Posted on Leave a comment

Saat Anak Merasa Kecewa

Di usia Naira yang beranjak 5 tahun, kebutuhannya untuk bermain berwama teman semakin tinggi. Jika dilihat dalam tahap perkembangannya kebutuhan ini muncul untuk melatih sisi emosi dan kemandirian anak.  Semakin sering bermain bersama, otomatis banyak stimulus yang datang mempengaruhi perkembangan emosinya.

Sebagai orang tua kami pun berusaha memfasilitasi kebutuhan ini. Berhubung baru dua bulan kami menetap kembali di Bandung dan belum begitu mengenal situasi sekitar rumah, kami pun membuat kesepakatan bersama Naira. Intinya, Naira boleh mengundang teman-temannya untuk main di rumah bersama. Jika Naira ingin main diluar rumah pun boleh, tapi masih terbatas di beberapa area yang mudah kami pantau.

Oya, sebelum pindah ke Bandung kami tinggal di komplek pondok pesantren. Disana suasananya cukup kondusif. Beberapa anak yang bermain bersama Naira terbilang kooperatif, bahasanya santun dan mudah diarahkan. Jarang sekali muncul konflik yang berarti dalam pertemanan mereka. Berbeda dengan disini. Kami tinggal di sekitar pemukiman warga, sehingga teman-teman sebaya Naira pun sangat beragam sikapnya. Mulai dari yang baik dan santun, suka membawa mainan Naira tanpa izin, pipis sembarangan di halaman rumah sampai yang berbicara kasar pun ada. Maka wajar jika konflik yang muncul menjadi lebih kompleks.

Seperti hari ini, selepas bermain bersama temannya tiba-tiba Naira menghampiri saya dengan wajah ditekuk sedih. Tampaknya Naira ingin menyampaikan sesuatu yang penting.

“Eh ada kakak Naira. Udah selesai kak mainnya?” tanya saya.

“Udah bunda.” Jawabnya singkat.

“Kenapa, Nak? Kelihatannya lagi sedih. Ada yang mau Naira ceritain sama bunda?” pungkas saya penasaran.

“Iya bunda, tadi teh ada teman kakak yang injak-injak telor plastik kaka, sambil ketawa-ketawa lagi! Terus telor  plastiknya jadi rusak. Huhuhu..” terang Naira sambil terisak.

“Ya Allah, pasti sedih ya kak lihat telornya jadi penyok gitu?” saya mencoba berempati. Mungkin jika ada di posisi Naira saya pun akan merasakan hal yang sama, melihat barang kesayangan rusak oleh orang lain tentu sangat menyedihkan.

“Kaka sedih jadi gak bisa masak-masakan lagi, bunda.” tangisnya makin kencang.

“Ya sudah, sekarang kakak coba tenang dulu ya. Bunda tau pasti sedih rasanya. Boleh gak kalau bunda pinjam dulu telor penyok nya?” saya berusaha menenangkan tangis Naira dengan merangkul pundaknya. Lalu menawarkan alternatif untuk mensiasati agar mainannya bisa utuh kembali.

“Kak, kira-kira telornya masih bisa kita perbaiki gak ya?” ujar saya.

“Tadi udah kakak coba tapi gak bisa bagus lagi.” ucapnya terlihat sangat kecewa.

“Coba kita perbaiki sama-sama ya, siapa tahu bentuknya bisa bagus lagi.”

Naira mengangguk tanda setuju. Saya pun mencoba memperbaiki telor itu dengan melibatkan Naira untuk membantu membawakan alat-alat yang diperlukan. Dan voila, kurang dari sepuluh menit telornya sudah tidak penyok. Naira girang bukan kepalang. Ia pun langsung meraih wajan dan kompor mainannya untuk masak-masakan. Dengan senyum manisnya ia berkata,

“Alhamdulillah ya bunda ternyata masih bisa diperbaiki.”

Dari kejadian ini, ada banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik. Sebenarnya tidak mudah bagi saya untuk bisa setenang itu menghadapi kekecewaan Naira. Saat sedang ‘tidak waras’ mungkin saja saya berujar, “Aduh, gitu aja kok nangis sih, Nak. Kan bisa beli lagi yang baru!”

