Posted on Leave a comment

Atasi Emosi Negatif Anak dengan S-A-B-A-R

 

 

 

 

 

Kurang lebih sebulan ini, tiga grup parenting yang saya ikuti kompak membahas tentang pengelolaan emosi ibu dan anak. Materinya banyak, setiap narasumber punya tips yang beragam. Satu narasumber menyebutkan perlunya time out saat anak mulai mengeluarkan emosi negatifnya. Narasumber lain menyampaikan bahwa ternyata teknik time out itu sudah tidak relevan, karena seringkali menimbulkan efek hukuman dibanding pembelajaran. Maka muncul lah metode baru yaitu time in.  Bingung? Iya, saya bingung mau mengaplikasikan ilmu yang mana. Banjir informasi membuat saya harus lebih bijak dalam menyeleksi setiap ilmu yang datang.

Sampai suatu hari Allah validasi ilmu-ilmu yang saya terima di kulwap itu dengan Nizar yang tantrum setiap kali saya mau shalat dan Naira yang uring-uringan setiap ingin BAK (padahal sebelumnya lantjar jaya). Saya sadar, mungkin ini cara Allah agar ilmu yang saya dapat tidak sia-sia, jadi langsung diberi situasi sebegitu rupa supaya ilmunya lebih cepat diamalkan.

Pada dasarnya kondisi seperti ini sangat wajar dialami oleh balita. Di usia balita, anak sedang belajar mengenal perasaan yang dialaminya. Selain itu, kemampuan balita untuk mengekspresikan perasaan dalam bahasa verbal yang masih sangat terbatas, biasanya menjadi pemicu stres dalam diri mereka.  Karena ada keinginan yang tidak tersampaikan dengan baik, akhirnya mereka hanya bisa menangis untuk mengungkapkannya.

Sayangnya orang tua masih sering merespon kurang baik dan tidak menunjukkan rasa empati terhadap emosi negatif anak.  Kita cenderung menjawab emosi anak dengan luapan kekesalan yang terkadang terjadi dengan spontan. Sebagai orang dewasa idealnya kita bisa memilih respon yang tepat dalam menghadapi situasi itu. Saya pun merasakan memang tidak mudah tetap bersikap tenang saat anak sedang tantrum. Tapi bukan berarti tidak bisa diusahakan. Prinsipnya, setiap kali orang tua mengalami tekanan emosi karena anak,  cobalah renungkan sejenak apakah respon yang kita berikan sudah sesuai dengan kebutuhan anak atau hanya mengikuti hawa nafsu kita?

Jadi, sebaiknya orang tua harus bagaimana menyikapinya? Setiap anak memiliki tempramen yang berbeda, maka sangat mungkin jika penanganannya pun akan berbeda. Ada yang berhasil dengan satu metode, ada pula yang harus memutar otak mencari cara lain demi meredakan emosi anak. Termasuk saya, meskipun ada banyak tips pengelolaan emosi, tetap saja pada prakteknya tidak semua bisa dilakukan karena alasan diatas. Nah, beberapa langkah ini mungkin bisa membantu ayah dan bunda melalui masa sulit menghadapi tantrum anak.Agar mudah diingat saya beri singkatan S-A-B-A-R.

– SADARI bahwa emosi negatif itu wajar dirasakan oleh anak. Cari penyebab mengapa tantrum bisa terjadi. Jika sudah dalam kondisi sadar, bisa jadi kita lebih mudah dan tenang menghadapi tangisan anak yang meluap-luap.

– ATUR posisi yang tepat dan nyaman bagi kita untuk mengatasi emosi negatif anak. Saat berdiri biasanya saya sulit sekali meredam rasa kesal, maka duduk sering menjadi pilihan. Selain bisa mengurangi emosi negatif, duduk membuat posisi diri kita sejajar dengan anak dan memudahkan kita untuk berempati terhadap kondisi anak.

–  BANTU anak untuk mengetahui dan memberi nama atas perasaan yang tengah dialaminya. Apakah itu sedih, marah, takut atau perasaan lainnya.

– AJAK anak untuk menenangkan diri dan menyelesaikan emosi negatifnya. Jika sudah tenang, ajari anak untuk mengutarakan keinginannya dengan cara yang baik. Contoh kasus Naira yang tantrum ketika ingin BAK. Setelah ditelusuri penyebabnya ternyata Naira stres karena takut jika harus BAK di toilet sendiri. Maka saya berusaha menenangkan dulu tantrumnya, menyampaikan kalau bunda ada di dekat Naira dan InsyaAllah Naira aman sekalipun bunda tidak ikut masuk toilet.

