untuk semua orang. Dari pengalamanku pake proses ta’aruf sebelum nikah, ini langkah-langkah yang aku lakuin untuk mastiin bahwa aku ga salah pilih. Mungkin bisa jadi referensi buat kamu yang lagi (mau) jalanin ta’aruf sama calon suami/istri kamu.

Apa jadinya kalo temen kamu atau sodara kamu ngelakuin sesuatu yang bertentangan sama prinsip kamu? Misalkan kamu orang yang punya prinsip orangtua nomer satu. Tapi ternyata temen kamu ngelecehin orangtua kamu di depan kamu. Rasanya gimana? pasti kesel banget sama orang itu kan?

Nah, bayangin kalo kamu ngadepin kondisi yang kayak gitu tiap hari. Pasti super duper ga nyaman, bawannya pasti kesel dan rasanya pengen buang orang itu jauh-jauh. 
Itu kira-kira yang bakalan terjadi kalo kamu nikah sama orang yang beda prinsip sama kamu. Makanya penting banget sebelum kamu ta’aruf, kamu tentuin hal-hal apa yang paling prinsip bagi kamu dalam memilih pasangan.

Contohnya aja nih. Istriku tuh punya prinsip yang namanya laki-laki harus bisa jadi imam (pemimpin) di keluarga yang bakalan membimbing keluarga ke surga bersama-sama. Indikator paling sederhananya adalah suaminya kelak harus bisa ngaji. Jadi kalo misalnya ga bisa ngaji, ya udah, pasti lewat. Ga lolos sebagai calon suami.

Contoh lain. Aku punya prinsip, bahwa yang namanya istri itu sudah selayaknya membersamai suami dalam mendidik anak-anak, apapun karier profesional yang dia pilih. Jadi kalo calon pasangan hidupku ga punya orientasi mendidik anak, pasti aku tolak sebagai calon istri.

Setelah kamu tau apa aja hal-hal yang prinsip banget buat diri kamu, kamu bisa lanjutin dengan nentuin hal-hal yang menurut kamu bisa kamu tolerir. Gampangnya nih, kalo misalnya calon istri kamu/suami kamu perilakunya atau kondisinya kayak gitu kamu masih bisa mentolerir.

Yang paling gampang adalah, semua hal di luar yang prinsip itu artinya bisa kamu tolerir. Kayak contohnya untuk pengalamanku waktu ta’aruf dulu. Aku ngeliat istriku orangnya natural banget (ga pake make up). Memang jarang bersolek, pakaiannya sederhana. Bagiku itu bukan hal yang prinsip. Soalnya menurutku itu cuma soal kebiasaan aja. Jadi bisa banget dilatih. Karena menurutku itu bukan masalah, ya udah aku go aja sama dia. 

Biasanya hal-hal yang bisa ditolerir ini bisa kamu cari tau selama kamu proses ta’aruf sama dia. Misalnya dari interaksi kamu selama ta’aruf kamu kan bisa liat kebiasaan dia, cara dia bicara, pola pikir dia, kondisi ekonomi dia, kondisi sosial dia dsb. Terus dari semua yang kamu tau itu kamu bisa filter mana yang prinsip buat kamu, mana yang bisa ditolerir.

Kalo kamu udah pastiin hal-hal yang prinsipil dan yang bisa ditolerir atas calon pasangan hidup kamu, berarti kamu udah siap ke tahapan yang paling kongkrit: Ajukan pertanyaan pamungkas.

Apa itu pertanyaan pamungkas?
Gampangnya pertanyaan pamungkas itu pertanyaan yang bakalan kamu ajuin ke calon pasangan kamu yang jawabannya bisa bantu kamu menilai: nih orang sejalan atau melanggar prinsip-prinsip yang aku punya?

Contohnya gini. Di bagian satu tadi aku nyampein kalo hal yang prinsip bagi istriku pas milih suami waktu itu adalah: suamiku harus bisa ngaji. Jadi akhirnya waktu ta’aruf, doi minta aku ngaji sebelum sesi ta’arufnya dimulai. 

Contoh lainnya. Berhubung hal yang prinsip bagiku adalah istriku harus memprioritaskan pendidikan anak-anak di atas kepentingan karier profesionalnya. Jadi akhirnya aku ajuin pertanyaan ke istriku waktu ta’aruf dulu. Kira-kira gini pertanyaannya:

“Nanti kalau sudah menikah, gimana rencana pengembangan karier kamu?”

Dan ternyata doi ngejawab, “Setelah menikah saya ingin menyelesaikan kuliah (waktu itu doi emang aku nikahin pas jaman kuliah). Setelah lulus ingin fokus mendidik anak-anak. Dan kalau usia anak-anak sudah cukup mandiri barulah saya mau mengembangkan karier di luar rumah.”

Dari jawaban itu aku langsung sreg. Karena emang dalam prinsipku, istri perlu membersamai suami mendidik anak-anak di rumah.

Nah itu dia 3 langkah yang aku lakukan waktu aku ta’aruf sama istriku dulu. Berdasarkan hal-hal yang prinsipil tadi, aku akhirnya merumuskan 5 pertanyaan pamungkas yang semuanya aku ajuin waktu proses ta’aruf sama istriku.

Alhamdulillah, 4 dari 5 pertanyaan pamungkas itu jawabannya sejalan banget sama hal-hal prinsipil yang aku pegang. Itulah yang membuat aku akhirnya yakin memilih dia sebagai pendamping hidupku. Setelah pertemuan ta’aruf pertama dan beberapa minggu interaksi aku jadi semakin yakin dengan pilihan yang akan aku buat. Memang sih dari ta’aruf itu aku akhirnya bisa lebih mengenali dia. Ada beberapa hal yang sebenernya emang ga sesuai ekspektasiku. Tapi berhubung hal-hal itu termasuk yang bisa aku tolerir (bukan prinsip) jadi akhirnya aku tetep memilih dia.

Atas izin Allah, selama 8 tahun kami menjalani rumah tangga ga ada pertikaian besar yang terjadi. Ga konflik yang terjadi karena hal yang prinsipil bagi kami berdua. Yang aku yakini, ini bisa terjadi karena kami sudah mengenal dan sepaat terlebih dahulu di awal tentang hal-hal yang prinsip dan hal-hal yang bisa ditolerir satu sama lain. 

Selamat mencoba, selamat menyelami diri sendiri dan calon suami/istri. Semoga mendapatkan pasangan yang tepat, yang mendukung visi dan misi kehidupan kita.

Posted on Leave a comment

Fanpage Baru Educa Familia

Kami percaya bahwa hal-hal baik harus disebarluaskan demi memunculkan kebaikan-kebaikan lainnya.

Maka dari itu mulai tahun 2019 nanti kami akan mengembangkan beberapa platfotm dalam menyebarluaskan konten-konten seputar dunia pendidikan dan pengasuhan melalui beragam kanal. Salah satunya adalah fanpage facebook.

Untuk mengefektifkan proses pengelolaan serta memaksimalkan daya jangkau distribusi informasi, kami akan me-rebrand fanpage Science Factory yang dulu kami kelola menjadi fanpage Educa Familia.

Silakan mengunjungi fanpage baru kami di tautan berikut ini

science factory rebrand to educa familia
Posted on Leave a comment

Mendidik dengan cinta melalui satu kata sederhana: PERCAYA

Boleh jadi akhir pekan kemarin adalah salah satu akhir pekan yang paling mengesankan bagi saya. Saya diminta untuk menelaah (me-review) modul pelatihan guru dari kemendikbud. Melalui kesempatan yg hadir tanpa disengaja ini, sy bertemu dan tergabung dalam satu tim bersama bu Itje Chodijah. Beliau adalah sosok guru bahasa inggris yg (pada mulanya) nampak biasa biasa saja.

Pendapat saya itu sirna seketika saat saya, mas bukik dan bu Itje Chodijah berada di satu meja makan. Beliau banyak berkomentar tentang tata kelola pendidikan makro di Indonesia. Usut punya Usut ternyata beliau telah berkiprah sebagai guru bahasa inggris selama lebih dari 20 tahun yang lalu! Mulai dari mengajar anak anak di kota hingga ke pelosok pelosok desa di batas tepi negara Indonesia sudah pernah dilakoni oleh nya.

Malam itu, sambil menikmati hidangan di meja makan, beliau berkisah tentang pengalamannya memberikan pelatihan bagi guru-guru yang ada di daerah pedalaman kalimantan. Pelatihan diadakan dalam kurun waktu 3×2 pekan dengan jeda 4 pekan setiap tahapannya.

Selama pelatihan itu, beliau memengaruhi pemikiran para guru dan pemangku kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan di daerah setempat. Selama melatih beliau memegang satu prinsip:
“Mendidik itu harus dengan cinta. Dan kepercayaan adalah salah satu komponen terpenting dalam mencinta.”

Singkat cerita, berbekal kepercayaan yang beliau tanamkan kepada guru-guru di daerah tersebut, beberapa orang anak didik berhasil mewakili provinsi kalimantan barat untuk mengikuti final salah satu ajang kompetisi paling bergengsi di Jakarta. Padahal anak-anak ini tak memiliki akses pendidikan sebaik mereka yang berada di kota-kota besar.

Maka – kata beliau – disinilah kunci dalam mendidik: percaya.
Berikan kepercayaan kepada siapapun yang akan kita didik nantinya.
Bantu peserta didik untuk memercayai dirinya sendiri bahwa ia mampu melakukannya.

Jangan pernah anggap siswa didik kita tak mampu.
Jika memang benar demikian, coba cek ke dalam diri sendiri terlebih dahulu: jangan-jangan sebagai pendidik kita yang tak mampu sampaikan dengan baik dan benar?
Jangan-jangan kita yang tak cukup sabar?



Ah, benar adanya…
Mendidik itu bukan sekedar memindahkan isi kepala.
Lebih dalam lagi, mendidik itu memunculkan kesadaran dalam jiwa.

Tanpa cinta, tanpa ketulusan hati, apa yang akan kita munculkan dalam benak mereka?
Dan semuanya dimulai dengan satu kata penuh makna: percaya

Posted on Leave a comment

Educa familia: belajar, berkarya, bersama

Selayaknya para keluarga lainnya yang hidup dengan sebuah visi, maka sama hal nya dengan kami. Sejak sebelum menikah, kami telah bersepakat bahwa nantinya kami akan membangun rumah tangga yang berupaya yang terbaik untuk menjadi jalan manfaat bagi semesta.

Kami memilih nama yang sederhana: educa familia – keluarga pendidik. Dengan harapan kami bisa terus mendidik diri sendiri, meningkatkan kualitas diri kami sehingga kami berharap kelak Allah ridhai kami sebagai keluarga ahli surga.

Tentu tidak mudah menjadi seorang pendidik. Agar layak disebut keluarga pendidik, maka kami perlu menjadi pribadi yang terdidik. Kami memilih untuk menempuh langkah mendidik keluarga kami dengan 3 cara: belajar, berkarya, bersama. Belajar berkarya, belajar bersama, berkarya bersama.

Adanya situs ini tidak lain dan tidak bukan semata-mata sebagai bagian dari ketiga proses tersebut. Kami berharap apa yang kami bagikan dapat menjadi manfaat bagi semesta.