Tapi jika jalan pintas seperti itu diambil, maka tidak akan ada perubahan apa-apa pada diri Naira. Saya berharap Naira bisa belajar untuk berdamai dengan rasa kecewa dan fokus pada solusi tanpa terus meratapi keadaan apalagi menyalahkan orang lain. Saya sadar, itu semua bisa tercapai hanya jika saya bisa berempati dan memberikan respon yang positif saat berkomunikasi dengannya. Jadi kuncinya ada pada saya. Ini reminder banget untuk diri saya sendiri.

Alhamdulillah hari ini saya belajar untuk melakukan salah satu poin dari komunikasi produktif dengan anak, yaitu menunjukkan empati dan fokus pada solusi. Semoga lisan bunda yang penuh kekurangan ini selalu dibimbing Allah untuk berkata yang baik dan benar di hadapan anak-anak 😇

Posted on 1 Comment

Menyapih atau NWP?

Saat mengetahui ada janin titipan Allah di usia Nizar yang belum menginjak 1 tahun, rasanya campur aduk, MasyaAllah. Tidak dapat dipungkiri ada rasa cemas kehilangan momen mengASIhi Nizar hingga usianya genap 2 tahun. Berbagai keraguan berkelebat dalam hati, saya khawatir tidak mampu melewati masa ini dengan baik. Namun perasaan tersebut langsung saya lawan dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan memberikan amanah melampaui batas kemampuan kita.

Pengalaman memberi ASI adalah sesuatu yang penuh kenangan bagi saya. Bukan karena ikut-ikutan trend jaman sekarang, terlebih karena menyusui adalah perintah Allah. ASI adalah rezeki yang dititipkan pada seorang ibu, sebagai tanda cinta dari Allah untuk setiap anak. Dan jika diniatkan untuk meraih ridha Allah, proses menyusui anak akan menjadi ibadah yang tak ternilai pahalanya.

Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang sedang menyusui bayinya,

“Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata’ala.”

Sejak itu saya mulai mencari dari beberapa literatur tentang bagaimana islam mengatasi kondisi ini. Dimana seorang ibu hamil saat anaknya belum usai disapih. Karena saya pun tidak ingin mengambil keputusan yang gegabah atau terburu-buru menyapih tanpa dasar ilmu.

Alhamdulillah, akhirnya menemukan rujukan dari buku Hanya Untukmu Anakku (terjemahan dari kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud) karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Beliau mengawalinya dengan anjuran untuk menyusui anak selama 2 tahun yang tertulis dalam Alquran.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)Ayat ini mengandung beberapa hukum :
1. Masa menyusui yang sempurna adalah dua tahun. Hal ini menjadi hak seorang anak jika dia membutuhkannya dan belum bisa lepas darinya. Penyebutan حولين (dua tahun) yang diperkuat dengan كاملين (penuh atau sempurna keduanya) bertujuan agar lafazh حولين tidak dipahami satu tahun atau lebih dari dua tahun.

2. Apabila kedua orang tua ingin menyapih anaknya sebelum masa itu dengan kerelaan keduanya dan setelah musyawarah, maka dibolehkan untuk menyapih selama tidak berdampak buruk pada anak.

3. Jika seorang bapak menginginkan anaknya disusui oleh wanita lain selain ibunya, maka hal itu boleh dilakukan sekalipun ibunya menolak. Kecuali jika hal tersebut akan mendatangkan keburukan bagi ibu atau anaknya, maka hal itu tidak diperkenankan. Dan ibunya pun boleh melanjutkan menyusuinya hingga jangka dua tahun atau lebih.

(Hanya Untukmu Anakku, halaman 436)

Dari penjelasan diatas saya menarik kesimpulan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang memungkinkan seorang ibu untuk menyapih anak lebih awal dari yang dianjurkan oleh Alquran. Pada bahasan berikutnya beliau pun membahas salah satu kondisi yang mungkin terjadi yaitu ibu hamil saat masih menyusui anaknya.

Menurut penuturan beliau ada beberapa pilihan yang harus diambil ketika ibu mengalami hal tersebut. Dua hal yang sangat beliau anjurkan adalah segera menyapih anak sekalipun belum mencapai usia 2 tahun atau mencarikan ibu susuan. Mengapa demikian? Karena seiring bertambahnya usia kehamilan, produksi ASI jumlahnya akan berkurang akibat homon estrogen yang semakin meningkat. Secara tidak langsung hal tersebut akan berpengaruh pada asupan gizi sang anak. Namun ungkap beliau, tidak juga ada larangan untuk meneruskan memberi ASI jika memang tidak ada efek buruk pada anak dan ibu setelahnya. Dua anjuran diatas disarankan atas dasar kehati-hatian. Wallahua’alam.

Saya sempat galau akan menyapih atau NWP (Nursing While Pregnant). Setelah menimbang, akhirnya saya pun mencoba untuk meneruskan mengASIhi Nizar. Karena selama ini tidak ada reaksi yang saya rasa akan membahayakan janin, seperti kontraksi saat menyusui atau lemas berlebihan setelah menyusui anak. Saya tidak ingin langsung menghentikan pemberian ASI pada Nizar, karena khawatir akan menciderai psikisnya.

Meskipun begitu saya berniat untuk menyapih Nizar lebih awal secara bertahap dan senatural mungkin, tanpa paksaan. Sehingga begitu adiknya lahir, Nizar sudah siap dengan kondisi barunya. Qadarullah, mungkin ini sudah menjadi sunnatullah. Di usia kehamilan menginjak 6 bulan, semakin jarang saya merasakan LDR (Let Down Reflex) atau asi mengalir deras saat menyusui. Sehingga Nizar pun mengurangi kebiasaan meminta ASI dengan sendirinya. MasyaAllah.

Hingga sekarang Nizar masih meminta ASI sewaktu-waktu dan saya pun masih memberikannya. Saya yakin Allah sudah mengaruniakan pada diri seorang anak kemampuan untuk mengenali kapan ia siap untuk menyapih dirinya sendiri. Biidznillah…

Posted on 4 Comments

Mengenalkan Allah Pada Anakku

“Pada usia dibawah 7 tahun dimana seluruh indera sedang berkembang pesat, keingintahuan anak sedang sangat tinggi, maka masa ini adalah masa terbaik untuk menanamkan TAUHID dalam jiwa anak.”

(Malik bin Marwan)

Sejak dikaruniai seorang anak, saya dan suami sepakat. Bahwa pendidikan pertama dan utama bagi anak-anak kami adalah aqidah, bagaimana ia mengenal Rabb-Nya. Maka selagi mengandung anak pertama, saya dan suami pun berusaha mengisi ruhiyah dengan mengikuti kajian, membaca buku, menambah kualitas ibadah, dll.

Tujuannya untuk ‘berisi sebelum mengisi”. Karena tidak mungkin berharap memiliki anak yang mencintai Allah, sementara orang tuanya sendiri tidak bersungguh-sungguh untuk mencintai Allah. Meski pada kenyataannya, sampai sekarang pun kami masih harus terus belajar dan akhirnya belajar bersama anak untuk memperkuat aqidah. Tapi tidak apa-apa, justru ini akan menjadi perjalanan belajar yg menyenangkan untuk kami, InsyaAllah.

Menyemai kecintaan pada Allah untuk anak balita tentu punya tantangan tersendiri, tapi bukan berarti sulit juga. InsyaAllah ada beberapa cara yang ingin kami bagi, semoga bekenan..
Continue reading Mengenalkan Allah Pada Anakku

Posted on Leave a comment

Menyelami Pendidikan Finlandia Melalui Buku Sarat Makna

Finlandia mengejutkan dunia ketika siswa-siswinya yang masih berusia 15 tahun berhasil mencatatkan skor tertinggi di penyelenggaraan pertama PISA pada 2001. Ujian itu meliputi penilaian keterampilan berpikir kritis di matematika, sains dan membaca. Hingga kini negara mungil ini terus-menerus memukau.  Continue reading Menyelami Pendidikan Finlandia Melalui Buku Sarat Makna

Posted on 2 Comments

Jangan Lupakan Sejarah Orang Terdekatmu!

Suatu hari kami sekeluarga mengikuti kajian Ustadz Budi Ashari. Dalam kajiannya beliau memberikan tugas kepada kami untu
k mencari tahu hasab dari keluarga kami masing-masing. Apa itu hasab?
Saat akan menikah, ada banyak sekali pertimbangan yang menjadi sebab bagi seseorang untuk memilih calon pendampingnya. Bagi umat muslim tentunya pertimbangan-pertimbangan tersebut harus tetap berada dalam koridor yang disunnahkan Rasulullah. Salah satu diantaranya adalah memperhatikan nasab dari calon pendamping. Tapi ternyata bukan hanya nasab yang harus kita perhatikan, Ustadz Budi menyampaikan bahwa disamping Nasab ada Hasab keluarga yang juga perlu kita pertimbangkan. Lho apa bedanya Nasab dan Hasab? Nasab berkenaan tentang garis keturunan atau ikatan kekeluargaan seseorang. Sementara hasab lebih dari itu, selain garis keturunan kita juga harus menelisik lebih jauh tentang sejarah keluarga kita mulai dari apa potensi yang dimiliki ayah & ibu, nenek & kakek serta buyut kita? Adakah hal baik dari mereka yang bisa kita tiru, atau adakah hal buruk yang bisa kita ambil pelajarannya agar tidak terulang dalam keluarga kita?
Setelah mendapatkan kajian tentang hasab, maka kami pun mulai mencari tahu tentang kepribadian, keahlian, serta perjalanan berkeluarga kakek, nenek, buyut, dan  orang tua kami masing-masing. Sampai kami pun menemukan suatu hal unik, ternyata ada keahlian yang mirip dari Abi dan mama mertua, sama-sama suka menulis dan dua-duanya sudah membuat buku. MasyaAllah.. kami pun tersadar bahwa potensi berkarya melalui tulisan itu juga menular dalam diri kami, anak-anaknya. Sehingga kami pun menyimpulkan bahwa garis keturunan kami memiliki potensi kebaikan di ranah kepenulisan. Kira-kira seperti itulah contoh sederhana dari hasab keluarga.
Apa manfaatnya mengetahui hasab keluarga?
Menurut Ustadz Budi, dengan memahami hasab keluarga kita sebelumnya, kita akan lebih mudah dalam memetakan kekuatan potensi keluarga  kita sendiri. Lebih jauh lagi kita pun bisa menentukan hal apa yang dapat keluarga kita kontribusikan bersama untuk kepentingan umat.
Bagi kami sendiri perjalanan mencari tahu hasab keluarga ini menjadi sesuatu yang sangat menarik, karena dengannya kami bisa kenal lebih dekat keluarga besar kami. Dengan mengetahui sejarah keluarga, kami mendapat banyak inspirasi dari hal baik yang kami temukan pada mereka, pun saat menemukan hal buruk kami menjadi  tersemangati untuk  memperbaikinya agar tidak berlanjut pada keluarga kami. Banyak sekali ibrah yang bisa kami petik dari proses ini.
Mencari tahu hasab seperti melongok sejarah keluarga kami di masa lalu, menghubungkan titik-titik yang belum terjalin dengan rapi. Sejarah yang bisa kami jadikan cermin untuk melanjutkan kebaikan yang telah diestafetkan atau membenahi apa yang perlu diperbaiki. Dan saya yakin sejarah itulah juga yang akan memberikan gambaran pada  keluarga kami untuk menapaki masa depan. Jangan pernah lupakan sejarah dari orang tedekatmu.
Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT1
Posted on Leave a comment

“Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?”

Ada satu pertanyaan menarik saat dosen menanggapi diskusi kami tentang manusia dan pemujaan. Saya lupa kronologisnya gimana, tapi tiba-tiba beliau bertanya kurang lebih seperti ini..

“Pernah terpikir gak kalau ternyata menuntut-ilmusholat kita ini beda dengan sholat yang Rasulullah lakukan? Iya beda, kita sudah terpaut terlalu jauh dengan zaman Rasulullah, sangat mungkin jika saat ini banyak praktek ibadah yang melenceng dari yang seharusnya.”Hmm, ya..saya sependapat dengan beliau. Bahkan dalam hati saya sering bertanya, “Apakah shalat saya sudah benar? Ya Allah…apakah Engkau menerima shalat saya selama ini? 😥

Pertanyaan itu terus mengusik saya hampir setiap waktu. Sampai suatu hari saya membaca nasihat bijak Nek Kiba dalam novel Amelia karya Tere Liye, meskipun ini fiksi tapi banyak ibrah yang bisa kita maknai didalamnya 🙂

Malam ini sepertinya Nek Kiba tidak akan bercerita tentang kisah Nabi atau para sahabat. Nek Kiba meluruskan kakinya. Meletakkan batang rotan. Bercakap santai tentang hal lain.

“Anak-anak, dalam agama kita, penting sekali melakukan sesuatu dengan ilmu. “ suara Nek Kiba terdengar lantang, mengisi langit-langit ruangan, memulai nasihatnya.

“Seseorang yang mengerjakan amal tapi dia tidak tahu tujuannya, tidak paham ilmunya, maka itu ibarat anak kecil yang disuruh mendirikan rumah. Tak tegak tiangnya. Tak kokoh dindingnya. Jangan tanya daun pintu, jendela, dan atapnya, sia-sia belaka.Semua orang dituntut untuk belajar, mempelajari apapun yang diperintahkan agama ini. Termasuk mempelajari ilmu yang tidak segera diamalkan. Naik haji misalnya, meskipun tak satu pun penduduk di kampong ini yang mampu naik haji, jangan tanya kapan akan berangkat, termimpikan pun tidak, tetap saja mempelajari ilmu naik haji jelas penting.”

“Lantas, apa itu yang disebut ilmu? Mudah saja. Ilmu adalah yang mendasari sebuah perbuatan ,dalil. Ilmu adalah yang menjelaskan secara benar kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Baik yang ditulis diatas kertas maupun yang disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Baik yang dikuasai oleh satu dua orang tertentu, apalagi yang diketahui banyak orang.:

Kami menatap wajah tua Nek Kiba yang terlihat semangat menjelaskan.

“Dalam kitab suci, jelas perintah soal ilmu ini. Ketika seseorang tidak mengetahui sebuah urusan, tidak paham, tidak mengerti maka bergegaslah bertanya pada orang yang tahu ilmunya. Jangan malas, jangan keras kepala, jangan bebal, apalagi hingga sok tahu mengerjakan sesuai pemahaman diri sendiri. Itu bisa jadi kekeliruan besar. Apa susahnya bertanya? Bukankah jika kita tidak tah ujalan, bertanya pada yang tahu mencegah kita tersesat. Jika kita tidak mengerti menghadapi binatang buas, bertanya mencegah kita diterkam. Bertanyalah, kalaupun kita sudah tahu, itu akan membuat kita lebih yakin lagi.

“Maka semua orang harus, menuntut ilmu adalah perintah agama. Kenapa kita shalat? Kenapa kita puasa? Semua orang harus tahu ilmunya. Tidak pantas seseorang saat ditanya kenapa ia shalat? Dia menjawabnya ikut-ikutan. Padahal dia sudah shalat beribu-ribu kali. Hanya ikut. Karena menirun semata. Iya Pukat, ada apa? Kau hendak bertanya?”

Kami menoleh ke arah Kak Pukat. Aku menghembuskan napas pelan. Aduh, kenapa pula Kak Pukat harus memotong kalimat Nek Kiba dengan mengacungkan jari?

“ Tetapi, nek, bukankah kami memang disuruh ikut saja orang tua saat sholat dan puasa? Mencontoh saja. “ Kak Pukat bertanya serius.

“Karena kalian masih anak-anak.” Nek Kiba menjawab takzim. “Maka kalian boleh mencontoh. Tapi dengan bertambahnya usia kalian, hukum menuntut ilmu itu jatuhpada kalian. Tidak ada alasan lagi. Beruntunglah yang sejak kecil sudah rajin membaca buku, sudah gemar mendengar nasihat-nasihat dari orang berilmu, maka dia mengerti lebih awal penjelasannya. Semoga itu akan terbawa hingga dewasa. Paham?”

(Novel AMELIA halaman 321-323, Tere Liye)

Kutipan Nasihat Nek Kiba diatas mengingatkan saya tentang pentingnya ilmu sebelum amal, dengannya bertambahlah iman kita dan hilanglah keraguan kita dalam menjalankan suatu perbuatan. Kita tidak pernah melihat langsung bagaimana Rasulullah mendirikan shalat ataupun amalan lainnya, tapi kita patut bersyukur karena para shahabat dan ulama telah banyak mewariskan ilmu yang akan memandu kita untuk mengamalkan apa yang telah Rasulullah teladankan.

Sekarang saya sudah menjadi orang tua, mungkin kelak akan tiba masanya Naira bertanya, “Bunda, apakah shalat kita dan Rasulullah sama?” Menjawab pertanyaan anak dengan ilmu dan keimanan yang kokoh menjadi PR terbesar bagi saya dan suami. Karena jawaban itu bukan hanya terkait benar atau salah, tapi menjadi sebab diterima atau tidaknya amalan Naira disisi Allah kelak.. Apa yang harus kami usahakan sudah jelas yaitu giat membekali diri dengan ilmu dan meningkatkan kualitas amalan dengan ilmu yang dimiliki  semata meraih ridhaNya. Semoga Allah bimbing selalu…