– REFLEKSI, jika suasana sudah kondusif dan anak sudah bisa diajak berbicara, cobalah untuk mulai berdiskusi kira-kira cara ia menyampaikan keinginan sudah benar atau belum. Beri ruang pada anak untuk merefleksikan perbuatannya tersebut. Jika belum benar, maka bicarakan bersama apa yang seharusnya dilakukan kedepannya. Oya, jangan lupa untuk meminta maaf pada anak jika ada respon kita yang kurang baik saat menghadapi anak yang sedang tantrum dan berusahalah untuk memperbaikinya.

Sejujurnya ini adalah cara saya pribadi, tapi semoga apa yang dibagi bisa sedikit memberi solusi. 😊

Posted on 2 Comments

Jangan Lupakan Sejarah Orang Terdekatmu!

Suatu hari kami sekeluarga mengikuti kajian Ustadz Budi Ashari. Dalam kajiannya beliau memberikan tugas kepada kami untu
k mencari tahu hasab dari keluarga kami masing-masing. Apa itu hasab?
Saat akan menikah, ada banyak sekali pertimbangan yang menjadi sebab bagi seseorang untuk memilih calon pendampingnya. Bagi umat muslim tentunya pertimbangan-pertimbangan tersebut harus tetap berada dalam koridor yang disunnahkan Rasulullah. Salah satu diantaranya adalah memperhatikan nasab dari calon pendamping. Tapi ternyata bukan hanya nasab yang harus kita perhatikan, Ustadz Budi menyampaikan bahwa disamping Nasab ada Hasab keluarga yang juga perlu kita pertimbangkan. Lho apa bedanya Nasab dan Hasab? Nasab berkenaan tentang garis keturunan atau ikatan kekeluargaan seseorang. Sementara hasab lebih dari itu, selain garis keturunan kita juga harus menelisik lebih jauh tentang sejarah keluarga kita mulai dari apa potensi yang dimiliki ayah & ibu, nenek & kakek serta buyut kita? Adakah hal baik dari mereka yang bisa kita tiru, atau adakah hal buruk yang bisa kita ambil pelajarannya agar tidak terulang dalam keluarga kita?
Setelah mendapatkan kajian tentang hasab, maka kami pun mulai mencari tahu tentang kepribadian, keahlian, serta perjalanan berkeluarga kakek, nenek, buyut, dan  orang tua kami masing-masing. Sampai kami pun menemukan suatu hal unik, ternyata ada keahlian yang mirip dari Abi dan mama mertua, sama-sama suka menulis dan dua-duanya sudah membuat buku. MasyaAllah.. kami pun tersadar bahwa potensi berkarya melalui tulisan itu juga menular dalam diri kami, anak-anaknya. Sehingga kami pun menyimpulkan bahwa garis keturunan kami memiliki potensi kebaikan di ranah kepenulisan. Kira-kira seperti itulah contoh sederhana dari hasab keluarga.
Apa manfaatnya mengetahui hasab keluarga?
Menurut Ustadz Budi, dengan memahami hasab keluarga kita sebelumnya, kita akan lebih mudah dalam memetakan kekuatan potensi keluarga  kita sendiri. Lebih jauh lagi kita pun bisa menentukan hal apa yang dapat keluarga kita kontribusikan bersama untuk kepentingan umat.
Bagi kami sendiri perjalanan mencari tahu hasab keluarga ini menjadi sesuatu yang sangat menarik, karena dengannya kami bisa kenal lebih dekat keluarga besar kami. Dengan mengetahui sejarah keluarga, kami mendapat banyak inspirasi dari hal baik yang kami temukan pada mereka, pun saat menemukan hal buruk kami menjadi  tersemangati untuk  memperbaikinya agar tidak berlanjut pada keluarga kami. Banyak sekali ibrah yang bisa kami petik dari proses ini.
Mencari tahu hasab seperti melongok sejarah keluarga kami di masa lalu, menghubungkan titik-titik yang belum terjalin dengan rapi. Sejarah yang bisa kami jadikan cermin untuk melanjutkan kebaikan yang telah diestafetkan atau membenahi apa yang perlu diperbaiki. Dan saya yakin sejarah itulah juga yang akan memberikan gambaran pada  keluarga kami untuk menapaki masa depan. Jangan pernah lupakan sejarah dari orang tedekatmu.
Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT1